Daftar Blog Saya

Menurut anda blogspot ini bagaimana?

Senin, 08 Oktober 2012

COMPUTER SELF EFFICACY (CSE) MAHASISWA AKUNTANSI DIPANDANG DARI SEGI GENDER DALAM PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI”

COMPUTER SELF EFFICACY (CSE) MAHASISWA AKUNTANSI DIPANDANG DARI SEGI GENDER DALAM PENGGUNAAN TEKNOLOGI INFORMASI” Latar Belakang Pada saat ini, tingkat ketergantungan dunia usaha dan sektor usaha lainnya, termasuk badan-badan pemerintahan, terhadap teknologi informasi semakin lama semakin tinggi. Hal ini tentu saja dikarenakan perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat tersebut memberikan kemudahan pada berbagai aspek kegiatan bisnis (Cushing 1993; Murdick.et.al 1997; Mc.Leod.R.J 1997; Grace 2000; Nur Indriantoro 2000; Baridwan 2000 dalam Halim, 2000; Hall 2001). Peranan teknologi informasi dalam berbagai aspek kegiatan bisnis dapat dipahami karena sebagai sebuah teknologi yang menitik beratkan pada pengaturan sistem informasi dengan penggunaan komputer, teknologi informasi dapat memenuhi kebutuhan informasi dunia bisnis dengan sangat cepat, tepat waktu, relevan, dan akurat (Wilkinson dan Cerullo 1997). Pentingnya peranan teknologi atau sistem informasi ini dalam akuntansi mempunyai dampak yang cukup signifikan bagi profesi akuntan. Banyak kantor akuntan publik sekarang ini mengharapkan lulusan akuntansi mempunyai pengetahuan yang baik tentang sistem akuntansi dan mempunyai keahlian khusus dalam bidang teknologi informasi, misalnya kemampuan dalam menggunakan micro-based tools secara umum, software khusus dibidang audit dan penggunaan internet. Pengalaman dengan software aplikasi dan penggunaan teknologi tersebut dipandang sebagai suatu bentuk nilai plus (Stone et al. 1996). Contoh kongkrit dalam profesi auditor, terjadi perkembangan dalam jenis-jenis jasa nonatestasi yang dapat diberikan auditor kepada kliennya, misalnya saja konsultasi jasa teknologi dalam aplikasi, analis sistem, manajemen informasi, dan sebagainya. Selain itu, pada abad digital ini, dimana tingkat ketergantungan dunia usaha terhadap teknologi informasi yang semakin tinggi, menuntut adanya suatu audit terhadap teknologi informasi, sebagai dampak timbulnya risiko-risiko atas pengunaan teknologi informasi tersebut. Beberapa alasan mengapa audit teknologi informasi ini dibutuhkan antara lain: kerugian akibat kehilangan data, kesalahan dalam pengambilan keputusan, risiko kebocoran data, penyalahgunaan komputer, kerugian akibat kesalahan proses perhitungan, serta tingginya nilai investasi perangkat keras dan perangkat lunak komputer. Perkembangan-perkembangan yang cukup signifikan dalam profesi akuntan ini secara langsung juga menuntut mahasiswa akuntansi, sebagai seorang calon akuntan, agar dapat mempersiapkan dirinya menjadi akuntan yang mempunyai kompetensi termasuk dalam bidang teknologi informasi sehingga dapat mendukung tugas-tugasnya sebagai seorang akuntan. Pengetahuan dan pemahaman serta keahlian khusus dalam bidang teknologi informasi yang dimiliki oleh mahasiswa akuntansi akan sangat berperan penting dalam menunjukkan keeksistensiannya dalam menghadapi persaingan di dunia kerja nantinya. Seperti yang dikemukakan Fazli (1999) bahwa kecanggihan teknologi informasi akan sangat tidak berarti jika pengguna teknologi informasi tidak berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi infomasi tersebut. Aspek perilaku dari pemakai komputer merupakan faktor penting yang memberi kontribusi terhadap keahlian pemakai komputer. Computer self efficacy (CSE) merupakan salah satu variabel penting untuk studi perilaku individual dalam bidang teknologi informasi (Agarwal et al. 2000). Menurut Compeau dan Higgins (1995), studi tentang CSE ini penting dalam rangka untuk menentukan perilaku individu dan kinerja dalam penggunaan teknologi informasi. Telah ada konsensus umum antara peneliti dengan praktisi bahwa CSE mempunyai hubungan positif dengan attitude seseorang yang dihubungkan dengan teknologi informasi (Sheng et al. 2003). CSE mempunyai hubungan positif dengan kinerja dalam pelatihan software (Gist et al. 1989) dalam Sheng (2003), perceived ease of use sistem komputer (Venkatesh 2000) dan kemampuan mengadaptasi teknologi komputer baru (Burkhart dan Brass 1989) dalam Sheng (2003), dimana semua hal tersebut mempunyai pengaruh positif terhadap penerapan sistem informasi. Selain itu CSE juga merupakan salah satu prediktor penting bagi mahasiswa untuk mau mempelajari dan meggunakan sistem komputer (Rosen dan Maguire 1990 dalam Stone et al. 1996). Beberapa penelitian telah dilakukan sebelumnya tentang pengaruh gender dalam computer attitude. Penelitian tersebut menunjukkan hasil yang beragam. Wijaya (2003) menemukan bahwa tidak ada perbedaan computer anxiety pada laki-laki dan perempuan (Henry dan Stone 1999). Penemuan lainnya menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antara laki-laki dan perempuan dalam penggunaan teknologi informasi (Havelka 2003). Harrison dan Rainer (1992 dalam Rifa dan Gudono 1999) menemukan bahwa personil end user computing laki-laki mempunyai keahlian komputer yang tinggi daripada perempuan. Colley et al. 1994 dalam Havelka (2003) juga menemukan bahwa computer anxiety laki-laki lebih rendah daripada perempuan. Rustiana 2004 menemukan bahwa terdapat perbedaan computer self efficacy antara laki-laki dan perempuan dimana CSE laki-laki cenderung lebih tinggi. Namun ada juga yang berhasil menemukan bahwa perempuan mempunyai attitude yang positif dan menunjukkan level computer anxiety yang rendah dibanding laki-laki (sian et al. 1990 dalam Havelka 2003). Hasil yang beragam dari penelitian-penelitian yang telah dilakukan sebelumnya inilah yang membuat penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang perbedaan gender dalam keahlian teknologi informasi. Mengingat eratnya hubungan antara CSE dengan perilaku individual dalam teknologi informasi ini, maka penulis mengangkat judul : 1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka pada penelitian ini, penulis menekankan masalah kepada apakah terdapat perbedaan computer self efficacy (CSE) mahasiswa akuntansi dalam penggunaan teknologi informasi ditinjau dari perspektif gender? 1.2 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah diatas tujuan dari dilakukannya penelitian ini adalah untuk memberikan bukti empiris tentang ada atau tidaknya perbedaan computer self efficacy (CSE) antara mahasiswa akuntansi laki-laki dengan mahasiswa akuntansi perempuan dalam penggunaan teknologi informasi, serta untuk memberikan konfirmasi konsistensi dengan hasil penelitian sebelumnya. 1.3 Manfaat Penelitian Melalui penelitian ini, penulis berharap agar hasil dari penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan, antara lain : • Bagi penulis Memberikan ilmu pengetahuan dan wawasan bagi penulis mengenai computer self efficacy (CSE) mahasiswa akuntansi ditinjau dari segi gender. Selain itu skripsi ini juga merupakan salah satu syarat untuk menempuh ujian tingkat sarjana pada Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Andalas, Padang. • Bagi jurusan akuntansi Sebagai bahan informasi mengenai CSE mahasiswa akuntansi, sehingga jurusan dapat menyediakan pelatihan teknologi informasi yang tepat dalam rangka mempersiapkan mahasiswanya untuk menyongsong profesionalisme bisnis ke depan. • Bagi pihak lain Penelitian ini dapat digunakan sebagai acuan dan tambahan informasi bagi peneliti selanjutnya. 1.4 Sistematika Penulisan Dalam penulisan skripsi ini dibagi dalam lima bagian yang menguraikan hal-hal sebagai berikut : Bab pertama merupakan pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan Bab kedua merupakan landasan teoritis yang terdiri dari konsep computer self efficacy (CSE), konsep teknologi informasi, konsep gender, dan hipotesis penelitian. Bab ketiga menjelaskan metodologi penelitian yang terdiri dari populasi dan teknik pengambilan sampel, pengukuran variabel penelitan, metode pengumpulan data, dan teknik analisis data. Bab keempat membahas hasil analisa data yang menjadi objek penelitian yang terdiri dari pengumpulan data, pengujian data dan analisa data yang telah dikumpulkan. Bab kelima merupakan bagian terakhir penelitian ini yang berisikan kesimpulan dari analisa yang terdapat dari bab – bab sebelumnya disertai dengan saran – saran dari penulis. BAB II LANDASAN TEORITIS 2.1 Konsep Computer Self Efficacy (CSE) 2.1.1 Teori Kognitif Sosial Teori kognitif sosial dikembangkan oleh Albert Bandura, didasarkan atas proposisi bahwa baik proses sosial maupun proses kognitif adalah sentral bagi pemahaman mengenai motivasi, emosi, dan tindakan manusia. Bagian ini akan menjelaskan prinsip-prinsip pada teori kognitif sosial yang mencakup: asumsi tentang hakikat dan kemampuan manusia; asumsi tentang hakikat dan kemampuan manusia; lima kapabilitas kognitif dasar yang dimiliki manusia; proses interaksi antara manusia dan lingkungannya; cara manusia belajar perilaku; fungsi insentif sebagai sistem pengatur perilaku manusia; proses pembentukan self-efficacy dan fungsinya; dan fungsi tujuan (goal). 2.1.1.1 Hakikat dan Kemampuan Manusia Kecuali untuk sejumlah refleks dasar, manusia tidak diperlengkapi dengan perilaku yang dibawa sejak lahir, dan oleh karenanya perilaku itu harus dipelajarinya. Akan tetapi, faktor faktor biologis membatasi proses belajarnya. Misalnya, gen dan hormon mempengaruhi perkembangan fisik yang pada gilirannya mempengaruhi potensialitas perilaku. Di samping itu, seperti dalam hal bicara, manusia memiliki bakat alami dasar yang dapat dikembangkan dengan membentuk respon-respon baru melalui belajar. Pikiran (thoughts) merupakan proses psikoneural. Akan tetapi, adalah penting untuk membedakan antara hukum psikologi dan hukum biologi. Dengan memfokuskan perhatian pada pengetahuan tentang psikologi kita dapat mengajukan pertanyaan seperti bagaimana cara terbaik untuk menciptakan sistem kepercayaan dan kompetensi personal. Pertanyaan yang menarik adalah bagaimana orang mengaktifkan proses otak yang berada di luar struktur kognitif yang ada untuk menghasilkan peristiwa kognitif baru dan yang menandai kegiatan lembaga individu. 2.1.1.2 Kapabilitas Kognitif Dasar Ada lima kemampuan kognitif dasar yang merupakan karakteristik manusia, yaitu : 1. Symbolising capability. Manusia memiliki kemampuan untuk mentransformasikan pengalaman pengalamannya menjadi simbol simbol dan kemampuan untuk memproses simbol simbol ini. Mereka dapat menciptakan ide ide yang melampaui pengalaman penginderaannya. Kenyataan bahwa manusia memiliki kemampuan simbolisasi tersebut tidak berarti bahwa mereka selalu rasional. Hasil pemikiran itu dapat baik ataupun buruk, tergantung pada seberapa baik keterampilan berpikir orang itu dan tergantung pada kelengkapan informasi yang dimilikinya. 