Daftar Blog Saya

Menurut anda blogspot ini bagaimana?

Kamis, 08 September 2011


PERTUMBUHAN DAN KARAKTERISTIK ANATOMIS BERBAGAI KLON TANAMAN KARET (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) DI LAHAN PASCA PENAMBANGAN TIMAH YANG DIAMELIORASI DENGAN KOMPOS TANDAN KOSONG KELAPA SAWIT

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tambang timah diusahakan di Indonesia dengan tujuan untuk menjadi salah satu penyumbang devisa dan penyokong ekonomi nasional. Pulau Bangka merupakan pulau penghasil timah terbesar di Indonesia. Permasalahan pokok yang dihadapi dari adanya eksploitasi pertambangan timah adalah akumulasi tanah pasca tambang yang merupakan tanah tailing (ampas) yang merupakan limbah dari hasil pengolahan bijih timah (Sukresno, 1996).
Aktivitas penambangan dapat menurunkan kesuburan tanah, mengurangi areal hutan, dan ketersediaan hasil hutan, dan mengakibatkan hilangnya vegetasi pada suatu lahan. Dampak dari aktivitas penambangan timah di Pulau Bangka menyebabkan perubahan suhu, air, dan kandungan hara pada tanah (Elfis, 1998). Kondisi umum lahan pasca penambangan timah berupa hamparan tailing yang mengandung fraksi pasir > 94%, fraksi liat < 3%, kandungan bahan organik < 1.78%, daya memegang air sangat rendah, permeabilitas air tinggi, jumlah bakteri dan mikoriza sangat rendah (Nurtjahya, 2004). Miskinnya unsur hara, cekaman air, dan suhu tinggi yang terdapat pada tailing timah menyebabkan pertumbuhan menjadi terhambat untuk beberapa jenis tumbuhan pionir ditinjau dari segi pertumbuhan maupun anatomi (Kartawinata, 1980). Perubahan pertumbuhan ditunjukkan daun dan ranting tumbuhan yang gugur kadar nitrogen daun relatif rendah oleh rendahnya pH dan kandungan hara tanah. Riswan, et al., (1991), menjelaskan bahwa suatu bentuk penyesuaian terhadap kadar nitrogen tanah yang rendah, maka terjadi perubahan bentuk daun yang menebal, keras, kaku, sempit, mengkilap dan perakaran yang menjadi lebih panjang serta bentuk tajuk yang relatif merata merupakan bentuk khas untuk tumbuhan yang tumbuh di lahan pasca penambangan timah. Marschner (1986) menyatakan bahwa tanaman yang mengalami defisiensi unsur hara, baik unsur hara makro maupun unsur hara mikro menimbulkan gejala seperti peningkatan nisbah akar/tajuk, jumlah daun berkurang, laju perkembangan daun, anakan, dan percabangan berkurang. Respon tanaman terhadap rendahnya potensial air tanah dan di dalam jaringan juga menentukan tingkat toleransi tanaman terhadap kekeringan. Untuk meningkatkan toleransi oleh kondisi tersebut, maka tanaman akan menjaga turgor melalui pengaturan osmosis, meningkatkan elastisitas sel dan mengurangi ukuran sel serta resistensi protoplasma (Fukai dan Cooper, 1995; Mitra, 2001). Untuk mengurangi dampak cekaman lingkungan tumbuh terhadap pertumbuhan tanaman, diperlukan teknologi budidaya yang tepat sehingga tanaman dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Pemilihan tanaman tertentu untuk dibudidayakan pada lingkungan suboptimal perlu memperhatikan kriteria pertumbuhan tanaman dan nilai ekonomis. Salah satu tanaman tersebut adalah tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.). Tanaman karet merupakan salah satu komoditi sub sektor perkebunan yang berperan penting sebagai sumber devisa dan penyedia lapangan kerja. Tahun 2007, luas areal tanaman karet di Indonesia mencapai 3.279.391 ha dengan produksi 2 juta ton/tahun (Badan Pusat Statistik, 2007). Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, tanaman karet telah lama menjadi komoditi perkebunan yang dibudidayakan oleh masyarakat. Pada tahun 2005 produksi karet sebesar 14.316,59 ton dengan luas lahan 26.481 ha (Badan Pusat Statistik Kepulauan Bangka Belitung, 2006). Tanaman karet dapat tumbuh baik di lahan marjinal di Langga Payung (Sumatera Utara) dengan periode kering yang relatif panjang dengan produktivitas karet yang cukup tinggi (www.penelitian_karet.asp.htm 10 oktober 2008). Klon GT 1 dan PR 261 berumur 8 tahun dapat mencapai produktivitas lebih dari 2.000 kg/ha/th, yang berarti lebih tinggi dari produktivitas karet pada lahan yang selama ini dianggap sesuai untuk karet. Klon PR 261, BPM 24, RRIM 703, PR 255, PR 300, dan GT 1 dapat direkomendasikan untuk ditanam pada lahan marjinal dengan tekstur tanah lempung berpasir sampai pasir berlempung, serta memiliki periode bulan kering yang lama (www.karet.asp.htm 8 Agustus 2008). Sejumlah aplikasi teknologi telah dicobakan untuk memperbaiki lahan tailing seperti pemberian bahan organik untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Pemberian bahan organik tanah berasal dari kompos limbah padat kelapa sawit yang berfungsi dapat memperbaiki agregasi dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air, meningkatkan KTK dan ketersediaan hara untuk tanaman, mengurangi pengaruh Al dan Fe dalam memfiksasi P, dan sumber energi atau makanan bagi mikroorganisme tanah (Rosmarkam et al., 2002). Menurut Gofar et al., (1999), aplikasi bahan organik dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman jagung yang ditanam di lahan tailing secara nyata. Hanura (2005) menginformasikan bahwa pemberian kompos 200 ton/ha pada sandy tailing dan humic tailing berpengaruh baik terhadap pertumbuhan tanaman kedelai sampai fase primordia. Menurut Khodijah et al., (2006), bahan pencampur kompos limbah padat kelapa sawit lebih baik dibandingkan topsoil untuk pertumbuhan awal jarak pagar (Jatropha curcas) pada media tanam tailing timah dengan perbandingan tailing dan limbah padat kelapa sawit 1:2. Untuk memperbaiki tanah tailing, Selain penambahan bahan organik, dapat juga melalui pencampuran overburden. Menurut Santi (2005) bahwa perbaikan tailing dengan overburden dan kompos dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman nilam. Tumbuhan yang tumbuh pada kondisi stres air, suhu, dan unsur hara dapat mencapai toleransi terhadap stres tersebut melalui perubahan karakteristik morfo-fisiologi dari tanaman itu sendiri. Penelitian Coopman et al., (2008) terhadap Eucalyptus pada kondisi kekeringan terjadi perubahan pertumbuhan seperti penurunan tinggi tanaman, luas daun, luas daun spesifik, penurunan biomassa tanaman, dan potensial air pada xilem batang meningkat daun. Selanjutnya Faye et al., (2006) mengatakan bahwa dibawah defisiensi unsur hara P, tanaman Pennisetum glaucum menunjukkan perubahan morfologi akar dan tajuk terutama pada penurunan jumlah akar adventif, biomasa akar, biomasa tajuk, rasio akar/tajuk, dan volume akar dengan pembentukan rambut akar yang lebih sedikit. Ditambahkan oleh Yadav et al., (2001), bahwa perubahan pertumbuhan pada genotif tanaman gandum dibawah kondisi stres air seperti potensial air daun, hasil biji, dan luas daun per tanaman menurun secara drastis. Selain itu, menurut Chartzoulakis et al. (2002) bahwa terjadi perubahan anatomis daun adpokad (Persea americana) pada kondisi stres air seperti penurunan jaringan epidermis, jaringan palisade, jaringan bunga karang, jaringan epidermis bawah, dan ketebalan daun. Banon et al. (2003) juga melaporkan bahwa adanya perubahan anatomis pada tanaman Lotus creticus akibat stres air dan suhu tinggi yang menyebabkan kerapatan trikoma menurun, kerapatan stomata dan jumlah xilem meningkat. Kemampuan adaptasi tanaman karet terhadap lingkungan sangat ditentukan oleh sifat-sifat klon yang dimilikinya. Untuk kondisi tailing diduga kemampuan pertumbuhan dan adaptasi karet sangat terkait dengan karakteristik anatomis dari klon. Karakteristik anatomis dari klon yang sama akan berbeda pada tanah tailing yang berlainan dosis bahan organik. Selanjutnya, penampilan anatomis akar dan daun yang berbeda akan mempengaruhi pertumbuhan tanaman karet. Informasi tentang karakteristik anatomis dan pertumbuhan berbagai klon karet pada tailing yang diameliorasi bahan organik tandan kosong kelapa sawit belum ada. Oleh sebab itu, suatu penelitian untuk mengkaji perubahan pertumbuhan dan karakteristik anatomis berbagai klon perlu dilaksanakan. B. Perumusan Masalah Aktivitas penambangan timah semakin meningkat dari waktu ke waktu dan area penambangan semakin meluas dan tersebar di Pulau Bangka akibat peningkatan harga jual timah dan meningkatnya aktivitas penambangan rakyat serta melimpahnya bahan organik dari berbagai limbah perkebunan di Pulau Bangka. Secara umum permasalahan yang akan dijawab pada penelitian ini adalah: 1. Belum diketahui adanya perubahan pertumbuhan dan karakteristik anatomis klon karet di lahan pasca penambangan timah yang diameliorasi dengan kompos tandan kosong kelapa sawit. 2. Belum diketahui apakah ada klon karet yang adaptif di lahan pasca penambangan timah yang diameliorasi dengan kompos tandan kosong kelapa sawit. 3. Semakin perluya informasi tentang teknologi perbaikan kesuburan media tanam pada tailing timah yang diameliorasi dengan kompos tandan kosong kelapa sawit yang dapat memberikan pengaruh terbaik untuk pertumbuhan tanaman karet di lahan pasca penambangan timah. C. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. Mengetahui pertumbuhan dan karakteristik anatomis klon karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) di lahan pasca penambangan timah yang diameliorasi dengan kompos tandan kosong kelapa sawit. 2. Mendapatkan jenis klon karet yang paling adaptif di lahan pasca penambangan timah yang diameliorasi dengan kompos tandan kosong kelapa sawit. 3. Menentukan perbandingan komponen tailing timah dengan kompos kelapa sawit yang tepat untuk pertumbuhan awal bibit tanaman karet di lahan pasca penambangan timah. D. Hipotesis Penelitian Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah : 1. Terdapat perbedaan pertumbuhan dan karakteristik anatomis klon karet di lahan pasca penambangan timah yang diameliorasi dengan kompos tandan kosong kelapa sawit. 2. Diduga ada klon karet yang adaptif di lahan pasca penambangan timah. 3. Media tanam tailing dengan kompos tandan kosong kelapa sawit perbandingan 1 : 2 v/v akan memberikan pengaruh terbaik terhadap pertumbuhan tanaman karet di lahan pasca penambangan timah. E. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah : 1. Menjadi dasar dalam pemanfaatan tanaman karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.) sebagai tanaman budidaya dilahan pasca penambangan timah. 2. Menghasil perbandingan komponen tailing dengan kompos tandan kosong kelapa sawit yang tepat untuk pertumbuhan awal karet di lahan pasca penambangan timah. 3. Menghasilkan input teknologi perbaikan kesuburan media tanam di lahan pasca penambangan timah. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kondisi Umum Lahan Pasca Penambangan Timah Kondisi tanah yang merupakan perpaduan sifat-sifat fisik, kimia, dan biologi tanah merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan revegetasi lahan pasca penambangan timah. Kustiawan (1990) melaporkan bahwa revegetasi lahan pasca penambangan timah tidak semudah yang diperkirakan karena pada lahan bekas penambangan biasanya tidak mudah memperoleh tanah atasan (topsoil). Kalaupun ada, tanah tersebut seringkali tererosi, telah menjadi padat dan kadang-kadang masih tercampur dengan bahan tambang kemudian permukaan tanah masih belum stabil atau sulit distabilkan. Disamping itu keadaan lahan tersebut sangat tidak subur atau terlalu asam. Hasil karakteristik tanah asli di wilayah tambang (PT Timah, 1990) menunjukkan bahwa tanah di wilayah ini umumnya mempunyai tekstur berlempung, kandungan bahan organik sedang sampai sangat rendah, dan tingkat kesuburan sangat rendah. Di daerah rawa umumnya bertekstur liat sampai lempung liat berdebu, kandungan bahan organik tinggi sampai sangat tinggi dan tingkat kesuburan sedang. Permasalahan pokok yang dihadapi pada pengaruh sampingan adanya eksploitasi pertambangan timah adalah bahwa lahan bekas tambang timah merupakan tanah tailing (ampas) serta merupakan limbah dari hasil pengolahan bijih timah (Anonim, 1990). Hal ini menyebabkan sifat-sifat fisik dan kimia tanah pada tailing menjadi sangat buruk. Bahan ini memiliki potensi kesuburan yang sangat rendah dan kemampuan mengikat kation dan air yang sangat kecil. Ciri sifat-sifat tanah tailing menurut Sukresno (1995) adalah berpori makro, tekstur pasir dan kerikil, kandungan debu dan liat sangat sedikit, struktur sangat rusak, padat bila kering, dan sangat peka terhadap erosi. Dibandingkan dengan tanah asli yang umumnya memiliki tekstur berlempung, kandungan bahan organik sedang sampai sangat rendah dan tingkat kesuburan sangat rendah, tanah pasca penambangan timah menunjukkan bahwa tanah tersebut memiliki pH masam sampai sangat masam (pH 4,9 – 3,3), mengandung fraksi pasir 64-100 %, fraksi liat 0-23 %, kandungan bahan organik sangat rendah (Tabel 1). Tabel 1. Beberapa sifat fisika dan kimia tanah lahan pasca penambangan timah PT. Kobatin di Koba, Bangka Tengah. Lokasi Tekstur % (me/100 g) Pasir Debu Liat C-organik N-Total P-Bray I K-dd KTK Benban II 100 - - 0,13 0,010 3,15 0,06 3,48 Bemban 8 100 - - 0,06 0,005 5,25 0,05 2,18 Bemban Souts 100 - - 0,06 0,005 3,15 0,06 2,18 Jongkong Latent 10 64,1 12,3 23,6 0,57 0,060 3,30 0,13 8,27 Sumber : PT. Koba Tin, 2008 Tailing ini tergolong sulfat masam (Sulfaquens). Terdapatnya pH yang sangat masam menunjukkan tanah tersebut mengandung pirit (FeS2) yang cukup tinggi dan berbahaya bagi tanaman budidaya. Kandungan beberapa jenis logam berat yaitu Sn, Pb, dan Cu yang dianalisis dari beberapa contoh tailing menunjukkan pada tingkat yang tidak membahayakan tanaman. Sebagai akibat penambangan timah, maka tanah yang semula mengandung fraksi pasir berkisar dari 70% sampai 86% dan kandungan fraksi liat berkisar dari 12% sampai 23% tertutup oleh hamparan tailing yang mengandung fraksi pasir > 90% dengan fraksi liat sangat rendah. Pembauran antara tanah limbah tambang dengan tanah asli lapisan atas (top soil) dan penutup permukaan lahan tersebut oleh tanah limbah tambang akan merupakan penyebab menurunnya kesuburan fisik dan kimia tanah di daerah bekas tailing timah.
Sifat-sifat fisika kimia tailing yang merugikan menurut Iskandar dan Soebagyo (1993) antara lain; konsentrasi logam berat dan garam yang tinggi kurangnya unsur hara yang penting, kurangnya organisme mikrobiologi, sifat-sifat tekstur dan struktur tanah yang sangat membatasi infiltrasi dan tingginya daya pantulan sinar matahari atau daya absorbsi panas dalam tailing berwarna terang atau gelap yang menyebabkan terjadinya ketegangan fisik pada tumbuhan.
B. Hubungan Cekaman Lingkungan Dengan Pertumbuhan Tanaman
Perubahan pertumbuhan dan anatomi tanaman sangat tergantung pada faktor lingkungan seperti suhu, air, dan kandungan bahan organik tanah. Stres lingkungan dapat didefinisikan sebagai keadaan lingkungan yang merugikan pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan sedangkan ketahanan stres (resistensi) sebagai kemampuan tanaman untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Organisme hidup dapat beradaptasi, sehingga dapat mengurangi atau mencegah strain (segala bentuk kerusakan fisik atau kimia yang timbul karena stres) (Harjadi dan Yahya, 1988).
Faktor stres lingkungan merupakan faktor pembatas utama untuk peningkatan produksi bahan pangan. Stres abiotik utama adalah kekeringan, suhu tinggi, stres air, dan unsur hara yang rendah. Faktor lingkungan seperti kekurangan air dan suhu tinggi atau perubahan genotipe dapat mempengaruhi pertumbuhan dan hasil tanaman dengan mempengaruhi proses fisiologi dan kondisi tanaman (Harjadi dan Yahya, 1988).
Sebagai organisme hidup, tanaman berbeda dengan benda mati dalam menghadapi stres lingkungan. Kemampuannya memulihkan diri dalam menghadapi tekanan stres dan mampu menyelesaikan fase generatif. Menurut Levitt (1980), ada tiga hal yang perlukan tanaman untuk tetap tumbuh dalam kondisi cekaman lingkungan seperti cekaman kekeringan yaitu lepas dari cekaman kekeringan (drought escape), terhindar dari kehilangan air (dehydration avoidance) dan tanaman yang berumur genjah dengan pengaturan waktu tanam yang tepat.
Tiap jenis tanaman maupun populasinya harus menyesuaikan diri dengan suhu di lingkungannya. Bila suhu tanaman bergeser dari optimum dan mendekati batas tertinggi atau terendah dari kisaran toleransinya, berbagai aktifitas enzim akan menurun satu persatu sehingga mengurangi perkembangan walaupun gejalanya tidak terlihat dengan jelas (Jumin, 2002).
Suhu diatas 30 °C merupakan faktor kritis untuk berbagai jenis tanaman bila senyawa-senyawa protein cenderung lepas dan tidak dapat kembali ataupun bila enzim-enzim tidak dapat berfungsi. Suhu tanaman yang tinggi akan mengakumulasikan zat-zat beracun dalam sel-sel tanaman sehingga merusak tanaman tersebut. Bahan beracun tersebut dapat diangkut ke jaringan lain dan menyebabkan kerusakan yang lebih intensif (Roel et al., 2005).
Menurut Vinocur dan Ritchie (2001), suhu yang tinggi dapat menyebabkan beberapa penyakit daun seperti perubahan warna dan kehangusan atau kebakaran daun. Perubahan warna terjadi akibat rusaknya zat-zat warna hijau daun. Kerusakan tersebut biasanya maksimum diujung atau di pinggir daun, tingkat kerusakan daun umumnya ditentukan oleh umur daun. Kebakaran daun merupakan akibat dari evaporasi atau transpirasi yang berlebihan, transpirasi dapat berjalan dengan kecepatan yang tinggi pada suhu tinggi sehingga absorbsi air tidak dapat mengimbangi transpirasi daun. Jika kekurangan air tersebut tidak diimbangi, daun menjadi layu dan sel-sel mati. Stres air pertama terjadi pada sel-sel yang terletak diujung sistem pembuluh pengangkutan air, kerusakan pertama terjadi pada ujung daun dan pinggir daun (Wilson et al., 1995).
Suhu yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya perubahan jumlah dan warna daun. Hal ini sependapat dengan penelitian Vinocur et al., (2001) yang menyatakan bahwa jumlah daun pada tanaman jagung berkurang akibat suhu yang terlalu tinggi pada berbagai tingkat kedalaman perlakuan penanaman.
Hasil potensi canola (Brassica napus L) di Canada sering menurun karena kekeringan dan musim pertumbuhan yang singkat (Blackshaw, 1991; Kirkland dan Johnson, 2000). Selanjutnya ditambahkan oleh Gupta dan Panwar (2006) bahwa perubahan pertumbuhan genotip Chickpea akibat suhu tinggi menyebabkan penurunan hasil biji dan kerusakan membran sel pada saat tanaman berbunga sekitar 50%, 20 hari setelah pembungaan, 40 hari setelah pembungaan, dan penurunan luas daun spesifik pada saat pembentukan polong.
Penyerapan air oleh tumbuhan sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup tumbuhan. Proses penyerapan air merupakan transportasi jarak jauh dari tanah menuju daun. Semakin banyak jumlah akar, maka semakin besar pula jumlah air yang diserap oleh tumbuhan. Penyerapan air dipengaruhi oleh kapasitas lapang. Tanah yang berpasir seperti tanah bekas penambangan timah, memiliki kapasitas lapang yang rendah dibanding tanah gembur. Kapasitas lapang yang rendah dapat menyebabkan tumbuhan stres air (Chartzoulakis et al. 2002).
Defisit air internal terjadi ketika potensial air rendah dan turgor sel mulai dibawah nilai maksimumnya (Kozlowski dan Pallardy, 1997). Spesies atau kultivar yang toleran terhadap stres air umumnya secara morfologis dan anatomis melalui mekanisme seperti produksi lebih tinggi. Mekanisme tersebut melibatkan pengambilan air yang banyak melalui kedalaman tanah dengan kerapatan akar yang besar dan mengurangi kehilangan air melalui penutupan stomata (Kramer, 1963). Hal ini memperbaiki status air tanaman dan khususnya dalam menjaga turgor yang dapat dicapai melalui penyesuaian osmotik dengan elastisitas dinding sel, sehingga dapat memelihara aktivitas fisiologis selama periode kekeringan (Turner dan Kramer, 1980). Selanjutnya Wilmer (1983) mengatakan bahwa tumbuhan yang tumbuh pada kondisi cekaman kekeringan mempunyai kerapatan stomata yang lebih banyak dibanding tumbuhan yang tumbuh dilingkungan yang normal.
Stres air pada tanaman dapat disebabkan oleh dua hal yaitu kekurangan suplai air di daerah perakaran dan permintaan air yang berlebihan di daun, dimana laju evapotranspirasi melebihi laju absorbsi air oleh akar tanaman, walaupun keadaan air tanah cukup (jenuh).
Absorbsi air dalam tanah dipengaruhi oleh tekanan akar dan daya hisap daun. Pada kondisi tanah yang memiliki kapasitas lapang yang berlebih dapat menyebabkan tanah jenuh oleh air. Menurut Fakuara dan Soekotjo (1986), keadaan tanaman yang tumbuh pada tanah yang jenuh oleh air dapat menyebabkan tanaman mengalami keretakan pada dinding selnya (plasmolisis). Hal ini dapat terjadi bila tanaman berada dalam tekanan turgor maksimal, dimana sel tidak dapat menahan volume air yang diserapnya sehingga dinding sel pecah. Selanjutnya dinyatakan bahwa tanaman dengan sendirinya dapat beradaptasi apabila tanah berada dalam kondisi yang jenuh oleh air dengan cara sel tumbuhan akan menghentikan pengambilan air. Jika bagian dalam tanah memiliki kelembaban yang lebih rendah dibanding tanah di permukaan, sehingga akar dalam tanah memiliki ketebalan diameter yang kecil dibanding akar diatasnya. Penyerapan pada tanah yang kering lebih rendah dibanding tanah lembab
(Eshel et al., 2002).
Tanaman menunjukkan susunan respon adaptif yang luas pada ketersediaan unsur hara makro yang rendah untuk meningkatkan mobilitas unsur tersebut di tanah dan peningkatan penyerapannya. Lahan marjinal memberikan stres defisiensi hara makro N, P, K, Ca, Mg dan bersamaan dengan itu terjadi peningkatan hara yang toksik seperti Al, Fe, dan Mn (Granados et al., 1993). Pengapuran dan pemupukan dosis yang tinggi merupakan alternatif untuk mengatasi hal tersebut, tetapi cara ini memiliki beberapa keterbatasan, terutama jika diterapkan pada lahan yang luas karena memerlukan biaya yang mahal, selain itu masih sulit dilakukan oleh sebagian petani. Menurut Gardner et al., (1991) defisiensi hara N, P, dan Cu menyebabkan berkurangnya jumlah daun, laju perkembangan daun, dan anakan. Respon adaptif juga terjadi perubahan morfologi akar untuk meningkatkan penerimaan P dari tanah (Yong et al., 2003). Mengenai hal ini, bermacam morfologi dan genotif baik pada tanaman seperti jewawut (Hordeum vulgare L.), jagung (Zea mays L.) dan Arabidopsis thaliana (Lynch dan Bates, 2001). Bruck et al., (2002) melaporkan perbedaan genotif pada parameter tajuk dan akar tanaman pearl millet yang defisiensi P.
Menurut Osaki et al., (1997) melaporkan bahwa tanaman kapas yang defisiensi K sangat mempengaruhi proses metabolisme tanaman. Respon pertama diperlihatkan oleh akar, diikuti oleh batang, tangkai daun dan luas daun. Defisiensi K juga ditemukan pada pertumbuhan tanaman durian (Durio zibethinus) seperti penurunan luas daun, laju tinggi tanaman, laju diameter batang, laju pertumbuhan akar menurun, dan biomassa tanaman (Masdar, 2003).
Hasil penelitian Juairiah (2008) menunjukkan bahwa pemberian limbah padat kelapa sawit berpengaruh baik terhadap peningkatan kandungan nitrogen dan klorofil jaringan daun dengan perbandingan komposisi tailing dan limbah padat kelapa sawit 2 : 1 v/v pada Jatropha curcas.
C. Hubungan Konduktivitas Akar dengan Karakteristik Anatomis
Untuk memperoleh tanaman karet yang seragam di lapangan, disamping memerlukan cara tanam dan pemeliharaan yang baik, juga memerlukan bibit hasil okulasi yang entresnya diambil dari kebun entres yang memiliki klon-klon murni. Ciri-ciri suatu tanaman (klon) kadang-kadang berubah. Perubahan ini disebabkan oleh pengaruh keadaan lingkungan tempat tanaman itu tumbuh seperti jenis tanah, kesuburan tanah, tinggi tempat, iklim, kekurangan unsur hara tertentu, lindungan dan sebagainya (Setyamidjaja, 2008).
Menurut Setyamidjaja (2008), pengenalan klon-klon karet sangat penting baik bagi peneliti maupun petugas lapangan ataupun petani. Dengan mengenal ciri-ciri klon karet, akan dapat menjamin mutu tanaman karet unggul yang dibudidayakan, khususnya pada perkebunan-perkebunan karet rakyat.
Ciri-ciri beberapa klon unggul yang dianjurkan oleh balai penelitian untuk digunakan sebagai bibit dalam budidaya karet dalam rangka produksi lateks dan penghasil kayu yang tinggi. Pada penelitian ini diambil beberapa klon unggul yang diujicobakan di lahan pasca penambangan timah seperti klon GT 1, PB 260, IRR 59, BPM 24 dan PR 303. Deskripsi beberapa klon karet yang diuji dapat dilihat pada Lampiran 8.
Konduktivitas akar dihitung untuk mengetahui daya serap akar dalam menyerap air. Semakin tinggi nilai konduktivitas, maka semakin besar daya serap air dan hara oleh akar, hal ini berkaitan juga dengan status hara pada media tumbuh (Gambar 1). Konduktivitas luasan sayatan melintang akar T. Orientalis dan C. bartramia pada lahan pasca penambangan lebih besar dibandingkan kondukvitas luas sayatan melintang akar yang tumbuh hutan asli (Juairiah et al., 2005). Kepadatan xilem dan tracheid akar dan batang merupakan satu indikator kapasitas tumbuhan untuk menghisap dan mengangkut air. Diameter komponen-komponen xilem berperan kuat pada daya konduktivitas xilem (Jones, 1992).
Penelitian ini juga serupa dengan penelitian terdahulu yang membandingkan konduktivitas luasan sayatan melintang akar dan nisbah jaringan pada tiga tanaman lokal yang tumbuh alami di lahan pasca tambang dan yang tumbuh di tepi hutan sekunder di Desa Sempan (Nurtjahya et al., 2005).
Peningkatan jumlah dan diameter berkas pembuluh atau xilem yang meningkat merupakan salah satu bentuk respon tanaman pada kondisi cekaman air dan hara. Media tanaman pasir lebih sulit untuk menyimpan air dan hara dibanding media topsoil, sehingga pupuk yang diberikan lebih mudah tercuci pada saat penyiraman tanaman dan akar berusaha untuk menyerap air dan hara dengan meningkatkan jumlah pembuluh xilem dan memperbesar diameter berkas pembuluh. Menurut Nurtjahya et al. (2005) dan Juairiah (2008) diduga, peningkatan nisbah konduktivitas ini diikuti oleh karakter morfologi dan fisiologi pada daun sehingga meningkatnya berkas pembuluh atau pembuluh xilem tidak berakibat fatal bagi tanaman yang tumbuh di lahan terbuka dan poros.
Sebagai tambahan, potensial air tanah rendah merupakan pengaruh penting terhadap produksi hasil canola di Canada Barat (Hao dan Jong 1988). Potensial air tanah menurun juga menunda dan mengurangi perkecambahan dan pertumbuhan tanaman (Schneider dan Gupta, 1985). Ketika kandungan air tanah menurun, ion yang menempati pori-pori tanah dan pergerakannya menurun. (Payne et al., 1991), menyatakan bahwa ketersediaan air yang rendah dapat menyebabkan penurunan dalam ketersediaan unsur hara makro dan penyerapannya.






