SISTEM INFORMASI MANAJEMEN
I. PELUANG DAN TANTANGAN
Munculnya era teknologi informasi generasi kedua telah dan sedang merubah aspek kehidupan manusia tanpa terkecuali sampai pada aktfiitas organisasi perusahaan. Aplikasi teknologi dalam organisasi pada prinsipnya merupakan fasilitator dan interpreter dari berbagai dampak dan peluang pada semua aspek bisnis yang kompetitif seperti teknologi produk dan jasa, teknologi proses produksi, teknologi bahan mentah, teknologi distribusi, teknologi informasi dan promosi, teknologi administrasi dan pelayanan pada pelanggan serta teknologi pemasok
Cara yang tepat terhadap perilaku manusia menhadapai teknologi informasi yang msuk pada setiap aktifitas organisasi adalah penguasaan pengetahuan dan keterampilan mengantidipasi dan mengadopsi teknologi tersebut. Akhirnya setiap investasi yang mengarah pada taknologi informasi diharapkan bisa mengurangi kompleksitas pekerjaan, kompleksitas bisnis, kompleksitas pemrosesan, kompleksitas organisasi dan bukan menambah kompleksitas masalah manajemen organisasi.
II. TEKNOLOGI INFORMASI DALAM BISNIS MODERN
Ekonomi global telah berubah menjadi ekonomi internet. Banyak perusahaan brick-and-mortar mencoba berubah menjadi click-and-mortar dan perintis usaha dot com telah tumbuh secara luar biasa tahun 1998-1999 namun bangkrut pada tahun 2000 karena resesi ekonomi. Pada saat yang sama, pemerintah di seluruh dunia berusaha bertahan dengan tantangan dan peluang yang ditawarkan internet. Prospek internet termasuk platform baru perdagangan, banjir informasi yang diakses public dan perubahan tatanan ekonomi menjadi industry baru.
Di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Thailand, perkembangan dibuat deng an cepat untuk membangun infrastruktur pendukung internet. China dan India juga mengikutinya. Indonesia seperti kebanyakan Negara asia, bekerja keras untuk mengejar ketertinggalan dengan pembangunan ekonomi dunia dan nilai bersih khususnya dalam isu penting. Daftar hal yang harus dikerjakan masih banyak, contohnya membangun jaringan komunikasi, menempatkan peralatan akses internet pada warga Negara, membuat kerangka kerja resmi penggunaan internet dan yang paling penting mempromosikan penggunaan internet pada warga Negara asia untuk meningkatkan daya saing. Indonesia telah memahami masalah ini lebih awal dari Negara lain. Contohnya pemerintah telah berinisiatif mendorong terciptanya dunia internet. Hal ini bertujuan untuk memodifikasi model perluasan penerimaan teknologi dengan menggabungkan factor kemampuan pribadi dan determinannya dari teori kognitif social (SCT) sebagai elemen eksternal model originalnya.
Menambahkan SCT, dasar teoritis penelitian ini berasal dari TAM yang memberikan dasar teoritis untuk menjelaskan perilaku dan reaksi efektif untuk teknologi internet. Khususnya, ini menyatakan bahwa lingkungan dan factor personal seperti verbal, persuasi dan harapan, pengaruh pengalaman yang akan berdampak pada hasil / outcome individu. TAM digunakanan sebagai teori umum dari model Reasoned Action (TRA) untuk menempatkan penerimaan pengguna teknologi komputer, menggantikan determinan attitudinal TRA dengan dua keyakinan perilaku yang spesifik: persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan yang dimiliki dalam konteks penggunaan komputer. Lebih jauh dipaparkan bahwa terdapat variable eksternal yang berdampak pada persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan. Namun Venkatesh mengindikasikan bahwa efek mediasi sikap yang disebutkan oleh Davis dapat diabaikan karena tidak sepenuhnya memediasi dampak persepsi kegunaan terhadap penggunaan teknologi. Masyarakat cenderung untuk menunjukkan perilaku walaupun mereka tidak memiliki sikap positif (dampak) terhadap perilaku.