2. Forethought capability. Sebagian besar perilaku manusia diatur oleh pemikiran antisipatifnya bukan oleh reaksinya terhadap lingkungannya. Orang mengantisipasi konsekuensi perbuatannya dan menentukan tujuannya sendiri. Pemikiran ke depan ini bukan akumulasi konsekuensi kosekuensi terdahulu, melainkan hasil pemikiran. 3. Vicarious capability. Hampir seluruh kegiatan belajar pada manusia itu bukan melalui pengalaman langsung, melainkan hasil pengamatannya terhadap perilaku orang lain beserta konsekuensinya. Belajar melalui pengamatan ini memperpendek waktu yang dibutuhkan manusia untuk belajar berbagai keterampilan. Keterampilan tertentu, seperti keterampilan berbahasa, demikian kompleksnya sehingga tidak mungkin dapat dipelajari tanpa penggunaan modeling. 4. Self regulatory capability. Manusia mengembangkan standar internal yang dipergunakannya untuk mengevaluasi perilakunya sendiri. Kemampuan untuk mengatur diri sendiri ini mempengaruhi perilaku selanjutnya. 5. Self reflective capability. Kemampuan refleksi diri ini hanya dimiliki oleh manusia. Orang dapat menganalisis berbagai pengalamannya dan mengevaluasi apakah proses berpikirnya sudah memadai. Jenis pemikiran yang paling sentral dan paling mendalam yang terjadi dalam refleksi diri ini adalah penilaian orang tentang kemampuannya sendiri untuk mengatasi berbagai macam realitas. Human agency adalah kapasitas untuk mengarahkan diri sendiri melalui kontrol terhadap proses berpikir, motivasi dan tindakan diri sendiri. Human agency dikonseptualisasikan dalam tiga cara utama : 1. autonomous agency, di mana orang merupakan agen yang sepenuhnya mandiri bagi tindakannya sendiri 2. mechanical agency, di mana agency tergantung pada faktor lingkungan 3. emergent interactive agency, yang merupakan model bagi teori kognitif sosial. Emergent interactive agency didasarkan pada model timbal-balik tiga arah (triadic reciprocality). Reciprocal artinya hubungan saling menyebabkan antara tiga faktor, yaitu: perilaku. faktor kognitif dan personal, dan pengaruh lingkungan. Masing masing faktor ini beroperasi secara mandiri sebagai faktor penentu bagi faktor faktor lainnya. Pengaruh pengaruh tersebut bervariasi dalam kekuatannya dan tidak terjadi secara berbarengan. Perilaku manusia merupakan hasil interaksi timbal balik antara peristiwa eksternal dan faktor faktor personal seperti kemampuan genetiknya, kompetensi yang dipelajarinya, pikiran reflektif dan inisiatifnya. Orang bebas sebatas kemampuannya untuk menggunakan pengaruhnya terhadap dirinya (self influence) dan menentukan tindakannya sendiri. 2.1.1.3 Cara Belajar Manusia Cara belajar manusia dibedakan dalam dua jenis, yaitu : belajar melalui pengamatan (observational learning) dan belajar melalui perbuatan (enactive learning). Sebagian besar perilaku manusia dan keterampilan kognitifnya dipelajari melalui pengamatan terhadap model. Fungsi observational learning adalah sebagai berikut: - Modelling dapat mengajari observer keterampilan dan aturan-aturan berperilaku - Modelling dapat menghambat ataupun memperlancar perilaku yang sudah dimiliki orang - Perilaku model dapat berfungsi sebagai stimulus dan isyarat bagi orang untuk melaksanakan perilaku yang sudah dimilikinya - Modelling dapat merangsang timbulnya emosi. Orang dapat berpersepsi dan berperilaku secara berbeda dalam keadaan emosi tinggi - Symbolic modelling dapat membentuk citra orang tentang realitas sosial karena menggambarkan hubungan manusia dengan aktivitas yang dilakukannya Belajar mencakup pemrosesan informasi. Kekuatan modelling terletak pada kemampuannya untuk mempengaruhi proses tersebut. Observational learning memerlukan empat macam proses utama: 1. Proses memperhatikan (attentional processes) Jika orang belajar melalui modelling, maka mereka harus memperhatikan dan mempersepsi perilaku model secara tepat. Tingkat keberhasilan belajar itu ditentukan oleh karakteristik model maupun karakteristik pengamat itu sendiri. Karakteristik model yang merupakan variabel penentu tingkat perhatian itu mencakup frekuensi kehadirannya, kejelasannya, daya tarik personalnya, dan nilai fungsional perilaku model itu. Karakteristik pengamat yang penting untuk proses perhatian adalah kapasitas sensorisnya, tingkat ketertarikannya, kebiasaan persepsinya, dan reinforcement masa lalunya. 2. Proses retensi (retention processes) Agar efektif, modelling harus disimpan dalam ingatan. Retensi ini dapat dilakukan dengan cara menyimpan informasi secara imaginal atau mengkodekan peristiwa model ke dalam simbol simbol verbal yang mudah dipergunakan. Materi yang bermakna bagi pengamat dan menambah pengalaman sebelumnya akan lebih mudah diingat. Cara lain untuk mengingat adalah dengan membayangkan perilaku model atau dengan mempraktekkannya. Keterampilan dan struktur kognitif pengamat dapat memperkuat retensi. Motivasi untuk belajar juga berperan dalam retensi, meskipun insentif lebih bersifat fasilitatif daripada keharusan. 3. Proses produksi Pada tahap tertentu, gambaran simbolik tentang perilaku model mungkin perlu diterjemahkan ke dalam tindakan yang efektif. Pengamat memerlukan gambaran kognitif yang akurat tentang perilaku model untuk dibandingkan dengan umpan balik sensoris dari perbuatannya. Modelling korektif merupakan cara yang efektif untuk memberikan umpan balik bila pengamat melakukan kinerja yang tidak tepat. Variabel pengamat yang mempengaruhi reproduksi perilaku mencakup kapasitas fisiknya, apakah perbendaharaan responnya sudah mencakup komponen komponen respon yang diperlukan, dan kemampuannya untuk melakukan penyesuaian korektif bila mencobakan perilaku baru. 4. Proses motivasi. Apakah orang mempraktekkan apa yang sudah dipelajarinya atau tidak, tergantung pada motivasinya. Pengamat akan cenderung mengadopsi perilaku model jika perilaku tersebut: (a) menghasilkan imbalan eksternal; (b) secara internal pengamat memberikan penilaian yang positif; dan (c) pengamat melihat bahwa perilaku tersebut bermanfaat bagi model itu sendiri. Antisipasi terhadap akibat yang positif dan negatif menentukan aspek aspek yang mana dari perilaku model itu yang diamati atau diabaikan oleh pengamat. Terdapat perbedaan antara pengetahuan dan keterampilan. Dalam banyak domain, orang perlu melampaui struktur pengetahuannya untuk mengembangkan tindakan yang terampil. Pengembangan keterampilan menuntut orang untuk memiliki konsepsi yang tepat mengenai keterampilan yang ditargetkannya, yang cocok dengan upayanya untuk melaksanakan keterampilannya tersebut. Pengalaman merupakan kendaraan untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi keterampilan. Orang menerapkan informasi yang diperolehnya dari pengalaman itu untuk melakukan penyesuaian dalam aspek ruang dan waktu dari kinerjanya, hingga apa yang dikerjakannya itu mendekati kecocokan dengan konsepsi kognitifnya mengenai kinerja terampil itu. Teori kognitif sosial memandang belajar melalui konsekuensi respon sebagai suatu proses kognitif. Melalui pengalaman, orang menyadari konsekuensi positif dan negatif dari tindakannya. Orang berbeda beda dalam kemampuannya untuk memperoleh pengetahuan dari konsekuensi respon. Mereka mungkin berbeda dalam pengetahuan dan pengalamannya sebelumnya, sehingga berbeda pula dalam kekayaan aturan yang dapat dipilihnya atau dikembangkannya untuk melaksanakan suatu perilaku jika aturan tersebut belum dimilikinya. Belajar akan lebih efisien bila konsekuensi muncul langsung sesudah tindakan, teratur, dan tanpa dibingungkan oleh kejadian-kejadian lain. Belajar akan lebih sulit bila tindakan yang sama tidak selalu menghasilkan konsekuensi yang sama. Perilaku manusia sangat dipengaruhi oleh keteraturan konsekuensi respon. Konsekuensi respon itu mempengaruhi perilaku terutama melalui nilai informatif dan insentifnya. Terdapat tiga insentif penting yang berfungsi sebagai sistem pengatur perilaku, yaitu yang didasarkan pada: 1. Konsekuensi eksternal (external motivator) Sering kali konsekuensi eksternal berpengaruh dalam memotivasi perilaku. Terdapat dua klasifikasi besar motivator eksternal, yaitu motivator biologis dan motivator kognitif. Motivator biologis mencakup kekurangan fisik (physical deprivation) dan rasa sakit fisik (physical pain). Motivator kognitif beroperasi dengan dua cara utama. Pertama, melalui antisipasi terhadap konsekuensi masa depan yang mana mencakup: (a) Ekspektasi tentang konsekuensi yang berhubungan dengan insentif materi, misalnya makanan atau rasa sakit; (b) yang berhubungan dengan insentif sensoris, misalnya baru, menyenangkan atau tidak menyenangkan; (c) yang berfokus pada insentif sosial, misalnya diperbolehkan atau tidak diperbolehkan; (d) insentif penghargaan (token incentives), misalnya uang atau nilai prestasi; (e) insentif kegiatan, yaitu melakukan kegiatan yang disukai; (f) insentif status dan kekuasaan. Sedangkan yang kedua, yaitu motivator kognitif beroperasi melalui standar internal dan evaluasi diri. 2. Konsekuensi tak langsung (vicarious motivator) Kemampuan simbolik orang memungkinkannya mengatur tindakannya atas dasar pengetahuan yang diperolehnya dari pengamatan terhadap konsekuensi respon orang lain. Sebagaimana halnya konsekuensi yang dialami secara langsung, konsekuensi yang diamati pun dapat mengubah perilaku. Di samping itu, konsekuensi yang diamati dapat mengubah nilai insentif eksternal. Misalnya, orang yang mengamati kinerja serupa yang dilakukan orang lain yang lebih dipuji akan mengalami pujian untuk kinerjanya sendiri, sebagai kurang rewarding daripada jika tidak tahu tentang umpan balik orang lain. Melihat perilaku orang lain yang mendapat imbalan akan mempertinggi kemungkinan bahwa pengamat akan meniru perilaku itu. Lebih jauh, rewarded modelling pada umumnya lebih efektif dalam menanamkan pola perilaku serupa daripada modelling sendiri. Melihat perilaku orang lain mendapat punishment akan mengurangi kemungkinan bahwa pengamat akan berbuat serupa, meskipun memberikan alternatif yang konstruktif merupakan cara yang lebih efektif untuk menghilangkan perilaku yang tak diinginkan. Pengamatan terhadap konsekuensi respon yang dialami orang lain itu mempunyai beberapa fungsi: - Fungsi informasi. Pengamat akan memperoleh informasi tentang jenis tindakan yang berkemungkinan menimbulkan konsekuensi positif dan negatif - Fungsi motivasi. Fungsi informasi akan mengarah pada fungsi motivasi dalam membangkitkan ekspektasi pada diri pengamat bahwa dia akan menerima konsekuensi yang serupa bila melakukan tindakan serupa - Fungsi pembangkitan emosi. Pengamat dapat belajar tentang hal-hal yang dapat mengakibatkan rasa senang atau tidak senang. Akan tetapi, banyak rasa takut yang disfungsional dan perilaku penghindaran diri (avoidance behaviours) berakar pada pengalaman tak langsung yang tak menyenangkan - Fungsi pemberian nilai (valuation). Misalnya, nilai dan standar internal perilaku pengamat dapat berubah setelah mengamati reaksi orang lain terhadap perilakunya sesuai dengan standarnya sendiri. 