Gambar 1. Penampang melintang akar T. orientalis di habitat hutan (A) dan lahan bekas penambangan (B); periderm (a), korteks (b), xilem sekunder (c), xilem primer (d), dan floem (e).

Hubungan konduktivitas akar dengan stomata sangat berpengaruh pada kondisi kekeringan, dimana peningkatan konduktivitas akar diikuti dengan jumlah dan besarnya stomata. Menurut Arisanti (2005), konduktivitas akar dapat meningkat akibat dari kondisi tanah yang kering, dimana akar akan memiliki jumlah cabang akar yang banyak dengan diameter kecil, begitu pula dengan jumlah dan besar stomata dapat meningkat akibat kondisi lingkungan yang kering dan panas. Hal ini mendukung pernyataan Willmer (1983) bahwa tanaman yang tumbuh di daerah kering dan banyak mendapat penyinaran matahari akan mempunyai kerapatan stomata yang lebih besar dibandingkan tanaman yang tumbuh di daerah basah dan ternaungi. Menurut Kolek dan Kozinka (1991) kapasitas konduktivitas membrikan informasi tentang banyaknya air yang dapat dilalui dalam elemen penghantar pada tabung kapiler.



D. Limbah Padat Kelapa Sawit
Upaya pembudidayaan tanaman dengan pertanian organik merupakan usaha untuk dapat mendapatkan bahan makanan tanpa penggunaan pupuk anorganik. Dengan sistem ini, diharapkan tanaman dapat hidup tanpa ada masukan dari luar sehingga dalam kehidupan tanaman terdapat suatu siklus hidup yang tertutup. Menurut Hadi dan Sudiharto (2004), untuk meningkatkan produktivitas lahan bekas pertambangan, langkah awal yang dilakukan adalah peningkatan kadar bahan organik tanah. Bahan organik sangat berguna untuk perbaikan sifat fisik dan kimia tanah yang menjadi faktor penentu kesuburan tanah (Hardjowigeno, 1995).
Dari kegiatan industri kelapa sawit akan dihasilkan berbagai jenis limbah padat maupun cair. Karena volume panen yang cukup tinggi per tahun, maka volume limbah yang dihasilkan juga luar biasa tingginya. Dengan keseragaman sifat-sifat dan keberadaannya, maka peluang pengolahannya menjadi produk samping menjadi sangat prospektif. Beberapa penelitian telah berhasil mengungkap potensi pupuk organik dari beberapa jenis limbah padat organik kelapa sawit. Kecuali pelepah yang ditumpuk di lapangan dan batang kelapa sawit yang tersedia setiap 20-25 tahun sekali, limbah-limbah tersebut memiliki jumlah dan kesinambungan pasokan yang banyak dan tempatnya tidak terpencar. Secara nasional terdapat sekitar 205 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Indonesia di mana sekitar 86 persen berada di luar Jawa. Produksi tandan buah segar (TBS) tahun 2004 diperkirakan mencapai 53,8 juta ton dan limbah padat organik berupa tandan kosong kelapa sawit (TKKS) sebesar 12,4 juta.
Bahan TKKS memiliki nutrisi yang lengkap dan jumlahnya cukup tinggi serta dapat tersedia bagi tanaman jika bahan TKKS telah mengalami dekomposisi (Darmosarkoro dan Winarna, 2003). Oleh karena sifat fisiknya, pengomposan TKKS secara konvensional memerlukan waktu yang lama (4-6 bulan). Aplikasi kompos pada tanaman karet dapat memberikan beberapa keuntungan yaitu memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah dan mengurangi pencemaran lingkungan. Pemanfaatan TKKS selama ini lebih banyak diterapkan pada areal pertanaman kelapa sawit dengan menebar limbah padatnya diatas permukaan tanah sebagai mulsa.
Bahan organik berperan secara fisik dan kimia terhadap tanah. Menurut Hanafiah (2005), secara fisik bahan organik berperan mempengaruhi warna tanah, merangsang granulasi, menurunkan plastisitas dan daya kohesi tanah, menyebabkan struktur tanah menjadi lebih remah, dan meningkatkan daya menahan air sehingga dapat meningkatkan kestabilan kelembaban dan temperatur tanah. Secara kimiawi, bahan organik berperan dalam meningkatkan humus tanah, mengurangi pencucian unsur hara, meningkatkan kapasitas tukar kation, dan meningkatkan ketersediaan unsur hara P dan hara lainnya.
Salah satu usaha untuk meningkatkan produktivitas atau produksi dan kualitas yang baik bagi tanaman karet yaitu kandungan hara pada tanaman itu sendiri yang seimbang. Hal itu dapat dilakukan antara lain dengan cara pemberian kompos limbah padat kelapa sawit. Karena dengan pemberian pupuk organik atau limbah tersebut, selain menambah zat hara bagi tanah yang baik bagi tanah juga berguna untuk perbaikan fisik tanah yang terserap baik oleh sistem perakaran yang nantinya akan ditranslokasikan ke seluruh bagian tanaman. Pada penelitian ini bahan organik yang dicobakan adalah tandan kosong kelapa sawit.
Pemberian bahan organik tanah berasal dari limbah padat kelapa sawit yang berfungsi dapat memperbaiki agregasi dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air, meningkatkan KTK dan ketersediaan hara untuk tanaman, mengurangi aktivitas Al dan Fe dalam memfiksasi P, dan sumber energi atau makanan bagi mikroorganisme tanah (Rismunandar, 1987 dan Sudradjat, 2007).
Industri minyak sawit diberbagai pelosok tanah air, setiap harinya dihasilkan limbah berupa tandan kosong sawit dan cangkang yang pemanfaatannya sangat kecil. Limbah ini di andalkan potensinya karena mengandung unsur hara bagi tanaman oleh karena itu, pemanfaatan limbah sawit akan merupakan terobosan yang baik untuk memacu pertumbuhan maupun upaya melestarikan lingkungan (Lubis, 1992).
Limbah padat kelapa sawit terdiri dari tandan buah kosong, serat, cangkang biji, batang pohon dan pelepah daun. Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah bahan organik yang dihasilkan sebanyak 23% dari tandan buah segar (TBS). Setiap ton TKKS mengandung unsur hara yang setara dengan 3,0 kg urea, 0,6 kg RP, 12,0 kg MOP, dan 2,0 kg kieserit (Loong et al., 1987). Oleh karena itu, TKKS berpotensi sebagai penyuplai unsur hara bagi tanah dan tanaman.
Limbah padat kelapa sawit sebagai bahan sampingan yang menghasilkan dari pengolahan minyak kelapa sawit diketahui mengandung air (95%), padatan (4-5%) dan minyak (0.01-15%) serta terdiri dari protein kasar 11.3%, lemak kasar 16.4% serat kasar 17.8%, nitrogen 2.20%, kalium 2.8%, fosfor 0.4%, dan kalsium 0.7% (Departemen Pertanian, 1996). Sedangkan hasil analisis limbah sawit yang diambil dari perkebunan sawit di Kepulauan Bangka Belitung yang dilakukan Laboratorium kimia dan kesuburan tanah UNSRI (2003) menunjukkan adanya kandungan C-Organik 43.90%, N-Total 4.35%, P-Bray I 138.75 ppm, K-dd 4.47% Cmol/kg, Mg 4.69 Cmol/kg dan kadar air 18.49%.

III. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
Penelitian berlangsung dari bulan Maret sampai dengan bulan November tahun 2009. Tempat penelitian di lahan pasca penambangan timah Kuasa Penambangan PT. Koba Tin yang berlokasi di Desa Bemban Kecamatan Koba Kabupaten Bangka Tengah (Lampiran 1). Pembuatan sediaan mikroskopis dilakukan pada bulan November - Desember tahun 2009 di Laboratorium Anatomi dan Morfologi Tumbuhan, FMIPA IPB Bogor.
B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini antara lain bahan tanam berupa stum mata tidur yang diperoleh dari Pusat Penelitian Karet Balai Penelitian Sembawa Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumatera Selatan. Untuk perbaikan media tumbuh tanaman dengan perlakuan limbah padat kelapa sawit berupa kompos tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dari pabrik pengolahan kelapa sawit PT. Gunung Maras Lestari di Kecamatan Bakam Kabupaten Bangka. Pupuk anorganik sebagai pupuk dasar berupa NPK 16:16:16.
Alat-alat yang akan digunakan antara lain, cangkul, meteran, kompas, gembor, jangka sorong, plastik sampel, neraca analitis, oven listrik, leaf area meter portable, oven paraffin, mikrotom putar, hot plate, perangkat pewarnaan (staining jaringan), dan mikroskop.

C. Metodelogi Penelitian
Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial :
Faktor I : Klon karet (k):
k1 = Klon karet GT 1 k4 = Klon karet IRR 59
k2 = Klon karet BPM 24 k5 = Klon karet PB 260
k3 = Klon karet PR 303
Faktor II : Kompos Tandan Kosong Kelapa Sawit (t)

t0 = media tailing tanpa kompos TKKS (kontrol)

t1 = media tailing + kompos TKKS 2:1 (v/v)

t2 = media tailing + kompos TKKS 1:1 (v/v)

t3 = media tailing + kompos TKKS 1:2 (v/v)

t4 = media tailing + kompos TKKS 1:3 (v/v)
Jumlah kombinasi keseluruhan 25 kombinasi perlakuan dengan
masing-masing perlakuan terdapat 4 ulangan. Jumlah tanaman yang ditanam per unit sampel sebanyak 4 tanaman sehingga total yang ditanam ada 400 tanaman karet.
Adapun cara kerja dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bahan Tanaman karet berupa stump mata tidur diambil dari lokasi pembibitan. Setelah akar tunggang dipotong sampai bersisa ± 30 cm dan dilakukan pengepakan dengan kotak kardus yang diisi serbuk gergaji, kemudian stum diangkut ke kebun pembibitan.
2. Di lokasi pembibitan selanjutnya bahan tanam berupa stump mata tidur di tanam pada media tanah topsoil di polybag dibuat lubang tanam sedalam ± 15 cm. Stump dimasukkan ke polybag, diisi dengan tanah mineral dan dipadatkan. Polybag selanjutnya disusun di atas guludan dengan permukaan datar. Pemeliharaan bibit meliputi penyiraman, pembersihan gulma, dan pengendalian hama dan penyakit. Selain itu, akan dilakukan juga pemupukan dengan pupuk anorganik NPK sesuai dengan dosis anjuran pada umur satu bulan dan tiga bulan setelah tanam di polybag. Bibit dibiarkan tumbuh sampai membentuk dua payung yang telah siap di tanam di lahan pasca penambangan timah lebih ± berumur 4 bulan.
3. Karakteristik awal bahan tailing dan bahan organik berupa kompos tandan kosong kelapa sawit dianalisis sifat-sifat fisik dan kimianya, parameter dan metode analisis mengacu pada metode dari Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat (PPTA) Bogor. Sejumlah sampel dari masing-masing bahan diambil dan dimasukkan dalam kantong plastik. Selanjutnya sampel tersebut dianalisis di Laboratorium Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya.
4. Tailing dan kompos TKKS dicampur sesuai dengan perlakuan. Total masing-masing perlakuan terdapat 20 unit. Selanjutnya campuran media tersebut diinkubasikan selama 7 hari.
5. Sebelum bibit karet dipindahkan ke lahan pasca penambangan timah, persiapan pembuatan lubang tanam atau menggunakan sistem pot berukuran 40 cm x 40 cm x 40 cm dengan jarak antar pot 2 m x 2 m. Pot atau lubang tanam diisi sampai penuh dengan campuran media tailing dan limbah padat kelapa sawit sesuai perlakuan.
6. Bibit karet yang telah siap, dipindahkan ke lahan pasca penambangan timah diangkut secara hati-hati agar akar tunggang dan pucuknya tidak mengalami kerusakan. Bibit dimasukkan kedalam lubang tanam dengan membuka polybag yang susunannya sesuai dengan denah lokasi yang telah ditetapkan (Lampiran 2).
7. Pemeliharaan bibit klon karet meliputi penyiraman yang dilakukan pagi hari. Pemeliharaan lain seperti, pembersihan gulma, dan pengendalian hama dan penyakit secara kimiawi dengan pestisida. Selain itu, dilakukan juga pemupukan dengan pupuk anorganik NPK majemuk sesuai dengan dosis anjuran pada umur satu bulan setelah tanam dan dua bulan setelah tanam masing-masing 14 gram.
8. Pengambilan sampel untuk pembuatan sediaan mikroskopik, sampel adalah daun dan akar tanaman karet. Daun diambil pada posisi payung ke-3 (daun ke-3 dan ke-4 dari pucuk) untuk setiap klon dari 1 tanaman contoh di lapangan pada saat tanaman berumur 3 bulan setelah tanam. Sediaan mikroskop berupa irisan paradermal dan transversal dari daun dan akar. Daun ke-3 dari pucuk tanaman langsung difiksasi dalam alkohol 70% untuk sediaan irisan paradermal dan irisan transversal daun ke-4 dipotong sebesar 1 cm x 1 cm dan akar dengan panjang 1 cm lalu difiksasi dalam alkohol 70%.
9. Pembuatan sediaan mikroskopis berupa irisan paradermal daun dibuat dalam bentuk sediaan semi permanen dengan pewarnaan safranin mengikuti metode wholemount (Sass, 1951) (Lampiran 4) dan irisan transversal daun dibuat dengan menggunakan metode parafin (Johansen, 1946) dengan modifikasi pada proses infiltrasi parafin ke dalam jaringan (Lampiran 5).
D. Peubah yang di Amati
Peubah yang diamati pada klon karet meliputi pertumbuhan dan karakteristik anatomis klon karet.
1. pertumbuhan karet meliputi :
a. Tinggi tanaman (cm), diukur dari pangkal batang sampai dengan daun tertinggi, Pengukuran dilakukan setiap bulan sampai akhir penelitian.
b. Diameter batang (cm2), di ukur 5 cm dari tautan batang dengan cabang. Pengukuran dilakukan setiap bulan sampai akhir penelitian.
c. Jumlah lembaran daun yang dihitung setiap bulan sampai akhir penelitian.
d. Total luas daun per tanaman. Pengukuran total luas daun diukur di akhir penelitian.
e. Jumlah akar lateral. Jumlah akar lateral diukur pada akhir penelitian.
f. Total volume akar, diukur menggunakan gelas ukur. Pengukuran dilakukan pada akhir penelitian.
g. Kandungan klorofil dan nitrogen, diambil dari contoh daun untuk setiap klon kemudian dianalisa untuk klorofil daun dianalisa di laboratorium Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan Fakultas Pertanian IPB, sedangkan nitrogen di analisa di laboratorium Research Group on Crop Improvement, IPB Bogor.
h. Berat kering akar dan tajuk. Akar dan tajuk di oven selama 2 hari kemudian ditimbang berat keringnya.
2. Peubah dari anatomi daun klon karet yang diamati dibawah mikroskop dan diamati pada 5 bidang pandang untuk irisan paradermal dan irisan transversal yaitu :
a. Irisan paradermal meliputi :
1. kerapatan stomata (µm2/mm2). Kerapatan stomata dapat dihitung dengan cara menghitung jumlah stomata dibagi dengan satuan luas bidang pandang.
2. panjang dan lebar stomata (µm). Ukuran stomata yang meliputi panjang dan lebar stomata diukur dengan menggunakan mikrometer dalam satuan µm. Pengukuran kerapatan stomata dan ukuran stomata dilakukan pada awal dan akhir penelitian.
b. Irisan transversal meliputi :
1. Daun; peubah yang diamati adalah tebal daun, tebal jaringan epidermis atas, tebal jaringan palisade, tebal jaringan spons, dan tebal jaringan epidermis bawah dengan menggunakan mikrometer dalam satuan µm. Pengukuran dilakukan pada awal dan akhir penelitian.
2. Akar; peubah yang diamati adalah konduktivitas luas sayatan melintang akar (kuadrat dari setengah rata-rata diameter xilem, dikalikan dengan phi (3,14) dan dikalikan dengan total pembuluh xilem pada penampang melintang) dan nisbah konduktivitas luas sayatan melintang akar terhadap total luas sayatan melintang akar.


E. Analisa Data.
Data hasil penelitian untuk setiap peubah disajikan dalam bentuk tabulasi silang (cross table) antara faktor klon dan faktor kompos. Data setiap peubah dianalisis dengan sidik ragam pada taraf uji 5% untuk melihat pengaruh klon dan kompos tandan kosong kelapa sawit serta interaksinya dan kemudian bila beda nyata dilanjutkan pengujian antar nilai rata-rata perlakuan menggunakan uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Analisis gerombol (cluster analysis) dilakukan terhadap data pertumbuhan dan anatomi berdasarkan jarak ketidakmiripan (euclidean) dalam bentuk dendogram dengan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pasir tailing yang digunakan untuk penelitian ini berada dilokasi lahan pasca penambangan timah PT. Koba Tin di Bemban, Kabupaten Bangka Tengah. Sebagian lahan ini sudah direvegetasi dengan berbagai jenis tumbuhan pionir dan beberapa tanaman lokal antara lain Syzigium garcinifolium, Ficus sp, Acacia mangium, Vitex pinnata dan Paraserianthes falcataria. Hasil analisis fisika dan kimia tanah disajikan pada Tabel 2. Pasir tailing mempunyai tingkat kesuburan yang rendah yang dicirikan oleh pH tanah yang masam (pH), C-organik, N-Total, K-dd, Ca, Mg dan KTK tergolong sangat rendah, dan P-Bray sangat rendah. Berdasarkan kriteria segitiga tekstur USDA tailing timah tersebut termasuk dalam kelas tekstur pasir dengan fraksi pasir mencapai 100%, fraksi debu dan liat masing-masing 0 %. Fraksi pasir 100 % menyebabkan KTK tanah sangat rendah karena fraksi pasir tidak bermuatan listrik. Peningkatan kadar pasir dan menurunnya kadar liat dan debu ini disebabkan adanya proses pencucian dimana terjadi pemisahan tekstur halus dan kasar untuk memisahkan bijih timah dari kotoran. pH tanah pada tailing tergolong masam yang disebabkan adanya pencucian basa-basa. Dengan adanya penambahan kompos TKKS terhadap tailing dapat meningkatkan pH, KTK, dan C-organik tanah (Tabel 1).

Tabel 2. Sifat fisika dan kimia pasir tailing yang diameliorasi dengan kompos TKKS

Jenis media pH (1:1) (%) P-Bray I (ppm) (me/100 g) KTK Tekstur (%)
H2O KCl C-Organik N-Total K-dd Na Ca Mg Pasir Debu Liat
Pasir tailing timah 5,5 4,23 0,02 0,001 2,4 0,13 0,11 0,23 0,1 1,53 100 - -
Pasir tailing timah + kompos TKKS 2 : 1 v/v 6,2 7,2 0,48 0,05 28,5 0,51 0,65 0,78 0,27 2,58 100 - -
Pasir tailing timah + kompos TKKS 1 : 1 v/v 8,02 7,35 1,24 0,1 51,3 2,79 3,44 1,78 0,3 9,15 100 - -
Pasir tailing timah + kompos TKKS 1 : 2 v/v 8,23 7,39 1,45 0,13 68,25 3,2 2,72 1,95 0,4 9,23 100 - -
Pasir tailing timah + kompos TKKS 1 : 3 v/v 8,27 7,62 2,6 0,26 75,45 4,39 3,16 3,25 0,35 12,4 100 - -
Kompos TKKS 8,63 7,78 14,39 0,84 82,8 5,98 6,04 4,95 1,08 29,58 100 - -




1. Pertumbuhan Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
Respon pertumbuhan klon karet di lahan pasca penambangan timah dengan perbandingan komposisi kompos tandan kosong kelapa sawit dicerminkan oleh parameter pertumbuhan. Parameter pertumbuhan meliputi tinggi tanaman, diameter batang, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil daun, kandungan nitrogen daun, jumlah dan volume akar lateral, berat segar dan berat kering akar, berat segar dan berat kering tajuk.
Hasil analisis keragaman pada Tabel 3 menunjukkan bahwa perbedaan klon karet memberikan pengaruh nyata pada peubah diameter batang, kandungan nitrogen daun, jumlah dan volume akar lateral, dan berat kering akar. Perlakuan kompos TKKS (Tandan Kosong Kelapa Sawit) memberikan pengaruh nyata terhadap semua peubah yang diamati. Interaksi antara klon karet dan kompos TKKS hanya memberikan pengaruh nyata terhadap peubah diameter batang, jumlah akar lateral, dan rasio konduktivitas akar.
Tabel 3. Hasil analisis keragaman terhadap parameter pertumbuhan klon karet di lahan tailing yang diameliorasi dengan kompos TKKS

Parameter F-hit KK
Klon Kompos Interaksi
Tinggi tanaman 1,68 tn 7,66 * 0,6 tn 50
Diameter batang 12,28 * 38,69 * 10,71 * 12,1
Jumlah daun 0,47 tn 3,06 * 1,18 tn 30,7
Luas daun 0,8 tn 2,85 * 1,31 tn 27,2
Klorofil daun 0,55 tn 3,97 * 1,21 tn 67,5
Nitrogen daun 7,75 * 7,17 * 1,38 tn 24,6
Jumlah akar lateral 3,83 * 4,71 * 1,95 * 12,4
Volume akar lateral 3,3 * 2,83 * 0,59 tn 19,7
Berat kering akar 3,73 * 4,25 * 0,56 tn 41,4
Berat kering tajuk 0,35 tn 5,62 * 0,92 tn 29,04
Konduktivitas akar 0,93 tn 8,4 * 0,78 tn 12,8
Rasio konduktivitas akar 3,35 * 15,2 * 1,87 * 21,1
Uji F-tabel 2,5 2,5 1,79
Pertambahan tinggi tanaman karet di lahan pasca penambangan timah dipengaruhi oleh kompos TKKS. Hasil terbaik untuk tinggi tanaman diperoleh dari komposisi pasir tailing dengan kompos TKKS perbandingan 1 : 2 (v/v) untuk klon GT 1 diikuti perlakuan 2 : 1 v/v dan 1 : 1 (v/v) (Tabel 4).
Tabel 4. Tinggi tanaman (cm) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 11,25 14,8 16,85 28,03 15,08 17,2
BPM 24 4,1 21,15 16,08 25,5 21,15 17,60
PR 303 8,95 11,6 12,33 19,53 7,73 12,03
IRR 59
PB 260 9,28
12,73 14,7
17,6 16,55
15,58 23,83
22,7 9,23
16,18 14,72
16,96
Pengaruh utama kompos 9,3 S 15,9 S 15,5 S 23,9 T 13,9 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Tinggi tanaman untuk masing-masing klon menunjukkan perbedaan antara tanpa pemberian kompos dengan pemberian kompos. Masing-masing klon menunjukkan tinggi tanaman yang bervariasi akibat pemberian kompos TKKS. Klon BPM 24 menunjukkan tinggi tanaman yang paling tinggi untuk perbandingan kompos 1 : 2 (v/v) dan terendah pada pasir tailing tanpa kompos. Hal ini menunjukkan setiap klon mempunyai karakteristik tersendiri untuk tumbuh di lingkungan yang marjinal.
Pengaruh interaksi klon dan kompos memberikan pengaruh nyata terhadap diameter batang (Tabel 5). Diameter batang yang tertinggi ditunjukkan pada pemberian kompos TKKS dengan perbandingan 1 : 2 (v/v).

Tabel 5. Diameter batang berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 0,30 a A 0,40 b B 0,43 b B 0,48 c C 0,32 a A 0,39 k
BPM 24 0,33 a A 0,41 b B 0,44 b B 1,45 c C 0,37 a A 0,60 l
PR 303 0,34 a A 0,50 c C 0,41 b B 1,36 d D 0,31 a A 0,58 l
IRR 59 0,32 a A 0,30 a A 0,56 c C 0,46 b B 0,28 a A 0,40 k
PB 260 0,43 a B 0,39 b B 0,34 a A 0,37 a A 0,34 a A 0,35 k
Pengaruh utama kompos 0,3 S 0,4 T 0,4 U 0,8 V 0,32 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam kolom yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama dalam baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).

Diameter batang masing-masing klon menunjukkan perbedaan antara tanpa pemberian kompos dengan pemberian kompos. Masing-masing klon menunjukkan diameter yang bervariasi terhadap pemberian kompos TKKS
(Tabel 5). Rata-rata diameter batang tertinggi untuk perbandingan kompos TKKS
1 : 2 (v/v), Sedangkan diameter tertinggi diperoleh pada klon BPM 24, diikuti klon PR 303 dan klon IRR 59. Rata-rata diameter batang rendah terdapat pada pasir tailing tanpa pemberian kompos (kontrol).
Fenomena yang sama dengan tinggi tanaman ditemukan juga pada parameter jumlah daun dimana perlakuan kompos TKKS (Tabel 6). Pengamatan jumlah daun klon karet di lahan pasca penambangan timah pada komposisi pasir tailing dengan kompos TKKS 1 : 2 v/v yang terbanyak.