Bandura (1977, 1982, 19860) menyebutkan beberapa determinan kemampuan pribadi, termasuk enactive mastery skilss dan verbal persuasion. Berdasarkan Iqbaria dan Iivari (1995), kedua variable ini dioperasikan sebagai pengalaman sebelumnya dan merupakan sesuatu yang mendukung.
Pertama: Pengalaman Komputerisasi. Karena penggunaan internet adalah salah satu bentuk dari penggunaan komputer, pengalaman komputerisasi dihipotesiskan mempengaruhi harapan secara positif. Bandura (1982) menyatakan pengalaman tersebut dapat berpengaruh karena karakteristik personal. Ia menyatakan bahwa verbal persuasion secara positif berpengaruh kepada kemampuan pribadi dimana dorongan dari pihak lain akan meningkatkan harapan untuk menjadi mampu. Pengalaman sebelumnya juga berhubungan secara langsung dengan perilaku dan motivasi. Pengalaman komputerisasi terbukti berkaitan dengan kemampuan pribadi, persepsi kemudahan penggunaan dan persepsi kegunaan. Lebih jauh, pengalaman yang termasuk factor eksternal, nampaknya memiliki pengaruh tidak langsung terhadap penggunaan internet.
Kedua: Dukungan Organisasi. Seseorang membutuhkan sumber untuk membantu mereka menjadi lebih ahli, diharapkan dukungan organisasi yang lebih besar mampu menghasilkan penilaian kemampuan pribadi seseorang yang lebih tinggi. Ketersediaan bantuan untuk seseorang, yang membutuhkannya, nampaknya dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyelesaikan sebuah tugas, dalam penggunaan internet. Trevino dan Vebster (1992) juga menyarankan bahwa dukungan organisasi juga secara positif berkaitan dengan persepsi kemudahan penggunaan. Berdasarkan TAM, efek dukungan organisasi, yang menjadi factor eksternal, seharusnya memiliki pengaruh tidak langsung kepada penggunaan internet.
Internet adalah jaringan komputer internasional yang menhubungkan orang dan organisasi di seluruh dunia. Sedangkan e-commerce yaitu menggunakan jaringan komputer, terutama internet untuk melakukan transaksi jual beli produk baik berupa barang maupun jasa serta informasi. Hasil dari e-commerce berupa jangkauan operasional yang meluas maupun pelayanan biaya elektronik yang murah, karena melalui e-commerce maka informasi diantara kegiatan bisnis dan teknologi dapat cepat berkembang. Dalam terminology e-commerce yang popular, transaksi yang dilakukan didasarkan pada beberapa jenis yaitu:
1. Business-to-business (B2B) yang biasanya diterapkan pada transaksi bisnis, organisasi nirlaba, atau pemerintah
2. Business-to-consumer (B2C) berupa transaksi e-commerce dimana pembelinya adalah individu
3. Consumer-to-consumer (C2C) di sini konsumen menjual secara langsung ke orang lain sebagai konsumen individu melalui periklanan elektronik atau auction site (lewat agen)
4. Consumer-to-business (C2B) dalam kategori ini individu menjual barang dan jasa ke perusahaan
Melakukan transaksi menggunakan cara elektronik memberikan beberapa manfaat diantaranya adalah sebagai berikut: (1). Biaya informasi lebih murah, (2). Akses 24 jam, (3). Kesempatan perluasan terbuka, (4). Menurunkan biaya penciptaan, proses, distribusi, penyimpanan, (5). Mengurangi biaya komunikasi, (6). Memperkaya komunikasi daripada secara tradisional, (7). Pengiriman secara digital untuk produk seperti gambar, dokumen, software, (8). Meningkatkan fleksibilitas lokasi.
Melihat keterbatasan e-commerce maka perlu dipikirkan adanya perlindungan konsumen. Dalam bidang hukum misalnya, hingga saat ini Indonesia belum memiliki perangkat hukum yang mengakomodasi perkembangan e-commerce. Padahal pranata hukum merupakan salah-satu ornament utama dalam bisnis.
Di Indonesia, perlindungan hak-hak konsumen dalam e-commerce masih rentan. Undang-undang perlindungan konsumen yang berlangsung sejak tahun 2000 memang telah mengatur hak dan kewajiban bagi produsen dan konsumen, namun kurang tepat untuk cyberlaw termasuk didalamnya tentang e-commerce agar hak-hak konsumen sebagai pengguna internet khususnya dalam melakukan transaksi e-commerce dapat terjamin.
III. TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MANAJEMEN PEMASARAN
Seiring perkembangan lingkungan bisnis yang makin kompetitif, peran teknologi sangat diperlukan dalam setiap aktifitas organisasi. E-business menjadi satu hal yang sangat penting untuk diadopsi untuk meningkatkan daya saing perusahaan. E-business memiliki makna penggunaan teknologi internet untuk mengelola proses bisnis, yaitu penjualan dan pembelian, rantai pasokan, dan hubungan dengan konsumen.
Setiap perusahaan yang ingin tetap bertahan hidup dalam persaingan bisnis dan memiliki mitra bisnis yang terkait dalam suatu kemitraan berbasis koordinasi, dituntut untuk melakukan adopsi e-business dalam segala aktifitas perusahaan. Kesuksesan e-business juga sangat ditentukan oleh komitmen perusahaan terhadap peran dan tanggungjawab kepemimpinan dalam adopsi e-business, peran cross functional team dan struktur manajemen sehingga top manajemen perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang perubahan teknologi yang cepat dan menkomunikasikan nilai e-business ke seluruh organisasi. Untuk merealisasikan manfaat adopsi e-business, perusahaan harus mengidentifikasikan visi perusahaan yang cepat menerapkan proses e-transformation, menciptakan budaya organisasi yang kolaboratif, mengembangkan rencana untuk mencapai proses e-transformation, mengimplementasikan strategi komunikasi sebagai feedback loop dan menciptakan solusi e-business yang fleksibel.
Kualitas pelayanan adalah faktor pendukung pula. Kesesuaian dengan spesifikasi perusahaan bukanlah merupakan kualitas layanan, namun kualitas pelayanan adalah kesesuaian dengan keinginan konsumen. Untuk memperbaiki kualitas layanan diperlukan proses belajar secara terus menerus mengenai harapan-harapan dan persepsi pelanggan internal, pelanggan eksternal dan pelanggan kompetitor. Harapan-harapan yang penting terhadap jasa adalah perusahaan mampu memenuhi atau menawarkan pelayanan yang lebih baik bahkan terbraik. Perusahaan perlu melakukan proses riset pelayanan secara periodik dan berkelanjutan untuk memberikan trend data yang dibutuhkan manajer dalam membuat keputusan yang berhubungan dengan kualitas pelayanan. Untuk mendengarkan suara-suara pelanggan perusahaan sudah semestinya membangun sistem informasi kualitas pelayanan atau SQIS. Jadi hanya dengan melakukan riset customers saja belum memadai untuk mendengarkan suara-suara harapan pelanggan. Disamping itu, bagian sistem pelayanan perusahaan yang berjalan kurang baik juga dapat diperbaiki dengan systematic listening. Tujuannya adalah menjadi listening company yang akhirnya dapat menciptakan keunggulan tersendiri bagi perusahaan.
Yang tidak kalah penting adalah informasi tentang pelanggan. Hal ini sangat dibutuhkan oleh fungsi pemasaran untuk mendukung tujuan perusahaan terutama dalam rangka mencapai loyalitas pelanggan. Informasi pelanggan yang diharapkan tersedia adalah informasi yang berkualitas, yaitu dari hasil pengolahan data pelanggan yang ada di pasar. Pemasaran sebagai salah-satu fungsi yang ada di perusahaan serta memiliki keterkaitan langsung dengan pelanggan, membutuhkan sesuatu wadah pengelolaan data pelanggan dalam upaya memilih strategi pemasaran yang tepat untuk membantu perusahaan menciptakan loyalitas pelanggan.
