Daftar Blog Saya

Menurut anda blogspot ini bagaimana?

Kamis, 08 September 2011

EFEKTIFAT KINERJA PADA KANTOR CAMAT BOTUMOITO

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada era globalisasi saat ini perkembangan dan kemajuan di berbagai bidang selalu mengedepankan efektivitas kinerja para pegawai yang dapat menggerakkan sekaligus menjalankan roda organisasi. Dewasa ini perubahan demi perubahan dalam meningkatkan kualitas kerja pegawai selalu menjadi fokus utama dalam meningkatkan pelayanan prima bagi masyarakat, hal ini dipandang penting guna meningkatkan kinerja para pegawai.
Uraian tentang kemajuan efektivitas kinerja pegawai di atas dalam memajukan organisasi, dapat dilihat pada berbagai kegiatan penggalangan pelatihan ketatausahaan pada lembaga pemerintah maupun swasta. Terciptanya Efektivitas Kinerja yang baik diharapkan mampu untuk dapat menjamin percepatan, kelancaran, pelayanan terhadap masyarakat secara baik dan tepat. Keterpaduan tugas dan fungsi penyelenggara pemerintah maupun swasta dalam meningkatkan profesionalitas kerja dalam organisasi. Tujuan utama dari perkembangan pelayanan administrasi melalui efektivitas kinerja pegawai adalah bagaimana upaya suatu instansi dalam meningkatkan kualitas pelayanan yang baik dan tepat guna bagi masyarakat, khususnya aparatur pemerintah agar lebih handal, professional, efektif dan efisien serta tanggap terhadap kebutuhan dan aspirasi masyarakat serta bagaimana menyikapi dinamika proses perubahan lingkungan yang strategis yang bermutu dan mempunyai nilai positif dalam memberikan pelayanan yang baik bagi peningkatan pelayanan.
Efektivitas adalah ukuran suatu organisasi, dimana kemampuan organisasi untuk mencapai segalah keperluannya. Hal ini berarti organisasi mampu menyusun dan mengorganisasikan sumber daya pegawai untuk mencapai tujuan. Sedangkan kinerja menurut Prawiro Suntoro (dalam Tika,2006:121) adalah hasil kerja yang dapat dicapai seseorang atau sekelompok orang dalam suatu organisasi dalarn rangka mencapai tujuan. Sementara menurut pendapat. Moh. Pabundu Tika, ( 2006:121) bahwa kinerja merupakan sebagai hasil-hasil fungsi pekerjaan/kegiatan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi yang dipengaruhi oleh berbagai faktor untuk mencapai tujuan organisasi dalam periode waktu tertentu.
Dengan adanya aktivitas gambaran kinerja maka kemampuan seorang pegawai dapat diukur kemampuan dan profesionalitas kerjanya jika dilihat dari konsep totalitas efektivitas kinerja di atas perlu dilengkapi juga dengan dimensi kualitas yang bersifat strategis dalam konteks pelayanan administrasi yang seutuhnya, yaitu kerja profesional, intelektual serta disiplin dan efisien dalam bekerja. efektivitas kinerja merupakan modal dasar pelayanan administrasi sekaligus menjadi tujuan dari peningkatan efektivitas kerja kearah yang lebih baik, melalui berbagai bidang yakni bidang sosial, ekonomi, politik, budaya, ideologi serta pelayanan terhadap kepentingan masyarakat umum.
Oleh sebab itu, peningkatan efektivitas kinerja pegawai sangat diharapkan guna terciptanya tenaga pegawai yang handal dan trampil dalm melaksanakan segala tugas yang dibebankan padanya. Dengan demikian diharapkan dengan adanya efektivitas kinerja yang baik akan dapat membantu pengelolaan manajemen utamanya penyediaan informasi dan pelayanan terhadap masyarakat. Sehingga tujuan efektivitas kinerja dalam suatu lembaga dapat tercapai dengan baik
Akan tetapi efektivitas kinerja yang diharapkan dalam suatu organisasi, belum tentu dapat diterapkan dengan baik dan maksimal. Hal inilah yang menjadi salah satu permasalahan pada kantor Kementerian Agama yang merupakan suatu instansi pemerintah yang berada tingkat kecamatan, serta memiliki tugas dan peran dalam memberikan pelayanan yang maksimal terhadap masyarakat, baik secara langsung maupun melalui pemerintah desa dalam pelaksanaan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sehingganya kemampuan dan kualitas kerja para pegawai merupakan suatu hal yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pelayanan.
Dari hasil pengamatan awal peneliti, kinerja pegawai pada kantor Kementerian Agama menunjukkan belum berjalan secara efektif. Hal ini dapat dilihat dari masih ada pegawai yang duduk sambil ceritra pada saat jam kerja. Sehingga waktu yang mereka lalui berlalu begitu saja tanpa ada hasil yang maksimal. Sementara kinerja di Kabupaten Boalemo mendapat respon positif dari pemerintah Kabupaten dengan dikeluarkannya Peraturan Daerah yang menyebutkan tentang Tunjangan Kinerja Daerah. Semua pegawai yang bekerja diberikan tunjangan kinerja sebagaimana yang dianamatkan oleh Peraturan Pemerintah tersebut. Namun kenyataannya semua pegawai baik yang bekerja maupun yang tidak bekerja menerima tunjangan tersebut sesuai dengan pangkat dan golongan serta jabatan yang dipegangnya..
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan suatu penelitian dengan memformulasikan judul ”Efektivitas Kinerja Pegawai Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boalemo.’’