Tabel 6. Jumlah lembaran daun berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 68,75 71,5 70,5 74,25 61,25 69,25
BPM 24 66 73,75 71,5 63,5 63 67,55
PR 303 62 75,25 70,25 81,75 46,5 67,15
IRR 59 60,5 63 61 66,75 33,25 56,9
PB 260 60,5 64 60,75 79,25 53 63,5
Pengaruh utama kompos 63,55 U 69,50 U 66,80 U 73,10 T 51,40 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Penambahan komposisi kompos TKKS yang tinggi belum tentu dapat meningkatkan pertambahan jumlah daun (Tabel 6). Pengamatan jumlah daun klon karet di lahan pasca penambangan timah justru ditemui pada taraf dosis perbandingan pasir tailing dengan kompos TKKS 1 : 2 (v/v) bahkan tanpa perlakuan kompos TKKS. Jumlah daun terbanyak dijumpai pada klon GT 1, diikuti klon BPM 24 dan PR 303.
Perlakuan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap luas daun, kandungan klorofil daun, dan kandungan nitrogen daun, sedangkan perlakuan klon hanya berpengaruh pada kandungan nitrogen daun. Untuk interaksi antara klon dengan kompos TKKS tidak berpengaruh nyata pada parameter tersebut. Sama halnya pada parameter jumlah daun, bahwa pemberian dosis kompos TKKS yang tinggi tidak meningkatkan luas daun (1: 3 v/v), bahkan lebih tinggi pada perlakuan kontrol. Sedangkan perlakuan pasir tailing dengan kompos TKKS 1 : 2 v/v menunjukkan total luas daun yang tinggi diantara ketiga perlakuan perbandingan kompos TKKS (Tabel 7).
Tabel 7. Luas daun (cm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1
BPM 24
PR 303
IRR 59
PB 260 2626,89
1798,67
1397,37
457,36
1799,41 2121,27
2219,69
2101,51
1943,40
1691,45 2587,43
1154,77
1921,10
1834,74
641,27 446,80
3272,60
2035,05
1752,59
1769,99 1184,42
733,48
721,34
465,61
920,63 1793,36
1835,84
1635,28
1290,74
1364,55
Pengaruh utama kompos 1615,9 T 2015,5 U 1627,9 T 1855,4 T 805,1 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Berdasarkan Tabel 7 ternyata ada perbedaan respon pertumbuhan sel daun terhadap perlakuan yang diberikan. Selanjutnya, luas total daun per tanaman paling tinggi terdapat pada klon BPM 24. Luas total daun per tanaman relatif rendah terdapat pada pasir tailing dengan kompos TKKS pada perbandingan
1 : 3 v/v. Hal ini disebabkan oleh suhu yang tinggi yang menyebabkan banyaknya daun yang rontok dan mati walaupun sudah diberi kompos.
Perlakuan pasir tailing di lahan pasca penambangan timah yang dicampur dengan kompos TKKS mampu meningkatkan kandungan klorofil daun dengan perbandingan 1 : 2 v/v bila dibandingkan dengan perbandingan kompos TKKS yang lainnya bahkan lebih tinggi dibandingkan tanpa perlakuan kompos (kontrol). Kandungan klorofil daun masing-masing klon karet ada perbedaan dengan adanya perbedaan volume tanah dengan kompos TKKS (Tabel 8).


Tabel 8. Klorofil daun berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 3,46 4,2 3,94 5,77 2,69 4,01
BPM 24 2,95 3,81 3,93 4,59 3,83 3,82
PR 303 2,99 5,54 4,74 3,86 3,81 4,19
IRR 59 3,51 3,97 3,54 3,98 3,53 3,71
PB 260 3,63 3,78 3,62 4,49 3,97 3,90
Pengaruh utama kompos 3,3 S 4,3 T 3,9 T 4,5 T 3,6 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Perlakuan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap kandungan nitrogen daun, meskipun faktor klon serta interaksi keduanya tidak menunjukkan pengaruh yang nyata. Pemberian kompos TKKS yang dicampur dengan pasir tailing di lahan pasca penambangan timah dengan perbandingan komposisi 1 : 2 v/v mampu meningkatkan kandungan nitrogen daun pada semua klon karet
(Tabel 9). Kandungan nitrogen dalam jaringan tanaman tergantung pada kondisi atau status hara di dalam tanah dan kemampuan akar dalam menyerap larutan hara tanah. Penambahan media pasir tailing akan sama kandungan nitrogennya dengan pengurangan media pasir tailing meskipun volume kompos TKKS yang diberikan tetap dalam jumlah atau dosis yang diberikan. Sebaliknya jika penambahan kompos TKKS dikurangi takarannya, maka akan mengurangi kandungan hara dalam jaringan daun sehingga dalam proses metabolisme tanaman menjadi terhambat.


Tabel 9. Nitrogen daun berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2 : 1 1 : 1 1 : 2 1 : 3
GT 1 2,62 2,70 2,80 3,10 2,47 2,74 k
BPM 24 2,56 2,94 2,78 3,04 2,67 2,80 k
PR 303 3,00 3,18 3,29 3,72 3,33 3,30 m
IRR 59 2,80 2,36 2,67 3,26 2,48 2,71 k
PB 260 2,08 2,84 3,10 3,64 3,19 2,97 l
Pengaruh utama kompos 2,6 S 2,8 S 2,9 ST 3,4 T 2,8 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Perlakuan klon dan kompos TKKS mampu memberikan pengaruh yang nyata untuk parameter jumlah dan volume akar lateral. Tabel 10 menunjukkan komposisi pasir tailing dengan kompos TKKS perbandingan 1 : 2 v/v mempunyai jumlah akar lateral terbanyak dan diikuti dengan perbandingan 2 : 1 v/v dibanding perlakuan yang lainnya. Selanjutnya, klon dari jumlah akar paling banyak dari klon IRR 59 diikuti klon PB 260. Jumlah akar lateral yang diberi perlakuan kompos TKKS rata-rata menunjukkan jumlah yang tinggi dibandingkan tanpa perlakuan kompos. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak bahan pencampur bahan organik akan semakin baik pula pertumbuhan klon karet di lahan pasca penambangan timah.







Tabel 10. Jumlah akar lateral berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 58,67 c C 67 b D 68,67 c D 41,67 a A 49,67 a B 57,13 k
BPM 24 56,67 b A 68,67 c B 57 a A 70 b C 68 c B 64,07 l
PR 303 52,67 a A 69 c B 77 d C 89,33 c D 68,33 c B 71,27 m
IRR 59 59,33 c A 63,67 a B 76,33 d D 92,33 c E 71 d C 72,53 m
PB 260 59 c A 80,67 d C 64 b B 94 d D 63,33 b B 72,20 m
Pengaruh utama kompos 57,3 S 69,8 T 68,6 T 77,5 U 64,1 T
Keterangan: angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).

Pengaruh dari klon dan kompos TKKS memberikan pengaruh nyata terhadap volume akar sedangkan interaksi keduanya tidak berpengaruh nyata terhadap volume akar. Volume akar lebih tinggi pada pasir tailing dengan kompos TKKS perbandingan 1 : 2 v/v. Rata-rata volume akar lateral lebih tinggi disetiap perbandingan antara pasir tailing dengan kompos TKKS bila dibandingkan dengan kontrol (Tabel 11).
Tabel 11. Volume akar lateral berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 51,67 96,33 91,67 88 63,33 78,20 k
BPM 24 46 58,33 57 66,67 54,67 56,53 k
PR 303 53,33 89,67 91 81,33 66 76,27 k
IRR 59 47 58,67 44 56,33 65,33 54,27 k
PB 260 57 65 61 89,33 61,33 66,73 k
Pengaruh utama kompos 51,0 S 73,6 T 68,9 T 76,3 U 62,1 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).
Hasil ini menunjukkan bahwa peningkatan volume akar lateral yang diamati dapat dihubungkan dengan jumlah akar lateral karena parameter ini menunjukkan jumlah tertinggi pada komposisi antara pasir tailing dengan kompos TKKS pada perbandingan 1 : 2 v/v.
Pertumbuhan akar dipengaruhi oleh tekstur dan struktur media. Pertumbuhan akar merupakan respon adaptasi terhadap lingkungan tumbuh. Berkurangnya hasil fotosintesis yang disalurkan ke akar akan menyebabkan berkurangnya pertumbuhan akar. Faktor klon karet dan faktor kompos TKKS memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering akar, sedangkan interaksi kedua faktor tersebut tidak memberikan pengaruh yang nyata pada parameter berat kering akar. Berat kering akar tertinggi diperoleh pada pencampur pasir tailing dengan kompos TKKS pada perbandingan 1 : 2 v/v (Tabel 12). Sedangkan pada perbandingan 1 : 3 v/v menunjukkan berat kering semakin menurun, tetapi secara umum semakin banyak kompos yang diberikan akan meningkatkan berat kering akar bila dibandingkan dengan kontrol. Fenomena yang sama pada berat segar akar juga ditunjukkan juga pada berat kering akar tertinggi terdapat pada klon PR 303 dan diikuti oleh klon PB 260.











Tabel 12. Berat kering akar berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 4,30 15,41 10,61 9,68 8,39 9,68 l
BPM 24 6,74 14,25 7,86 13,07 9,01 10,19 l
PR 303 8,14 18,45 16,36 12,66 9,53 13,03 m
IRR 59 5,16 7,91 7,35 7,96 2,14 6,11 k
PB 260 9,86 11,52 10,83 13,17 11,00 11,28 l
Pengaruh utama kompos 6,8 S 13,5 U 10,6 T 11,3 T 8,0 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Rambut akar memberi manfaat untuk memacu tanaman dalam mengabsorbsi hara P dari kompos dengan membandingkan tipe banyaknya rambut dan tanpa rambut akar sehingga dapat meningkatkan berat kering akar. Bagaimanapun, klon yang tumbuh tanpa kompos perkembangan rambut akar lebih sedikit dibanding dengan pemberian kompos 1 : 2 v/v tetapi lebih banyak rambut akar pada perbandingan 2 : 1 v/v. Ini menyatakan bahwa cara mekanisme yang baik untuk pembentukan rambut akar sedikit memerlukan permulaan perbandingan kompos TKKS.
Kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk tanaman karet (Tabel 13). Perbandingan pasir tailing dan kompos TKKS menghasilkan berat kering tajuk pada perbandingan 2 : 1 v/v lebih besar dibandingkan komposisi perbandingan 1 : 2 v/v, tetapi bila komposisi kompos ditingkatkan pada berbandingan 1 : 3 v/v terjadi penurunan berat kering tajuk meskipun semua perbandingan kompos lebih tinggi berat kering tajuk bila dibandingkan dengan tanpa perlakuan kompos.
Tabel 13. Berat kering tajuk berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 17,41 60,13 46,38 42,57 28,34 38,97
BPM 24 29,18 52,28 43,98 55,86 44,88 45,24
PR 303 27,51 46,87 64,48 41,20 38,83 43,78
IRR 59 30,11 46,08 37,64 39,26 41,60 38,94
PB 260 25,33 38,15 39,42 58,06 40,89 40,37
Pengaruh utama kompos 25,9 S 48,7 T 46,4 T 47,4 T 38,9 ST
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Kompos memberikan pengaruh nyata terhadap konduktivitas akar klon karet, sedangkan klon serta interaksinya tidak mempengaruhi konduktivitas akar (Tabel 14).
Tabel 14. Konduktivitas akar berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 51.059,1 68.136,6 88.565,7 156.450,9 93.595,1 91.561,5
BPM 24 65.570,0 160.849,1 133.444,3 116.085,0 86.722,4 112.534,1
PR 303 53.703,1 125.971,1 107.843,4 162.771,2 63.709,0 102.799,6
IRR 59 63.594,3 145.628,2 163.405,0 119.134,7 87.564,5 115.865,3
PB 260 71.622,4 112.680,0 128.766,0 170.954,4 103.452,9 117.495,1
Pengaruh utama kompos 61.109,8 S 122.653 U 124.404,9 U 145.079,2 V 87.008,8 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).

Konduktivitas akar yang diberi perlakuan antara pasir tailing dan kompos TKKS lebih tinggi pada perbandingan kompos 1 : 2 v/v diikuti dengan perbandingan 1 : 1 v/v, tetapi jika komposisi dinaikkan pada perbandingan
1 : 3 v/v konduktivitas akar menurun. Nilai konduktivitas akar dipengaruhi oleh peningkatan jumlah xilem dengan diameter xilem yang mengecil.
Tabel 15. Rasio konduktivitas akar berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 0,02 a A 0,02 a A 0,02 a A 0,04 c C 0,03 b B 0,03 k
BPM 24 0,02 a A 0,05 d D 0,04 c C 0,04 c C 0,03 b B 0,04 l
PR 303 0,03 b B 0,03 b B 0,03 b B 0,03 b B 0,02 a A 0,03 k
IRR 59 0,02 a A 0,04 c C 0,04 c C 0,04 c C 0,03 b B 0,03 k
PB 260 0,02 a A 0,02 a A 0,03 b B 0,03 b B 0,03 b B 0,03 k
Pengaruh utama kompos 0,02 S 0,03 T 0,03 T 0,04 U 0,03 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Pemberian kompos memberikan pengaruh terhadap konduktivitas akar juga berpengaruh terhadap rasio antara konduktivitas akar dengan total luasan sayatan melintang akar. Selain itu faktor klon dan interaksinya juga memberikan pengaruh nyata terhadap rasio konduktivitas akar. Komposisi pasir tailing dan kompos TKKS dengan perbandingan 1 : 2 v/v menyebabkan perbedaan rasio konduktivitas dan kemudian diikuti dengan perlakuan yang lain (Tabel 15). Setiap perbandingan kompos mampu meningkatkan konduktivitas akar dan rasio konduktivitas akar dibandingkan dengan tanpa perlakuan kompos. Selanjutnya, klon BPM 24 mempunyai nilai rasio lebih tinggi dibanding klon yang lainnya.


2. Anatomi Klon Karet (Hevea brasiliensis)
a. Paradermal Daun Klon Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
Stomata di semua jenis klon karet berdasarkan letak stomatanya termasuk tipe hipostomatik karena stomatanya hanya terdapat pada sisi bawah daun (abaksial). Tipe susunan stomatanya anisositik atau jenis Cruciferaceae, yakni stomata dengan sel penjaga dikelilingi tiga buah sel tetangga yang tidak sama besar. Pada Tabel 16 memperlihatkan bahwa perlakuan klon dan perlakuan kompos memberikan pengaruh nyata pada semua peubah yang diamati, sedangkan interaksi klon dengan kompos hanya memberikan pengaruh nyata pada panjang sel penjaga, lebar sel penjaga, dan panjang sel stoma.
Tabel 16. Uji F- hitung terhadap parameter paradermal daun berbagai klon tanaman karet di lahan pasca tambang timah yang diameliorasi kompos TKKS

Parameter F-hit KK
Klon Kompos Interaksi
Kerapatan stomata 3,65 * 9,41 * 0,45 tn 11,6
Panjang sel penjaga 85,94 * 20,42 * 3,44 * 6,3
Lebar sel penjaga 119,77 * 31,39 * 4,45 * 5,9
Panjang sel stoma 49,43 * 18,93 * 3,11 * 6,34
Lebar sel stoma 19,69 * 25,63 * 1,28 tn 11,1
Uji F-tabel 2,5 2,5 1,79
Keterangan : * = berbeda nyata pada taraf uji 5%
tn = tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%

Klon dan kompos TKKS memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter kerapatan stomata, sedangkan interaksinya tidak memberikan pengaruh yang nyata. Kerapatan stomata lebih besar terdapat pada perbandingan antara pasir tailing dan kompos TKKS 1 : 2 v/v diikuti perbandingan 1 : 1 v/v (Tabel 17). Kerapatan stomata lebih besar terdapat pada klon IRR 59 diikuti klon PR 303 dan lebih kecil adalah klon GT 1.
Tabel 17. Kerapatan stomata berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 296,99 328,62 364,45 404,29 349,45 348,76 k
BPM 24 314,14 344,74 374,09 386,68 366,98 357,33 l
PR 303 344,74 413,31 431,40 395,06 351,86 387,27 l
IRR 59 321,89 414,77 403,45 420,01 392,13 390,45 k
PB 260 304,47 360,05 369,68 394,43 384,58 362,64 k
Pengaruh utama kompos 316,4 S 372,3 T 388,6 T 400,1 T 369 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Fenomena yang sama juga terjadi pada ukuran sel penjaga, baik panjang sel penjaganya maupun lebar sel penjaga. Faktor klon dan kompos TKKS maupun interaksinya memberikan pengaruh yang nyata terhadap parameter ukuran sel penjaga (panjang dan lebar sel penjaga). Perlakuan kompos TKKS dengan komposisi antara pasir tailing dan kompos TKKS pada perbandingan
1 : 2 v/v dapat meningkatkan panjang sel penjaga, tetapi pada perbandingan
1 : 3 v/v justru menurunkan ukurannya. Setiap perbandingan komposisi pasir tailing dan kompos TKKS mempunyai ukuran sel penjaga yang lebih panjang bila dibandingkan dengan kontrol tanpa perlakuan (Tabel 18). Sedangkan perlakuan klon, panjang stomata yang lebih panjang pada klon GT 1.