Manajemen data base pelanggan dapat dikembangkan sebagai dasar pemilihan strategi pemasaran yang akan dilakukan khususnya untuk merancang strategi bauran pemasaran yang tepat. Kemampuan manajemen database pelanggan untuk mengumpulkan, menyimpan serta mengelola data pelanggan, membuat informasi tentang pelanggan tersedia dengan baik bagi fungsi pemasaran. Informasi ini akan sangat berguna terutama pada saat melakukan pilihan strategi bauran pemasaran. Informasi yang dihasilkan manajemen database pelanggan akan membuat strategi bauran pemasaran memiliki kesesuaian dengan kebutuhan. Manajemen database pelanggan hendaknya dibangun berdasarkan teknologi informasi yaitu komputer dan perkembangan teknologi informasi seperti fasilitas internet dan email. Terdapat berbagai kemudahan dengan berkembangnya teknologi informasi sehingga manajemen database pelanggan dapat menghasilkan informasi yang lebih berguna bagi perusahaan.
IV. TEKNOLOGI INFORMASI DALAM MANAJEMEN OPERASI
Memasuki abad 21, lingkungan bisnis semakin dinamis dan mengalami perubahan cepat yang ditandai dengan makin kompetitifnya persaingan bisnis dan makin bervariasinya permintaan konsumen. Kondisi ini menjadi motifator bagi perusahaan untuk mengadopsi strategi agile manufacturing. Gunasekaran (1999) mendefinisikan sebagai kapabilitas perusahaan untuk berkembang dan menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan bisnis yang tidak dapat diprediksi dan dikendalikan permintaan konsumen.
Untuk mencapai keberhasilan atau bahkan untuk hanya sekedar untuk bertahan hidup dalam lingkungan bisnis yang dinamis dan tidak dapat diprediksi, perusahaan harus berani mengambil tindakan untuk melakukan perubahan struktur dan proses dalam setiap aktifitas perusahaan. Tindakan respon ini harus difasillitasi oleh teknologi informasi yang ada karena penggunaan teknologi dimaksud dalam setiap area bisnis akan menciptakan pentingnya isu etis seperti privasi (Kaplan 1993).
Terdapat 3 (tiga) dimensi penting dalam persaingan bisnis saat ini yaitu; harga, kualitas dan waktu. Untuk mencapai kesuksesan dalam lingkungan bisnis yang dinamis dan tidak dapat diprediksi, perusahaan harus bisa memperbaiki produktivitas dalam setiap aktifitas organisasi. Strategi agile manufacturing merupakan solusi bagi perusahaan untuk merespon perubahan yang tidak dapat diprediksi. Strategi tersebutg tidak dapat diprediksi. Strategi tersebut adalah yang diterapkan dalam perusahaan yang berdasarkan kapabilitas dan sumber keunggulan kompetitif perusahaan untuk merespon lingkungan yang dinamis dan makin kompetitif dan tuntutan konsumen akan produk dan jasa yang diberikan oleh perusahaan. Untuk mewujudkan tujuan dimaksud diperlukan beberapa sub strategi seperti; virtual interprise, rapid-partnership formation, rapid-prototipyng dan temporary alliances based on core competencies. Teknologi informasi merupakan fasilitator yang dibutuhkan dalam implementasi strategi agile manufacturing. Keuntungan utama penggunaan teknologi informasi adalah untuk memperbaiki operasi bisnis melalui penurunan biaya transaksi dengan memperbaiki kecepatan dan efisiensi dalam memenuhi pemesanan yang diterima perusahaan. Teknologi agile manufacturing mencakup peralatan dan perlengkapan yang mendukung implementasi strategi, sedangkan teknologi informasi mencakup computer dan software. Dengan penggunaan teknologi informasi perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif berkelanjutan.
Menghadapi kondisi ketidakpastian dalam lingkungan bisnis dan makin kompetitifnya persaingan diperlukan suatu strategi baru yang dapat menjamin kesuksesan perusahaan. Agile supply chain menawarkan suatu mekanisme yang mengatur proses bisnis, meningkatkan produktifitas dan mengurangi biaya yang merupakan solusi dalam menciptakan suatu pendekatan untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi manajemen dan menciptakan suatu sistem informasi yang terintegrasi untuk membantu komunikasi, koordinasi dan kontrol dalam dan antar area fungsional yang ada. Melalui rantai pasokan, perusahaan dapat membangun kerjasama melalui penciptaan jaringan kerja yang terkoordinasi dalam penyediaan barang maupun jasa bagi konsumen secara efisien. Untuk peningkatan kapasitas perusahaan perlu diimplementasikan teknologi ke dalam infrastruktur organisasi yang akan sangat membantu proses produksi, jaringan kerja dan sebagai penyimpanan data. Beberapa cara atau praktik manufacture yang dapat ditempuh untuk meningkatkan agility suatu rantai pasokan adalah dengan mencapai fleksibilitas strategic, merubah paradigman menjadi demand full system, memaksimumkan penggunaan sistem informasi dan meningkatkan produktifitas pekerja. Kunci sukses keberhasilan agile supply chain meliputi manajemen yang partisipatif dan produktifitas karyawan, penggunaan teknologi informasi dan teknologi berbasis komputer secara maksimal, perbaikan secara terus menerus, pengelolaan sumber daya yang terkait dengan masalah manajemen persediaan dan perencanaan produksi serta hubungan dengan pemasok yang baik.