3. Konsekuensi yang dihasilkan oleh diri sendiri (self-regulatory motivator). Banyak perilaku manusia tidak dilakukan dengan syarat imbalan langsung. Banyak kegiatan diarahkan pada konsekuensi di masa depan dan orang mengantisipasi keuntungan maupun kerugian yang mungkin diperolehnya di masa depan. Mereka harus menciptakan pedoman dan motivator bagi tindakan yang mengarah pada pencapaian jauh di masa depan. Kapabilitas manusia untuk menggunakan simbol dan self reactive memungkinkannya menetapkan standar internal bagi perilakunya dan mengevaluasi dirinya dengan menggunakan standar ini. Jadi, standar internal ini dapat berfungsi sebagai self incentive. Dengan kata lain, manusia memiliki kemampuan untuk mengatur perilakunya sendiri. Pengaturan sendiri atas perilaku ini melibatkan tiga subproses: - Pengamatan diri (self observation) Pengamatan terhadap diri sendiri memberikan informasi untuk menetapkan standar kinerja yang realistis dan untuk mengevaluasi perilaku. Pengamatan diri tidak selalu dapat diandalkan karena ketepatannya tergantung pada tingkat perhatian, keadaan perasaan, dan konsepsi diri yang sudah ada. Terdapat sejumlah dimensi evaluatif yang dapat dipergunakan untuk mengukur perilaku. Misalnya, perilaku sosial dapat diukur berdasarkan dimensi sosiabilitas atau penyimpangannya. Dimensi evaluatif ini bervariasi menurut hakikat kegiatannya. Sering kali bila orang mengamati kinerjanya sendiri secara cermat, mereka menetapkan sendiri tujuannya yaitu untuk peningkatan. Pengamatan diri atau self monitoring sering kali menimbulkan dampak reaksi terhadap diri sendiri (self reactive) dan tidak mudah dipisahkan dari subproses pengaturan diri lainnya. - Proses penilaian diri (judgemental process) Pengamatan terhadap perilaku sendiri menuntut dilakukannya penilaian tentang kepositifan atau kenegatifan perilaku tersebut agar orang dapat berbuat sesuatu untuk perilaku itu. Satu aspek dari subfungsi penilaian ini terkait dengan pengembangan standar pribadi. Pengaruh sosial terhadap pengembangan standar pribadi ini mencakup imbalan langsung, reaksi evaluatif dari orang lain terhadap perilaku itu, dan standar pribadi yang dicontohkan oleh orang lain. Cara-cara untuk menentukan kebaikan standar pribadi ini antara lain adalah dengan membandingkannya dengan norma-norma standar, dengan kinerja orang lain, dan dengan kinerja sendiri di masa lalu. Orang lebih cenderung menilai kinerja dalam bidang-bidang yang mereka pandang bernilai daripada yang kecil signifikansinya bagi dirinya. Bagaimana orang menilai perilakunya dipengaruhi oleh penilaiannya terhadap kinerjanya. Misalnya, mereka akan cenderung bangga dengan pencapaiannya apabila mereka menilainya sebagai suatu keberhasilan. - Reaksi diri (self reaction). Standar pribadi dan keterampilan untuk menilai (judgemental skills) memungkinkan orang untuk mengunakan pengaruh self reactive-nya terhadap perilakunya. Mereka akan melakukan kegiatan yang mengarah pada reaksi diri yang positif dan menghindari kegiatan yang mengarah pada reaksi diri negatif. Standar pribadi mempengaruhi perilaku terutama melalui fungsi motivasinya karena orang berusaha untuk dapat melakukan kinerja yang diperlukannya. Dalam berbagai bidang perilaku, standar pribadi itu relatif stabil. Akan tetapi, bila sedang belajar keterampilan tertentu dan berusaha mencapai suatu prestasi, orang cenderung mempertinggi standarnya setiap kali satu tantangan telah diatasinya. Orang juga bereaksi terhadap self-motivator yang konkret. Misalnya, orang dapat beristirahat, bersantai dan melakukan kegiatan rekreasi bila suatu kinerja telah berhasil dicapainya. Bagi banyak orang, self incentive mungkin merupakan motivator yang lebih baik daripada insentif eksternal. Sistem evaluasi diri yang disfungsional akan terbentuk apabila individu menetapkan standar yang terlalu tinggi, yang menimbulkan depresi dan perasaan tak berharga. Kemampuan manusia untuk mempengaruhi perilakunya sendiri secara sengaja melalui konsekuensi yang dihasilkannya sendiri memberinya kapasitas untuk mengarahkan diri, meskipun dalam batas-batas reciprocal determinism. Melalui pengalaman, orang mengembangkan keterampilan untuk memonitor perilakunya sendiri, misalnya keterampilan untuk menentukan obyek yang perlu diamatinya serta cara pengamatannya. Terdapat dua sumber insentif dalam proses pengaturan perilaku melalui reaksi diri: insentif kondisional atau insentif jangka pendek yang memberikan pedoman bagi berbagai tindakan; dan insentif jangka panjang untuk mematuhi standar internal. Terdapat beberapa hal yang dapat mempertahankan standar internal yang memungkinkan orang memiliki kemampuan untuk mengarahkan diri (self directedness): • Keuntungan pribadi, misalnya kebaikan yang diperoleh dari meningkatnya kemahiran dalam suatu keterampilan ataupun terhindar dari rasa tidak senang karena berhasil mengatur perilaku yang kurang baik. • Menerima imbalan sosial dan mengamati orang lain menerima imbalan sosial • Melihat orang lain berhasil melaksanakan tugas-tugasnya dengan berpegang teguh pada standar pribadi • Sanksi negatif, seperti dikritik karena menurunkan standar kinerja realistik • Konteks lingkungan tertentu, misalnya lingkungan yang menghargai standar kinerja tinggi • Hukuman yang diterapkan atas diri sendiri, misalnya kritik diri. Self-punishment ini dapat berfungsi sebagai pencegah diteruskannya perilaku yang tidak baik dan dapat mengurangi reaksi negatif dari orang lain. 2.1.1.4 Self Efficacy Pembentukan self-efficacy sangat penting bagi human agency. Self-efficacy bukan sekedar mengetahui apa yang harus dilakukan. Untuk melaksanakan suatu kinerja secara terampil, orang perlu memiliki keterampilan yang dibutuhkan dan rasa percaya akan kemampuan diri untuk menggunakan keterampilan tersebut. Bandura dalam Tarsidi (2007) mendefinisikan self-efficacy sebagai : “a judgement of one's capability to accomplish a certain level of performance" (penilaian tentang kemampuan diri untuk melaksanakan suatu kinerja pada tingkat tertentu). Hal ini tidak tergantung pada jenis keterampilan atau keahlian yang dimiliki oleh seseorang, tetapi berhubungan dengan keyakinan tentang apa yang dapat dilakukan, dan menyangkut seberapa besar usaha yang dikeluarkan seseorang dalam suatu tugas dan seberapa lama ia akan bertahan. Keyakinan tentang self-efficacy turut menentukan cara orang berperilaku. Konsepsi tentang self-efficacy turut menentukan pilihan perilaku, misalnya menentukan apa yang harus dikerjakan. Keyakinan memiliki efficacy dapat mendorong orang untuk melakukan kegiatan, sedangkan keyakinan bahwa tidak memiliki efficacy dapat membuat orang menghindari kegiatan yang sesungguhnya dapat memperkaya pengalamannya. Keyakinan yang berlebihan tentang efficacy itu bersifat disfungsional. Akan tetapi, keyakinan efficacy yang mungkin paling fungsional adalah yang sedikit melewati apa yang dapat dilakukan orang pada suatu saat tertentu. Keyakinan efficacy juga turut menentukan berapa besar usaha yang harus dilakukan dan berapa lama orang dapat bertahan dalam menghadapi kegagalan dan kesulitan. Keyakinan yang kuat tentang self efficacy dapat memperkuat daya tahan orang bila menghadapi tugas yang sulit. Di samping itu, keyakinan efficacy mempengaruhi pikiran dan perasaan orang. Orang yang memandang dirinya tidak memiliki efficacy dalam menghadapi berbagai tuntutan lingkungan cenderung membesar-besarkan defisiensi pribadinya, menjadi mudah patah semangat dan menyerah bila menghadapi kesulitan. Sebaliknya, orang yang memiliki keyakinan kuat bahwa memiliki efficacy, meskipun mereka mungkin akan turun semangatnya untuk sementara bila mengalami kegagalan, tetapi cenderung akan tetap memikirkan tugas yang sedang dihadapinya itu dan akan memperbesar usahanya bila kinerjanya hampir mencapai tujuan. Dalam perjuangan yang membutuhkan daya tahan, keyakinan akan self-efficacy sangat berperan. Teori behaviorisme tradisional harus menjawab pertanyaan bagaimana organisme yang mampu memprediksi masa depannya tetapi tidak memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dirinya sendiri. Sesungguhnya orang dapat menciptakan masa depannya sendiri, bukan sekedar meramalkannya. Keyakinan akan self-eficacy dapat mempengaruhi perkembangan keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk tugas-tugas yang kompleks, sedangkan keyakinan akan inefficacy dapat menghambat perkembangan tersebut. 2.1.2 Computer Self Efficacy (CSE) Dalam konteks komputer, Compeau dan Higgins (1995) mendefinisikan computer self efficacy (CSE) sebagai judgement kemampuan dan keahlian komputer seseorang untuk melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan teknologi informasi. CSE menggambarkan persepsi individu tentang kemampuannya menggunakan komputer untuk menyelesaikan tugas-tugas seperti menggunakan paket-paket software untuk analisis data, menulis surat mail merge dengan menggunakan word processor yang lebih dari keahlian sederhana seperti memformat disket atau booting ulang komputer. Istilah self efficacy ini banyak dikaitkan dengan variabel-variabel lain, seperti untuk mempengaruhi keputusan perihal perilaku (Betz dan Hackett 1981, tanggapan emosional (termasuk stress dan anxiety) dalam membentuk perilaku (Stumpf et al 1987), serta pencapaian kinerja aktual individu yang dihubungkan dengan perilaku (Locke et al 1984; Wood dan Bandura 1989). Dalam riset bidang sistem informasi, banyak peneliti yang telah menguji variabel self efficacy yang dihubungkan dengan berbagai perilaku komputer. Misalnya dengan kinerja dalam pelatihan software (Gist et al. 1989 dalam Sheng 2003), perceived ease of use sistem komputer (Venkatesh 2000) dan kemampuan mengadaptasi teknologi komputer baru (Burkhart dan Brasss 1989 dalam Sheng 2003). Bandura menyatakan bahwa self efficacy yang dirasakan seseorang, memainkan peran penting dalam mempengaruhi motivasi dan perilaku (Igbaria dan Livari 1995). Hal ini bukan merupakan judgement pada masa lalu seseorang dalam menggunakan komputer, tetapi menyangkut judgement yang akan dilakukan pada masa depan. Hasil riset Compeau dan Higgins (1995) menunjukkan, bahwa ada tiga faktor yang dapat mempengaruhi CSE, yaitu: 1. Dorongan dari pihak lain, mengacu pada kelompok dan menggunakan persuasi verbal 2. Pihak lain sebagai pengguna, seseorang dapat meningkatkan CSE-nya karena mengobservasi dan meniru model perilaku 3. Dukungan, adanya dukungan dari organisasi bagi pengguna komputer yang dapat meningkatkan CSE. Dukungan ini dapat berupa ketersediaan dari pihak organisasi untuk membantu individu yang membutuhkan peningkatan kemampuan dan juga persepsi kemampuan diri. Compeau dan Higgins (1995) menjelaskan ada tiga dimensi CSE, yaitu: 1. Magnitude Dimensi magnitude mengacu pada tingkat kapabilitas yang diharapkan dalam penggunaan komputer. Individu yang mempunyai magnitude CSE yang tinggi diharapkan mampu menyelesaikan tugas-tugas komputasi yang lebih kompleks dibandingkan dengan individu yang mempunyai level magnitude CSE yang rendah karena kurangnya dukungan maupun bantuan. Dimensi ini juga menjelaskan, bahwa tingginya magnitude CSE seesorang dikaitkan dengan level yang dibutuhkan untuk memahami suatu tugas. Pada individu yang memiliki level magnitude CSE tinggi mampu menyelesaikan tugas-tugasnya dengan rendahnya dukungan dan bantuan dari orang lain, dibandingkan dengan level magnitude CSE yang rendah. 