Tabel 18. Panjang sel penjaga (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 31 a A 34,25 a B 36,92 b C 37,67 a C 35,08 a B 34,98 m
BPM 24 31,50 a A 34,42 b B 37,08 b C 38,25 a C 36,67 b C 35,58 l
PR 303 32,75 b A 35,25 b B 37,33 c C 39,33 b D 35,92 b B 36,12 k
IRR 59 30,83 a A 33,75 a B 33,83 a B 37,67 a C 33,67 a B 33,95 k
PB 260 30,75 a A 32,83 a B 34,25 a C 37,83 a D 34,25 a C 33,98 k
Pengaruh utama kompos 31,4 S 34,1 T 35,9 T 38,2 U 35,1 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam kolom yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama dalam baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Perlakuan kompos TKKS dapat meningkatkan lebar sel penjaga pada komposisi antara pasir tailing dan kompos TKKS pada perbandingan
1 : 2 v/v diikuti juga pada perbandingan 1 : 1 v/v (Tabel 19). Sedangkan perlakuan klon terdapat lebar sel penjaga yang besar pada klon GT 1.
Tabel 19. Lebar sel penjaga (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 34,42 d A 36,58 c B 35,33 c A 36,25 c B 35,33 c A 35,58 n
BPM 24 25,50 c A 26,67 b A 35,83 c C 37,67 c D 32,00 b B 31,53 m
PR 303 22,67 a A 25,58 b B 25,58 a B 28,33 a C 23,17 a A 25,07 k
IRR 59 21,42 a A 23,83 a B 25,67 a C 27,92 a D 23,25 a B 24,42 k
PB 260 24,08 b A 26,42 b B 27,58 b B 29,83 b C 23,75 a A 26,33 l
Pengaruh utama kompos 25,6 S 27,8 T 30 U 32 V 27,5 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam kolom yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama dalam baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).



Tabel 20. Panjang sel stoma (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 23,5 c A 24,92 c B 25,42 c B 27,58 d C 24,75 c B 25,23 m
BPM 24 20,58 c A 22 b B 24,42 b C 26,5 c D 27 d D 24,10 m
PR 303 18,33 a A 21,17 b B 22,92 b C 22,58 b B 20,83 b B 21,17 l
IRR 59 17,58 a A 18,75 a B 22,5 a C 19,75 a B 17,92 a A 19,30 k
PB 260 18,75 b A 21,42 b B 20,92 a B 22,33 b B 18,17 b A 20,32 k
Pengaruh utama kompos 19,8 S 21,7 T 23,2 U 23,8 U 21,7 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam kolom yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama dalam baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).

Perlakuan klon dan kompos serta interaksinya memberikan pengaruh yang nyata terhadap panjang stoma. Pada Tabel 20 menunjukkan bahwa komposisi antara pasir tailing dan kompos TKKS dapat meningkatkan panjang stoma pada perbandingan 1 : 2 v/v, ketika perbandingan kompos ditingkatkan terjadi penurunan panjang stoma dan mempunyai panjang yang sama dengan perbandingan 2 : 1 v/v. Faktor klon dapat meningkatkan panjang sel stoma pada klon GT 1.
Tabel 21. Lebar sel stoma (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS
Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 14,5 16 15,75 18,75 17,5 16,50 l
BPM 24 10,42 12,67 16,17 17,67 12,25 13,83 k
PR 303 12,33 15,08 18,5 19,25 15,25 16,08 l
IRR 59 10,83 11,92 13,25 14,25 11,08 12,27 k
PB 260 11,17 12,17 14,25 16,5 12,25 13,27 k
Pengaruh utama kompos 11,9 S 13,6 T 15,6 U 17,3 V 13,7 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).
Perlakuan klon dan kompos TKKS selain berpengaruh terhadap parameter panjang stoma, juga berpengaruh terhadap lebar stoma. Artinya perlakuan klon dan kompos dapat meningkatkan pembukaan stoma dalam proses penyerapan hara air, dan karbondioksida. Penggunaan kompos TKKS dengan komposisi antara pasir tailing pada perbandingan 1 : 2 v/v mampu meningkatkan lebar stoma. Lebar stoma untuk semua perbandingan kompos TKKS lebih lebar dibanding tanpa perlakuan kompos (Tabel 21). Diantara lima klon karet yang diuji ternyata klon GT 1 mempunyai lebar stoma paling tinggi dibanding klon yang lain.
b. Tranversal Daun Klon Tanaman Karet (Hevea brasiliensis)
Sayatan transversal atau melintang daun karet tersusun atas jaringan epidermis, jaringan mesofil yang terdiri atas jaringan palisade dan bunga karang, dan jaringan epidermis bawah. Tabel 22 menunjukkan klon berpengaruh nyata terhadap tebal jaringan epidermis atas, jaringan palisade, dan jaringan epidermis bawah. Perlakuan kompos berpengaruh nyata terhadap semua parameter anatomi transversal daun karet. Sedangkan interaksi klon dengan kompos hanya berpengaruh pada tebal epidermis atas saja dan tidak memberikan pengaruh nyata pada parameter lainnya.










Tabel 22. Uji F- hitung terhadap semua parameter transversal daun klon tanaman karet di lahan pasca tambang timah yang diameliorasi kompos TKKS

Parameter F-hit KK
Klon Kompos Interaksi
Tebal jaringan epidermis atas 6,64 * 5,89 * 2,18 * 10
Tebal jaringan palisade 3,39 * 2,65 * 0,56 tn 11,9
Tebal jaringan spons 1,83 tn 2,72 * 0,68 tn 14,1
Tebal jaringan epidermis bawah 16,37 * 3,01 * 1,6 tn 8,37
Tebal daun 1,9 tn 2,7 * 0,71 tn 9,6
Uji F-tabel 2,5 2,5 1,79
Keterangan : * = berbeda nyata pada taraf uji 5%
tn = tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%

Tabel 23 memperlihatkan hasil yang berbeda signifikan dengan adanya perlakuan klon, kompos, serta interaksi antara klon dan kompos untuk parameter tebal jaringan epidermis atas. Kompos dapat meningkatkan tebal jaringan epidermis atas pada komposisi antara pasir tailing dengan kompos TKKS perbandingan 1 : 1 v/v, ketika komposisi ditingkatkan justru menurunkan tebal jaringan epidermis atas sampai pada perbandingan 1 : 3 v/v. Selanjutnya, klon PR 303 mempunyai tebal jaringan epidermis atas lebih besar dibandingkan klon lainnya.
Tabel 23. Tebal jaringan epidermis atas (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 11,67 a A 13,67 a B 13,83 a B 14,50 a C 14,67 b C 13,67 k
BPM 24 14,33 c A 17,33 c C 18,50 c D 15,00 a B 14,17 a A 15,87 l
PR 303 15,83 e B 15,67 b A 17,17 b E 16,50 b D 16,33 d C 16,30 l
IRR 59 14,67 d A 15,83 b D 16,83 b E 15,00 a B 15,67 c C 15,60 l
PB 260 13,67 b A 13,83 a B 16,67 b D 19,33 c E 15,67 c C 15,83 l
Pengaruh utama kompos 14 S 15,3 S 16,6 T 16,1 T 15,3 S
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama dalam kolom yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama dalam baris yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).
Daun untuk semua klon karet bersifat dorsiventral atau bifasial karena jaringan palisade dijumpai di salah satu sisi daun yaitu sisi atas daun. Jaringan palisade tersusun atas satu lapis sel palisade yang berbentuk memanjang dan banyak mengandung kloroplas. Sel-sel palisade terletak langsung dibawah epidermis atas (adaksial) yang sebaris dan dapat tersusun dalam satu hingga dua lapis. Penggunaan klon dan kompos dapat mempengaruhi tebal jaringan palisade, sedangkan interaksinya tidak berpengaruh nyata. Faktor kompos TKKS dapat meningkatkan tebal jaringan palisade pada komposisi pasir tailing dengan kompos TKKS perbandingan 1 : 2 v/v. Sedangkan klon BPM 24 mempunyai tebal jaringan palisade yang paling tinggi dibanding klon yang lain. Tebalnya jaringan palisade untuk setiap perbandingan komposisi TKKS mempunyai ketebalan yang tinggi dibanding tanpa kompos (Tabel 24).
Tabel 24. Tebal jaringan palisade (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 67,50 73,00 74,83 78,17 71,83 73,07 k
BPM 24 84,83 80,50 83,83 92,17 85,33 85,33 m
PR 303 79,83 78,67 81,67 82,33 80,17 80,53 l
IRR 59 71,17 82,67 85,50 80,17 73,17 78,53 l
PB 260 71,00 74,83 88,33 91,00 82,17 81,47 l
Pengaruh utama kompos 74,9 S 77,9 ST 82,8 ST 84,8 T 78,5 ST
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Sel-sel penyusun jaringan parenkim bunga karang bentuknya tidak teratur, bercabang dan mengandung sedikit kloroplas. Jaringan dasar mesofil terletak diantara kedua jaringan epidermis atas dan bawah yang merupakan daerah fotosintesis. Perlakuan kompos TKKS memberikan pengaruh nyata terhadap parameter tebal jaringan bunga karang, sedangkan perlakuan klon dan interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata. Meskipun tidak berbeda nyata, tetapi tebal jaringan bunga karang yang tinggi terdapat pada klon PR 303. Komposisi pasir tailing dengan kompos TKKS pada perbandingan 1 : 2 v/v mampu meningkatkan tebal jaringan bunga karang diikuti dengan perbandingan
1 : 1 v/v, bila volume kompos ditambahkan justru menurunkan ketebalan jaringan bunga karang (Tabel 25).
Tabel 25. Tebal jaringan bunga karang (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 34,67 37,17 39,00 37,50 39,33 37,53
BPM 24 32,67 38,50 38,83 36,83 35,50 36,47
PR 303 37,50 37,83 38,17 45,00 45,83 40,87
IRR 59 35,50 39,00 39,83 42,83 37,33 38,90
PB 260 29,83 40,67 39,17 36,17 36,50 36,47
Pengaruh utama kompos 34 S 38,6 T 39 T 39,7 U 38,9 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Penggunaan klon dan kompos selain berpengaruh terhadap parameter tebal epidermis atas juga berpengaruh terhadap tebal jaringan epidermis bawah tetapi interaksi keduanya tidak memberikan pengaruh yang nyata. Pada Tabel 26 komposisi antara pasir tailing dengan kompos TKKS mampu meningkatkan ketebalan jaringan epidermis bawah pada perbandingan 1 : 2 v/v. Sedangkan klon yang mempunyai ketebalan jaringan epidermis bawah yang tebal terdapat pada klon IRR 59.
Tabel 26. Tebal jaringan epidermis bawah (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 10,67 11 12,33 12,33 12,5 11,77 k
BPM 24 14,17 14,5 14,5 14,5 13 14,13 l
PR 303 14,67 15,33 16 13,83 13,17 14,60 l
IRR 59 13,83 15 14,5 15,33 14,83 14,70 n
PB 260 11,50 13,67 13,67 14,67 13,83 13,47 m
Pengaruh utama kompos 12,9 S 13,9 T 14,2 U 14,1 T 13,5 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama pada baris yang sama dan angka-angka yang diikuti oleh huruf kecil yang sama pada kolom yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Jaringan epidermis, baik atas maupun bawah umumnya mempunyai bentuk, ukuran serta susunan yang beragam tetapi selalu tersusun rapat membentuk lapisan yang kompak tanpa ruang interseluler. Dalam jaringan epidermis daun, kadang-kadang terbentuk ruang udara namun selalu dilapisi oleh kutikula.
Perlakuan kompos TKKS berpengaruh nyata terhadap ketebalan daun, sedangkan klon serta interaksinya tidak berpengaruh nyata. Komposisi antara pasir tailing dengan kompos TKKS dengan perbandingan 1 : 2 v/v mampu meningkatkan ketebalan daun dan diikuti perbandingan 1 : 1 v/v, ketika dosis ditingkatkan pada perbandingan 1 : 3 v/v justru menurunkan ketebalan daun (Tabel 27).


Tabel 27. Tebal daun (µm2) berbagai klon karet di lahan tailing yang diameliorasi kompos TKKS

Klon Perbandingan tailing : kompos TKKS (v/v) Pengaruh utama klon
0 2:1 1:1 1:2 1:3
GT 1 127,33 138,67 141,83 141,83 137,33 137,40
BPM 24 147,67 161,17 147,5 148,5 143,17 149,60
PR 303 143,17 147,5 147,67 155,17 153,83 149,47
IRR 59 136,67 149,17 152,5 148 138,17 144,90
PB 260 124,67 139,67 156,5 160,5 146,33 145,53
Pengaruh utama kompos 135,9 S 147,2 T 149,2 T 150,8 U 143,8 T
Keterangan : angka-angka yang diikuti oleh huruf besar yang sama berarti tidak berbeda nyata pada taraf uji BNT (0,05).


Perbedaan ketebalan daun untuk setiap perbandingan komposisi antara pasir tailing dengan kompos TKKS, hal ini terutama disebabkan oleh perbedaan jaringan palisade yang bertambah besar ukurannya dan bukan disebabkan oleh perbedaan ukuran jaringan bunga karang.
B. Pembahasan
1. Pertumbuhan Klon Karet (Hevea brasiliensis)
Hasil uji perlakuan kompos yang dicampur dengan pasir tailing dengan perbandingan 1 : 2 v/v secara umum berbeda nyata pada semua perbandingan kompos yaitu 1 : 0 v/v, 2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan 1: 3 v/v. Semua perbandingan kompos mempunyai rerata pertambahan tinggi tanaman paling tinggi dibandingkan dengan perbandingan tanpa perlakuan kompos. Rerata hasil pertambahan tertinggi ditunjukkan oleh perbandingan kompos 1 : 2 v/v dengan rerata tinggi tanaman 23,9 cm, kemudian secara berurutan ditunjukkan oleh perbandingan kompos 2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan 1 : 3 v/v (Tabel 4).
Perlakuan komposisi pasir tailing dengan kompos, ternyata mampu memacu pertumbuhan vegetatif tanaman yang lebih baik dibandingkan dengan tanpa perlakuan. Hal ini diduga pada kompos 1 : 2 v/v telah terjadi keseimbangan hara untuk pertumbuhan karet yang berhubungan dengan adanya penambahan amelioran.
Pertumbuhan klon karet erat kaitannya dengan perbaikan kondisi tanah dan ketersediaan unsur hara bagi kebutuhan pertumbuhan tanaman (Iswanrinjanto dan Barchia, 1999). Kendala pada lahan tailing adalah miskin ketersediaan hara. Pemberian kompos TKKS dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman di lahan tailing. Dengan lingkungan tumbuh yang baik akan menyebabkan akar tanaman dapat tumbuh dan berkembang secara optimum sehingga mampu menyerap unsur hara yang dibutuhkan. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kielhorn et. al (1998) dan Santi (2005). Aplikasi kompos TKKS sebesar 5% yang dikombinasikan dengan dosis pupuk standar menunjukkan pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan pemupukan 100% dosis pupuk standar (Sutarta et. al., 2005). Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan kompos dapat meningkatkan efisiensi pemupukan. Menurut Supriyanto (2003) bahwa kompos sebagai soil conditioner dengan kestabilannya maka bahan organik dalam kompos TKKS yang tinggi akan terdegradasi secara perlahan dan tertahan secara efektif untuk waktu yang lama. Peranan bahan organik dalam memperbaiki sifat tanah antara lain menurunkan plastisitas dan kohesi, meningkatkan kemampuan menahan air, penyumbang hara N, P, dan K serta kation-kation (Buckman dan Brady, 1990 dalam Widjayanti, 2001).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi tanaman karet di lahan tailing belum mencapai standar tinggi tanaman karet normal yang jika ditumbuhkan pada lahan biasa. Rerata tinggi tanaman tertinggi pada perlakuan pasir tailing dengan kompos TKKS 1 : 2 v/v dan terendah pada perlakuan pasir tailing tanpa kompos. Sedangkan Setiawan dan Andoko (2005) melaporkan bahwa tinggi karet dapat mencapai rata-rata 15-25 m.
Laju pemanjangan batang berbeda antar klon dan dipengaruhi oleh lingkungan dimana tanaman tersebut tumbuh. Faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pemanjangan batang adalah suhu dan intensitas cahaya (Lakitan, 1995). Bila dihubungkan dengan kebutuhan terhadap sinar matahari, tanaman karet bersifat full sunlight dimana tanaman ini dapat tumbuh dan berproduksi dilahan terbuka dengan intensitas sinar matahari penuh pada suhu antara 25 °C – 35 °C dengan suhu optimal rata-rata 28 °C (Setyamidjaja, 1993). Suhendry (2007), menyatakan untuk berproduksi tinggi, tanaman karet membutuhkan penyinaran yang cukup, sehingga karet tumbuh subur dengan daun agak kecil dan agak tebal serta berwarna hijau tua, sedangkan tanaman yang ternaungi akan tumbuh subur, daun lebih lebar, tipis dan berwarna hijau muda, dan kadar lateks rendah. Adanya perbedaan intensitas cahaya yang diterima oleh tumbuhan akan menyebabkan terjadinya perubahan pertumbuhan tumbuhan sebagai respon tumbuhan terhadap faktor lingkungan (Harjadi dan Yahya 1988) . Hal ini sejalan dengan pengamatan visual tanaman sebelum dan setelah ditanam dilahan pasca tambang timah. Pertumbuhan diameter batang karet lebih cepat dilahan pasca penambangan timah dibandingkan di pembibitan sehingga tanaman yang ditanam pada tempat terbuka cenderung menjadi lebih pendek.
Jumlah daun paling banyak terdapat pada perlakuan pemberian kompos perbandingan 1 : 2 v/v diikuti peningkatan luas daun dibandingkan tanpa kompos. Hal tersebut didukung pada pengamatan secara visual pada Gambar 2, dimana daun tanpa kompos jumlah dan ukuran menurun. Gardner et al. (1991) melaporkan bahwa luas daun mempunyai kaitan yang erat dengan laju asimilasi bersih. Daun yang semakin luas akan menurunkan laju asimilasi bersih karena antara daun yang satu dengan daun lainnya saling menaungi. Hal ini berakibat daun-daun di bagian bawah tidak bisa melakukan fotosintesis secara maksimal. Peningkatan luas daun diduga efek dari penyerapan hara pada kompos lebih besar daripada peningkatan efek saling menaungi antar daun.
Lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan daun seperti intensitas cahaya, suhu, air dan unsur hara. Sinnot (1979) dalam Rudyatmi (1999) menjelaskan bahwa faktor genetik mengontrol ukuran dan bentuk daun. Faktor lingkungan media tumbuh juga menyebabkan perubahan pertumbuhan dan perkembangan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa perbedaan komposisi media tumbuh menyebabkan adanya perbedaan pertumbuhan tanaman sebagai respon terhadap ketersediaan hara pada media tumbuh. Bertambahnya tinggi tanaman akan menambah terbentuknya batang yang pada akhirnya akan menambah jumlah dan luas daun. Jumlah daun pada komposisi 1 : 2 v/v berbeda dengan perbandingan kompos 1 : 0 v/v, 2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan 1 : 3 v/v. Perlakuan 1 : 0 v/v secara umum menunjukkan hasil terendah pada hampir semua peubah pertumbuhan tanaman. Hal tersebut tidak terlepas dari proses metabolisme Ca untuk pertumbuhan tanaman, Ca berfungsi merangsang pembentukan bulu-bulu akar, mengeraskan batang dan merangsang pembentukan biji (Lavon et al. 1995).
Dengan rendahnya Ca pada media tanpa kompos berakibat terhadap sedikitnya terbentuk bulu akar dan jumlah akar lateral. Tabel 10 memperlihatkan gejala kenampakan pada akar yang rendah komposisi unsur hara Ca tanpa kompos, dimana ujung akarnya mati dan jumlah akar lateral sedikit (57,3 helai). Akibat dari matinya ujung akar akan mempengaruhi pula bobot kering akar yang sangat kecil (6,8 g) seperti yang terlihat pada Tabel 12. Gejala kahat hara N dan P pada komposisi tailing dan kompos 1 : 1 v/v menunjukkan gejala yang sedikit berbeda dengan yang terjadi di lapangan.
Meningkatnya jumlah dan luas daun diikuti dengan meningkatnya kandungan klorofil dalam jaringan daun karet. Media tanam tailing dan kompos
1 : 2 v/v berbeda nyata dengan 2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan 1 : 3 v/v. Balasubramanian et al. (2000), melaporkan bahwa perbedaan kandungan klorofil setiap tanaman dipengaruhi oleh adanya perbedaan massa jenis tanaman, varietas, status nutrisi, musim serta stres biotik dan abiotik. Selain itu, tipe tanaman, jenis tanah, keadaan iklim setempat, stres, dan kandungan unsur hara tanah juga berpengaruh terhadap besarnya kandungan klorofil tanaman (Francis dan Piekielek, 2005). Berbagai hal penyebab stress tanaman juga berdampak terhadap kandungan klorofil tanaman, seperti kurangnya hujan, tanah yang miskin hara, dan suhu yang terlalu tinggi sehingga menyebabkan kandungan air tanah rendah (Murdock et al., 1997). Beberapa penyebab stress tanaman tersebut akan mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung hasil fotosintesis daun, dimana fotosintesis sangat berhubungan dengan kandungan klorofil pada tiap unit luas daun (Murdock et al., 1997).






