Harus disadari bahwa lingkungan usaha akan selalu berubah, terutama terkait dengan teknologi komunikasi dan informasi. Hal ini sangat penting dalam mempertahankan kelangsungan hidup suatu organisasi bisnis. Dengan cepatnya perkembangan teknologi informasi otomatis akan mengakibatkan perubahan-perubahan dalam akuntansi manajemen karena proses kegiatan dalam perusahaan berubah. Akuntansi manajemen akan menyesuaikan dengan perkembangan kegiatan perusahaan. Kehadiran teknologi informasi jelas akan mampu meringankan aktifitas bisnis yang kompleks dan meningkatkan kecepatan arus informasi. Dengan menerapkan teknologi informasi, efisiensi perusahaan dan laba dapat ditingkatkan sehingga perusahaan dapat terus berkembang di era informasi dan memiliki daya saing di pasar global. Selain manfaatnya teknologi informasi memiliki berbagai dampak negatif seperti timbulnya pengangguran dan kejahatan-kejahaatan teknologi informasi yang membahayakan organisasi sehingga hal ini patut diwaspadai dan dilakukan upaya antisipasi sedini mungkin.
V. TEKNOLOGI INFORMASI DALAM SUMBER DAYA MANUSIA
Saat lingkungan global mengalami suatu perubahan yang tidak dapat diprediksi, maka virtual organization memberikan peluang pada suatu bisnis. Terdapat lima nilai penting untuk mendukung terciptanya virtual organization secara efektif, antara lain:
1. Teknologi informasi: yaitu jaringan informasi yang membentuk perusahaan dan intrepeneur yang saling berhubungan dan bekerjasama.
2. Kinerja prima: karena setiap rekanan usaha sudah terseleksi core-competencenya, lebih mampu memanfaatkan kesempatan yang baik.
3. Kepercayaan: hubungan antara perusahaan menjadikan mereka saling terbuka karena keberhasilan proyek tergantung pada keterbukaan, kesetiaan dan sikap.
4. Tanpa batasan: setiap perusahaan mendefinisikan kembali batas-batas perusahaan.
Organisasi virtual biasanya membentuk aliansi dan kelompok kerja virtual dengan mitra bisnis yang saling berhubungan melalui internet, intranet dan ekstranet. Perusahaan ini sudah dikelola secara internal menjadi kelompok-kelompok lintas fungsi dan proses yang dihubungkan dengan intranet. Organisasi ini mengembangkan aliansi dan hubungan ekstranet yang membentuk system informasi antar perusahaan dengan pemasok, pelanggan, sub kontraktor dan pesaing. Jadi organisasi virtual menciptakan aliansi dan kelompok kerja virtual yang fleksibel.
Kepuasan kerja akan dapat tercipta bila karyawan memperoleh ketenangan dalam melakukan pekerjaan. Banyak factor potensial yang mempengaruhi kepuasan karyawan dan kinerja perusahaan seperti stress yang dialami akibat kondisi lingkungan kerja dan berbagai aturan yang ketat dan kaku.
Bagi perusahaan yang ingin berkembang dan survive dalam lingkungan bisnis yang kompleks, tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menggunakan teknologi, sepanjang hal itu dapat membantu dan memudahkan perusahaan untuk bisa menyesuaikan diri dengan perusahaan lingkungan.