2. Strength Dimensi strength ini mengacu pada level keyakinan tentang judgement atau kepercayaan individu untuk mampu menyelesaikan tugas-tugas komputasinya dengan baik. 3. Generalibility Dimensi generazability ini mengacu pada tingkat judgement user yang terbatas pada domain khusus aktifitas. Dalam konteks komputer, idomain ini mencerminkan perbedaan konfigurasi hardware dan software, sehingga individu yang mempunyai level generazability CSE yang tinggi diharapkan dapat secara kompeten menggunakan paket-paket software dan sistem komputer yang berbeda. Sebaliknya tingkat generazability CSE yang rendah menunjukkan kemampuan individu dalam mengakses paket-paket software dan sistem komputer secara terbatas. Ada empat sumber informasi self efficacy menurut Bandura dalam Compeau dan Higgins (1995), yaitu: 1. Guide master Adalah sumber ekspektasi efficacy yang paling fundamental. Guide master merupakan pengalaman kesuksesan nyata dalam kaitannya dengan perilaku. Keberhasilan akan mempertinggi ekspektasi efficacy, sedangkan kegagalan yang berulang-ulang akan memperendahnya. Bila sudah terbentuk, keyakinan efficacy yang tinggi itu cenderung menggeneralisasi, terutama pada situasi yang serupa dengan situasi ketika keyakinan itu dipertinggi. Interaksi yang berhasil antara individu dengan komputer menyebabkan individu mengembangkan self efficacy-nya lebih tinggi. Dengan demikian praktik langsung merupakan komponen penting dalam pelatihan, sehingga individu membangun kepercayaan diri sesuai dengan kemampuannya. 2. Behavior modeling Ekspektasi efficacy dapat berubah setelah mengamati orang lain dan melihat konsekuensi positif dan negatif dari perilaku orang itu baginya. Ekspektasi efficacy yang dibentuk melalui modelling pada umumnya lebih lemah daripada ekspektasi yang dibentuk melalui keberhasilan melaksanakan suatu tugas. Modelling mempengaruhi keyakinan efficacy dalam dua cara. Pertama, pengamat menarik inferensi dari keberhasilan dan kegagalan model. Melihat orang yang serupa dengannya mencapai keberhasilan melalui usaha keras akan mempertinggi keyakinan pengamat terhadap kemampuannya sendiri. Sebaliknya, melihat orang lain mengalami kegagalan, meskipun usahanya keras, akan menurunkan keyakinan pengamat tentang efficacy-nya sendiri dan motivasinya pun akan menjadi lemah. Kedua, model yang kompeten akan mentransmisikan pengetahuan dan mengajarkan kepada pengamat keterampilan dan strategi yang efektif untuk mengatasi berbagai tuntutan lingkungan. Dengan belajar keterampilan yang lebih baik, keyakinan orang tentang self-efficacy-nya akan meningkat. Compeau dan Higgins (1995) menunjukan bahwa pendekatan pemodelan perilaku untuk pelatihan komputer dapat meningkatkan persepsi self efficacy dan kinerja dalam kontek pelatihan. 3. Social persuasion Persuasi verbal, seperti saran dan nasihat, dapat juga mempengaruhi self efficacy. Persuasi dapat berhasil baik bila membujuk orang untuk berusaha cukup keras agar mencapai keberhasilan, yang pada gilirannya akan mempertinggi keyakinan efficacy-nya. Akan tetapi, mempertinggi keyakinan efficacy yang tidak realistis, yang tidak didukung oleh pengalaman keberhasilan, mungkin akan lebih banyak bahayanya daripada kebaikannya. Jaminan ulang bagi user yang punya kemampuan tentang teknologi dan menggunakannya dengan sukses dapat membantu para user untuk membangun kepercayaan. 4. Physiological states Keadaan fisiologis dan afektif dapat berpengaruh terhadap efficacy dalam tiga cara. Pertama, bila orang sedang tegang dan dilanda kecemasan/anxiety, keadaan fisiologis atau tingkat emosinya dapat berpengaruh negatif terhadap ekspektasi efficacy-nya. Tingginya tingkat emosi biasanya memperburuk kinerja dan karenanya akan menurunkan tingkat ekspektasi efficacy. Pendekatan yang menurunkan tingkat emosi dapat mempertinggi keyakinan efficacy maupun kinerja. Dimilikinya keyakinan tentang self efficacy untuk mengontrol pikiran akan mempengaruhi emosi yang dibangkitkan secara kognitif. Kedua, keadaan perasaan (mood) mempengaruhi penilaian tentang self-efficacy: perasaan yang positif akan meningkatkan keyakinan efficacy, sedangkan perasaan tertekan akan menghilangkan keyakinan tersebut. Ketiga, dalam kegiatan yang membutuhkan kekuatan dan stamina, orang memandang rasa letih dan penatnya sebagai tanda-tanda melemahnya efficacy fisik. Informasi efficacy yang diperoleh dari sumber pengalaman langsung (guide master), pengalaman tak langsung (behaviour modelling), persuasi sosial, dan keadaan fisiologis, diproses secara kognitif. Terdapat perbedaan antara informasi yang diperoleh dari peristiwa lingkungan dan informasi yang dipilih, ditimbang, dan diintegrasikan ke dalam penilaian self efficacy. Pemrosesan informasi efficacy secara kognitif melibatkan dua proses : 1. Memilih informasi yang relevan dengan efficacy 2. Menimbang dan mengintegrasikan informasi tersebut. Mengenai informasi tentang efficacy yang bersumber dari pengalaman langsung, tidak ada hubungan sebab-akibat antara kualitas kinerja dan keyakinan self efficacy. Kinerja yang baik belum tentu mempertinggi self efficacy. Faktor-faktor yang mempengaruhi kontribusi kinerja terhadap self efficacy adalah : 1. tingkat kesulitan tugas 2. besarnya usaha yang dilakukan 3. besarnya bantuan eksternal yang diterima. Mengenai informasi tentang efficacy yang diperoleh dari sumber pengalaman tak langsung, pengamat akan memandang bahwa model yang tingkat kemampuannya sama, atau sedikit lebih tinggi, merupakan sumber informasi komparatif yang paling valid. Sehubungan dengan informasi efficacy persuasif, pengaruhnya terkait dengan tingkat kepercayaan penerima informasi terhadap penilaian pelaku persuasi itu. Informasi efficacy fisiologis juga diproses secara kognitif. Yang paling berpengaruh di sini adalah sumber dan tingkat rangsangan, serta pengalaman masa lalu tentang bagaimana rangsangan itu mempengaruhi kinerja. Marakas et al. 1998 dalam Agarwal et al. 2000 membagi CSE dalam dua jenis, yaitu general CSE dan spesific CSE. Kedua jenis ini dikonstruksikan berhubungan dengan perbedaan tugas-tugas komputer. General CSE didefinisikan sebagai judgement keahlian individu dalam menggunakan berbagai aplikasi komputer. Sedangkan spesific CSE adalah kemampuan untuk membuat tugas-tugas yang berhubungan dengan komputer secara spesifik dalam domain komputasi umum. Spesific CSE akan mengalami perkembangan seiring dengan kemajuan teknologi. Bisa saja spesific CSE pada tahun sekarang akan menjadi general CSE dalam beberapa tahun mendatang. Stephen dan Shotick (2002) memperkenalkan bentuk intermediate dari CSE yaitu Profession-oriented Computer Self Efficacy (PCSE). PCSE ini lebih berorientasi kepada pekerjaan atau profesi seseorang. PCSE merupakan sub-bagian dari General Computer Self Efficacy (GSCE) dan merupakan kumpulan dari Task Spesific Computer Self Efficacy (TCSE). Hubungan antara TCSE, PCSE, dan GCSE dijelaskan dalam skema gambar berikut : 2.2 Konsep Teknologi Informasi 2.2.1 Pengertian Teknologi Informasi Teknologi informasi (information technology) biasa disebut TI, IT, atau infotech. Teknologi informasi lahir sekitar 1947, yang ditandai dengan ditemukannya komputer sebagai komponen utama dimana mulai populer di akhir dekade 70-an. Teknologi Informasi yang diartikan secara harfiah Teknologi (Bahasa Indonesia) dan Technology (Bahasa Inggris), berasal dari bahasa yunani ”Techne” yang berarti adalah seni. Teknologi merupakan pembuatan benda-benda yang dapat diamati secara inderawi untuk melayani kebutuhan atau gagasan manusia. Sedangkan Informasi (Bahasa Indonesia) dan Information (Bahasa Inggris) berasal dari ”To-Inform” yang berarti adalah memberitahu. Berikut ini adalah beberapa pendapat mengenai teknologi informasi : - Lucas (2000) Teknologi informasi adalah segala bentuk teknologi yang diterapkan untuk memproses dan mengirimkan informasi dalam bentuk elektronis. Mikrokomputer, komputer mainframe, pembaca barcode, perangkat lunak pemroses transaksi, perangkat lunak lembar kerja (spreadsheet), dan peralatan komunikasi dan jaringan merupakan contoh teknologi informasi. - Williams dan Sawyer (2003) Teknologi informasi adalah teknologi yang menggabungkan komputasi (komputer) dengan jalur komunikasi berkecepatan tinggi yang membawa data, suara, dan video. 