1.2 Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian masalah diatas, maka perlu dilakukan identifikasi masalah sebagai berikut : Kurang efektifnya kinerja pegawai pada Kantor Kementerian Agama, Rendahnya kesadaran pegawai dalam meningkatan kinerjanya pada kantor Kementerian Agama, Pemberian Tunjangan yang tidak sesuai dengan hasil kerja pegawai.


1.3 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : “Bagaimana Efektivitas Kinerja Pegawai Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boalemo ?”

1.4 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dalam penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui Efektivitas Kinerja Pegawai Pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boalemo.



1.5 Manfaat Penelitian.
Penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat memberikan manfaat dari segi praktis maupun teoritis, yaitu sebagai berikut :
1. Secara Teoritis, penulisan karya ilmiah ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan sosial, khususnya dibidang manajemen perkantoran.
2. Secara Praktis, yaitu sebagai bahan informasi dalam peningkatan efektifitas kinerja pegawai pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boalemo.

1.6 Metode Penelitian.
1.6.1 Objek Penelitian.
Yang menjadi penelitian penulisan karya ilmiah ini adalah Kantor Kementerian Agama.

1.6.1.1 Populasi. Dan Sampel.
1.6.1.2 Populasi.
Populasi adalah keseluruahn objek penelitian, (Arikunto,2006 :130 ). Sehingga dalam penelitian ini, yang menjadi responden adalah seluruh pegawai Kantor Kementerian Agama yang berjumlah 52 orang.



1.6.1.3 Sampel.
Menurut Wayan Ardhana ( 1991:102) adalah sebagian dari populasi yang terjangkau dan memakai sifat yang yang sama dengan populasi, yang artinya sampel adalah sebagian obyek yang diambil dari populasi.

Sedangkan oleh Arikunto (2006:134 ) dikemukakan bahwa apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Sehinga deangan demikian, dalam penelitian ini peneliti tidak menggunakan sampel dan menggunakan populasi atau seluruh karakteristik penelitian.

1.6.2 Jenis Penelitian
Penulisan karya ilmiah ini adalah salah satu bagian dari penelitian ilmiah, sehingga dalam penulisannya digunakan metode penelitian ilmiah.
Menurut data yang digunakan, penulisan karya ilmiah ini menggunakan jenis Deskriptif Kualitatif. Pengertian Deskriftif menurut Sugiyono (2005:11) adalah penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (Independen) tanpa membuat perbandingan, atau menghubungkan antara variabel satu dengan variabel lain.