Gambar 2. Penampakan visual pada lima klon karet dilahan pasca tambang timah yang diberi kompos TKKS: a. GT 1, b. BPM 24, c. PR 303, d. IRR 59, dan e. PB 260.

Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal seperti yang diungkapkan oleh Balasubramanian et al. (2000), Francis (2005), dan Murdock et al. (1997), kandungan klorofil suatu tanaman juga dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti intensitas cahaya yang diterima tanaman, naungan, pertumbuhan, luas permukaan daun. Menurut Lei et. al (1996), jumlah cahaya yang diserap daun tanaman tergantung dari jumlah klorofil yang dimilikinya. Qing-jun et. al (2003), menyatakan intensitas cahaya yang tinggi menyebabkan kandungan klorofil suatu tanaman juga tinggi, demikian juga sebaliknya. Pada jenis klon karet, klon yang ditanam ditempat pembibitan (ternaungi pohon) umumnya memiliki kandungan klorofil lebih besar dan luas daun lebih lebar, sedangkan klon dilahan pasca tambang timah (tidak ternaung) kandungan klorofilnya lebih kecil dan luas daunnya lebih sempit. Hal ini sependapat dengan Hersey (2001), Lambert (2001) dan Lei et al. (1996), bahwa tanaman yang tumbuh didaerah ternaung, kandungan klorofilnya lebih besar, daunnya lebih tipis, proteinnya lebih rendah dan luas permukaan daunnya lebih lebar dibandingkan tanaman yang tumbuh di tempat terbuka.
Berdasarkan kriteria yang disusun Stout (1961) dalam salisbury dan Ros (1995), kadar hara N pada semua perbandingan kompos tergolong cukup (Tabel 2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan komposisi media tumbuh dengan pemberian kompos meningkatkan kadar N tanaman (3,35%). Hal ini sejalan dengan tingginya kandungan hara N pada kompos yang digunakan dan unsur N berperan dalam pembentukan hijau daun, sehingga bila kahat hara N maka hijau daun tidak terbentuk. Kandungan nitrogen dalam daun pada komposisi antara pasir tailing dan kompos 1 : 2 v/v berbeda untuk semua komposisi perlakuan kompos termasuk perlakuan tanpa kompos. Kandungan nitrogen pada daun sangat erat dengan kandungan klorofil. Menurut Sutedjo et al. (2002) menyatakan bahwa jika kandungan nitrogen meningkat, maka lapisan mesofil juga meningkatkan jaringan palisade sehingga kandungan klorofil meningkat dan mempercepat proses fisiologi tanaman seperti fotosintesis.
Kandungan nitrogen daun di lahan pasca tambang timah pada media tanpa pemberian kompos lebih rendah (2,6 %) dibandingkan dengan pemberian kompos (3,4 %). Hal ini disebabkan karena adanya kaitan antara rendahnya produktivitas tanaman dengan miskinnya kandungan hara pada tanah. Unsur hara N-Total pada media pasir tailing tanpa kompos menunjukkan kadar N yang lebih rendah
(0,001 %) bila dibandingkan dengan media yang diberi kompos 1 : 2 v/v (0,13 %). Serupa dengan penelitian Resh (1983) dan Wijayani et al. (1998) tanaman yang kahat hara N akan menunjukan gejala tanaman kerdil, daun menguning dan mengalami klorosis. Unsur hara yang paling berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan daun adalah nitrogen. Konsentrasi nitrogen yang tinggi umumnya menghasilkan daun yang lebih besar, juga sebaliknya jika konsentrasi nitrogen rendah maka akan menghasilkan luas daun yang kecil. Bila pH tanah dan unsur hara nitrogen rendah, maka daun dan ranting tumbuhan yang gugur kadar nitrogennya relatif rendah (Elfis, 1998).
Pertumbuhan dan perkembangan daun tampak cukup baik untuk komposisi pasir tailing dan kompos pada perbandingan 1 : 2 v/v dibandingkan dengan perlakuan pasir tailing tanpa kompos. Klon karet sebelum dipindahkan ke lahan pasca tambang menghasilkan tanaman dengan daun yang lebar, tipis dan hijau. Sedangkan setelah dipindahkan (tanpa naungan) akan menghasilkan daun agak kecil dan tebal serta berwarna kekuningan.
Diduga bahwa pemberian kompos dengan dosis yang semakin besar dapat meningkatkan ketersediaan unsur N dalam tanah guna menunjang ketersediaan hara sampai tanaman menyelesaikan siklusnya. Suryanto dan Suryanto (1981) dalam Junita et al. (2002) menyatakan bahwa semakin banyak bahan organik yang diberikan pada tanah, akan diikuti dengan kenaikan kemantapan tanah mengikat air sampai batas tertentu dan kenaikan nitrogen total.
Hasil penelitian pada Tabel 14 menunjukkan berat kering akar terendah pada pasir tailing tanpa kompos. Hal ini diduga bahwa media pasir kandungan hara rendah dan tanpa kompos unsur hara mudah tercuci walaupun diberikan pupuk dasar pada umur 1 bulan dan 2 bulan. Perubahan pertumbuhan akar dalam respon ketersediaan unsur hara yang rendah terutama unsur P juga dilaporkan di jenis tanaman lain (Neumann et al. 1999; Jonathan dan Kathleen 2001; Yong et al. 2003). Bates dan Lynch (2001), menunjukkan bahwa rambut akar memberi manfaat dalam kompetisi tanaman di lingkungan rendah P dengan membandingkan tipe banyaknya rambut dan tanpa rambut akar. Bagaimanapun, tanaman yang tumbuh dalam unsur hara yang rendah, perkembangan rambut akar lebih sedikit. Ini menyatakan bahwa mekanisme yang baik untuk pembentukan rambut akar sedikit memerlukan sedikit unsur hara (Tabel 10).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan komposisi pasir tailing dan kompos 1 : 2 v/v berpengaruh nyata terhadap berat kering tajuk. Berat kering tajuk secara individu dipengaruhi oleh efisiensi fotosintesis dan jumlah akumulasi unsur hara mineral. Berat kering tajuk pertanaman dipengaruhi oleh jumlah helai daun, luas daun, dan ketebalan daun. Hasil uji BNJ menunjukkan bahwa secara umum perbandingan kompos 1 : 2 v/v untuk berat kering tajuk tidak berbeda dengan perbandingan kompos 2 : 1 v/v dan 1 :1 v/v, walaupun dari sisi jumlah daun lebih sedikit dari pada perbandingan 1 : 2 v/v. Berat kering tanaman ditunjukkan oleh perlakuan 1 : 2 v/v. Menurut Indriyani (2007), pemberian kompos yang berasal dari TKKS akan meningkatkan kualitas tanah dengan lebih baiknya agregasi, aerasi dan kapasitas tanah sehingga meningkatkan pertumbuhan tanaman dan biomassanya. Berat kering merupakan gambaran yang dapat dijadikan acuan untuk menyatakan pertumbuhan tanaman. Berat kering tanaman berkaitan dengan fotosintesis yang berlangsung dalam tanaman tersebut. Bila fotosintesis berlangsung sempurna maka hasil fotosintesis makin banyak yang dapat berfungsi untuk melakukan aktivitas pertumbuhan. Pertumbuhan tanaman yang lebih cepat akan merangsang pertumbuhan tanaman secara keseluruhan lebih cepat (Gardner et al. 1991).
Menurut Marschner (1986) indikator kahat hara Ca pertama kali terlihat pada daun yang masih muda, sedangkan untuk tanaman yang kahat hara N, K dan Mg akan tampak pada daun yang telah dewasa. Hal itulah yang menyebabkan luas daun pada tanaman kahat hara Ca lebih kecil-kecil karena sejak daun masih muda sudah menampakan gejala terhambat pertumbuhannya. Hal itu sekaligus akan menghambat perkembangan tanaman selanjutnya yang ditunjukkan oleh bobot kering tajuk yang sangat kecil (48,7 g). Hal tersebut didukung pada pengamatan secara visual daun tanaman yang kahat unsur hara.
Marschner (1986) mengatakan tanaman yang kahat Nitrogen, pertumbuhannya terhambat. Bila kekurangannya sangat parah maka daun akan berubah menjadi hijau muda dan kuning dan daun yang paling bawah (dewasa) yang menderita dulu kemudian terus keatas (Wijayani et al. 1998). Tanaman yang kahat fosfor, warna daun berubah lebih tua tetapi tidak merata sedangkan akar tumbuh tidak sempurna. Apabila tanaman kahat kalium, daun paling bawah berubah warna jadi coklat dengan bercak-bercak gelap dan dalam keadaan parah daun menjadi keriting. Sedangkan tanaman yang kahat kalsium maka daun akan tumbuh tidak normal. Rai (2002) mengatakan tanaman yang kahat hara magnesium maka klorofil tidak terbentuk karena unsur tersebut esensial bagi molekul klorofil.
Secara umum gangguan hara yang menghambat pertumbuhan tanaman karet dalam skala berat dapat dilihat dari karakteristik gejala visualnya secara spesifik. Gejala menjadi tampak dapat dilihat apabila defisiensinya berat, sehingga laju pertumbuhannya sangat tertekan terutama pada pertambahan tinggi tanaman. Terlihat banyak gejala kenampakan visual yang sama untuk unsur yang berbeda. Misalnya untuk tanaman yang kahat hara nitrogen dan magnesium akan menunjukkan gejala yang hampir mirip, daun muda kuning dengan tulang daun kuning juga, tetapi kenampakan akarnya yang berbeda. Dengan rendahnya unsur hara dalam tanah, juga dipengaruhi oleh ketersediaan air tanah dan suhu pada siang hari.
Pemberian limbah padat kelapa sawit berpengaruh dalam meningkatkan konduktivitas xilem akar, tetapi perlakuan klon dan interaksinya tidak berpengaruh terhadap konduktivitas xilem akar (Tabel 14). Konduktivitas akar klon karet pada komposisi pasir tailing dan kompos TKKS perbandingan
1 : 2 v/v berbeda dengan semua perlakuan kompos lainnya bahkan dengan perlakuan tanpa kompos setelah dilakukan uji lanjut (Gambar 3). Konduktivitas akar pada perbandingan 1 : 2 v/v lebih besar dibandingkan dengan semua perlakuan kompos bahkan tanpa pemberian kompos. Kompos TKKS yang diberikan pada media pasir tailing dapat membantu perakaran klon karet untuk tumbuh dan berkembang dengan baik. Dengan adanya kompos didalam tanah, dapat memberikan kemudahan akar dalam penyerapan air. Pemberian bahan organik tanah berasal dari limbah padat kelapa sawit yang berfungsi dapat memperbaiki agregasi dan meningkatkan kemampuan tanah menahan air, meningkatkan KTK dan ketersediaan hara untuk tanaman, mengurangi pengaruh Al dan Fe dalam memfiksasi P, dan sumber energi atau makanan bagi mikroorganisme tanah (Rismunandar, 1987 dan Sudradjat, 2007). Hal ini didukung dengan volume, jumlah, serta berat kering akar meningkat sehingga meningkatkan kandungan klorofil dan nitrogen daun serta meningkatkan berat kering tajuk. Penelitian ini juga didukung dengan penelitian sebelumnya bahwa kompos TKKS dapat meningkatkan konduktivitas akar dibanding tanpa pemberian kompos (Juairiah, 2008).





Gambar 3. Penampang melintang akar klon karet PB 260:
A. pasir tailing + kompos TKKS 1 : 2 v/v, B. tanpa kompos
f = floem, xi = xilem sekunder
Semakin banyak kompos TKKS yang diberikan, maka semakin besar konduktivitas akarnya sebagai akibat diameter xilem yang lebih besar. Klon karet yang ditumbuhkan di lahan pasca tambang timah dengan campuran tailing dan kompos TKKS 1 : 2 v/v mempunyai nilai konduktivitas akar yang lebih besar (145.079,2 µm2) bila dibandingkan dengan media tailing tanpa pemberian kompos 1 : 0 v/v (61.109,8 µm2). Rata-rata diameter xilem pada media campuran pasir tailing dan penambahan TKKS dengan perbandingan 1 : 2 v/v dan media tailing tanpa pemberian kompos 1 : 0 v/v masing-masing 61,9 µm2 dan 55,2 µm2, sedangkan rata-rata jumlah pembuluh xilem pada sayatan melintang akar klon karet pada media campuran pasir tailing dan penambahan kompos TKKS dengan perbandingan 1 : 2 v/v dan media tailing tanpa pemberian kompos 1 : 0 v/v masing-masing 46, 3 dan 31,8 (Gambar 3).
Pada penelitian ini, juga membandingkan konduktivitas akar klon karet sebelum dipindahkan ke lahan pasca tambang dengan memperlihatkan konduktivitas akar lebih rendah dan setelah dipindahkan ke lahan pasca tambang timah dan konduktivitas akar lebih besar di lahan pasca tambang (Gambar 4). Hasil penelitian ini serupa dengan hasil penelitian terdahulu yang membandingkan konduktivitas luasan sayatan melintang akar dan nisbah jaringan akar pada tiga tanaman lokal yang tumbuh alami di lahan pasca tambang dan yang tumbuh di tepi hutan sekunder di Desa Sempan (Juairiah et al. 2005). Nurtjahya dan Juairiah (2006), melaporkan juga bahwa konduktivitas akar dan nisbah konduktivitas akar terhadap total luasan melintang akar lebih besar dilahan pasca penambangan timah bila dibandingkan dengan lahan yang tidak terganggu.





Gambar 4. Penampang melintang akar klon karet PB 260:
A. lahan pasca tambang timah, B. Lokasi pembibitan
f = floem, xi = xilem sekunder

Semakin tinggi nilai konduktivitas xilem, maka semakin besar daya serap hara oleh akar dan hal ini berkaitan juga dengan status hara pada media tumbuh. Konduktivitas akar klon karet PB 260 tidak berbeda dengan klon yang lainnya. Kepadatan xilem dan tracheid akar merupakan satu indikator kapasitas tumbuhan untuk menghisap dan mengangkut air. Diameter komponen-komponen xilem (Jones 1992) berperan kuat pada daya konduktivitas xilem.
Peningkatan jumlah dan diameter berkas pembuluh atau xilem yang meningkat merupakan salah satu bentuk respon tanaman pada kondisi cekaman air dan hara. Media tanaman pasir lebih sulit untuk menyimpan air dan hara dibanding media campuran kompos, sehingga media pasir unsur hara mudah tercuci pada saat penyiraman tanaman dan akar berusaha untuk menyerap air dan hara. Menurut Nurtjahya dan Juairiah (2006) diduga, peningkatan nisbah konduktivitas ini diikuti oleh karakter pertumbuhan dan fisiologi pada daun sehingga meningkatnya berkas pembuluh atau pembuluh xilem tidak berakibat fatal bagi tanaman yang tumbuh di lahan terbuka dan poros.
Nisbah konduktivitas luas sayatan melintang akar terhadap total luas luasan sayatan melintang akar klon karet juga menunjukkan nisbah yang lebih besar pada jenis media campuran pasir tailing dan penambahan kompos TKKS dengan perbandingan 1 : 2 v/v dan berbeda dengan perlakuan kompos yang lainnya. Semakin banyak penambahan kompos TKKS maka konduktivitas akar akan membesar dan tergantung pada kondisi hara dan status air tanah. Transport air dilakukan akar selama hidupnya. Menurut Banon et al. (2003), menyatakan bahwa konduktivitas air merupakan salah satu fungsi penting dari akar tanaman seperti uptake ion (penyerapan ion) yang berperan didalam akar yang muda. Jaringan yang mengkonduksi air ditunjukkan pada elemen xilem, dimana konduktivitas hidrolik ditentukan sangat dominan oleh diameter dan panjang xilem. Jika diameter xilem pada suatu tanaman rata-rata menunjukkan angka yang besar, maka konduktivitas air (daya penghantar air) oleh xilem lebih cepat prosesnya bila dibandingkan diameter xilem yang kecil (Eshel et al. 2000).
2. Anatomi Daun Klon Karet (Hevea brasiliensis)
Pemberian kompos TKKS 1 : 2 v/v tidak berbeda dengan perbandingan
2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan 1 : 3 v/v setelah dilakukan uji lanjut BNJ, tetapi berbeda dengan perlakuan tanpa kompos. Pada Tabel 17 menunjukkan semakin banyak komposisi kompos yang diberikan dapat meningkatkan kerapatan stomata yang berhubungan dengan fotosintesis dan transpirasi. Peningkatan kerapatan stomata juga meningkatkan ukuran sel penjaga baik panjang maupun lebarnya. Penelitian ini serupa dengan penelitian tentang anatomi daun talas yang mempunyai kerapatan stomata lebih banyak serta ukuran sel penjaga yang lebih tinggi di lahan tegalan yang diberi perlakuan pupuk dibandingkan dengan kerapatan stomata yang ada dihabitat aslinya (Dorly dan Yohana, 2007). Kerapatan stomata lebih banyak di perbandingan kompos 1 : 2 v/v (400,1 jumlah/mm2) dibandingkan dengan tanpa pemberian kompos (316,4 jumlah/mm2) (Gambar 5).