System telecommuting yang standar perlu dipertimbangkan. Intergrated Service Digital Network (ISDN) dan Remote LAN Acces merupakan alat yang sangat populer digunakan karyawan pada waktu mereka bekerja di rumah dan menghubungkannya dengan kantor pusat. Kondisi kerja yang semakin kompleks cenderung memberikan kontribusi terhadap penurunan kepuasan kerja karyawan kinerja perusahaan. Kondisi ini memaksa pihak manajemen mencari pola kerja baru yang dapat mengakomodasi kebutuhan karyawan maupun kepentingan perusahaan yang dapat merangsang karyawan untuk meningkatkan produktivitas.
Di satu pihak organisasi menginginkan karyawan yang berproduktifitas tinggi sedangkan di lain pihak karyawan menginginkan fleksibilitas organisasi. Dengan semakin berkembangnya teknologi informasi kepentingan dari pihak yang berbeda ini dapat diakomodasi melalui pola kerja yang dinamakan telecommuting.
Dari berbagai penelitian yang dilakukan, telecommuting ternyata bisa memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kepuasan kerja dan kinerja perusahaan. Dengan demikian telecommuting dapat dijadikan pola kerja alternative sebagai jawaban atas tujuan perusahaan yaitu kepuasan kerja karyawan dan peningkatan kinerja perusahaan.
Perkembangan bisnis yang semakin cepat dan persaingan antar perusahaan dalam era global menuntut setiap perusahaan untuk mampu mengembangkan system pengambilan keputusan yang cepat, akurat dan andal. Hal ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Joe Carter, salah seorang partner Andersen Consulting Incorporation yang menyatakan bahwa 70 % biaya pengembangan industri manufaktur merupakan proses pengambilan keputusan. Biaya tersebut 90 % diantaranya dialokasikan untuk kebutuhan pembiayaan aktifitas konsultasi baik untuk kegiatan internal perusahaan semacam konsolidasi, rapat-rapat, membeli referensi terbaru, maupun biaya eksternal seperti menyewa konsultan dari luar, mengirimkan pegawai perusahaan untuk mengikuti pelatihan dan sebagainya. Dari komponen biaya tersebut, aktifitas yang melibatkan pakar biasanya yang menjadikan anggaran menjadi besar, disamping tidak selalu mudah mendapatkan pakar yang pas baik waktu ketersediaanya maupun kualifikasinya itu sendiri.
Sistem pakar dirancang untuk membantu proses pengambilan keputusan yang membutuhkan kecepatan, keakuratan, keandalan yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Namun demikian yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa banyak sekali permasalahan yang bersifat unik dan kecepatan perubahan lingkungan membutuhkan kepekaan sang perancang untuk selalu meng-up data dan makin luas jangkauan pemecahannya terhadap permasalahan. Sesuai dengan pepatah lama bahwa yang lebih utama adalah the man behind the gun, maka kepiawaian knowledge engineer dan kerjasamanya dengan pakar, disamping tersedianya berbagai referensi mutakhir merupakan jantung proses perencanaan sistem pakar. Sistem pakar bukan segalanya karena sistem tersebut hanyalah alat bantu saja untuk membuat hidup manusia semakin mudah, murah dan nyaman.
VI. TEKNOLOGI INFORMASI DALAM PERSPEKTIF STRATEGIK
Dari sudut pandang teknologi informasi kita telah melihat berbagai perubahan yang terjadi dalam perusahaan. Secara spesifik perubahan yang terjadi disebabkan oleh kondisi lingkungan bisnis yang semakin kompleks, perubahan teknologi yang sukar diprediksi, tingkat persaingan yang semakin ketat, rekayasa ulang bisnis, perampingan struktur organisasi perusahaan, struktur organisasi horizontal yang bersifat flattening, pemberdayaan organisasi yang perlu didukung oleh teknologi yang canggih dan mengemukakan bahwa revolusi yang terjadi dalam dunia bisnis diwarnai dengan ketidakpastian, meningkatnya jumlah pesaing, aturan-aturan baru, meningkatnya tuntutan pelanggan dan perkembangan berbagai teknologi baru. Perencanaan arsitektur sistem informasi yang meliputi data, sistem jaringan dan teknologi informasi lainnya dalam sebuah perusahaan harus memperhatikan berbagai faktor seperti perubahan bisnis, keseimbangan antara sentralisasi dan desentralisasi dan kesiapan dalam mengakomodasi perkembangan teknologi baru. Disamping itu perusahaan harus pula memperhatikan berbagai isu yang terkait perkembangan daur hidup sistem informasi, maka perlu dalam perencanaanya diperlukan suatu strategi yang tepat dan efektif.