1.6.3 Teknik Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penulisan ini, penulis menggunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data, diantaranya sebagai berikut:
a. Observasi.
Observasi atau pengamatan adalah tugas yang memerlukan suatu sistem pemikiran. Tidaklah mungkin untuk mengamati dan mencatat semua hal yang terjadi dan jarang ada gunanya hanya untuk menulis penjelasan yang sifatnya Deskriptif atas hasil pengamatan yang diperoleh. Sedangkan pengamatan menurut Maleong (2000:125) teknik observasi atau pengamatan dimanfaatkan sebesar-besarnya didalam pengumpulan data penelitian, dengan data hasil pencatatan terhadap kata-kata dan tindakan.
b. Angket
Di dalam pengumpulan data dengan cara apa pun, selalu diperlakukan suatu alat yang disebut "instrumen pengumpulan data". Sudah barang tentu macam alat pengumpul data ini tergantung pada macam dan tujuan penelitian.
Yang dimaksud dalam instrument pengumpulan data ini adalah angket. Angket di sini diartikan sehagai daftar pertanyaan yang sudah tersusun dengan baik, sudah matang, di mana responden tinggal memberikan jawaban atau dengan memberikan tanda - tanda tertentu, atau yang sering juga disebut "daftar pertanyaan " (formulir).
Pentingnya angket sebagai alat pengumpul data adalah untuk memperoleh suatu data yang sesuai dengan tujuan penelitian tersebut. Oleh karena itu, isi dari angket adalah sesuai dengan hipotesis penelitian tersebut. Angket adalah bentuk penjabaran dari hipotesis.

c. Wawancara.
Teknik wawancara yang dalam penelitian kualitatif menurut Lofland dan Lofland dalam Maleong (2000:112) yaitu “Sumber data utama ialah kata-kata dan tindakan“, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan data pendukung lainnya. Data dalam bentuk kata-kata dan tindakan tersebut, diperoleh dengan melakukan wawancara. Menurut Kerlinger (1990:767) bahwa teknik wawancara merupakan “metode yang paling luas digunakan dimana - mana untuk memperoleh informasi dari orang banyak”.



d. Dokumen.
Dokumen adalah cara pencatatan dokumen yang perlu dilakukan untuk menjaring data – data sekunder. Dokumen yang dimaksud adalah berupa catatan resmi, buku - buku serta laporan yang dapat mendukung penelitian