Gambar 5. Epidermis bawah (abaksial) daun klon karet PR 303:
A. pasir tailing : kompos TKKS 1 : 2 v/v, B. tanpa kompos
st = stomata dan ep = epidermis bawah

Kerapatan stomata untuk semua klon karet sebelum dipindahkan ke lahan pasca penambangan timah memiliki kerapatan yang kecil dan diikuti dengan ukuran sel penjaga yang kecil (Gambar 6). Hal ini didukung dengan kondisi lingkungan waktu dipembibitan dan di lahan pasca penambangan timah. Penelitian ini serupa, bahwa kerapatan stomata Syzigium garcinifolium dilahan pasca penambangan timah lebih tinggi dibandingkan kerapatan stomata dilahan tidak terganggu dan diikuti dengan ukuran stomatanya (Nurtjahya dan Juairiah, 2006). Adanya peningkatan kerapatan stomata di lahan pasca penambangan timah serupa dengan hasil penelitian sebelumnya dengan jenis tumbuhan pionir yang tumbuh alami di lahan tidak terganggu (Nurtjahya et al. 2005). Peningkatan kerapatan stomata di lahan pasca penambangan timah serupa dengan respon stomata terhadap cekaman kekeringan. Kerapatan stomata daun tumbuhan yang tumbuh di daerah kering dan mendapat cahaya matahari yang banyak tercatat lebih tinggi dibandingkan dengan tumbuhan yang hidup di daerah lebih basah dan ternaungi (Wilmer, 1983 dan Sutcliffe, 1979). Kenaikan kerapatan stomata pada daun Ricinus communis yang terkena pengaruh kekeringan (Heckenberger et al. (1998). Meningkatnya kerapatan stomata untuk mengimbangi berkurangnya perluasan daun pada tanaman yang tercekam air yang bertujuan untuk mengurangi transpirasi. Kerapatan stomata juga ditemukan pada tanaman Jatropha curcas yang diberi kompos limbah padat kelapa sawit dengan diikuti peningkatan ukuran stomatanya (Juairiah, 2008).













Gambar 6. Epidermis bawah (abaksial) daun klon karet PR 303:
A. lahan pasca tambang timah, B. Lokasi pembibitan
st = stomata dan ep = epidermis bawah

Peningkatan konduktivitas akar diikuti dengan banyaknya kerapatan stomata, dan diikuti dengan jumlah dan besarnya stomata. Konduktivitas akar dapat meningkat akibat dari kondisi tanah yang kering, dimana akar akan memiliki jumlah cabang akar yang banyak dengan diameter yang kecil, begitu pula dengan jumlah dan besar stomata dapat meningkat akibat kondisi lingkungan yang kering dan panas (Arisanti, 2005).
Meningkatnya kerapatan stomata pada media campuran pasir tailing dan kompos TKKS menunjukkan bahwa perubahan kerapatan stomata diikuti dengan perubahan ukuran stoma dan diduga terkait erat dengan fungsi penting stoma dalam fotosintesis dan transpirasi. Sebaliknya kerapatan stoma menurun pada media pasir tailing saja diikuti penurunan ukuran stoma menandakan bahwa jenis tersebut toleran terhadap defisit hara. Poejiastuti (1994) menyimpulkan bahwa tanaman yang beradaptasi terhadap defisit hara dan air akan memiliki kerapatan stomata yang lebih sedikit saat mengalami defisit hara dan ukuran stomata menurun sehingga tidak terjadi transpirasi yang berlebihan. Penambahan jumlah stomata dengan diiringi ukuran sel stoma yang besar, dapat diasumsikan sebagai bentuk adaptasi tanaman terhadap lingkungan sekitar akibat dari kebutuhan penguapan yang lebih besar.
Menurut Lynch et al. (1992) bahwa kerapatan stomata merupakan karakter yang berhubungan dengan efisiensi penggunaan air daun. Stomata yang rapat memang dapat meningkatkan evaporasi pendinginan daun, serta mempercepat asimilasi CO2 selama periode pembukaan stomata saat pagi dan sore hari, tetapi meningkatnya asimilasi CO2 harian dibatasi oleh ketersediaan air pada siang hari.
Tebal jaringan palisade klon karet pada Tabel 24 yang diberi campuran tailing dan kompos 1 : 2 v/v berbeda dengan perlakuan kompos 2 : 1 v/v, 1 ; 1 v/v, dan 1 : 3 v/v bahkan berbeda dengan tanpa kompos. Tebal palisade pada perbandingan kompos 1 : 2 v/v juga diikuti dengan meningkatnya ketebalan jaringan bunga karang, tebal jaringan epidermis atas dan epidermis bawah, dan tebal daun (Gambar 7). Jika perlakuan kompos 1 : 2 v/v dibandingkan dengan tanpa perlakuan kompos, ketebalan semua parameter transversal daun lebih tebal daripada perlakuan tanpa kompos. Hasil ini serupa dengan penelitian terdahulu, bahwa tebal palisade, bunga karang, epidermis atas dan bawah, dan tebal daun Jatropha curcas meningkat pada pemberian limbah padat kelapa sawit (Juairiah 2008).







Gambar 7. Irisan tranversal daun klon karet PR 303:
A. pasir tailing : kompos TKKS 1 : 2 v/v, B. tanpa kompos
ea = epidermis atas, p = palisade, bk = bunga karang, bp = berkas
pembuluh, t = trikoma, dan eb = epidermis bawah

Kompos TKKS selain berperan sebagai penambah bahan organik tanah, juga memiliki peran dalam meningkatkan daya tahan air pada media tumbuh. Chartzoulakis et al. (2002) menyatakan bahwa dua kultivar alpokat mempunyai ketebalan jaringan daun lebih tebal pada perlakuan pemberian air dibandingkan dengan stress air. Penurunan ukuran sel jaringan tanaman dibawah kondisi stress air dihubungkan dengan mekanisme adapatasi pada kondisi kekeringan
(Cutler et al. 1977).
Sama halnya dengan anatomi paradermal daun karet, bahwa anatomi transversal daun di pembibitan, ketebalan semua parameter sangat rendah dan meningkat setelah semua klon ditanam di lahan pasca penambangan timah yang diberi perlakuan kompos TKKS. Hal ini serupa dengan penelitian beberapa jenis tumbuhan pionir yang mempunyai ketebalan anatomi tranversal daun lebih besar dilahan tidak terganggu dibanding lahan pasca penambangan timah (Nurtjahya dan Juairiah, 2006 : Nurtjahya et al. (2005).
Dilihat dari karakter-karakter yang mengalami perubahan, tampaknya hal tersebut berkaitan dengan tingkat ketersediaan hara tanah. Lapisan palisade, jaringan bunga karang serta ketebalan daun secara keseluruhan karet yang ditanam di lahan pasca penambangan timah cenderung lebih tebal pada perlakuan kompos daripada tanpa pemberian kompos (Gambar 8). Diduga hal ini sebagai pemupukan pada lahan pasca penambangan timah. Hal tersebut didukung oleh hasil pengamatan pada tebal sel epidermis atas dan bawah daun karet yang diberi kompos ternyata lebih besar dari pada tebal epidermis atas dan bawah daun karet tanpa perlakuan kompos. Penelitian ini serupa dengan penelitian Dorly dan Yohana (2007), yang mengamati ketebalan jaringan palisade, bunga karang, epidermis atas dan bawah serta tebal daun talas lebih tebal di lahan tegalan yang diberi pemupukan dibandingkan dengan habitat aslinya tanpa pemupukan.
Dilihat dari jaringan daun pada irisan tranversal pada semua perlakuan kompos, jaringan palisade mempunyai perbedaan yang paling besar. Peningkatan ketebalan palisade selanjutnya menyebabkan peningkatan tebal daun, sedangkan tebal jaringan epidermis atas dan bawah juga mengalami peningkatan yang cukup berarti tetapi tidak sebesar jaringan palisade. Jika sel palisade meningkat, maka jumlah kloroplas juga meningkat karena kloroplas lebih banyak terdapat pada sel palisade dan akan mengoptimumkan proses fotosintesis (Poejiastuti 1994).






Gambar 8. Irisan transversal daun klon karet PR 303:
A. lahan pasca tambang timah, B. Lokasi pembibitan
ea = epidermis atas, p = palisade, bk = bunga karang, bp = berkas
pembuluh, t = trikoma, dan eb = epidermis bawah
3. Hubungan Karakter Pertumbuhan dan Anatomi Klon Karet
(Hevea brasiliensis) dengan Sifat Ketahanan
Untuk menguji karakter pertumbuhan dipakai untuk membedakan klon-klon karet yang tahan dari yang rentan dilakukan analisis gerombol (Cluster analysis) berdasarkan jarak ketidakmiripan (euclidean) (Gambar 9). Dendogram yang dihasilkan pada jarak ketidakmiripan genetik 21 % yang dikelompokkan secara keterpautan rataan kelompok diperoleh 2 kelompok dan dijumpai 4 klon karet tahan mengelompok dalam 1 kelompok. Pada penelitian ini bergabungnya klon-klon karet yang tahan atau tahan untuk tumbuh di lahan pasca penambangan timah berdasarkan ketidakmiripan 21 % yaitu klon GT 1, BPM 24, PR 303, dan klon PB 260.
Analisis gerombol dengan menggunakan semua karakteristik pertumbuhan yaitu tinggi tanaman, luas daun, kandungan nitrogen daun, berat kering akar, berat kering tajuk, dan konduktivitas xilem akar, dapat dipakai untuk memisahkan klon tahan dan klon peka. Tidak semua karakteristik pertumbuhan dapat dipakai untuk membedakan klon tahan dan rentan, oleh karena itu perlu dicari karakter pertumbuhan yang tepat bisa dipakai untuk membedakan klon tahan dan peka.


















Bergabungnya klon-klon yang tahan pada dendogram tersebut rata-rata ditunjukkan pada komposisi pasir tailing dengan kompos TKKS pada perbandingan 1 : 2 v/v. Pada klon yang tahan juga ditemukan klon-klon dengan perbandingan kompos yang berbeda dengan 1 : 2 v/v. Klon tersebut antara lain yaitu GT 1 (2 : 1 v/v dan 1 : 1), klon PR 303 (2 : 1 v/v dan 1 : 1). Masuknya klon dengan perbandingan kompos yang berbeda disebabkan karena pada semua karakter pertumbuhan ada yang mirip ataupun sama antara klon karet pada perbandingan kompos 1 : 2 v/v dengan 2 : 1 v/v dan 1 : 1 v/v. Pada kelompok 1, klon yang rentan yaitu klon IRR 59 untuk semua perbandingan kompos, dan semua klon-klon dengan perbandingan kompos 1 : 0 v/v, 2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan
1 : 3 v/v. Analisis gerombol dengan menggunakan semua peubah karakter pertumbuhan dapat dipakai untuk memisahkan klon karet tahan dari klon yang rentan.
Analisis gerombol selanjutnya dilakukan terhadap karakter anatomi daun klon karet baik anatomi paradermal daun maupun anatomi transversal daun karet (Gambar 10). Dari dendogram yang dihasilkan pada jarak ketidakmiripan 21 % klon-klon dibedakan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok 1 terdiri dari klon yang tergolong kedalam kelompok rentan yaitu semua klon karet untuk kondisi tailing dan kompos 1 : 0 v/v, 2 : 1 v/v, 1 : 1 v/v, dan 1 : 3 v/v. Kelompok 2 terdiri dari 4 klon yang keseluruhannya tergolong kedalam kelompok tahan yaitu klon GT 1, BPM 24, PR 303, dan PB 260 untuk kondisi tailing dan kompos TKKS 1 : 2 v/v.






























Dari hasil penelitian ini menunjukkan karakter anatomi baik paradermal maupun transversal daun yaitu, kerapatan stomata, ukuran sel penjaga, ukuran sel stoma, dan tebal sel palisade dapat dipakai sebagai pembeda klon tahan dan klon rentan. Tidak semua karakter anatomi bisa dipakai untuk memisahkan tanaman tahan dan rentan, oleh karena itu perlu dicari beberapa karakter anatomi yang lebih tepat bisa dipakai untuk membedakan klon-klon yang tahan dan rentan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan, diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Klon GT -1 mempunyai konsistensi karakteristik yang mantap untuk pertumbuhan dan anatomis dengan kondisi tailing timah : kompos TKKS
( 2:1 v/v ).
2. Klon PB 260, BPM 24, dan PR 303 mempunyai kemampuan adaptif yang relatif baik untuk karakteristik pertumbuhan dan anatomis dengan kondisi tailing timah : kompos TKKS ( 1: 2 v/v ).
3. Klon IR 59 tidak mempunyai kemampuan adaptif untuk karakteristik pertumbuhan dan anatomis terhadap semua kondisi tailing timah dengan penambahan kompos TKKS.
B. Saran
Untuk mengetahui lebih akurat tingkat toleransi jenis klon karet yang tumbuh di lahan pasca tambang timah yang di ameliorasi dengan kompos TKKS, perlu dilakukan penambahan jenis klon karet dan pengukuran tambahan beberapa karakteristik fisiologis seperti laju fotosintesis, laju transpirasi dan kandungan prolin pada semua klon karet.

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, J. 1982. Neraca Air Tanah pada Lokasi Tanah Limbang Tambang di Daerah Bekas Tambang Timah Rias, Toboali Pulau Bangka [skripsi]. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Anderson, J.M., 2000. Strategies of photosynthetic adaptations and climation. P 284-291. Dalam Yunus, M, Pathre, U, Mohanty, P (eds). Probing Photosynthetic. Mechanisms, regulation and adaptation. Taylor & Francis. London.

Ang, L.H. 1994. Problems and propects of afforestation on sandy tin tailings in Peninsular Malaysia. J. of Tropical Forest Science 7(1) : 87-105.

Anonim. 1996. Dokumen Studi AMDAL Kegiatan Pertambangan Emas di Minahasa dan Boloang Mongondow Sulawesi Utara. PT Newmont Minahasa Raya. Indonesia.

Ansori, L. 2005. Serapan Unsur P, Hasil dan Kualitas Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt) pada Tanah Ultisol yang diberi Pupuk Kotoran Ayam dan Pupuk Fosfat [Tesis]. Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya. Palembang.

Anwar, J., S.J. Damanik, N. Hisyam, dan A.J. Whitten. 1984. Ekologi Ekosistem Sumatera. Gajah Mada University Press. Jokyakarta. 436 hal.

Arisanti, A. 2005. Adaptasi Anatomi Pohon Roof Garden: Studi kasus: kondominium Taman Anggrek, Jakarta. Fakultas Pertanian, IPB Bogor. Bogor.

Awang, K. 1988. Tin tailings and ther possible reclamtion in Malaysia in Adisoemanto S (ed). 1988. In Regional Workshop on Ecodevelompment Process for degraded land resources in Southeast Asia, Bogor: 23-25 Agustus 1988.

Badan Pusat Statistik Kepulauan Bangka Belitung. 2006 Komoditi Perkebunan Bangka Belitung. www.bangkabelitungprov.go.id.

Badan Pusat Statistik. 2007. Data Perkembangan Perkebunan Indonesia. www.bps.go.id.

Balasubramanian, V., Thiyagarajan, Nagarajan R, Abdulrachman S, and Hai LH. 2000. Adaptation of the Chlorophyll Meter (SPAD) Technology for Real-time N Management in Rice.
Banon, S., Fernandez JA, Franco JA, Torrecillas A, Alarcon JJ, sanchez-Blanco M.J. 2003. Effects of water stress and night temperature preconditioning on water relations and morphological and anatomical changes of Lotus creticus plant.

Bates, R., and J. Lynch. 2001. Root hairs confer a competitive advantage under low phosphorus availability. Plant Soil 236:243–250.[CrossRef]

Blackshaw, R.E. 1991. Soil temperature and moisture effects on downey brome vs. winter canola, wheat, and rye emergence. Crop Sci. 21 : 1034–1040.

Bruck H., B. Sattelmacher, and W.A. Payne. 2002. Varietal differences in shoot and rooting parameters of pearl millet on sandy soils in Niger. Plant Soil
25 : 175–185.

Brunig, E.F. 1973. Species richness and stand diversity in relation factor in some lowland forests in Sarawak and Brunei. Amazonia 4 : 293-320.

Coopman, R.E., J.C. Jara, L.A. Bravo, K.L. Saez, G.R. Mela, and R. Escobar. 2008. Changes in morpho-physiological attributes of Eucalyptus globulus plants in response to different drought hardening treatments. Journal of Biotechnology. Vol.11, 2 : 1-10.

Chartzoulakis, K, Patakas A, Kofidis G, Bosabalidis A, and Nastou A. 2002. Water stress affeects leaf anatomy, gas exchange, water relation and growth of two avocado cultivars. Scientia horticulturae. Greece. 95: 39-50.

Dai dan Jamus. 1994. Lingkungan Data Tehnik Reklamasi daerah Bekas Tambang. Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. Bogor.