2.2.2 Lingkup Teknologi Informasi Secara garis besar, teknologi informasi dikelompokkan menjadi 2 bagian : 1. Perangkat lunak (software) 2. Perangkat keras (hardware) Perangkat keras menyangkut pada peralatan-peralatan yang bersifat fisik, seperti memori, printer dan keyboard. Adapun perangkat lunak terkait dengan instruksi-instruksi untuk mengatur perangkat keras agar bekerja sesuai dengan tujuan instruksi-instruksi tersebut. Haag dkk (2000) membagi teknologi informasi menjadi 6 kelompok, yaitu: 1. Teknologi masukan (input technology) 2. Mesin pemroses (processing machine) 3. Teknologi penyimpan (storage technology) 4. Teknologi keluaran (output technology), 5. Teknologi perangkat lunak (software technology) 6. Teknologi telekomunikasi (telecommunication technology) 2.2.2.1 Teknologi masukan (input technology) Teknologi masukan (input technology) merupakan teknologi yang berhubungan dengan peralatan untuk memasukkan data ke dalam sistem komputer. Perangkat input mengumpulkan data dan mengkonversinya ke dalam bentuk elektronik untuk digunakan oleh komputer. Jenis-jenis perangkat input: - Keyboard Adalah metode dasar untuk memasukkan data teks dan data angka. - Mouse Komputer Perangkat genggam yang memiliki kemampuan arahkan-dan-klik yang biasanya terkoneksi pada komputer melalui kabel. - Layar Sentuh Memungkinkan pengguna memasukkan data tertentu dengan cara menyentuh permukaan layar monitor yang peka sentuh. - Pengenal karakter dengan teknologi optik (OCR) Perangkat yang bisa menerjemahkan tanda, karakter dan kode-kode khusus ke dalam bentuk digital. Kode optik yang paling banyak digunakan adalah bar-code yang digunakan dalam sistem POS (point-of-sale) di supermarket atau toko-toko retail. - Pengenal karakter dengan teknologi tinta magnetik (MICR) Banyak digunakan pada proses penerimaan cek dalam dunia perbankan. Karakter pada bagian bawah cek mengidentifikasi bank, nomor rekening, dan nomor cek; tercetak dengan menggunakan tinta magnetik khusus. Kemudian sebuah perangkat menerjemahkan karakter tersebut ke dalam bentuk digital untuk komputer. - Input berbasis-pen Perangkat pengenal tulisan tangan, misalnya tablet-pen, notebook, notepad, yang mengkonversi gerakan yang dihasilkan oleh tekanan pena elektronis pada layar tablet peka-sentuh ke dalam bentuk digital. - Pemindai digital Menerjemahkan gambar atau dokumen ke dalam bentuk digital dan merupakan komponen penting untuk sistem pencitraan. - Input audio Perangkat input suara yang mengkonversi suara ke dalam bentuk digital dan diolah oleh komputer. - Sensor Perangkat yang digunakan untuk mengumpulkan data secara langsung dari lingkungan sekitar sebagai input bagi sistem komputer. - Radio-frequency identification (RFID) Merupakan microchip yang bisa mengirimkan informasi mengenai item dan loksainya kepada penerima frekuensi radio. Sangat berguna untuk melacak lokasi item sewaktu berada pada rantai persediaan. 2.2.2.2 Mesin pemroses (processing machine) Mesin pemroses ini lebih dikenal dengan istilah CPU (Central Processing Unit), CPU mikroprosesor, atau prosesor. CPU adalah area pada sistem komputer yang bertugas mengolah atau memanipulasi simbol, angka, dan huruf dan mengendalikan bagian-bagian dalam sistem komputer lainnya. CPU terdiri dari sebuah arithmetic-logic unit dan control unit atau unit kendali. Arithmetic-logic unit (ALU) menjalankan operasi-operasi prinsip logika dan perhitungan komputer. ALU menjalankan proses penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian, menentukan apakah suatu angka bernilai positif, negatif atau kosong. CPU mengkoordinasi dan mengendalikan bagian-bagian lain dari sistem komputer. CPU membaca program yang disimpan, satu instruksi sekali jalan, dan mengarahkan komponen-komponen lain pada sistem komputer agar menjalankan tugas-tugas yang diperlukan oleh program. Contoh prosesor yang terkenal saat ini adalah Pentium. 2.2.2.3 Teknologi penyimpan (storage technology) Teknologi penyimpanan dibedakan menjadi dua kelompok, yang pertama yaitu memori internal (biasa juga disebut main memory, memori utama atau penyimpanan primer) berfungsi sebagai pengingat sementara bagi data, program, maupun informasi ketika proses pengolahannya dilaksanakan oleh CPU. Dua contoh memori internal yaitu ROM dan RAM. ROM (Read-Only Memory) adalah memori yang hanya bisa dibaca, sedangkan RAM (Random Access Memory) adalah memori yang isinya bisa diperbaharui. Teknologi penyimpanan yang kedua yaitu penyimpan eksternal (eksternal storage) dikenal juga dengan sebutan penyimpan sekunder. Penyimpan eksternal adalah segala peranti yang berfungsi untuk menyimpan data secara permanen. Pengertian permanen di sini berarti bahwa data yang terdapat pada penyimpan akan tetap terpelihara dengan baik sekalipun komputer sudah dalam keadaan mati (tidak mendapat aliran listrik). Teknologi penyimpanan sekunder yang penting adalah cakram magnetik, cakram optik, dan pita magnetik. Cakram magnetik adalah media penyimpanan sekunder tempat menyimpan data dengan memanfaatkan spot magnetik pada hard disk atau floppy disk. Floppy disk merupakan wadah penyimpanan cakram magnetik yang mudah dipindah-pindahkan dan sebagian besar digunakan bersama PC. Sedangkan hard disk merupakan cakram magnetik yang serupa dengan piringan metalik; digunakan oleh sistem komputer berskala besar dari PC. Teknologi cakram sangat bermanfaat untuk sistem yang membutuhkan pengaksesan data secara langsung dan cepat. Kinerja disk drive ditingkatkan lebih besar lagi menggunakan teknologi yang disebut RAID (Redundant Array of Inexpensive Disks), yaitu teknologi penyimpanan cakram untuk meningkatkan kinerja akses data, terdiri lebih dari seratus susunan disk drive, chip kendali, perangkat lunak khusus yang dipaketkan dalam satu unit besar untuk mengantarkan data pada beberapa jalur sekaligus secara simultan.. RAID akan mempercepat waktu akses dan meningkatkan kestabilannya. Cakram optik juga disebut dengan cakram padat (compact disk) atau cakram optik laser, menggunakan teknologi laser untuk menyimpan data dalam jumlah besar dalam bentuk yang tersusun rapat atau padat. Sistem cakram optik yang paling banyak dipakai dalam PC disebut CD-ROM (compact disk read-only memory) yang merupakan wadah penyimpanan dalam bentuk cakram optik yang bersifat read-only yang digunakan untuk menyimpan gambar, referensi, multimedia, dan aplikasi lain dalam jumlah yang sangat besar dan tidak diubah-ubah lagi. Sistem cakram optik WORM (write onc/lread many) dan CD-R (compact disk-recordable) memungkinkan pengguna untuk merekam data hanya sekali pada cakram optik. Teknologi CD-RW (CD-Rewitable) telah dikembangkan agar memungkinkan pengguna membuat cakram optik yang bisa ditulisi kembali untuk keperluan aplikasi yang membutuhkan wadah penyimpanan besar, dan informasi kadang kala memerlukan pembahruan. Digital video disk (DVD), juga disebut cakram serbaguna, adalah cakram optik yang sama dengan CD-ROM namun memiliki kapasitas yang lebih besar. Pita magnetik merupakan media penyimpanan sekunder lama yang mahal harganya yang bisa menyimpan data dalam jumlah besar secara sekuensial dan memanfaatkan spot magnetik dan non magnetik pada pita. Kecepatan menyimpan datanya relatif lambat dibandingkan kecepatan media penyimpanan sekunder lainnya. Untuk menemukan data yang direkam, pita harus dibaca dari awal sampai ke lokasi yang diinginkan. 2.2.2.4 Teknologi keluaran (output technology) Teknologi keluaran merupakan teknologi yang berhubungan dengan segala peranti yang berfungsi untuk menyajikan informasi hasil pengolahan sistem. Jenis-jenis perangkat ouput ini antara lain : - Tabung gambar sinar katoda (CRT) CRT adalah tabung gambar yang memiliki pistol elektronik yang bisa menembakkan cahaya-cahaya elektron dan memancarkan titik-titik cahaya pada layar tabung. - Printer Menghasilkan output informasi tercetak. Termasuk dalam model ini adalah printer dot matriks dan printer non-dot matriks. - Output audio Perangkat output suara mengkonversi kembali data output digital menjadi suara yang bisa di dengar. 2.2.2.5 Teknologi perangkat lunak (software technology) Teknologi perangkat lunak atau dikenal dengan sebutan program adalah deretan instruksi yang digunakan untuk mengendalikan komputer sehingga komputer dapat melakukan tindakan sesuai yang dikehendaki pembuatnya. Tentu saja untuk mengerjakan tugas yang berbeda diperlukan pula perangkat lunak tersendiri. Sebagai contoh, Microsoft Word merupakan contoh perangkat lunak pengolah kata, yaitu perangkat lunak yang berguna untuk membuat dokumen, sedangkan Adobe Photoshop adalah perangkat lunak yang berguna untuk mengolah gambar. Software merupakan keseluruhan instruksi yang berfungsi untuk menjalankan mengontrol hardware komputer. Software terdiri dari (a) System software dan (b) Application software. System software diperlukan untuk menggunakan komputer itu sendiri, sedangkan Application software digunakan untuk memproses data pemakai. Ada tiga jenis dasar system software yaitu : - Operating system yaitu instruksi-instruksi yang disimpan dalam komputer yang bertugas mengontrol dan mengkoordinir penggunaan CPU termasuk proses input data, penyimpanan, processing dan output. Operating sistem umumnya disediakan oleh pabrik komputernya - Penerjemah bahasa komputer (language translator) Sistem ini berfungsi mengkonversikan instruksi yang ada dalam bahasa program ke bahasa mesin. Setiap bahasa program seperti COBOL, FOTRAN menggunakan sistem yang unik yang didasarkan pada struktur bahasa programnya. Software juga disediakan oleh pabriknya. - Program utility. Software ini disediakan untuk melaksanakan tugas-tugas pemasukkan/pengeluaran data seperti penyortiran atau pemunculan data. Application software atau program aplikasi merupakan susunan instruksi untuk melaksanakan tugas-tugas pemrosesan data seperti membuat order, billing, piutang, gaji dan lain-lain. 2.2.2.6 Teknologi telekomunikasi (telecommunication technology) Teknologi telekomunikasi merupakan teknologi yang memungkinkan hubungan jarak jauh. Internet dan ATM merupakan contoh teknologi yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi. 2.2.3 Internet Istilah internet berasal dari bahasa Latin, inter, yang berarti “antara”. Secara kata per kata internet berarti jaringan antara atau penghubung. Sesuai dengan arti tersebut memang itulah fungsi internet, yaitu menghubungkan berbagai jaringan yang tidak saling bergantung pada satu sama lain sedemikian rupa, sehingga mereka dapat berkomunikasi. Dengan demikian, definisi internet ialah “jaringannya jaringan”, dengan menciptakan kemungkinan komunikasi antar jaringan di seluruh dunia tanpa bergantung kepada jenis komputernya. Jadi dapat disimpukan bahwa internet merupakan hubungan antar berbagai jenis komputer dan jaringan di dunia yang berbeda sistem operasi maupun aplikasinya di mana hubungan tersebut memanfaatkan kemajuan media komunikasi (telepon dan satelit). Internet berfungsi sebagai media komunikasi dan informasi modern Ada beberapa jenis layanan yang disediakan internet, antara lain : - Electronic Mail (E-mail) Fungsi : mengirim atau menerima surat ke/dari seluruh penjuru dunia. Sebagai pemakai internet, kita dapat mengirim dan menerima pesan dari pemakai internet lain dari berbagai penjuru dunia. Namum selain pesan-pesan pribadi, dengan e-mail dapat juga mengirim dan menerima file binary. Maka secara virtual kita dapat mengirim dan menerima segala tipe data. Sistem mail internet adalah tulang punggung (dan motivasi awal) dari internet itu sendiri. - File Transfer Protocol (FTP) Fungsi : mengirim dan menerima file antar host dari seluruh penjuru dunia. Anonymous FTP memungkinkan pengaksesan ke server FTP dengan login anonymous tanpa memerlukan password. Anonymous FTP adalah salah satu dari pelayanan dalam internet yang cukup penting. Dengan akses ke berbagai anonymous FTP, kita dapat memperoleh file-file secara gratis. Kita dapat menemukan program-program, gambar-gambar, majalah elektronik, artikel-artikel dalam kelompok diskusi tertentu. - Tele Networking (TelNet) Fungsi : mengakses komputer (host/server) dari jauh/Remote login. Telnet adalah program yang memungkinkan komputer kita menjadi terminal dari komputer lain di internet. Telnet memungkinkan kita untuk masuk (login) sebagai pemakai komputer jarak jauh dan menjalankan program komputer layanan yang ada dikomputer tersebut. - User’s Network (UseNet) UseNet adalah sistem kelompok diskusi di mana artikel-artikel didistribusikan ke seluruh dunia. - World Wide Web (WWW) Sering disebut “the WEB”/”W3”, merupakan sistem dalam internet yang memiliki fasilitas pencarian dan pemberian informasi yang cepat dengan menggunakan teknologi hypertext. WWW memungkinkan penanganan atau akses yang jauh lebih fleksibel pada file yang dikelola. Untuk membuat Hypertext, dikembangkan sebuah bahasa pemrograman khusus yang memungkinkan pengikatan alamat WWW atau file dalam sebuah dokumen. Sesuai dengan fungsinya, bahasa pemrograman ini disebut Hypertext Mark up Language (HTML). File ini biasanya berextention *.html. Agar file yang berisi Hypertext ini bisa dikirimkan, diperlukan protokol pengiriman data yang spesifik yang disebut HyperText Transfer Protocol (HTTP). - Internet Relay Chat (IRC) Internet Relay Chat/IRC merupakan fasilitas untuk komunikasi langsung dengan menggunakan keyboard. Kita dapat ambil bagian dalam komunikasi publik dengan sekelompok orang. Atau, jika diinginkan, kita dapat menggunakan IRC untuk mengatur komunikasi pribadi dengan orang-orang tertentu, yaitu sejenis teleconference. - Internet Phone/Conference Fasilitas untuk melakukan percakapan jarak jauh via internet. Untuk itu diperlukan aplikasi khusus dan dukungan hardware multi media. - WAIS Server WAIS (Wide Area Information Service) menyediakan cara lain untuk menemukan informasi yang tersebar dalam internet. WAIS mampu mengakses segala database yang besar (seperti dokumen, file berisi gambar, video dan suara). - Gopher Internet menyediakan banyak informasi yang dapat diakses penggunanya lewat sistem menu. Seorang pengguna internet dihadapkan pada sebuah menu yang bercabang-cabang. Untuk menuju ke informasi atau data yang dituju, seorang pengguna menyeleksi pilihan-pilihan yang disediakan hingga masuk ke topik yang diinginkan. Fasilitas demikian disebut Gopher. - Mailing List Atau kelompok diskusi, fasilitas ini dibangun menggunakan teknik yang sama dengan proses penyebaran surat elektronik. Dengan menggunakan fasilitas ini, sebuah berita/file dapat didistribusikan ke banyak pengguna sekaligus. Bahkan penggunanya dapat melakukan diskusi, seminar, ceramah, konferensi secara elektronik tanpa terikat dimensi ruang dan waktu. Diskusi dapat berlangsung setiap hari tanpa henti. Hasil yang diperoleh akan jauh lebih efektif daripada penyelenggaraan seminar/konferensi konvesional. 2.3 Konsep Gender Kata “gender” berasal dari bahasa Inggris, gender berarti “jenis kelamin”, dimana sebenarnya artinya kurang tepat, karena dengan demikian gender disamakan pengertiannya dengan sex yang berarti jenis kelamin. Dalam Webster’s New World Dictionary gender diartikan sebagai perbedaan yang tampak antara laki-laki dan perempuan dilihat dari segi nilai dan tingkah laku (Neudfeldt dalam Umar, 1999). Dalam Women’s Studies Encyclopedia dijelaskan bahwa gender adalah konsep kultural yang berupaya membuat pembedaan (distinction) dalam hal peran, perilaku, mentalitas, dan karakteristik emosional laki-laki dan perempuan yang berkembang dalam masyarakat (Tierney dalam Umar, 1999). Pengertian gender menurut Fakih (2001) adalah suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural. Pengertian tersebut sejalan dengan kesimpulan yang diambil oleh Umar (1995) yang mendefinisikan gender sebagai suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasikan perbedaan laki-laki dan perempuan dilihat dari segi-budaya. Sehingga gender dalam arti ini mendefinisikan laki-laki dan perempuan dari sudut pandang non-biologis. Untuk memahami konsep gender harus dibedakan kata gender dengan kata seks (jenis kelamin). Pengetahuan jenis kelamin merupakan pensifatan atau pembagian dua jenis kelamin tertentu. Manusia jenis laki-laki adalah manusia yang memeiliki atau bersifat seperti daftar berikut ini: laki-laki adalah manusia yang memiliki alat kelamin yang memproduksi sperma, memiliki jakala. Perempuan memiliki alat reproduksi seperti: rahim, dan saluran untuk melahirkan, memproduksi telur, dan mempunyai alat menyusui. Alat-alat tersebut secara biologis tidak dapat dipertukarkan menurut fungsinya antara alat biologis yang melekat pada manusia laki-laki dan perempuan. Secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis atau sering dikatakan sebagai ketentuan Tuhan (kodrat). Konsep gender yakni suatu sifat yang melekat pada kaum laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial maupun kultural (Fakih, 2001). Misalnya bahwa perempuan itu dikenal lemah lembut, cantik, emosional, atau keibuan, sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, perkasa. Ciri dari sifat itu sendiri merupakan sifat-sifat yang dapat dipertukarkan. Artinya ada laki-laki yang emosional, lemah lembut, keibuan, sementara juga ada perempuan yang kuat, rasional, perkasa. Perubahan ciri dari sifat-sifat itu dapat terjadi dari waktu ke waktu dan dari tempat ke tempat lain. 2.4 Review Penelitian Terdahulu Penelitian yang sejenis juga pernah dilakukan oleh Rustiana (2004) tentang Computer Self Efficacy (CSE) mahasiswa akuntansi dengan membandingkan antara mahasiswa laki-laki dan perempuan. Penelitiannya dilakukan terhadap mahasiswa akuntansi pada Universitas Atmajaya Yogyakarta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa CSE mahasiswa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Hasil penelitian tersebut kemudian dibandingkan dengan hasil project desain data base dengan menggunakan software aplikasi Microsoft Access yang dibuat oleh kelompok-kelompok yang beranggotakan sebagian besar laki-laki dan sebagian besar perempuan. Berdasarkan pengamatan tersebut, kelompok-kelompok yang sebagian besar anggotanya laki-laki cenderung membuat design database dengan tampilan yang lebih kreatif dan variatif dibandingkan kelompok yang sebagian besar anggotanya perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa laki-laki lebih menanggapi secara berbeda dalam hal kemampuan desain data base dibandingkan dengan perempuan. Penelitian lainnya dilakukan oleh Rex Karsten dan Roberta M. Roth, pada mahasiswa di University of Northern Lowa, Amerika Serikat. Karsten dan Roth meneliti pengaruh pelatihan teknologi informasi terhadap Computer Self Efficacy (CSE). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah peserta mengikuti pelatihan. Selain meneliti dampak dari pelatihan teknologi informasi tersebut, penelitian ini juga menganalisis faktor-faktor individual dan situasional lainnya, dimana hubungan antara gender dan CSE menjadi ketertarikan utama. Penelitian ini menunjukkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara peserta laki-laki dengan peserta perempuan. Namun yang lebih mempengaruhi computer self efficacy-nya adalah pengalaman individu tersebut dengan komputer. Peserta yang memiliki pengalaman lebih lama atau lebih banyak dengan komputer memiliki level CSE yang lebih tinggi daripada peserta yang belum berpengalaman dengan komputer. Sedangkan untuk pengaruh pelatihan teknologi informasi, diperoleh dampak positif terhadap CSE, yang dibuktikan dengan meningkatnya level CSE peserta setelah mengikuti pelatihan. 2.5 Hubungan Computer Self Efficacy (CSE) dengan Teknologi Informasi dan Gender Self efficacy adalah keyakinan seseorang mengenai peluangnya untuk berhasil mencapai tugas tertentu (Kreitner&Kinicki, 2003 dalam Engko 2006). Self efficacy dapat dikatakan sebagai faktor personal yang membedakan setiap individu dan perubahan self efficacy dapat menyebabkan terjadinya perubahan perilaku terutama dalam penyelesaian tugas dan tujuan. Individu yang memiliki self efficacy tinggi akan mampu menyelesaikan pekerjaan atau mencapai tujuan tertentu, mereka juga akan berusaha menetapkan tujuan lain yang tinggi. Individu yang memiliki self efficacy tinggi pada situasi tertentu akan mencurahkan semua usaha dan perhatiannya sesuai dengan tuntutan situasi tersebut dalam mencapai tujuan dan kinerja yang telah ditentukannya. Kegagalan dalam mencapai suatu target tujuan akan membuat individu berusaha lebih giat lagi untuk meraihnya kembali serta mengatasi rintangan yang membuatnya gagal dan kemudian akan menetapkan target lain yang lebih tinggi lagi. Individu yang mempunyai self efficacy rendah ketika menghadapi situasi yang sulit dan tingkat kompleksitas tugas yang tinggi akan cenderung malas berusaha atau lebih menyukai kerja sama. Individu yang mempunyai self efficacy rendah menetapkan target yang lebih rendah pula serta keyakinan terhadap keberhasilan akan pencapaian target yang juga rendah sehingga usaha yang dilakukan lemah (Bandura, 1997). Begitu juga halnya dalam penggunaan teknologi informasi. Kemampuan individu dalam tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan teknologi informasi akan dipengaruhi oleh computer self efficacy-nya. CSE mempunyai hubungan positif dengan attitude seseorang yang dihubungkan dengan teknologi informasi. Kepercayaan diri seseorang terhadap kemampuannya dalam menggunakan komputer akan mempengaruhi kemauan atau keinginannya untuk belajar tentang komputer. Isu gender dalam teknologi informasi masih menjadi studi yang relevan. HESA (2000) melaporkan bahwa jumlah mahasiswa perempuan di Inggris yang mengambil jurusan komputer hanya sekitar 17%. Balka dan Smith (2000 dalam Sam 2005) juga melaporkan bahwa jumlah mahasiswa perempuan di jurusan komputer semakin berkurang setiap tahunnya. Ini menunjukkan perbedaan attitude antara laki-laki dan perempuan dalam hal teknologi informasi. Dalam beberapa penelitian, dilaporkan bahwa laki-laki memiliki lebih banyak pengalaman dalam penggunaan komputer. Sedangkan perempuan memiliki attitude negatif terhadap komputer dan tingkat kecemasan (computer anxiety) yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Namun, antara laki-laki dan perempuan memiliki tingkat ketertarikan yang hampir sama terhadap komputer (Badagliacco 1990 dalam Sam 2005). Hubungan antara gender, computer self efficay, dan teknologi informasi lebih jelasnya digambarkan dalam diagram berikut : Hubungan positif antara Computer Self Efficacy (CSE) dengan attitude seseorang dalam penggunaan teknologi informasi telah menjadi konsensus umum diantara para ahli. CSE berdampak secara positif untuk kesuksesan penerapan sistem informasi. Penelitian ini memfokuskan perhatian kepada perbedaan gender sebagai variabel moderatingnya. 