1.6.4 Teknik Analisis Data
Analisis data disesuaikan dengan jenis penelitian yaitu teknik Deskriftif Kualitatif berdasarkan data yag diperoleh melalui observasi dan dokumen. Menurut Maleong (2000:190) “Analisis Deskriftif Kualitatif melalui beberapa tahapan yaitu tahap pemprosesan satuan, kategorisasi termasuk pemeriksaan keabsahan data, diakhiri dengan data dengan kata-kata”.
Adapun tahapan analisisnya yaitu, pertama data yang diperoleh dari hasil wawancara dan observasi langsung dianalisis dan interpestasi data dilakukan pada waktu penelitian sedang berlangsung maupun semua data yang diperlukan pada waktu penelitian sedang berlangsung maupun setelah semua data yang diperlukan terkumpul. Selama proses penelitian berlangsung, penulis selalu memperhatikan dan menganalisis terhadap data baru yang diperoleh dalam proses penyajian data, apabila terlihat data yang kurang relevan dilakukan reduksi data untuk memudahkan proses analisis data agar melakukan penarikan kesimpulan sesuai dengan tujuan penelitian. Setiap proses analisis data saling berhubungan dan senantiasa dilakukan dalam waktu bersamaan.
Artinya hasil data yang telah diperoleh dilapangan melalui instrument angket selanjutnya diolah dengan mengunakan Tabulasi data atas jawaban yang diberikan oleh respon dalam hal ini pegawai atau staf kantor Kementerian Agama melalui proses penyelesaian pekerjaan, kemudian dianalisis dengan menggunakan teknik analisis deskriptif yaitu menguraikan gambaran tentang efektivitas kerja pegawai sesuai dengan tujuan penulisan karya ilmiah ini.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1. Pengertian Efektivitas.
Seperti yang sudah dijelaskan dalam pembahasan latar belakang permasalahan bahwa efektivitas kerja merupakan ukuran suatu organisasi dalam mencapai proses kinerja yang lebih baik dalam menyelesaikan tugas. Berbagai literatur, konsep yang membahas efektivitas kinerja menunjukkan hasil yang dicapai dalam arti bahwa efektivitas kerja adalah suatu kegiatan yang diukur besar kecilnya penyesuaian antara tujuan dan harapan yang ingin dicapai dalam kerja dengan hasil yang baik. Jelasnya jika sasaran atau tujuan telah tercapai sesuai dengan yang telah direncanakan sebelumnya dapat disebut efektif Hal ini dijelaskan oleh Emerson dalam Handayaningrat (1990;16) bahwa "Effectivitas is a measuring in term attaining prescribed goals or objective " (Efektivitas adalah pengukuran dalam arti pencapaian sasaran atau tujuan yang ditentukan sebelumnya). Sementara Cahyono (1983 ..54) mengartikan "Efektivitas adalah kemampuan dari setiap perangkat kerja manusia maupun bukan manusia dapat melahirkan suatu hasil yang maksimal, yang digunakan sesuai dengan tujuan yang diharapkan". Dalam pengertian itu, berarti efektivitas diartikan sebagai keberhasilan organisasi dalam upaya untuk mencapai tujuan yang sesuai dengan rencana.
Berdasarkan uraian teori di atas, dapat dijelaskan bahwa Efektivitas kerja sangat penting peranannya sebagai salah satu cara dalam penyelesaian tugas dan tanggung jawab dalam kerja. Pentingnya peranan pengunaan efektivitas kerja dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Dengan efektivitas kerja dapat memastikan pemahaman para pelaksana kerja dalam menyelesaikan tugasnya, guna pencapaian kerja yang lebih efektif dan efisisen
b. Mempermudah segalah pencapaian tugas sesuai rencana kerja yang disepakati dan ditetapkan sebelumnya
c. Memonitori dan mengevaluasi pelaksanaan kerja dan membandingkannya dengan rencana kerja serta melakukan tindakan kerja yang lebih baik dan tepat dalam efisiensi kerja.
d. Memberikan penghargaan dan hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksanaan tugas yang telah diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja.
e. Menjadi alat komunikasi antar bawahan dan pimpinan dalam rangka upaya memperbaiki kinerja dalam organisasi.

Berdasarkan uraian di atas, maka untuk terciptanya kinerja yang efektif dalam menyelesaikan tugas maka setiap satuan organisasi kerja harus ;
a. Membuat komitmen dalam aturan kerja dalam satuan kerja organisasi. Sedangkan satuan kerja organisasi adalah segera memulai upaya efektivitas dan mengefisiensikan kinerja dan tidak perlu mengharap mengektifkan dan mengefisiensikan kinerja akan berjalan dengan baik, tetapi lebih pada bagaimana menerapkan efektifitas kerja yang baik dalam organisasi
b. Perlakuan efektif dan efisiensi kinerja sebagai suatu proses yang berkelanjutan. Efektif dan efisiensi dalam kerja merupakan suatu proses yang bersifat tentative (berubah-ubah). Proses ini merupakan suatu cerminan dari upaya satuan organisasi kepada pegawai guna pengembangan kinerja yang lebih efektif.
Sedangkan bila ditinjau secara umum efektifitas dan efisiensi kerja dalam penyelesaian tugas memiliki beberapa fungsi sebagai berikut ;
a. Memperjelas tentang apa, kapan aktivitas kerja harus dilaksanakan
b. Menciptakan konsensus yang dibangun oleh berbagai pihak terkait untuk menghindari kesalahan interprestasi selama pelaksanaan kebijakan/ program/ kegiatan dalam penilaian kinerja para pegawai
c. Membangun dasar bagi pengukuran, analisis, dan evaluasi kinerja dalam satuan kerja yang berlaku dalam organisasi.




2.1.2 Pengertian Efektivitas Kinerja.

Stoner, (dalam Tika,2006:121) mengemukakan bahwa kinerja adalah fungsi dari motivasi, kecakapan, dan persepsi peranan.