Darmosarkoro W dan Winarna. 2003. Penggunaan TKKS dan kompos TKKS untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman. Lahan Pemupukan Kelapa Sawit. 1 : 187-200.

Dorly dan Yohana CS. 2007. Anatomi Daun Beberapa Talas Liar (Colocasia esculenta) Schott dari Kabupaten Bogor. Caraka Tani. Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Universitas Sebelas Maret. Vol xx 11(1): 6-11. issn 0854-3984.

Elfis. 1998. Vegetasi Kerangas pada Daerah Bekas Penambangan Timah di Pulau Singkep Kep. Riau. [Tesis]. Universitas Andalas. Padang.

Eshel A, Shick I and waisel Y. 2000. The efficiency of the water conducting system of tomato roots: hydraulic conductivity of tomato roots. Departement of Plant sciences. The george S. Wise Faculty of Life Scienced, Tel Aviv University. Israel.

Eshel, A, Y. Waisel, and U. Kafkafi. 2002. Plant Roots the Hidden Half, third ed. New York, Basel: Marcel Dekker, Inc.

Fakuara, Y. dan W. Soekotjo. 1986. Penentuan Jumlah Transpirasi pada Berbagai Jenis Pohon yang Tumbuh di Perkotaan. [Laporan Penelitian]. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Faye, I, O. Diouf, A. Guisse, M. Sene, and N. Diallo. 2006. Characterizing Root Responses to Low Phosphorus in Pearl Millet [Pennisetum glaucum (L.) R. Br.]. Agron. J. 98:1187–1194.

Francis D.D and Piekielek. 2005. Assessing Crop Nitogen Needs with Chlorophyll Meters, Potash and Phospate Institute (PPI). Canada.

Fukai, S and M. Cooper. 1995. Development of drought resistant cultivars using physio-morfological traits in rice. Field Crops Res. 40 : 67-86.

Gardner F.P., Pearce RB, and Mitchell RL. 1991. Physiology of Crop Plants (Fisiologi Tanaman Budidaya, alih bahasa oleh Susilo). UI Press. Jakarta. 432p.

Gupta, S.C. and J.P.S. Panmer. 2006. Morpho-physiological effects of thermal and mouisture stress on Chickpea genotypes. Indian Journal of Plant Physiology. Vol 11, no 2, pp : 213-216.

Gofar, N, Marsi, dan R. Purnamayani. 1999. Respon Tanaman Jagung (Zea mays) pada Bahan Tailing Pasca Penambangan Timah yang Diameliorasi dengan Bahan Organik, Zeolit dan Tanah Lapisan Atas. Tanaman Tropik 2 (2:1) : 16-24.

Hadi, H dan Sudiharto. 2004. Pengembangan Perkebunan Karet di Daerah sekitar Tambang Batubara: Kasus di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Warta Perkaretan 23 (3) : 28-36.

Hanafiah, K.A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Rajagrafindo Persada. Jakarta.

Hanura. 2005. Perbaikan Sifat Kimia Bahan Tailing Asal Lahan Pasca Penambangan Timah yang di Beri Kompos dan Pengaruhnya terhadap Pertumbuhan Tanaman Kedelai. Tesis. Program Studi Ilmu Tanaman Program Pasca Sarjana Universitas Sriwijaya. (unpublish). Palembang.

Hao, X. and D. Jong. 1988. Effect of matric and osmotic suction on the emergence of wheat and barley. Can. J. Plant Sci. 68 : 207–209.

Harjadi, S.S. dan S, Yahya. 1988. Fisiologi Stres Lingkungan. PAU Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Hidayat, N., B.P. Naiola, E.N. Sambas, F. Syarif, M. Sudiana, J.S. Rahajoe, J.T. Suciatmih, dan Y. Suhardjono. 1999. Perubahan Biokofisik Lahan Bekas Penambangan Emas di Jampang dan Metoda Pendekatannya untuk upaya Reklamasi. Dalam: Abdulhadi (Ed). Reklamasi Lahan Bekas Penambangan Emas Jampang. Puslitbang Biologi LIPI. Bogor. h 3-15.

Hersey D. 2001. Does Light Intensity Affect the Number of Stomata on a Leaf and if so, How? http://www.madsci.org/posts/archives/sep 2001/100121025.Bt.r.html.

Heckenberger, U., Roggatz U, Schurr U. 1998. Effect of drought stress on the cytological status in Ricinus communis. Journal of Exp. Botany 49 (319): 181-189.

Iskandar dan Soebagyo. 1993. Pedoman Reklamasi Lahan Bekas Tambang. Departemen Pertambangan dan Energi. Ditjen Pertambangan Umum. Jakarta.

Indriyani YH. Membuat kompos secara kilat. Penebar Swadaya. Jakarta. 62 hal.

Juairiah, L., E. Nurtjahya, T. Prawitasari, dan Dorly. 2005. Konduktivitas Xilem pada Batang dan Akar Tumbuhan Pionir di Lahan Pasca Penambangan Timah di Desa Sempan, Bangka. Seminar MIPA Nasional 2005, Universitas Indonesia, 25-26 November 2005.

Juairiah, L. 2008. Karakteristik Anatomi dan Fisiologi Pertumbuhan Bibit Jarak Pagar (Jatropha curcas) di Berbagai Media Tanam Tailing Timah dengan Penambahan Limbah Padat Kelapa Sawit. [Unpublish].

Jumin, H.B. 2002. Agroekologi; Suatu Pendekatan Fisiologis. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Johansen, D.A. 1940. Plant Microtechnique. New York: McGraw-Hill Book Company Inc.

Jones, H.G. 1992. Plants and Microclimate, (2nd ed). Cambridge University Perss. Cambridge.

Jonathan, P.L., and M.B. Kathleen. 2001. Topsoil foragingan architectural adaptation of plants to low P availability. Plant Soil 237:225–237.[CrossRef]

Kartawinata, K. 1980. A note on a kerangas (heath) forest in East Kalimantan, Indonesia. In Tropical at Wanariset, East Kalimantan. Malay. Forester, Kuala Lumpur 44 : 54-72.

Karyudi. 1999. Peningkatan Produktivitas Karet Nasional Melalui Peremajaan dan Pengembangan pada Daerah beriklim Kering. Warta Pusat Penelitian Karet 18 (1-3) : 17-27.

Khodijah, N.S., C. Ona, M. Jasari. 2006. Upaya perbaikan Kesuburan Media Tanam Bekas Penambangan Timah pada Pertumbuhan Awal Tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas). Laporan Penelitian (Unpublish).

Kramer, P.J. 1963. Water stress and plant growth. Agron. J. 55 : 31-35.

Kielhorn, KH, Keplin B, and Huttl RF. 1998. Group bettle communities on reclamed mine soil: Effects of organic matter application and vegetation. Plant and Soil Journal 213:117-125.

Kirkland, K.J and E.N. Johnson. 2000. Alternative seeding dates that was magnified at more negative water potentials and (fall and April) affect Brassica napus canola yield and quality. Can.J. Plant Sci. 80 : 713–719.

Kusnoto dan Kusumodidjo. 1995. Dampak penambangan dan Reklamasi. Ditjen Pertambangan. Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan. Bandung.

Lakitan, B. 1995. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Rajawali Perss. Jakarta.

Lambert J. 2001. Effects of Light Intensity on Leaf Traits Affecting Photosynthetic Efficiency in Coleous blumei. Departemen of Biology. DePauw university.

Latifah, S. 2000. Keragaman Pertumbuhan Acacia mangium pada Lahan Bekas Tambang Timah. [Tesis]. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Lau, R.W.C. 1999. TED Case Studies: Tin Mining In Malaysia – Present And Future Tin Mining In Malaysia. http://www. American. Edu/TED/tin. Htm [14 Desember 2003).

Lavon, R., E.E. Goldschmidth, Salomon R, Frank A. 1995. Effect of Potassium, Magnesium and Calcium Deficiencies on Carbohydrate Pools and Metabolism in Citrus Leaves. J. Amer. Soc. Hort. Sci. 120(1):54-58.

Levitt, J. 1980. Responses of Plant to Environmental Stress Academic Press. New York. Vol 2.606 p.

Lei T.T., R. Tabuchi, M. Kitao, and Koike T. 1996. Functional Relationship Between Chlorophyll Content and Leaf Reflectance and Light Capturing Effiency of Japanese Forest Species. Physiologia Plantarum. 96: 411-418.

Loong, S.G., M.Nazeeb and A. Letchumanan. 1987. Optimising the use of FFB much on oil palms on two different soils. Proc. Of the 1987 Int. Oil Palm/ Oil Palm Conf. P 605-639.

Lynch, P.J. and R.T. Bates. 2001. Root hairs confer a competitive advantage under low P availability. Plant Soil 236 : 243–250.

Lynch J, Gonzales A, J.M. Tohme, Garcia JA. 1992. Variation in characters related to leaf photosynthesis in wild bean population. Crop sci, 32 : 633-640.

Masdar. 2003. Pengaruh Lama dan Beratnya Defisiensi Kalium terhadap Pertumbuhan Tanaman Durian (Durio zibethinus). Jurnal Akta Agrosia: 6 : 60-66.

Marschner, H. 1986. Mineral Nutrition in Higher Plants. Academic Press Inc, London Ltd. 674 p.

Mitra, J. 2001. Genetis and genetic improvement of drought resistance in crops plants. Current Sci. 80 : 758-762.

Munthe, H. and Istianto. 2008. Daur Ulang Hara pada Areal Tanaman Karet Menghasilkan. http://balitsp.com/jurnal/warta_list.php. diakses 12 September 2008.

Murdock, L., Jones S, and Bowley C. 1997. Using Chlorophyll Meter to Make Nitrogen Recommendation on Wheat. Agriculture: Ilome Economics. 170.

Naning, M.I., M.A. Diha, dan N. Goffar. 1999. Perbaikan Sifat Kimia Bahan Tailing asal Lahan Pasca Penambangan Timah dan Pertumbuhan Tanaman Jagung dengan Pemberian Bahan Organik dan Zeolit. Proseding Seminar Hasil Penelitian Universitas Sriwijaya, Palembang.

Nurtjahya, E. 2004. Analisa Beberapa Sifat Fisika dan Kimia Tanah pada Beberapa Tipe Tanah dan Tipe Penggunaan Lahan di Pulau Bangka. (unpublished).

Nurtjahya, E., L. Juairiah, Dorly, dan T. Prawitasari. 2005. Kajian Struktur Anatomi dan Morfologi Tumbuhan Pionir di Lahan Pasca Penambangan Timah di Desa Sempan, Bangka (unpublished).

Nurtjahya E, Juairiah L, 2006. Struktur Anatomi dan Karakter Fisiologi Tanaman Pionir di Lahan Pasca Penambangan Timah di Riding Panjang, Bangka.

Neumann, G., A. Massonneau, E. Martonoia, and V. Romheld. 1999. Physiological adaptations to P deficiency during proteoid root development in white lupin. Planta 208:373–382.[CrossRef][ISI].

Nye, P.H. and P.B. Tinker. 1977. Solute exchange between solid, liquid and gas phases in the soil. p. 33–68. In Solute movement in the soil–root system. Stud. Ecol. Blackwell Sci., Oxford, UK.

Osaki, Mitsuru, Shinano T, Matsumoto M, Ushiki J, Shinano M.M, Yamada S, Urayama M, and Tadano T. 1997. Relationship between root activity and N, P, K, Ca, and Mg contents in roots of field crops. Soil Science and Plant Nutrion. Published by Japanese Society of Soil and Plant Nutrition. 43 (1), pp 11-24.

Payne, W.A., R.J. Lascano, L.R. Hossner, C.W. Wendt, and A.B. Onken. 1991. Pearl millet growth as affected by P and water. Agron. J. 83 : 942–948.

Pursegolve, J.W. 1974. Tripical Crops. Dicotyledons. Volume 1 dan 2. The English Languange Book Society and Longman. Singapore.

Poejiastuti, E. 1994. Studi komparatif Anatomi Daun Beberapa Genotif Kedelain (Glycine max (L)) yang Peka dan Toleran terhadap Cekaman Kekeringan (Skripsi). Bogor ; Insitute Pertanian Bogor, FMIPA.

P.T. Koba Tin-Pusat Studi Bioteknologi Hutan dan Lingkungan IPB. 2002. Effect of Bioorganic on Soil and Plant Productivity Improvement of Post Tin Mine Site at PT. Kobatin Project Area Bangka. Pusat Studi Bioteknologi Hutan dan Lingkungan IPB. Bogor.

P.T. Timah. 1991. Studi Evaluasi Lingkungan Unit Penambangan dan Unit Peleburan Timah Pulau Bangka. Vol.1. PT. Tambang Timah (Persero). Bangka.

P.T. Tambang Timah (persero). 1995. Laporan Triwulan II tahun 1995 Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan. PT Tambang Timah (Persero). Bangka.

Qing-jun C, Fu-man Z, Yong-jian W, and Kenji K. 2003. The physiologic Reaction of Cucumber to Low temperatur and Low Light Intensity. Agricultural sciences in China, Vol 2 : 200-205.

Rai, I,N. 2002. Diagnosis defisiensi dan toksisitas hara mineral pada tanaman. http://rudyct.tripod.com/ sem2-012/I-nyoman-rai.htm.14 p.

Reich, A., N.M. Holbrook, and J.J. Ewel. 2004. Developmental and physiological correlates of leaf size in Hyronima alchorneoides (Euphorbiaceae). Am J Bot 91 : 582-589.

Resh, H.M. 1983. Hidroponic Food Production. Woodbridge Press Publishing Company. Santa Barbara, California. 335 p.

Riswan, Sudarsono, dan K. Kartawinata. 1991. Species strategy in early stage of secondary sucession associated with soil properties status in low land mixed dipterocarp forest and vegetasi kerangas forest in East Kalimantan. Tropic 1: 45-67.

Rosmarkam, A dan N.W. Yuwono. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Kanisius. Yogyakarta.

Roel, A., R.G. Mutters, J.W. Eckert and R.E. Plant. 2005. Effect of low Water Temperature on Rice Yield in California. Agron. J. 97 : 943-948.

Santi, R. 2005. Pertumbuhan Nilam (Pogostemon cablin Benth) pada sandy tailing asal lahan Pasca Penambangan Timah yang diberi Kompos dan Tanah Kupasan (overburden) [tesis]. Program Studi Ilmu Tanaman Program Pascasarjana Universitas Sriwijaya (tidak dipublikasikan).

Sass, J.E. 1951. Botanical microtechnique. The Lowa state college Press. Ames, Lowa.

Schneider, E.C., and S.C. Gupta. 1985. Corn emergence as influenced by soil temperature, matric potential, and aggregate size distribution. Soil Sci. Soc. Am. J. 49 : 415–422.

Setyamidjaja, D. 1993. Karet, budidaya dan pengolahan. Kanisius. Yogyakarta.

Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjahmada University Press. Yogyakarta.

Setiawan, D.H. dan A. Andoko. 2005. Petunjuk Lengkap Budidaya Karet. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Suhendry, I. 2007. Pertumbuhan dan Produkstivitas Karet pada Beberapa Tipe Iklim. J.Penel. Karet 19 (1-3) : 1-17.

Sukresno. 1996. Evaluation on Potentially Reclaimed of Prior Tin Mined Land in Bangka Island. J Watershed Management. 4 : 25-34.

Supriyanto, A. 2003. Aplikasi Waste water untuk pengomposan Serbuk Gergaji, http://Search.Yahoo.com/search?kompos+sekam+padi (diakses 8 Desember 2008).

Suryanto dan W. Susetyo. 1997. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjahmada University Press. Yogyakarta.

Sutarta, E.S, Winarma dan Darlan. 2005. Peningkatan efektivitas pemupukan melalui aplikasi kompos TKKS pada pembibitan kelapa sawit. Prosiding Pertemuan Teknisi Kelapa Sawit 2005: Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit Melalui Pemupukan dan Pemanfaatan Limbah PKS. Medan.

Somersalo, S., P. Makela, K. Rajala, E. Nevo, and P.P. Sainio. 1998. Morpho-physiological traits characterizing enviromental adaptation of Avena barbata. Euphytica. 99 : 213-220.

Turner, N.C. and Kramer, P.J. 1980. Adaptation of plants to water and high temperature stress. John Wiley and Sons, Inc. New York. Chichester. Brisbane. Toronto. Singapore. 482 p.

Vinocur, M.G. and J.T. Ritchie. 2001. Maize Leaf Development Biases Caused by Air-Apex Temperature Differences. Agr. J.93 : 767-772.

Webster, C.C. and E.C. Paardekooper. 1989. The botany of the rubber tree in Webster CC, Baukwill (eds). Rubber. Longman. Kuala Lumpur.

Wijayani, A., Muljanto D, Soenoeadji. 1998. Pemberian nitrogen pada berbagai macam media tumbuh hidroponik : pengaruhnya terhadap kuantitas dan kualitas buah paprika (Capsicum annuum var. Grossum). Ilmu Pertanian 6 (2) : 8-13

Widjayanti. 2001. Respon Tanaman Kedelai di Tanah Ultisol terhadap Penambahan Bokhasi dan Jerami Padi. Tesis, Program Ilmu Tanaman. Program Pasca Sarjana. Universitas Sriwijaya.

Wilson, D.R. R.C. Muchow and C.J. Murgatroyd. 1995. Model analysis of solar radiation limitations to maize potential productivity in a cool climate. Field Crops Res. 43 : 1–18.

Willmer, C.M. 1983. Stomata. Longman Inc. New York. 166 p.

Yadav, R.S., Bayadin, and A.K. Saiswal. 2001. Morpho-physiological changes and variable yield of wheat genotypes under moisture stress conditions. Journal of Plant Physiology. Vol. 6 no. 4, pp : 390-394.

Yong, H., L. Hong, and Y. Xiaolong. 2003. Localized supply of P induces root morphological and architectural changes of rice in split and stratified soil cultures. Plant Soil 248 : 247–256.

Zheng, G.H., R.W. Wilen, A.E. Slinkard, and L.V. Gusta. 1994. Enhancement of canola seed germination and seedling emergence at low temperature by priming. Crop Sci. 34 : 1589–1593.