2.6 Hipotesis Penelitian Berdasarkan penjelasan-penjelasan sebelumnya, maka penulis termotivasi untuk menyusun hipotesis sebagai berikut : H: Terdapat perbedaan computer self efficacy pada mahasiswa akuntansi dalam penggunaan teknologi informasi ditinjau dari segi gender BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel Populasi dari penelitian ini adalah mahasiswa akuntansi di kota Padang. Populasi diambil pada lima perguruan tinggi di kota Padang antara lain Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Putra Indonesia, Universitas Bung Hatta dan STIE Dharma Andalas. Teknik penentuan sampelnya adalah purposive sampling, yang artinya sampel dipilih dengan menetapkan kriteria-kriteria tertentu untuk tujuan agar mendapatkan sampel yang representatif berdasarkan kualifikasi yang ditentukan. Sampel yang diambil adalah mahasiswa akuntansi yang telah mengambil mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi pada tahun ajaran 2007/2008 yang dipilih secara acak dari seluruh populasi mahasiswa jurusan akuntansi yang ada. 3.2 Variabel Pengukuran dan Instrumen Penelitian Variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah computer self efficacy mahasiswa akuntansi dalam penggunaan teknologi informasi ditinjau dari segi gender. CSE didefinisikan sebagai kemampuan pengguna dalam menggunakan layanan internet dan e-mail, mengorganisir file, menggunakan presentation software, word processing, spreadsheet, dan database, dan advanced skill. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kuisioner yang terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama dari kuisioner ini berisi data demografi, berisi informasi mengenai nama, jenis kelamin, angkatan tahun, umur, dan IPK. Sedangkan bagian kedua berisi CSE dalam penggunaan teknologi informasi. Ada 70 item pernyataan yang digunakan untuk mengukur level computer self efficacy untuk mengetahui kemampuan user dalam menggunakan computer. Pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan rangkuman dari computer self efficacy scale yang digunakan pada penelitian-penelitian sebelumnya dan disesuaikan dengan kepentingan dan kondisi lingkungan penelitian saat ini. Untuk mengukur kemampuan pengguna dalam menggunakan layanan internet dan e-mail, mengorganisir file, menggunakan presentation software, word processing, spreadsheet, dan database, diambil dari Business Computer Self Efficay Scale yang dikembangkan oleh Paul Stephens dan Joyce Shotick (2002). Sedangkan untuk advanced skill, menggunakan computer self efficacy scale yang dikembangkan oleh Murphy, Coover, dan Owen (1989) Lima skala likert digunakan untuk menyatakan persetujuan responden tentang item-item kuisioner, yang terdiri dari STS (Sangat Tidak Setuju), TS (Tidak Setuju), RG (Ragu-ragu), S (Setuju), SS (Sangat Setuju). Jawaban-jawaban tersebut masing-masing diberi skor, - untuk jawaban STS diberi skor 1 - untuk jawaban TS diberi skor 2 - untuk jawaban RG diberi skor 3 - untuk jawaban S diberi skor 4 - untuk jawaban SS diberi skor 5 3.3 Pengumpulan Data Media yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah daftar pertanyaan/kuisioner. Penelitian ini menggunakan data primer, yakni berupa data yang dikumpulkan langsung (tanpa perantara) dari responden yang merupakan sampel dari penelitian ini. Jenis data yang diambil adalah data subjek yang berupa tanggapan, opini, dan pengalaman dari seseorang atau sekelompok orang yang menjadi subjek penelitian. Pengumpulan data dilakukan secara langsung, yakni dengan membagikan kuisioner secara langsung kepada mahasiswa yang terpilih menjadi sampel. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan tingkat pengembalian kuisioner karena rendahnya respon mahasiswa dalam memberikan jawaban atau mengirimkan data kepada peneliti jika dilakukan mail survey. Selain itu juga untuk meyakinkan peneliti bahwa data yang dikumpulkan benar-benar diperoleh dari mahasiswa yang telah mengambil mata kuliah Teknologi Informasi dan Komunikasi, sebagai responden dalam penelitian ini. Responden diminta untuk mengisi daftar pertanyaan/kuisioner penelitian secara langsung pada hari yang bersangkutan sehingga jika ada pertanyaan yang kurang dimengerti oleh responden, maka peneliti akan menjelaskan maksud pertanyaan tersebut. 3.4 Metode Analisis Setelah semua data yang diperlukan telah diperoleh, maka dilakukan pengujian terhadap data tersebut. Sebelum data diolah untuk menguji hipotesis, terlebih dahulu dilakukan pengujian instrumen dengan uji validitas dan reliabilitas untuk melihat apakah data yang diperoleh dari responden dapat menggambarkan secara tepat konsep yang diuji. a. Uji validitas Uji validitas menunjukkan tingkat kemampuan suatu instrumen untuk mengungkapkan sesuatu yang menjadi objek pengukuran yang dilakukan dengan instrumen penelitian tersebut. Jika suatu item pernyataan dinyatakan tidak valid, maka item pernyataan itu tidak dapat digunakan dalam uji-uji selanjutnya. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas konstruk (construct validity) yaitu dengan mengkorelasikan skor tiap-tiap item dengan skor total. Teknik korelasi yang digunakan adalah Pearson’s Correlation Product Moment untuk pengujian dua sisi yang terdapat pada program komputer SPSS 11.5 for Windows. Alasan digunakan teknik ini karena skor item yang digunakan bukan skor dikotomi 0 dan 1 seperti yang digunakan dalam teknik Point Biserial. Hasil uji korelasi tersebut bisa dikatakan valid jika apabila tingkat probabilitasnya lebih kecil dari 0,05. b. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas dilakukan terhadap pernyataan-pernyataan yang sudah valid untuk mengetahui sejauh mana hasil pengukuran tetap konsisten apabila dilakukan pengukuran ulang pada kelompok yang sama dengan alat ukur yang sama. Pengujian reliabilitas dianalisis dengan menggunakan teknik dari Cronbach yaitu Cronbach’s Alpha yang terdapat pada program komputer SPSS 11.5 for Windows. Semakin dekat koefisien alpha pada nilai 1 berarti butir-butir pernyataan dalam koefisien semakin reliabel (Sekaran 2000 dalam Martadi 2006). Besarnya nilai alpha yang dihasilkan dibandingkan dengan indeks: > 0,800: tinggi; 0,600 - 0,799: sedang; <0,600: rendah. Sebelum melakukan pengujian hipotesis maka dilakukan uji asumsi normal untuk mengetahui apakah variabel yang dibandingkan rata-ratanya telah terdistribusi normal. Teknik pengujian normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah One Sample Kolmogorov-Smirnov Test yang terdapat pada pogram komputer SPSS 11.5 for Windows. Pengambilan keputusan dilakukan dengan membandingkan signifikansi hasil pengujian dengan tingkat signifikansi 0,05. Nilai signifikansi dari uji normalitas ini haruslah besar dari 0,05, karena jika nilai signifikansinya lebih kecil dari 0,05 maka data tidak terdistribusi secara normal. Jika data telah terdistribusi secara normal, setelah itu dilakukan uji asumsi homogenitas untuk melihat apakah varian kelompok responden adalah homogen atau tidak. Pengujian asumsi homogenitas dilakukan menggunakan teknik Levene`s test for frequency of variance. Jika diperoleh nilai probabilitas besar dari 0,05 berarti varian kelompok responden adalah homogen. Pengujian hipotesis pada penelitian computer self-efficacy mahasiswa akuntansi dalam penggunaaan teknologi informasi yang dipandang dari segi gender ini digunakan alat uji statistik Indenpendent-Samples T Test. Pengujian hipotesis ini dimasudkan untuk mengetahui beda rata-rata computer self-efficacy dari masing-masing kelompok (mahasiswa laki-laki dan perempuan). Karakteristik dari alat uji statistik Independent-Samples T Test adalah (1) data yang akan diuji berdistribusi normal atau, (2) varians dari data tersebut homogen. Jika salah satu dari kedua karakteristik terpenuhi maka pengujian dapat dilakukan. Uji Indenpendent-Samples T Test berdasarkan hasil Levene’s Test, diambil suatu keputusan. Dasar pengambilan keputusannya adalah jika probabilitas lebih besar dari 0,05 maka H ditolak, artinya tidak ada perbedaan signifikan antara kelompok sampel. Sebaliknya jika probabilitas lebih kecil dari 0,05 maka H diterima, artinya terdapat perbedaan signifikan antara kelompok sampel. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi Data Dalam penelitian ini, sebanyak 150 kuisioner disebarkan pada lima perguruan tinggi di kota Padang, 30 kuisioner masing-masingnya, antara lain Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Putra Indonesia, Universitas Bung Hatta dan STIE Dharma Andalas. Dari 150 kuisioner yang disebar, kuisioner yang kembali sebanyak 129 buah dan 4 kuisioner tidak diisi dengan lengkap. Kuisioner yang diisi tidak lengkap dianggap gugur, sehingga total kuisioner yang dapat dianalisis sebanyak 125 buah. Distribusi kuisioner dan tingkat pengembalian serta kuisioner yang lengkap diisi dengan benar tercantum dalam tabel berikut: Tabel IV.1 Distribusi Kuisioner dan Tingkat Pengembaliannya Responden Kuisioner Disebar Kuisioner kembali Tingkat Pengem-balian Kuisioner Gugur Kuisioner Kembali Respon Rate Mahasiswa Akuntansi FE UNAND 30 30 100% 0 30 100,00% Mahasiswa Akuntansi FE UBH 30 30 100% 1 29 96,67% Mahasiswa Akuntansi FE UPI 30 30 100% 2 28 93,33% Mahasiswa Akuntansi STIE DA 30 22 73% 1 21 70,00% Mahasiswa Akuntansi FE UNP 30 17 57% 0 17 56,67% Total 150 129 86% 4 125 83,33% Dari tabel IV.1 dapat dilihat bahwa tingkat pengembalian 86% atau 129 kuisioner. Kuisioner yang dapat dianalisis untuk penelitian ini adalah sebanyak 125 kuisioner (respon rate 83,33%). Responden yang berasal dari Universitas Andalas sebanyak 30 mahasiswa atau 24%, responden yang berasal dari Universitas Bung Hatta sebanyak 29 mahasiswa atau 23,2%, responden yang berasal dari Universitas Putra Indonesia sebanyak 28 mahasiswa atau 22,4%, responden yang berasal dari STIE Dharma Andalas sebanyak 21 mahasiswa atau 16,8%, dan responden yang berasal dari Universitas Negeri Padang sebanyak 17 mahasiswa atau 13,6%. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti apakah terdapat perbedaan computer self efficacy mahasiswa jurusan akuntansi terhadap penggunaan teknologi informasi jika ditinjau dari segi gender. Berikut gambaran tentang statistik deskrpitif responden berdasarkan gender. Tabel VI.2 Statistik Deskriptif Responden Berdasarkan Gender Frequency Percent (%) Cumulative Percent (%) Valid laki-laki 56 44,8 100,0 perempuan 69 55,2 100,0 Total 125 100,0 Pada tabel IV.2 dapat dilihat bahwa responden terbanyak adalah responden berjenis kelamin perempuan dengan jumlah 69 atau 55,2% dan responden laki-laki berjumlah 56 atau 44,8%. Tabel IV.3 Statistik Deskriptif Variabel Variabel n Range Teoritis Range Sesungguhnya Mean Standar Deviasi CSE 125 70-350 136-345 269,8640 35,93864 Pada tabel IV.3 dapat dilihat bahwa untuk variabel computer self efficacy kisaran sesungguhnya antara 136–345 dengan mean 269,8640 dan deviasi standar 35,93864. Tabel IV.4 Korelasi Antar Variabel Variabel Gender Computer Self Efficacy Gender 1,000 -0,190(*) Computer Self Efficacy -0,190(*) 1,000 * Correlation is significant at the 0,05 level (2-tailed) Korelasi antar variabel dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antar variabel, yaitu variabel CSE dengan variabel gender. Pada tabel IV.4 terlihat bahwa variabel CSE berkorelasi dengan variabel gender dengan tingkat signifikansi p< 0,05 (2 sisi). 4.2 Pengujian Validitas dan Reliabilitas Data Pengujian dilakukan dengan bantuan software SPSS 11.5 for windows. Teknik pengujian data pada penelitian ini adalah uji validitas dan uji reliabilitas. Agar data yang diperoleh dengan cara penyebaran kuisioner tersebut valid (sahih) dan reliabel (andal), maka peneliti terlebih dahulu melakukan uji validitas dan reliabilitas terhadap butir-butir pertanyaan dalam kuisioner. Uji validitas dilakukan dengan menggunakan korelasi antar skor masing-masing butir pertanyaan dengan skor total. Pengolahan data dilakukan dengan bantuan software SPSS versi 11.0 for window. Hasil pengujian validitas tersebut menunjukkan bahwa probabilitas korelasi [sig. (2-tailed)] untuk ke-70 item pertanyaan sebesar 0,000. Sesuai kriteria sebelumnya, ke-70 item instrumen adalah valid, karena nilai probabilitas korelasi [sig.(2-tailed) < dari taraf signifikan (α) sebesar 0,05. Dikarenakan semua item pertanyaan dalam kuesioner ini valid, maka dapat diikutsertakan dalam taraf pengujian selanjutnya. Hasil uji validitas selengkapnya dapat dilihat pada halaman lampiran. Tabel IV.5 Hasil Uji Reliabilitas Keterangan Koefisien Alpha Tingkat Reliabilitas Computer Self Efficacy (CSE) 0,9743 Tinggi Pengujian reliabilitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik cronbach`s alpha. Semakin dekat koefisien alpha pada nilai 1 berarti butir-butir pernyataan dalam koefisien semakin reliabel (Sekaran 2000 dalam Martadi 2006). Besarnya nilai alpha yang dihasilkan dibandingkan dengan indeks: • > 0,800: tinggi • 0,600 - 0,799: sedang • < 0,600: rendah Dari hasil pengujian tersebut, seperti terlihat pada tabel IV.6 diketahui bahwa tingkat reliabilitas variabel dalam penelitian ini adalah tinggi, pada koefisien alpha 0,9743. Maka hasil data hasil kuisioner memiliki tingkat reliabilitas yang baik, atau dengan kata lain data hasil kuesioner dapat dipercaya. 4.3 Pengujian Asumsi Klasik Pengujian asumsi klasik meliputi: Uji Normalitas, dan Uji Asumsi Homogenitas. Teknik pengujian normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah one sample Kolmogorov Smirnov test. Tabel IV.6 Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test CSE N 125 Normal Parameters(a,b) Mean 269,8640 Std. Deviation 35,93864 Most Extreme Differences Absolute ,094 Positive ,083 Negative -,094 Kolmogorov-Smirnov Z 1,046 Asymp. Sig. (2-tailed) ,224 a Test distribution is Normal. b Calculated from data. Seperti terlihat pada tabel IV.7 bahwa hasil pengujian menunjukkan nilai D = 0,094 (p>0,05) dan signifikansi adalah Z=1,046 (p>0,05). Hal ini berarti bahwa data telah terdistribusi secara normal. Pengujian Asumsi Homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah varian kelompok responden adalah homogen. Pengujian homogenitas varian hanya dilakukan pada item yang telah memenuhi asumsi sebaran normal. Teknik yang digunakan adalah Levene`s test for frequency of variance. Tabel IV.7 Hasil Uji Asumsi Homogenitas Keterangan Nilai Probabilitas Perbandingan Antar Kelompok responden Computer Self Efficacy (CSE) 0,808 Homogen Hasil pengujian asumsi homogenitas seperti terlihat pada tabel IV.8 menunjukkan nilai probabilitasnya sebesar 0,808 (>0,05) maka disimpulkan bahwa varian kedua sampel adalah sama (homogen). 4.4 Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dimaksudkan untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan rata-rata di antara dua kelompok sampel, karena di antara masing-masing kelompok sampel yang diuji saling independen, maka pengujian dilakukan dengan menggunakan alat analisis independent sample t-test. Oleh karena kedua sampel mempunyai varian yang sama, maka pengujian terhadap nilai rata-rata menggunakan dasar equal variances assumed (diasumsikan kedua sampel mempunyai varian yang sama). Tabel IV.8. Independent Sample T-Test Mean CSE Std. Deviasi t value Sig. Laki-laki = 56 277,4286 33,28929 2,151 0,033 Perempuan = 69 263,7246 37,06151 Hasil uji hipotesis computer self efficacy mahasiswa akuntansi dipandang dari segi gender terlihat pada tabel 9. Terlihat dari uji Independent-Samples T Test dari mahasiswa akuntasi, nilai probabilitasnya sebesar 0,033. Karena nilai ini lebih kecil dari 0,05 maka hipotesis diterima. Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan computer self efficacy antara mahasiswa akuntansi laki-laki dan perempuan di kota Padang. Dimana computer self efficacy mahasiswa akuntansi laki-laki cenderung lebih tinggi pada rata-rata 277,4286. Sedangkan rata-rata computer self efficacy mahasiswa akuntansi perempuan adalah 263,7246. Hasil penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan Rustiana (2004) tentang Computer Self Efficacy (CSE) mahasiswa akuntansi. Penelitiannya dilakukan terhadap mahasiswa akuntansi pada Universitas Atmajaya Yogyakarta. Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa CSE mahasiswa laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Perbedaan level computer self efficacy ini dapat dipahami, karena secara teoritis, perbedaan ini dapat dijelaskan dengan menggunakan pendekatan sosialisasi gender/gender sosialization approach. Perbedaan sosialisasi gender menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan membawa perbedaan nilai dan perlakuan dalam pekerjaannya. Perbedaan ini disebabkan karena laki-laki dan perempuan mengembangkan bidang peminatan, keputusan dan praktis yang berbeda (Betz dan Shepard 1989 dalam Rustiana 2004). Laki-laki akan melakukan apa saja untuk mencapai kesuksesan, termasuk untuk bertindak secara kreatif dan inovatif. Sedangkan perempuan dalam melakukan tugas-tugasnya lebih lebih mementingkan aspek harmonisasi dan kurang menunjukkan aspek kreatif dan inovatif. Dalam kaitannya dengan CSE, laki-laki cenderung lebih baik dibanding dengan perempuan. Ini menunjukkan bahwa laki-laki memiliki peminatan, keputusan dan praktis yang berbeda khususnya dalam pengembangan teknologi informasi dengan perempuan. . BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Self-efficacymerupakan penilaian tentang kemampuan diri untuk melaksanakan suatu kinerja pada tingkat tertentu. Keyakinan tentang self-efficacy turut menentukan cara orang berperilaku. Keyakinan memiliki efficacy dapat mendorong orang untuk melakukan kegiatan, sedangkan keyakinan bahwa tidak memiliki efficacy dapat membuat orang menghindari kegiatan yang sesungguhnya dapat memperkaya pengalamannya Computer self efficacy (CSE) didefinisikan sebagai judgement kemampuan dan keahlian komputer seseorang untuk melakukan tugas-tugas yang berhubungan dengan teknologi informasi. Variabel CSE ini merupakan salah satu prediktor yang penting dalam mempelajari perilaku user dalam penggunaan teknologi informasi. CSE memainkan peran penting dalam mempelajari perilaku individu khususnya di bidang komputer/teknologi informasi. Individu yang mempunyai level self efficacy yang tinggi cenderung merasa lebih kuat dalam mengendalikan aktifitas yang dilakukan dalam penggunaan teknologi informasi dibandingkan dengan individu yang mempunyai level self efficacy yang rendah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada mahasiswa akuntansi yang tersebar pada lima perguruan tinggi di kota Padang, yakni UNAND, UBH, UNP, UPI-YPTK, dan STIE-DA, dengan didukung oleh teori yang diperoleh melalui referensi-referensi, dapat diambil kesimpulan bahwa memang terdapat perbedaan CSE pada mahasiswa akuntansi dalam penggunaan teknologi informasi ditinjau dari perspektif gender, dimana CSE laki-laki lebih baik dibanding CSE perempuan. Analisa data dengan menggunakan uji Independent-Samples T Test, dengan bantuan software SPSS 11.5 for windows menunjukkan bahwa level computer self efficacy mahasiswa akuntansi laki-laki cenderung lebih tinggi, yakni pada rata-rata 277,4286. Sedangkan rata-rata computer self efficacy mahasiswa akuntansi perempuan adalah 263,7246. 5.2 Keterbatasan Penelitian ini mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain: 1. Pengumpulan data melalui kuisioner dapat menimbulkan bias dari responden, karena data yang diisi hanya didasarkan pada persepsi responden sehingga mungkin tidak mencerminkan kondisi yang sebenarnya. 2. Instrumen yang dipakai dalam penelitian ini hanya menggunakan kuisioner, sehingga kesimpulan yang dapat diambil hanya berdasarkan data yang dikumpulkan melalui kuisioner tersebut. 3. Ruang lingkup penelitian hanya diwilayah kota padang sehingga hasil yang diperoleh belum digeneralisasi secara nasional. 5.3 Implikasi Penelitian dan Saran Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, hasil penelitian, kesimpulan, serta keterbatasan yang telah dijabarkan sebelumnya, maka penulis menghendaki agar kalangan akademis dapat melihat dan menggunakan hasil penelitian ini, sehingga mereka diharapkan dapat mengambil tindakan selanjutnya untuk memperkecil perbedaan gender dalam self efficacy dan penggunaan berbagai variabel individu dan beberapa variabel kontekstual untuk mencari anteseden dan konsekuen dari variabel computer self efficacy, sehingga dapat mempunyai gambaran rerangka konseptual yang lebih komprehensif. Misalnya dengan mengembangkan metode pengajaran yang berkaitan dengan materi yang berhubungan dengan komputer untuk mengurangi perbedaan gender dalam self efficacy tersebut. Selain itu diharapkan penelitian ini dapat memberikan nilai tambah dalam upaya meningkatkan kualitas pengajaran dalam rangka menambah mutu lulusan sebagai pekerja intelektual yang siap pakai sesuai dengan kebutuhan pasar. Untuk mengatasi keterbatasan dalam penelitian ini, peneliti menyarankan agar pada penelitian selanjutnya sebaiknya data yang diambil tidak hanya berdasarkan pada kuisioner, penelitian ini akan lebih lengkap datanya apabila peneliti selanjutnya melakukan wawancara, sehingga kesimpulan yang dapat diambil nantinya berdasarkan pada data yang dikumpulkan melalui kuisioner secara tertulis dan wawancara secara lisan. Kemudian diharapkan ruang lingkup wilayah penelitian pada peneliti selanjutnya dapat dilakukan di wilayah lebih luas atau daerah yang kondisinya berbeda dengan kondisi di kota Padang.