Bernardin dan Russel (dalam Tika,2006:121) kinerja sebagai pencatatan hasil - hasil yang diperoleh dari fungsi - fungsi pekerjaan atau kegiatan tertentu selama kurun waktu tertentu.
Handoko (dalam Tika,2006:121) mendefinisikan kinerja sebagai proses dimana organisasi mengevaluasi atau menilai prestasi kerja karyawan.

Pengukuran keberhasilan dalam penyelesaian kerja guna tercapaianya keberhasilan dan gambaran kegagalan pada satuan organsasi kerja, yang menjalankan tugas pokok dan fungsinya sulit untuk dilakukan secara obyektif. Untuk menyukseskan program kerja dalam penyelesaian tugas perlu terlebih dahulu menyusun dan menetapkan efektifitas kerja terlebih dahulu, hal ini dianggap penting guna pencapaian tugas secara tepat. Berikut ini syarat – syarat pencapaian kinerja secara efektif ;
a. Spesifik dan jelas, sehingga dapat dipahami dan tidak ada kemungkinan kesalahan dalam interprestasi penyelesaian kerja.
b Dapat diukur secara obyektif baik yang bersifat kualitatif maupun kuantitatif
c Pencapaian tugas penting dan berguna untuk menunjukkan keberhasilan memasukan, serta mengeluarkan hasil dan manfaat.
d Harus cukup fleksibel dan sensitife terhadap perubahan atau penyesuaian pelaksanaan dan hasil pelaksanaan kegiatan kerja dalam organisasi.
e Relevansi terhadap tugas dan kegiatan dalam penyelesaian tugas dan tanggungjawab
f. Efektif, data atau informasi yang berkaitan dengan indikator kinerja yang
bersangkutan dan bagaimana proses pengumpulan pengolahan dan analisis
yang tepat.

Efektivitas Kerja sebagaimana disimpulkan Nayono (2000;114) merupakan proses kegiatan dari pada seorang pimpinan (Manager) dan anggota atau Pegawai yang dilakukan dengan cara - cara yang baik dan tepat. Efektivitas Kerja merupakan salah satu sarana penyampaian informasi secara efektif dan memiliki muatan penyampaian langsung maupun pelayanan secara kelompok.
Untuk memudahkan pemahaman mengenai Efektivitas Kerja berikut ini pengertian Efektivitas Kerja menurut Tannenbaum dalam Steers (1985:50) yang meninjau efektifitas dari sudut pencapaian tujuan. Steers juga menjelaskan bahwa pada dasarnya teori – teori tentang efektivitas organisasi mencakup tiga konsep yang saling berhubungan satu sama lainnya diantaranya 1) Optimalisasi tujuan kerja 2) Pendekatan Sistem Kerja dan 3) Perilaku manusia dalam organisasi.
Efektivitas Kerja adalah fungsi yang berhubugan dengan perolehan hasil tertentu dari orang lain sebagai bentuk referensi (Sumber) yang dapat dijadikan sebagai bentuk pelayanan yang maksimal dan memperoleh hasil yang baik.
Rumusan diatas agak berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Etzioni (1985:12) sebagai berikut : “Efektivitas Kerja itu merupakan pengukuran sejauhmana pencapaian tugas yang dicapai oleh pegawai”.
Berdasarkan uraian pengertian diatas dapat dikatakan bahwa Efektivitas Kerja itu merupakan kegiatan pimpinan dan Pegawai/staf dengan menggunakan segala sumber yang diperlukan untuk mencapai tujuan organisasinya. Sumber - sumber tersebut terutama adalah Human Resources (Sumber daya manausia), sebagaimana yang di kemukakan Barnard dalam Gibson (1994:11) sebagai berikut : “Efektivitas Kerja adalah pencapaian sasaran yang telah disepakati atau usaha bersama. Melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian dan pengontrolan dari pada “Human and natural resources” (Terutama Human Resources) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu”.