Strategi outsourcing merupakan alternatif organisasi bisnis dalam upaya mencapai keunggulan dalam persaingan. Menurut Lacity dkk (1995) pertumbuhan melakukan outsourcing teknologi informasi adalah dukungan aliansi strategis dan perubahan lingkungan teknologi informasi. Strategi perencanaan outsourcing juga merupakan salah-satu alternatif perencanaan yang mensinkronkan kondisi objektif organisasi dengan sistem informasi yang harus diimplementasikan. Namun harus memperhatikan berbagai keuntungan dan kerugian yang mungkin saja terjadi. melakukan outsourcing harus mempertimbangkan kompetensi inti dan mengacu pada strategic grid untuk manajemen sumber daya informasi.
Pergeseran teknologi informasi yang cepat menyebabkan pergeseran pemanfaatan teknologi informasi menjadikan sistem informasi memiliki peran strategik. Dalam paradigma baru teknologi menempati posisi strategis dalam pencapaian keunggulan kompetitif dalam perencanaan strategis perusahaan karena setidaknya teknologi informasi memungkinkan organisasi bisnis meraih keunggulan kompetitif berupa;
1. Diferensiasi
2. Biaya lebih rendah
3. Penciptaan produk baru
4. Peningkatan layanan purna jual
5. Peningkatan pertumbuhan kapasitas
6. Responsif terhadap customer
7. Superioritas efisiensi
8. Inovasi
9. Pengembangan sistem informasi interorga-nisasional
Dalam meraih keunggulan kompetitif, perusahaan memerlukan strategi yang secara efektif sangat memerlukan dukungan sistem-sistem informasi. Sistem informasi merupakan enabler atau pemampu berbagai strategi yang dipilih. Sehingga sistem informasi memiliki peran strategis yang menciptakan keunggulan kompetitif.
Formulasi Sistem Informasi Strategik (SIS) mempunyai dampak terhadap bagaimana formulasi manajemen informasi dilakukan. Setidaknya terdapat 6 (enam) alasan, yaitu;
1. SIS merupakan sumber daya yang dibutuhkan dan dikelola secara efektif dan efisien
2. SIS dapat mempengaruhi organisasi, bisnis dan manajemen dalam manajemen TI, hal ini disebabkan manajemen TI adalah suatu bagian integral dari keseluruhan organisasi
3. Strategi usaha bergantung atau diciptakan oleh TI. Fungsinya adalah sangat penting dikelola tanpa formalisasi
4. Pada masa lalu ada kekurangan top manajemen dalam membantu dan melibatkan untuk melakukan eksploitasi TI
5. Sebagai kemajuan teknologi dan pilihan-pilihan yang harus dibuat untuk lebih mempercepat pemecahan masalah di bidang teknologi
6. TI menjadi hal yang sangat melekat pada bisnis, manajemen perusahaan dan kehidupan organisasi
Adapun kaitan antara sistem informasi strategik dan keunggulan kompetitif adalah sebagai berikut; 1) Superioritas efisiensi, 2) Kuperioritas kualitas, 3) Superioritas inovasi, dan 4) Respon terhadap customer
Untuk lebih mengoptimalkan strategi TI perlu diketahui rancangan yang dibutuhkan. Arsitektur rancangan kerja teknologi terdiri dari 4 elemen;
1. Pemrosesan data menjadi informasi melalui hardware dan hubungannya dengan sistem operasi software
2. Komunikasi merupakan antar hubungan dan adanya keterkaitan antar kerja atau informasi
3. Data merupakan assets bagi organisasi yang dapat digunakan, diakses, dikontrol dan disimpan data
4. Sistem aplikasi utama merupakan penerapan dan penggunaan data menjadi lebih mempunyai nilai informatif