2. Kerangka Pemikiran

Dalam mengukur efektifitas kinerja pegawai kantor Kementerian Agama secara ringkas kerangka dapat dinarasikan sebagai berikut :
Pegawai pada kantor Kementerian Agama dalam melaksanakan tugasnya senantiasa mengedepankan efektifitas kerja dalam melayani masyarakat di wilayah Kementerian Agama. Efektif pelayanan yang dimaksud dalam hal ini adalah efektif melayani masyarakat baik dibidang Pemerintahan, Ketenteraman dan Ketertiban, Kesejahteraan Sosial, Pertanahan maupun bidang Pendidikan, sehingga berdampak pada kepuasan masyarakat, efektifitas kinerja tersebut dapat digambarkan sebagaimana pada kerangka sebagai berikut


Dalam meningkatkan efektifitas kinerja pegawai pada Kantor Kementerian Agama maka kerangka pelayanannya adalah sebagai berikut :

Kerangka Pemikiran.
Efektifitas Kinerja Pegawai Pada Kantor Kementerian Agama
Kabupaten Boalemo.

















Gambar 1

BAB IV
PENUTUP.

4.1. Kesimpulan.
Berdasarkan pembasan pada bab sebelumnya maka penulis menyimpulkan bahwa :
1. Dengan efektivitas kerja dapat memastikan pemahaman para pelaksana kerja dalam menyelesaikan tugasnya, guna pencapaian kerja yang lebih efektif dan efisisen
2. Mempermudah segalah pencapaian tugas sesuai rencana kerja yang disepakati dan ditetapkan sebelumnya
3. Memonitori dan mengevaluasi pelaksanaan kerja dan membandingkannya dengan rencana kerja serta melakukan tindakan kerja yang lebih baik dan tepat dalam efisiensi kerja.
4. Memberikan penghargaan dan hukuman yang obyektif atas prestasi pelaksanaan tugas yang telah diukur sesuai dengan sistem pengukuran kinerja.Menjadi alat komunikasi antar bawahan dan pimpinan dalam rangka upaya memperbaiki kinerja dalam organisasi.
4.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis menyarankan bahwa :
1. efektitas kinerja pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Boalemo perlu ditingkatkan dengan mengoptimalkan sarana dan prasana
2.

















DAFTAR PUSTAKA




Etzioni, Amitu. 1985. Organisasi – Organisasi Modern, Terjemahan, Jakarta : UI – Press dan Pustaka Bradjaguna

Klinger, Fred N.1990, Azas azas Penelitian Behavioural, Terjemahan,
Yogyakarta : Gadjah Mada University Press

Maleong, Lexi J.,2000, Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : Remaja Rosdakarya

Manullang,1985.Dasar-Dasar Management. Ghalia Indonesia. Jakarta
Nayono, 1987. Mengenal Kehidupan Berorganisasi, BP. Kedaulatan Rakyat.
Yogyakarta
Syamsi, Ibnu,1994. Dasar-Dasar Kebijaksanaan Keuangan Negara. Bina Aksara Jakarta

Suharsimi Arikunto.1991. Metode Penelitian Survai. LP3ES : Jakarta

Sugiyono, 2005. Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Alfabeta
Steers, Richard M. 1985. Efektivitas Organisasi, Terjemahan, Jakarta : Erlangga/LPPM

Wayan. Ardhana,1991. Metode Pengumpulan Data Kualitatif, Terjemahan. LP3ES























































































































































































































































































































































































































Secara jelas tugas pokok dan fungsi masing – masing seksi adalah sebagai berikut :
1. Seksi Pemerintahan
Seksi pemerintahan dalam kegiatannya bertugas dan berfungsi membantu camat dalam menyiapkan bahan perumusan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan urusan pemerintahan. (Sesuai Keputusan Bupati Boalemo Nomor : 41 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Perda No. 21 Tahun 2005 Bab IV Pasal 6)

2. Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum
Seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum dalam kegiatannya bertugas dan berfungsi membantu camat dalam menyiapkan bahan perumusan kebijakan, pelaksanaan, evaluasi dan pelaporan urusan Ketenteraman dan Ketertiban Umum. (Sesuai Keputusan Bupati Boalemo Nomor : 41 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Perda No. 21 Tahun 2005 Bab IV Pasal 7)

3. Seksi Sosial dan Kesejahteraan Rakyat
Seksi Sosial dan Kesejahteraan Rakyat Umum dalam kegiatannya bertugas dan berfungsi :
- Membantu camat dalam melakukan pembinaan dan pengembangan ketenagakerjaan dan perburuan
- Melakukan pembinaan kegiatan pemberdayaan masyarakat
- Memfasilitaasi kegiatan organisasi sosial kemasyarakatan dan lembaga swadaya masyarakat.
- Pembinaan lembaga adat dan suku terasing.
- Pencegahan dan penanggulangan bencana alarn dan pengungsi serta penanggulangan sosial.
(Sesuai Keputusan Bupati Boalemo Nomor : 41 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Perda No. 21 Tahun 2005 Bab IV Pasal 8)

4. Seksi Pertanahan
Seksi Pertanahan dalam kegiatannya bertugas dan berfungsi :
- Membantu camat dalam melakukan pengawasan atas tanah - tanah Negara dan tanah aset Pemda diwilayah kerjanya.
- Pembantuan terhadap pelaksanaan pembebasan tanah milik dan pelepasan hak yang akan dipergunakan untuk kepentingan pembangunan serta peralihan status tanah dari tanah Negara menjadi hak milik sesuai dengan ketentuan peraturan perundang - undangan.
- Pembantuan dalam, hal penetapan peruntukkan.
- Proses pengalihan dan perubahan status tanah kekayaan desa yang berubah menjadi kelurahan.
- Melakukan pelaksanaan monitoring dan inventarisasi terhadap setiap kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan tanah terlantar, tanah negara bebas dan tanah timbul diwilayah kerjanya.
(Sesuai Keputusan Bupati Boalemo Nomor : 41 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Perda No. 21 Tahun 2005 Bab IV Pasal 9)

5. Seksi Pendidikan
Seksi Pendidikan dalam kegiatannya bertugas dan berfungsi:
- Membantu camat dalam memfasilitasi penyelenggaraan Taman Kanak Kanak dan Sekolah Dasar.
- Melakukan pembinaan dan pengawasan kegiatan program pendidikan generasi muda, keolahragaan, kebudayaan, kepramukaan serta peranan wanita.
- Memfasilitasi penyelenggaraan sarana pendidikan, pelaksanaan penyuluhan program wajib belajar.
- Melaksanakan pelantikan dan pengambilan sumpah Kepala Seklah Dasar Negeri (SDN) dan Madrasah Ibidaiyah Negeri (MIN)
(Sesuai Keputusan Bupati Boalemo Nomor : 41 Tahun 2005 tentang Pelaksanaan Perda No. 21 Tahun 2005 Bab IV Pasal 10)

Dari uraian tugas pokok dan fungsi masing – masing seksi pada Kantor Camat Botumoito selalu berusaha dalam memaksimalkan pelayanan. Sehingga masyarakat merasa puas dan senang akan sistim pelayanan pada kantor Camat Botumoito.
Satu contoh kasus pelaksanaan kegiatan Pembangunan Sekolah Dasar Negeri. Kegiatan ini melibatkan semua seksi yang ada pada Kantor Camat Botumoito. Karena pada program kegiatan ini seksi Pendidikan yang berkaitan langsung dengan kegiatan ini namun seksi - seksi lain ikut bertangung jawab terhadap kegiatan pembangunan sekolah dimaksud.
Sebagai wujud pertanggung jwabannya adalah pada seksi pemerintahan mendata di Desa mana pembangunan sekolah tersebut dibangun. Sementara Desa secara organisasi melalui garis komando kasi pemerintahan.
Selain itu seksi Ketenteraman dan Ketertiban Umum jelas tanggung jawabnya pada kelancaran pembangunan sekolah tersebut pada sisi keamanannya. Karena tidak menutup kemungkinan program kegiatan tersebut ada pihak - pihak yang mengganggu proses pelaksanaan kegiatan pembangunan tersebut.
Seksi Sosial dan Kesejahteraan Rakyat tentu peranannya dalam pembangunan sekolah dimaksud adalah memberikan pelayanan soal masalah sosial yang erat hubungannya dengan pembangunan SDN diwilayah Kementerian Agama.
Seksi pertanahan juga cukup jelas peranannya, karena tanah tempat pembangunan SDN merupakan tugas seksi pertanahan dalam mengolah aset khususnya yang berhubungan dengan pertanahan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar