Daftar Blog Saya

Menurut anda blogspot ini bagaimana?

Senin, 28 Agustus 2017

TESIS PENGARUH KECERDASAN EMOSIONAL KECERDASAN SPIRITUAL DAN KECERDASAN INTELEKTUAL TERHADAP PENGEMBANGAN KARAKTER GURU SEKOLAH DASAR

PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Setiap orang pada dasarnya menginginkan menjadi manusia yang ideal, namun demikian yang terjadi terkadang justru sebaliknya. Dari berbagai media masa diketahui berbagai tindakan anarkis, konflik sosial, penuturan bahasa yang tidak santun, seks bebas, semakin banyaknya penggunaan narkoba dan kuropsi yang sudah merambah di semua lini. Semua itu merupakan tanda-tanda bahwa bangsa Indonesia sedang mengalami krisis moral (Depiyanti, 2012: 222). Hal tersebut tidak jauh berbeda dengan pernyataan yang dikemukakan oleh Lickona (2012) bahwa ada 10 aspek degradasi moral yang melanda suatu negara yang merupakan tanda-tanda kehancuran suatu bangsa yaitu: kekerasan dan tindakan anarki, pencurian, tindakan curang, pengabaian terhadap aturan yang berlaku, tuwuran antar siswa, ketidaktoleran, penggunaan bahasa yang tidak baik, kematangan seksual yang terlalu dini dan penyimpangannya, dan sikap perusakan diri. Berdasarkan fenomena tersebut maka pendidikan merupan hal sangat penting untuk mengatasi masalah-masalah diatas, yang tetunya tidak terlepas dari peranan guru. Guru merupakan tokoh sentral yang memegang peranan penting dalam mencerdaskan kehidupan Bangsa. Guru memiliki tugas dan tanggung jawab dalam mendidik, mengajar dan membina peserta didik agar menjadi manusia yang berguna bagi dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan Negara. Sebagimana telah dimanatkan dalam tujuan pendidikan nasional, dimana Pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang memilkiki pengetahuan, keterampilan dan sikap yang baik dalam rangka menunjang pembangunan nasional. Guru merupakan komponen terpenting dari pelaksanaan pendidikan untuk mengembangkan sumber daya siswa. Pentingnya peran guru juga disampaikan oleh Ho Chi Minh (t.t.) dalam Surya (2013:3) “tanpa adanya guru, maka pendidikan tidak akan ada, dan apabila pendidikan tidak ada maka tidak ada perkembangan ekonomi dan sosial”. Guru yang memiliki karakter baik akan lebih mudah melaksanakan tugas dan fungsinya dalam mendidik, mengajar dan melatih para siswanya, disamping harus memiliki kompetensi- kompetensi lainnya yang merupakan prasyarat sebagai guru professional. Guru sebagai tenaga professional mempunyai fungsi, peran dan kedudukan yang sangat penting dalam pencapaian Visi kementrian Pendidikan dan Kebudayaan 2015-2019 oleh karena itu profesi guru harus dikembangkan sebagai profesi yang bermartabat. Konsekuensi dari jabatan guru sebagai profesi diperlukan system pembinaan dan pengembangan keprofesian yang berkelanjutan, guna mendukung peran guru sebagai pebentuk karakter siswa. Karakteristik guru yang efektif dalam pengajaran akan tampak dalam situasi belajar yang diciptakannnya. Situasi belajar tersebut ditunjukkan dalam hal-hal berikut: (1) Keluwesan dalam mengajar, (2) Adanya empati dan kepekaan terhadap segala kebutuhan siswa, (3) Kemampuan mengajar sesuai dengan selera siswa, (4) Kemauan memberi peneguhan (reinforcement), (5) Kemauan memberi kemudahan, kehangatan dan cara mengajar yang tidak kaku, (6) Kemampuan menyesuaikan emosi, percaya diri dan ada keriangan dalam mengajar. Pembentukan karakter juga merupakan salah satu tujuan pendidikan nasional. Pentingnya pendidikan karakter dikemukakan oleh Budimansyah (2010: 49) bahwa “pengembangan karakter bukan saja menjadi kebutuhan bangsa Indonesia yang masih berusia muda, Amerika Serikat pun yang telah memiliki pengalaman hidup bernegara ratusan tahun tidak luput dari upaya ini.” Salah satu alternatif untuk menangani masalah karakter adalah melalui jalur pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai alternatif yang bersifat preventif karena pendidikan membangun generasi baru bangsa yang lebih baik. Sebagai alternatif yang bersifat preventif, pendidikan diharapkan dapat mengembangkan kualitas generasi muda bangsa dalam berbagai aspek yang dapat memperkecil dan mengurangi penyebab berbagai masalah budaya dan karakter bangsa. Memang diakui bahwa hasil dari pendidikan akan terlihat dampaknya dalam waktu 20 sampai 30 tahun yang akan datang tetapi memiliki daya tahan dan dampak yang kuat di masyarakat. Pembangunan karakter melalui satuan pendidikan dilakukan mulai dari pendidikan usia dini sampai pendidikan tinggi. (Kemendiknas, 2010: 5). Hal tersebut sejalan dengan yang dikemukakan oleh Johansson (2011) bahwa: “Schools have long been seen as institutions for preparing children for life, both academically and as moral agents in society. In order to become capable, moral citizens, children need to be provided with opportunities to learn moral values.” Guru memiliki tugas dan tanggung jawab sebagai salah satu pembentuk karakter peserta didik. Sumbangan karakter guru termasuk yang paling kontributif dan sangat menentukan dalam upaya peningkatan pengembangan kompetensi peserta didik. Pengaruh karakter seorang guru terhadap anak didiknya hampir sama dengan pengaruh orang tua terhadap anaknya. Bahkan sering kita menemui seorang anak, yang lebih mendengarkan guru dari pada orang tuanya. Hal ini mencerminkan bahwa pengaruh guru terhadap siswa sangatlah besar, termasuk dalam proses pembentukan karakternya. Seorang guru harus mem¬punyai kepercayaan diri dalam membimbing dan mendidik siswa sesuai dengan per¬kembangan kemampuannya. Dengan kebebasan berkreasi, guru diharapkan dapat mengem¬bangkan pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif, kreatif, dan inovatif sehingga potensi siswa berkembang secara maksimal. Guru berkarakter harus berusaha menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan. De¬ngan kreativitas metode pembelajaran, untuk mengurangi ke¬jenuhan dan menyesuaikan dengan konteks pembelajaran sehingga tumbuh kegairahan dan motivasi instrinsik dan ekstrinsik dalam diri siswa. Dengan karakter positif yang ditunjukkan guru, diharap¬kan pelanggaran disipilin di sekolah semakin ber¬kurang. siswa berperilaku wajar, percaya diri, jujur, disiplin dan bertanggung jawab. Itulah pentingnya guru berkarakter bagi pem¬bentukan karakter siswa. Posisi guru sebagai pilar dalam dunia pendidikan maka selayaknya guru yang harus menjadi teladan, sebagai mana ungkapan motivasi yang menyatakann bahwa guru adalah pribadi yang patut untuk digugu dan ditiru. Oleh karena itu Pendidikan yang ditangani oleh guru yang berkarakter akan melahirkan generasi yang berkarakter pula, di mana guru sebagai sentral pengamatan dan teladan bagi anak didiknya. Karakter yang diperlihatkan dan diajarkan oleh guru akan tertanam di dalam memori siswa dan akan menjadi master watak dan perilaku dalam menjalani kehidupannya kelak. Guru merupakan orang yang pertama dan utama dalam pendidikan di sekolah harusnya menjadi pola bagi anak didiknya. Mengajar, mendidik, dan melatih sebagai tugas utama guru merupakan posisi strategis dalam melahirkan anak didik yang berkarakter. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya diuraikan bahwa Tugas utama Guru adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi. Kita patut untuk memberikan apresiasi terhadap guru yang selama ini telah berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa, mengentaskan kebodohan dan membentuk kepribadian yang luhur serta memperjuangkan karakter bangsa yang bersih. Tetapi disisi lain, masih banyak guru yang berkarakter kurang baik dan culas yang masih didapati di sekolah sekolah. menurut Rachmi (2010:31) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut seseorang untuk belajar mengakui, menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat dan menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan seharihari. Kecerdasan emosional sebagai komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosinya. Emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional akan menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain (Rachmi, 2010: 61). Menurut Wahab dan Umiarso (2011:52) menyatakan kecerdasan spritual adalah kecerdasan yang sudah ada dalam setiap manusia sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup penuh makna, selalu mendengarkan suara hati nuraninya, tak pernah merasa sia-sia, semua yang dijalaninya selalu bernilai. Wechsler mendefinisikan “kecerdasan intelektual sebagai kumpulan kapasitas seseorang untuk bereaksi searah dengan tujuan, berpikir rasional, dan mengelola lingkungan secara efektif”. Menurut Wechsler (dalam Masaong dan Tilome, 2011:56) mendefinisikan kecerdasan Intelektual sebagai kumpulan kapasitas seseorang untuk bereaksi searah dengan tujuan, berpikir rasional, dan mengelola lingkungan secara efektif. Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan pengkualifikasian kecerdasan manusia yang didominasi oleh kemampuan daya pikir rasional dan logika. Karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Sedangkan menurut Kemendiknas (2010:3), Karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Karakter adalah tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan atau budi pekerti yang tumbuh dan tercermin di dalam sikap/tingkah laku seseorang yang kemudian akan membedakan orang tersebut dengan orang yang lainnya. Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan karakter pada satuan pendidikan telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius, (2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6) Kreatif, (7) Mandiri, (8) Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai, (15) Gemar Membaca, (16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, dan (18) Tanggung Jawab (Kemendiknas. 2010: 9-10). Nilai-nilai karakter di atas selayaknya dimiliki oleh guru profesional agar dapat membentuk siswa yang berkarakter pula. Itu artinya apapun perilaku guru di sekolah akan besar pengaruhnya bagi siswa. Kalau perilaku gurunya baik maka pasti siswa juga akan berperilaku baik pula, dan pastilah akan melahirkan siswa yang punya budi pekerti mulia dan berakhlakul karimah. Jika perilaku gurunya tidak baik maka pasti siswa akan berperilaku tidak baik pula. Karakter siswa yang telah terbentuk kini bukanlah hanya disebabkan oleh siswa itu sendiri, tetapi peran guru pun menjadi faktor penentu dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa-siswanya. Kecerdasan guru merupakan kunci keberhasilan atau kegagalan melaksanakan pembelajaran. Kemampuan guru dalam mensinergikan 3 kecerdasan tersebut akan bermuara pada ketercapakaian tujuan pembelaajaran dan sekolah. Sebagaimana Mulyasa (2012: 5) mengemukakan bahwa sukses tidaknya pendidikan dan pembelajaran di sekolah sangat dipengaruhi oleh kemampuan guru dalam mengelola setiap komponen sekolah (who is behind the school). Sedangkan menurut Masaong (2011: 8) bahwa keberhasilan guru dalam mengelolah pembelajaran merupakan implemantasi dari kemampuannya mengelolah kecerdasan emosional, kecerdasan spritual dan kecerdasan intelktualnya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keberhasilan atau kesuksesan pembelajaran dalam mencapai tujuan sekolah sangat ditentukan oleh metode strategi pembelajaran yang merupakan implemantasi dari tiga ranah kecerdasan yaitu kecerdasan emosional, kecerdasan spritual dan kecerdasan intelektual. Namun kenyataan di lapangan, masih banyak guru yang belum menunjukan kepiawaiannya dalam mensinergikan ketiga keceradasan tersebut dalam mengelolah pembelajarn. Ini artinya bahwa tujuan pendidikan sangat sulit tercapai karena faktor guru yang belum mampu mengelolah ketiga kecerdasannya dalam membina peserta didik. Maupun pembelajaran. Sebagaimana fenomena yang terjadi pada sebagian guru di Kecamatan Botumoito menunjukan bahwa kecerdasan emosional kecerdasan spritual dan kecerdasan intelektual belum dikelolah secara maksimal hal ini terlihat pada karakter yang kurang baik yang ditunjukan oleh guru seperti datang terlambat, pulang lebih cepat, siswa di kelas tidak terkontrol karena guru hanya meninggalkan bahan tanpa pengawasan, guru tidak memiliki perangkat pembelajaran kalaupun ada hanya sebagai pelengkap adminstrasi, tugas guru sebagai pengajar, pendidik, pelatih, penilai dan pembimbing sudah tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dan prilaku-prilaku lainya yang tidak wajar bagi seseorang yang mengemban amanah sebagai guru. Berdasarkan uraian diatas penulis dapat mengidentifikasi bahwa ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi karakter guru, antara lain sebagai berikut: (1) Faktor Internal yang meliputi: Jenis Ras atau Keturunan, Jenis kelamin Sifat Fisik, Kepribadian, Intelegensi. Bakat (2). Faktor Eksternal yang meliputi: Pendidikan: Agama, Kebudayaan, Lingkungan, Sosial Ekonomi, dengan demikian factor-faktor yang mempengaruhi karakter guru yaitu faktor pembawaan (dasar) atau factor endogen, factor keadaan (lingkungan) atau factor eksogen. Namun yang paling dominan adalah kecerdasan emosional , kecerdasan spritual, dan kecerdasan intelektual. Maka oleh sebab itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian dalam rangka untuk mengkaji lebih jauh dengan menggunakan angket yang disebarkan ke guru-guru dan diperdalam melalui wawancara kepada guru, wakil guru, guru dan tata usaha. Hal ini penulis lakukan dalam rangka mendeskripsikan pengaruh kecerdasan emosional, kecerdasan spritual dan kecerdasan intelektual dapat membina karakter guru yang terdiri dari karakter mandiri, karakter kreatif, karakter disiplin, karakter kerja keras. karakter bertanggung jawab dan karakter professional. Hal inilah menjadi dasar sehingga penulis sangat tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spritual, dan Kecerdasan intelektual Terhadap Pengembangan Karakter Guru SD Di Kecamatan Botumoito”, B. Indentifikasi Masalah Berdasarkan pada latar belakang masalah, diatas muncul berbagai masalah yang teridentifikasi sebagai berikut : 1. Terdapat sebagian guru yang tidak disiplin dalam melaksanakan tugas. 2. Kemampuan guru menyusun program pembelajaran belum optimal. 3. Terdapat guru yang sering meninggalkan tugas tanpa alasan yang jelas. 4. Terdapat guru yang sering menghukum siswa 5. Terdapat guru yang brerkarakter tidak baik seperti berkata kasar, tidak sopan, dan sombong 6. Masih banyak guru yang tidak mampu membimbing peserta didk dengan baik 7. Masih banyak guru yang bersifat masa bodoh terhadap kebutuhan siswa. 8. Masih banyak guru yang belum mampu berempati terhadap permasalahan siswa. C. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah diatas, maka rumusan masalah dalam penelitian adalah sebagai berikut: 1. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito? 2. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan spritual terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito? 3. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan intelektual terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito? 4. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan emosional, terhadap kecerdasan intelektual? 5. Apakah terdapat pengaruh kecerdasan spritual terhadap kecerdasan intektual? D. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecerdasan emosional terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito. 2. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecerdasan spritual terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito. 3. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecerdasan intelektual terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito. 4. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecerdasan emosional, terhadap kecerdasan intelektual. 5. Untuk mengetahui apakah terdapat pengaruh kecerdasan spritual terhadap Kecerdasan intelektual.   E. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan berguna untuk : 1. Peneliti Bermanfaat bagi pengembangan penelitian sejenis dimasa datang terutama yang berkaitan dengan pengaruh yang positif secara bersama-sama pengaruh kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual guru terhadap pengembangan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito yang menjadi salah satu aspek pokok yang harus diwujudkan dalam lembaga pendidikan sehingga menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. 2. Program Studi Manajemen Pendidikan a. Sebagai wahana untuk mempublikasikan pentingnya manajemen pendidikan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. b. Sebagai wahana pengkajian teori-teori kecerdasan dan aplikasinya dalam mewujudkan kualitas pendidikan yang lebih efektif. 3. Guru a. Meningkatkan pemahaman tentang pentingnya pengaruh kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual guru terhadap pengembangan karakter guru. b. Memperoleh informasi tentang pentingnya iklim sekolah yang kondusif dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu dan berkarakter   4. Dinas Pendidikan Sebagai masukan untuk pengembangan manajemen lembaga pendidikan dasar pada khususnya dan lembaga pendidikan pada umumnya. BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN A. Landasan Teori 1. Karakter Guru Secara bahasa, kata karakter berasal dari bahasa Yunani yaitu “charassein”, yang berarti barang atau alat untuk menggores, yang di kemudian hari dipahami sebagai stempel/cap. Jadi, watak itu stempel atau cap, sifat-sifat yang melekat pada seseorang. Watak sebagai sikap seseorang dapat dibentuk, artinya watak seseorang berubah, kendati watak mengandung unsur bawaan (potensi internal), yang setiap orang dapat berbeda. Namun, watak amat sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal, yaitu keluarga, sekolah masyarakat, lingkungan pergaulan, dan lain-lain. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, karakter merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Menurut Soemarno Soedarsono karakter adalah suatu nilai yang terpatri dalam diri kita melalui pendidikan, pengalaman, percobaan, pengorbanan dan pengaruh lingkung, di padukan dengan nilai nilai dalam diri manusia menjadi semacam nilai intrinsik yang wujud dalam sistem daya juang melandasi pemikiran, sikap dan prilaku. Sedangkan menurut Quraish Shihab karakter adalah himpunan pengalama tentang pendidikan, sejarah yang dapat mendorong suatu kemampuan di dalam diri, sehingga bisa menjadi alat ukur atau sisi seorang manusia dalam mewujudkannya, baik dalam pemikiran, sikap, dan prilaku termasuk karakter atau akhlak mulia dan budi pekerti. Karakter yang dimiliki oleh seseorang pada dasarnya terbentuk melalui proses pembelajaran yang cukup panjang. Karakter manusia bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Lebih dari itu, karakter merupakan bentukan atau pun tempaan lingkungan dan juga orang – orang yang ada di sekitar lingkungan tersebut. Karakter dibentuk melalui proses pembelajaran di beberapa tempat, seperti di rumah, sekolah, dan di lingkungan sekitar tempat tinggal. Pihak – pihak yang berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang yaitu keluarga, guru, dan teman sebaya. Karakter seseorang biasanya akan sejalan dengan perilakunya. Bila seseorang selalu melakukan aktivitas yang baik seperti sopan dalam berbicara, suka menolong, atau pun menghargai sesama, maka kemungkinan besar karakter orang tersebut juga baik, akan tetapi jika perilaku seseorang buruk seperti suka mencela, suka berbohong, suka berkata yang tidak baik, maka kemungkinan besar karakter orang tersebut juga buruk. Sutarjo Adisusilo, dengan mengutip pendapat F.W. Foerster menyebutkan bahwa karakter adalah sesuatu yang mengualifikasi seorang pribadi. Karakter menjadi identitas, menjadi ciri, menjadi sifat yang tetap, yang mengatasi pengalaman kontingen yang selalu berubah. Jadi karakter adalah seperangkat nilai yang telah menjadi kebiasaan hidup sehingga menjadi sifat tetap dalam diri seseorang, misalnya kerja keras, pantang menyerah, jujur, sederhana, dan lain-lain. Menurut Darmiyati Zuchdi, karakter adalah seperangkat sifat yang selalu dikagumi sebagai tanda-tanda kebaikan, kebajikan, dan kematangan moral seseorang. Lebih lanjut dikatakan bahwa tujuan pendidikan karakter adalah mengajarkan nilai-nilai tradisional tertentu, nilai-nilai yang diterima secara luas sebagai landasan perilaku yang baik dan bertanggung jawab. Arismantoro, dengan mengutip pendapat Alwisol, menyebutkan bahwa karakter diartikan sebagai gambaran tingkah laku yang menonjolkan nilai benar-salah, baik-buruk, baik secara eksplisit maupun implisit. Karakter berbeda dengan kepribadian, karena pengertian kepribadian dibebaskan dari nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter terwujud tingkah laku yang ditunjukkan ke lingkungan sosial. Menurut Thomas Lickona, karakter diartikan sifat alami seseorang dalam merespons situasi secara bermoral. Lickona menekankan tiga hal dalam mendidik karakter, yang dirumuskan dengan indah: knowing, loving, and acting the good. Dari berbagai definisi sebagaimana telah diuraikan diatas, dapat diperoleh sebuah pengertian bahwa, karakter merupakan serangkaian sikap (attitudes), perilaku (behaviors), motivasi (motivations), dan keterampilan (skills) seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak, sehingga ia dapat hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Pengembangan karakter dalam suatu sistem pendidikan adalah keterkaitan antara komponen-komponen karakter. Komponen-komponen karakter tersebut adalah yang mengandung nilai-nilai perilaku yang dapat dilakukan dan bertindak secara bertahap serta saling berhubungan. Seseorang yang sudah memiliki pengetahuan mengenai nilai-nilai perilaku diharapkan akan memiliki pula sikap dan emosi yang kuat untuk melaksanakannya. Hal itu baik terhadap Tuhan YME, dirinya sendiri, lingkungan, bangsa dan negara serta dunia internasional. Perkembangan menghasilkan bentuk-bentuk dan ciri-ciri kemampuan baru yang berlangsung dari tahap aktivitas yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan itu bergerak secara berangsur-angsur tetapi pasti melalui suatu bentuk atau tahap ke bentuk atau tahap berikutnya (Desmita 2009:4). Bahwasanya tingkah laku seseorang dapat diubah ketika diberi rangsangan-rangsangan yang disesuaikan dengan perubahan tingkah laku yang diinginkan. Menurut Hariyanto (2011:43), karakter adalah nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Karakter yang baik terdiri dari megetahui hal yang baik, menginginkan hal yang baik, dan melakukan hal yang baik dengan kata lain kebiasaan dalam cara berpikir, kebiasaan dalam hati, dan kebiasaan dalam tindakan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa karakter memiliki tiga bagian yang saling berhubungan yaitu: 1) Pengetahuan Moral.Terdapat banyak jenis pengetahuan moral berbeda yang perlu kita ambil seiring kita berhubungan dengan perubahan moral kehidupan. Pengetahuan Moral terdiri enam aspek yang menonjol antara lain sebagai berikut :a) Kesadaran Moral, yakni menyadari bahwa tindakan yang kita lakukan maupun situasi yang kita hadapi melibatkan permasalahan moral dan penilain moral. Seseorang perlu mengetahui bahwa tanggung jawab moral adalah pertama menggunakan pemikiran mereka untuk situasi yang memerlukan penilaian moral, kedua adalah memahami informasi dari permasalahan yang bersangkuatan didalam membuat penilaian moral. b) Mengetahui nilai moral, yakni pengetahuan nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain,kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, disiplin diri, integritas, kebaikan dan dorongan atau dukungan mendefinisikan seluruh cara tentang menjadi pribadi yang baik; c) Penentuan perspektif yakni, merupakan kemampuan untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi sebagaimana adanya, membayangkan mereka akan berpikir, bereaksi dan merasakan masalah yang ada. Kita tidak dapat menghormati orang lain dengan baik dan bertidak dengan adil apabila kita tidak memahami orang bersangkutan. d) Pemikiran moral yakni, melibatkan pemahaman apa yang dimaksud dengan moral dan mengapa harus aspek moral. f) Pengambilan keputusan,yakni kemmpuan menentukan keputusan dalam situasi dilematis, dengan mempertimbangkan konsekuensi yang paling mungkin terjadi sebagai akibat arah tindakan, g) Pengetahuan pribadi, yakni memahami dan mengetahui diri sendiri, mengulas kelakuan kita sendiri dan mengevaluasi perilaku kita secara kritis; 2) Perasaan Moral. Perasaan moral merupakan kemampuan tentang seberapa jauh kita peduli tentang bersikap jujur, adil, dan pantas terhadap orang lain jelas mempengaruhi apakah pengetahuan moral kita mengarah pada perilaku moral. Aspek-aspek perasaan moral antara lain sebagai berikut ; a) Hati Nurani. hati nurani memiliki empat sisi yaitu sisi kognitif yakni mengetahui apa yang benar, dan sisi emosional merasa berkewajiban untuk melakukan apa yang benar. Hati nurani mengikutsertakan, disamping pemahaman terhadap kewajiban moral, kemampuan untuk merasa bersalah yang membangun (constructive guilt), b) Harga diri. Ketika kita memiliki harga diri yang positif terhadap diri sendiri kita lebih mungkin memperlakukan orang lain dengan cara yang positif. Apabila kita memiliki sedikit atau tidak memiliki penghargaan diri sama sekali, maka sulit bagi kita untuk menghargai orang lain. Harga diri yang tinggi dengan sendirinya tidak menjamin karakter yang baik, c) Emapti merupakan identifikasi dengan atau pengalaman yang seolah-olah terjadi dalam keadaan yang lain. Empati memampukan kita untuk keluar dari diri kita sendiri dan masuk kedalam diri orang lain. Penurunan rasa empati menariknya kejahatan anak muda telah mengikutsertakan tindakan-tindakan brutal yang mengungkapkan penderitaan korban yang mendalam; d) Mencintai hal yang baik. Bentuk karakter yang tertinggi adalah mengikutsertakan sifat yang benar-benar tertarik pada hal yang baik. Orang yang baik belajar untuk tidak hanya membedakan antara baik dan yang buruk melainkan juga diajarkan untuk mencintai hal yang baik dan membenci hal yang buruk. Ketika orang mencintai hal yang baik, mereka senang melakukan hal yang baik. Mereka memiliki moralitas keinginan bukan hanya moral tugas; e) Kendali Diri. Merupakan kemampuan menahan diri agar tidak memanjakan diri kita sendiri. Pemanjaan diri dalam pengerjaan kesenangan yang menyebabkan banyak orang untuk menyerap diri mereka secara seutuhnya dalam pengerjaan keuntungan pinansial; f) Kerendahan Hati.Kerendahan hati merupakan kebaikan moral yang diabaikan namun merupakan bagian yang esensial dari karakter yang baik. Kerendahan hati merupakan sisi apektif pengetahuan pribadi. Hal ini merupakan keterbukaan yang sejati terhadap kebenaran dan keinginan untuk bertindak guna memperbaiki kegagalan kita. Rendah hati atau dalam Islam dikatakan tawadhu merupakan sikap merendahkan diri kepada yang berhak yaitu Allah yang maha suci lagi maha tinggi juga kepada orang-orang yang allah SWT perintahkan kita untuk bersikap tawadhu kepada mereka. Maka pada hakekatnya tawadhu adalah lebih umum dari khusyu, karena tawadhu mencakup pada sesama hamba dan pada sang pemilik hamba, sedangkan khushu tidak boleh dilakukan kecuali hanya pada sang pemilik hamba saja. Sifat tawadhu menimbulkan rasa persamaan, menghormati orang lain, toleransi, rasa senasib, dan cinta pada keadilan. Tetapi sebaliknya sifat takabbur membawa seseorang kepada budi pekerti yang rendah seperti dengki, marah, mementingkan diri sendiri, serta suka menguasai orang lain.orang-orang berakal sudah tentu menjauhkan diri dari sifat takabbur dan sombong. Pada kenyataannya sikap, sifat dan juga perilaku rendah hati baik dalam hal perkataan, hati dan juga gerakan (tingkah laku) tidak dimiliki oleh semua orang. Rendah hati sejati adalah merupakan perhiasan terindah dari orang-orang sholeh, perhiasan diri kaum mukmin yang sejati. Rendah hati adalah penawar dari kesombongan serta pengancur keangkuhan, dan meniadakan ketakaburan. Tidak banyak orang yang mampu rendah hati dalam lisan, hati dan juga perilaku karena rendah hati ini adalah sifat mulia yang hanya dapat dipunyai oleh orang-orang yang mulia. Sikap terhormat dan mulia ini hanya pantas bagi orang-orang yang terhormat dan mulia. Di dalam kerendahan hati terdapat kekuatan jiwa, karena seorang yang memiliki rendah hati akan selalu bisa menjadikan pikiran dan hatinya dalam mengendalikan nafsu. Sebaliknya orang yang tidak hati, mereka mudah menonjolkan kesombongan, arogan, takabur, memamerkan keangkuhan, kecongkakan. Sehingga hanya aura syetan dan iblis yang muncul dalam sikap dan perilakunya baik lisan, hati dan gerakan/perilaku. Firman Allah swt. dalam Al-qur’an: وَلَا تُصَعِّرۡ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمۡشِ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَرَحًاۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخۡتَالٖ فَخُورٖ Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Luqman: 18) Meskipun demikian ada masa ketika kita mungkin mengatahui apa yang harus kita lakukan, merasakan apa yang harus kita lakukan, namun masih gagal menerjemahkan pikiran dan perasaan kita kedalam tindakan. Tindakan moral terdiri dari aspek: a) Kompetensi yakni kemampuan untuk mengubah penilaian dan perasaan moral kedalam tindakan moral yang efektif. Untuk memecahkan suatu komplik dengan adil kita memerlukan keahlian praktis, mendengarkan menyampaikan sudut pandang kita tanpa mencermarkan nama baik orang lain, dan mengusahakan solusi yang dapat diterima semua pihak; b) Keinginan; Menjadi orang baik seringkali memerlukan tindakan keinginan yang baik, suatu pergerakan energi moral untuk melakukan apa yang kita pikir harus kita lakukan. Keinginan diperlukan untuk menjaga emosi dibawah kondali pemikiran, untuk melakukan tugas sebelum memperoleh kesenangan, untuk menolak godaan, menentang tekanan dan melawan gelombang keinginan; c) Kebiasaan; Dalam situasi besar pelaksanaan tindakan moral memperoleh manfaat dari kebiasaan orang yang memiliki karakter yang baik, yakni bertindak sebenarnya, dengan loyal, dengan berani, dengan baik, dan dengan adil tanpa merasa tertekan oleh arah tindakan sebaliknya. Berdasarkan uraian diatas maka perlu ada upaya membangun karakter guru agar dalam melaksanakan tugasnya guru terhindar dari tindakan-tindakan yang akan merugikan terutama dalam mendidik karakter siswa. Membangun karakter bangsa pada hakikatnya adalah agar suatu bangsa atau masyarakat memiliki hal sebagai berikut; 1) Adanya saling menghormati dan saling menghargai diantara sesama; 2) adanya rasa kebersamaan dan tolong menolong; 3) Adanya rasa persatuan dan kesatuan sebagaisuatu bangsa; 4) Adanya rasa peduli dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara; 5) Adanya moral, akhlak yang dilandaskan pada nilai-nilai agama; 6) Adanya perilaku dan sifat-sifat kejiwaan yang saling menghormati dan menguntungkan; 7) Adanya perilaku yang senantiasa menggambarkan nilai-nilai agama, nilai-nilai hukum dan nilai-nilai budaya; 8) Sikap dan perilaku yang menggambarkan nilai-nilai kebangsaan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka karakter suatu bangsa/masyarakat pada dasarnya dapat dikenali pada dua sifat, yaitu; 1) Karakter yang bersifat positif, yakni suatu tabiat, watak yang menunjukan nilai-nilai positif dalam kehidupan bermasyarakat, bengbangsa dan bernegara. 2) Karakter yang bersifat negatif, yakni tabiat, watak yang menunjukan nilai-nilai negatif terhadap kehidupann bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karakter mempunyai makna atau nilai yang sangat mendasar untuk mempengaruhi segenap pikiran, tindakan dan perbuatan setiap insan manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Nilai yang dimaksud adalah; (1). Kejuangan, (2). Semangat, (3). Kebersamaan atau Gotong royong, (4). Kepedulian atau solider, (5). Sopan santun, 6. Persatuan dan kesatuan, 7. Kekeluargaan, dan (8). Tanggung Jawab. Karakter seperti ini seharusnya dibangun terlebih dahulu melalui sebuah kesadaran kolegial setiap guru bahwa ia harus bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia. Seorang guru ideal ia harus mampu mendidik dirinya (otodidak) untuk selalu menjadi pribadi yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi peserta didik dan masyarakat. Konsep kejujuran dan berahlak mulia yang ditanamkan kepada peserta didik, seharusnya telah terlebih dahulu tertanam dalam diri pendidik. Bagaimana jadinya, jika pendidik mengarahkan peserta didik untuk bertindak dan berkata jujur, sedangkan ia tidak memberi contoh untuk bertindak jujur? Guru harus menjadi teladan bagi murid dan masyarakat dalam bertindak dan berkata jujur serta berahlak mulia. Guru harus menjadi contoh bagi murid dalam mengelola qolbu. Oleh karena itu, ia harus melakukan self actualisation tentang pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa. Dalam mengaktualisasikan hal tersebut, guru akan membangun dirinya untuk memiliki pribadi yang tidak mudah marah, mampu mengontrol emosi, dan dapat memberikan pertimbangan secara komprehensif dalam pengambilan keputusan. Setiap tindakan dan perbuatan guru selalu dilakukan dengan mengontrol emosi secara objektif, sehingga pribadi guru menjadi berwibawa di hadapan murid dan masyarakat. Guru menjadi peribadi yang “digugu dan ditiru” oleh murid dan masyarakat. Pembentukan karakter individu pada umumnya melalui berbagai proses dimana banyak faktor yang berperan selama proses pembentukan karakter berlangsung. Mengingat karakter suatu masyarakat, bangsa dan negara mempunyai nilai dan makna yang sangat strategis, maka faktor-faktor yang perlu dan senantiasa diperhatiakan oleh seorang guru antara lain: (1). Ideologi, (2). Politik, (3) Ekonomi, (4) Sosial Budaya, (5) Agama, (6) Normatif (Hukum dan peraturan perundangan), (7) Pendidikan, (8) Lingkungan, (9) Kepemimpinan.. Faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter guru, Menjadi guru yang berkarakter merupakan hal yang penting, karena Karakter menunjukkan siapa kita sebenarnya dan menentukan bagaimana seseorang membuat keputusan. Karakter juga menentukan sikap, perkataan, dan tindakan seseorang dimana hal-hal tersebut dapat membantu untuk mencapai kesuksesan. Karakter terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, bersikap, dan bertindak. Kebajikan terdiri atas sejumlah nilai, moral, dan norma, seperti jujur, berani bertindak, dapat dipercaya, dan hormat kepada orang lain. `Campbell dan R. Obligasi (1982) menyatakan ada beberapa faktor yang berpengaruh dalam pembentukan karakter seseorang: 1) Faktor keturunan, 2) Pengalaman masa kanak-kanak, 3) Pemodelan oleh orang dewasa atau orang yang lebih tua, 4) Pengaruh lingkungan sebaya, 5) Lingkungan fisik dan sosial, 6) Subtansi materi di sekolah atau lembaga pendidikan lain, 7) Media massa Untuk mengembangkan karakter yang baik perlu ada suatu penentuan dan pendefinisian kualitas karakter yang akan ditanamkan sehingga dapat dimengerti oleh semua orang, antara lain dengan memberikan ilustrasi-ilustrasi atau aktivitas. Dalam proses pembentukan karakter yang baik perlu adanya kontrol internal dan kontrol sosial yang menuntut individu untuk memiliki karakter positif tertentu. Demikian juga halnya sebagai pendidik (guru) dalam suatu komunitas pendidikan, dibutuhkan karakter seperti jujur, perhatian, sabar, dan karakter positif lain, sebab pendidik dalam komunitas pendidikan berperan sebagai teladan dan model bagi anak didiknya. Sebuah karakter yang ditulis dalam buku memang tidak mudah untuk dipraktekkan apalagi berhubungan dengan banyak faktor yang lain. Berikut ini adalah karakter yang bisa menjadikan seorang guru menjadi guru profesional.antara lain: 1) Rendah hati Rendah hati adalah karakter dimana seorang guru yang berpikiran terbuka akan mudah menerima hal-hal baru. Ditengah pesatnya pertumbuhan dan segala jenis akses informasi, maka semua orang harus belajar kembali dan mau menjadi seorang pembelajar. Kondisi ini membuat guru bisa menjadi mitra belajar yang menyenangkan bagi siswa maupun sesama guru. Dengan karakter rendah hati maka membuka jalan bagi masuknya ilmu baru, 2) Pandai mengelola waktu; Guru merupakan seseorang yang bekerja dengan administrasi dan tugas mengajar yang banyak pada setiap minggunya, dituntut agar pandai mengelola waktu. Tidak hanya siswa dikelas yang punya hak terhadap guru, tapi juga keluarga di rumah juga. Guru adalah salah satu pelaku pendidikan yang memiliki posisi strategis untuk mewujudkan cita-cita pembangunan karakter sesuai dengan amanat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 serta lebih dipertegas dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dimana fungsi dan tujuan pendidikan nasional, yaitu berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”(pasal 1 ayat 1). Profesi guru menjadi harapan banyak pihak dalam mengatasi perubahan di masyarakat saat ini.Banyak pihak yang merasa bahwa bangsa Indonesia telah mengalami perubahan yang sangat dramatis, baik dalam kepemilikan karakter maupun budaya sebagai jati diri bangsa. Menurut Budimansyah (2009) menyatakan terjadi perubahan masyarakat terutama “munculnya karakter buruk yang ditandai kondisi kehidupan sosial budaya penyabar, ramah, penuh sopan santun dan pandai berbasa-basi berubah menjadi pemarah, suka mencaci, pendendam, berbuat sadis, kejam, dan biadab”. Guru diharapkan mampu menanamkan kembali karakter bangsa yang sudah semakin berubah melalui pendidikan. Profesi guru menjadi harapan semua pihak, ketika perhatian pendidik informal sedang bergeser pada myopia politik sebagai sebuah lompatan. Dalam aspek budaya pun, bangsa kita sudah mulai kehilangan nilai-nilai dan kecintaan pada seni tradisional. Padahal, seni budaya dapat mengajari kita tentang kejujuran dan rasa malu. Bangsa kita diajari oleh seni untuk jujur pada dirinya dan juga kepada orang lain. Bangsa kita harus diajari untuk memiliki rasa malu jika melakukan perbuatan yang tidak terpuji, seperti memanipulasi data atau melakukan berbagai cara untuk menguntungkan kelompok atau golongannya. Untuk itu, diperlukan penanaman kembali rasa cinta pada seni dan budaya melalui Pendidikan. Tentu saja, profesi guru pula yang menjadi harapan. Demikian besar harapan pihak lain kepada profesi guru untuk mengembalikan dan memantapkan kembali karakter bangsa Indonesia. Dengan demikian, tentu saja guru harus menjadi contoh atau teladan terlebih dahulu bagi yang lain. Guru harus memantapkan kompetensi kepribadian sebagai seorang guru profesional. Sangat wajar jika guru secara otodidak mendidik diri untuk memantapkan karakter sebagai guru profesional. Apabila kita mencermati kembali fungsi pendidikan sebagaimana tertuang dalam Undang-undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa “Pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa”. Dari hal tersebut tergambar bahwa fungsi pendidikan tidak semata-mata mengembangkan kemampuan, namun juga dimaksudkan untuk membentuk watak dan peradaban suatu bangsa yang bermartabat. Pendidikan berfungsi sebagai pembentuk watak atau karakter bangsa yang bermartabat atau sebagai bangsa yang memiliki budaya. Bangsa yang bermartabat adalah bangsa yang menjunjung tinggi tata nilai dari suatu peradaban modern. Bangsa bermartabat adalah bangsa yang menjujung tinggi kebenaran, kejujuran, kesantunan, keramahtamahan, keberagaman, dan ketaatan pada aturan dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Pendidikan harus berfungsi membentuk bangsa untuk menjadi bangsa yang bermartabat dan bangsa yang dapat hidup di dunia modern. Sementara itu, tujuan pendidikan kita adalah “berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berahlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”. Tujuan pendidikan ini merupakan arah bagi semua penyelenggara dan pelaksana pendidikan dalam lingkup sistem pendidikan nasional. Manusia berahlak mulia adalah manusia yang memiliki ahlak atau perilaku yang baik dan terpuji sesuai dengan norma dan tata kehidupan masyarakat berbudaya. Dengan merujuk pada tujuan Pendidikan ini, maka seorang guru profesional harus memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi agar potensi siswa berkembang menjadi manusia (1) beriman dan bertaqwa; (2) berahlak mulia; (3) sehat; (4) berilmu; (5) cakap; (6) kreatif; (7) mandiri; (8) menjadi warga negara demokratis; dan (9) menjadi warga negara yang bertanggung jawab. Sistem Pendidikan nasional sebagaimana digariskan dalam Pasal 31 UUD 1945 beserta peraturan perundangan turunannya merupakan instrumen untuk mewujudkan pembentukan karakter bangsa Indonesia, termasuk karakter seorang guru Indonesia. Untuk itu, diperlukan suatu Pendidikan guru berbasis pada pembangunan karakter bangsa. Tujuan utama Pendidikan karakter adalah untuk menumbuhkan karakter warga negara, baik karakter privat, seperti tanggung jawab moral, disiplin diri dan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia dari setiap individu; maupun karakter publik, misalnya kepedulian sebagai warga negara, kesopanan, mengindahkan aturan main (rule of law), berpikir kritis, dan kemauan untuk mendengar, bernegosiasi dan berkompromi (Winataputra dan Budimansyah, 2007:192). Pengembangan karakter lebih mengarah pada peningkatan kepribadian yang akan tertanam secara mendalam dalam diri. Pada masa orde lama pernah diungkapkan bahwa untuk mengatasi lunturnya idealisme bangsa diperlukan character building, yang disampaikan oleh Presiden Sukarno pada Pidato Kenegaraan tanggal 17 Agustus 1962. Character building ini dilakukan melalui lembaga Pendidikan melalui mata pelajaran khusus atau memasukkan konsep nation character pada setiap mata pelajaran.Pendidikan karakter lebih mengedepankan kemampuan emosional dan spiritual yang dalam kompetensi profesi pendidik termasuk ke dalam kompetensi kepribadian. Berdasarkan uraian ini, tampaknya pengembangan karakter bagi seorang guru merupakan pandangan ideal. Dalam mengimplementasikan hal ini dapat ditempuh melalui proses otodidak guru yang dilakukan dengan berintrospeksi. Dalam suatu organisasi informal seperti Kelompok Kerja Guru (KKG) maupun Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) pun dapat dilakukan Pendidikan dan latihan berbasis karakter untuk memantapkan kompetensi kepribadian seorang guru. Ronnie mengemukakan ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi siswa. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru antara lain: (1) kasih sayang, (2) penghargaan, (3) pemberian ruang untuk mengembangkan diri, (4) kepercayaan, (5) kerjasama, (6) saling berbagi, (7) saling mendengar, (8) saling memotivasi, (9) saling berinteraksi secara positif, (10) saling menanamkan nilai-nilai moral, (11) saling mengingatkan dengan ketulusan hati, (12) saling menularkan antusiasme, (13) saling menggali potensi diri, (14) saling mengajari dengan kerendahan hati, (15) saling menginspirasi, (16) menghormati perbedaan. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan karakter guru dalam penelitian ini adalah proses atau upaya yang dilakukan untuk membina, memperbaiki,dan mengembangkan tabiat, watak, sifat, kejiwaan dan ahlak mulia dari seorang guru, sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal melalui: (1) Karakter privat (tanggung jawab moral, disiplin diri, dan penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, (2) Karakter public (kepedulian sebagai warga negara, kesopanan, berpikir kritis, dan kemauan untuk mendengar. 2. Kecerdasan Setiap individu normal memiliki kecerdasan-kecerdasan seperti kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan yang terpenting kecerdasan spiritual. Masing-masing kecerdasan itu telah ada sejak manusia lahir. Manusia mengenal dirinya sendiri dan menyadari siapa dia, dari mana, di mana dia berada, dan kemana dia pergi. Menurut Yani, 2011:53) kecerdasan sebagai keseluruhan kemampuan individu untuk memperoleh pengetahuan, menguasai dan mempraktekkannya dalam pemecahan suatu masalah. Sedangkan menurut Susanto (2004:68) menyatakan kecerdasan merupakan kemampuan yang dimiliki seseorang untuk melihat suatu masalah lalu menyelesaikannya atau membuat sesuatu yang dapat berguna bagi orang lain. Hal yang sama diungkapkan oleh Amstrong (2009: 71) menyatakan kecerdasan adalah kemampuan untuk menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu seseorang. Menurut Binet (Lesmana, 2010:31), mengatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahan suatu tujuan untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan untuk untuk bersikap kritis terhadap diri sendiri. Hal ini sejalan dengan pendapat Gardner yang mengatakan bahwa kecerdasan adalah kemampuan untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu aturan yang bermacam-macam dan situasinya yang nyata (Yani, 2011:61). Dengan demikian, dari beberapa pengertian di atas kecerdasan dapat diartikan sebagai kesempurnaan akal budi seseorang yang diwujudkan dalam suatu kemampuan untuk memperoleh kecakapan-kecakapan tertentu dan untuk memecahkan suatu persoalan atau masalah dalam kehidupan secara nyata dan tepat. 2.1 Kecerdasan Emosional Secara sederhana kecerdasan emosional diartikan sebagai penggunaan emosi secara cerdas. Menurut Ginanjar (Masaong, 2003:62) megemukkan bahwa Kecerdasan emosional diartikan sebagai kemampuan untuk mendengarkan bisikan emosional, dan menjadikannya sebagai sumber informasi maha penting untuk memahami diri sendiri dan orang lain demi mencapai suatu tujuan. Hal senada menurut Goleman (2005:43) mengemukakan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, serta mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain. Sedangkan menurut Rachmi (2010:31) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi dan pengaruh yang manusiawi. Kecerdasan emosi menuntut seseorang untuk belajar mengakui, menghargai perasaan diri sendiri dan orang lain serta menanggapinya dengan tepat dan menerapkan secara efektif energi emosi dalam kehidupan seharihari. Kecerdasan emosional sebagai komponen yang membuat seseorang menjadi pintar menggunakan emosinya. Emosi manusia berada di wilayah dari perasaan lubuk hati, naluri yang tersembunyi dan sensasi emosi yang apabila diakui dan dihormati, kecerdasan emosional akan menyediakan pemahaman yang lebih mendalam dan lebih utuh tentang diri sendiri dan orang lain (Rachmi, 2010: 61). Kecerdasan emosional dapat dilihat dari dua domain, yaitu: pertama domain kecakapan pribadi yang mencakup kesadaran diri, pengaturan diri dan motivasi; kedua domain kecakapan sosial yang mencakup; empati dan keterampilan social, (Masaong dan Tilome, 2014). Menurut Goleman (2005: 26), bahwa kemampuan akademik bawaan, nilai rapor, dan prediksi kelulusan pendidikan tinggi tidak memprediksi seberapa baik kinerja seseorang sudah bekerja atau sebarapa tinggi sukses yang dicapainya dalam hidup. Seperangkat kecakapan khusus seperti empati, disiplin diri, dan inisiatif mampu membedakan orang sukses dari mereka yang berprestasi biasa-biasa saja, selain kecerdasan akal yang mempengaruhi keberhasilan orang dalam bekerja, (Goleman, 2005: 26). Menurut Goleman (2005:34) mengungkapkan : “Kecerdasan emosional memiliki beberapa kualitas penting bagi keberhasilan seseorang diantaranya: kualitas berempati, kemampuan dan mengungkapkan serta memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat”. Ciri-ciri lain kecerdasan emosional antara lain kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri, dan bertahan menghadapi frustasi; mengendalikan dorongan hati, dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasana hati; dan menjaga agar bebas stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir berempati dan berdoa” (Goleman, 2007: 45) Menurut Goleman (2005:75), kecerdasan emosional dapat dikelompokan menjadi lima bagian yaitu tiga komponen berupa kompetensi emosional (pengenalan diri, pengendalian diri dan motivasi) dan dua komponen berupa kompetensi sosial (empati dan keterampilan sosial). Lima komponen kecerdasan emosional tersebut adalah sebagai berikut: 1. Pengenalan Diri (Self Awareness) Pengenalan diri adalah kemampuan seseorang untuk mengetahui perasaan dalam dirinya dan digunakan untuk membuat keputusan bagi diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realistis atas kemampuan diri dan memiliki kepercayaan diri yang kuat. Unsur-unsur kesadaran diri, yaitu kesadaran emosi, penilaian diri, dan percaya diri. 2. Pengendalian Diri (Self Regulation) Pengendalian diri adalah kemampuan menangani emosi diri sehingga berdampak positif pada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati, sanggup menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, dan mampu segera pulih dari tekanan emosi. Unsur-unsur pengendalian diri, yaitu kendali diri, sifat dapat dipercaya, kehati-hatian, adaptabilitas, dan inovasi. 3. Motivasi (Motivation) Motivasi adalah kemampuan menggunakan hasrat agar setiap saat dapat membangkitkan semangat dan tenaga untuk mencapai keadaan yang lebih baik, serta mampu mengambil inisiatif dan bertindak secara efektif. Unsur-unsur motivasi, yaitu dorongan prestasi, komitmen, inisiatif, dan optimisme. 4. Empati (Emphaty) Empati adalah kemampuan merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Mampu memahami perspektif orang lain dan menimbulkan hubungan saling percaya, serta mampu menyelaraskan diri dengan berbagai tipe individu. Unsur-unsur empati, yaitu memahami orang lain, mengembangkan orang lain, orientasi pelayanan, memanfaatkan keragaman, dan kesadaran politis. 5. Keterampilan Sosial (Social Skills) Keterampilan sosial adalah kemampuan menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain, bisa mempengaruhi, memimpin, bermusyawarah, menyelasaikan perselisihan, dan bekerjasama dalam tim. Unsur-unsur keterampilan sosial, yaitu pengaruh, komunikasi, manajemen konflik, kepemimpinan, membangun hubungan, kolaborasi dan kooperasi, dan kemampuan tim. Sedangkan menurut Tridhonanto (2009:5) aspek kecerdasan emosi adalah: a) Kecakapan pribadi, yakni kemampuan mengelola diri sendiri. b) Kecakapan sosial, yakni kemampuan menangani suatu hubungan. c) Keterampilan sosial, yakni kemampuan menggugah tanggapan yang dikehendaki orang lain. Menurut Hariwijaya (2006:11), kecerdasan emosional menyangkut aspek-aspek penting, seperti: (1) Kemandirian, (2) Ketekunan, (3) Mengendalikan amarah, (4) Rasa hormat, (5) Keramahan, dan (6) Kesetiakawanan. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang guru dalam memahami, mengelola, dan memotivasi emosi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan indikator: (a) kemandirian, (b) ketekunan, (c) mengendalikan amarah, (d) rasa hormat, (e) keramahan, dan (f) kesetiakawanan. 2.2 Kecerdasan Spiritual Menurut Buzan (dalam Kurniasih, 2010:10-11) secara etimologi kata spiritualitas berasal dari “spirit” dan berasal dari kata Latin “spiritus”, yang di antaranya berarti “roh, jiwa, sukma, kesadaran diri, wujud tak berbadan, napas hidup, nyawa hidup”. Kecerdasan spiritual merupakan temuan terkini secara ilmiah yang pertama kali digagas oleh Danah Zohar dan Ian Marshall, masing-masing di Harvard University dan Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual dipaparkan Zohar dan Marsall dalam kecerdasan spiritual, dalam (The Ultimate Intellegence, London, 2000). Zohar dan Marshall (dalam A.G. Agustian; 2005:45) mendefinisikan Kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Dilihat dari bentuknya, menurut para ahli, spirit dibagi menjadi tiga tipe: (a) spirit subjektif berkaitan dengan kesadaran, pikiran, memori, dan kehendak individu sebagai akibat pengabstraksian diri dalam relasi sosialnya, (b) spirit objektif berkaitan dengan konsep fundamental kebenaran (right, recht), baik dalam pengertian legal maupun moral, dan (c) spiritual absolut yang dipandang sebagai tingkat tertinggi spirit adalah sebagai bagian dari nilai seni, agama, dan filsafat. Sedangkan secara psikologik, spirit diartikan sebagai “soul” (ruh), suatu makhluk yang bersifat nir-bendawi (immaterial being).Spirit juga berarti makhluk adikodrati, yang nir-bendawi.Karena itu dari perspektif psikologik, spiritualitas juga dikaitkan dengan berbagai realitas alam pikiran dan perasaan yang bersifat adikodrati, nir-bendawi, dan cenderung “timeless and spaceless”. Termasuk jenis spiritualitas adalah Tuhan, jin, setan, hantu, roh-halus, nilai-moral, nilai estetik dan sebagainya. Spiritualitas agama (religious spiritualiiy, religious spiritualness) Berkenaan dengan kualitas mental (kesadaran), perasaan, moralitas, dan nilai-nilai luhur lainnya yang bersumber dari ajaran agama. Spiritualitas agama bersifat Ilahiah, bukan bersifat humanistik lantaran berasal dari Tuhan. Lebih lanjut dijelaskan bahwa kecerdasan spiritual adalah suatu kemampuan dasar individu, berupa kecerdasan berpikir rasional untuk menganalisis dan menilai berbagai persoalan yang berkaitan dengan nilai, perilaku dan kualitas mental berkaitan dengan spiritual keagamaan. Kecerdasan spiritual sebagai pikiran yang mendapat inspirasi, dorongan, efektivitas yang terinspirasi, dan penghayatan ketuhanan yang semua manusia menjadi bagian di dalamnya. Kecerdasan spiritual sebagai fakultas dimensi non-material atau jiwa manusia. Kecerdasan spiritual sebagai intan yang belum terasah dan dimiliki oleh setiap insan. Manusia harus mengenali seperti adanya lalu menggosoknya sehingga mengkilap dengan tekad yang besar, menggunakannya menuju kearifan, dan untuk mencapai kebahagiaan yang abadi. Menurut Wahab dan Umiarso (2011:52) menyatakan kecerdasan spritual adalah kecerdasan yang sudah ada dalam setiap manusia sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup penuh makna, selalu mendengarkan suara hati nuraninya, tak pernah merasa sia-sia, semua yang dijalaninya selalu bernilai. Hal ini sejalan dengan pendapat Ludigdo dkk (2006:41) menyatakan bahwa Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu menempatkan perilaku dan hidup manusia dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, serta menilai bahwa tindakan atau hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Kecerdasan spiritual tidak mesti berhubungan dengan agama. Kecerdasan spiritual mendahului seluruh nilai spesifik dan budaya manapun, serta mendahului bentuk ekspresi agama manapun yang pernah ada. Namun bagi sebagian orang mungkin menemukan cara pengungkapan kecerdasan spiritual melalui agama formal sehingga membuat agama menjadi perlu. Ada 6 (enam) prinsip kecerdasan spiritual, yaitu : a. Prinsip yang berdasarkan iman kepada Tuhan yang Maha Kuasa. Semua tindakan yang dilakukan hanya untuk Tuhan dan tidak mengharap pamrih dari orang lain dan melakukannya sendiri. b. Prinsip berdasarkan iman kepada Malaikat. Semua tugas dilakukan dengan disiplin dan baik sesuai dengan sifat malaikat yang dipercaya oleh Tuhan untuk menjalankan segala perintah Tuhan yang Maha Kuasa. c. Prinsip Kepemimpinan pada Agama Islam yaitu prinsip berdasarkan iman kepada Rasullullah SAW. Seorang pemimpin harus memiliki prinsip yang teguh, agar mampu menjadi pemimpin yang sejati. Seperti Rasullullah SAW adalah seorang pemimpin sejati yang dihormati oleh semua orang. d. Prinsip Pembelajaran adalah prinsip berdasarkan iman kepada kitab. Suka membaca dan belajar untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran yang hakiki. Berpikir kritis terhadap segala hal dan menjadikan kitab suci sebagai pedoman dalam bertindak. e. Prinsip Masa Depan adalah prinsip yang berdasarkan iman kepada ”hari akhir”. Berorientasi terhadap tujuan, baik jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang, disertai keyakinan akan adanya ”hari akhir” dimana setiap individu akan mendapat balasan terhadap setiap tindakan yang dilakukan. f. Prinsip Keteraturan merupakan prinsip berdasarkan iman kepada ”ketentuan Tuhan”. Membuat semuanya serba teratur dengan menyusun rencana atau tujuan secara jelas. Melaksanakan dengan disiplin karena kesadaran sendiri, bukan karena orang lain. Menurut Sukidi dalam Setyawan (2004:13) mengemukakan tentang nilai-nilai dari kecerdasan spiritual berdasarkan komponen-komponen dalam SQ yang banyak dibutuhkan dalam dunia bisnis, diantaranya adalah sebagai berikut: (1) Mutlak Jujur, (2) Keterbukaan, (3) Pengetahuan diri, dan (4) Fokus pada kontribusi. Menurut Zohar dan Marshall (2007:14) menguji SQ dengan hal-hal berikut:a) Bersikap fleksibel seperti: kemampuan bergaul. b) Tingkat kesadaran diri yang tinggi seperti: kesadaran adanya tuhan. c) Kemampuan untuk menghadapi dan memanfaatkan penderitaan seperti: kesabaran, ikhlas/rela d) Kemampuan untuk menghadapi dan melampaui rasa sakit seperti: ketabahan. e) Keengganan untuk menyebabkan kerugian yang tidak perlu seperti: berkorban, meninggalkan ibadah Berdasarkan teori yang telah dikemukakan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan spiritual dalam penelitian ini adalah kecerdasan yang sudah ada dalam diri setiap manusia dalam hal ini guru sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup penuh makna dengan indikator : (a) Kemampuan bergaul, (b) kesadaran adanya tuhan, (c) ikhlas/rela, (d) ketabahan, dan (e) berkorban. 2.3 Kecerdasan Intelektual Menurut Wechsler (dalam Masaong dan Tilome, 2011:56) mendefinisikan kecerdasan Intelektual sebagai kumpulan kapasitas seseorang untuk bereaksi searah dengan tujuan, berpikir rasional, dan mengelola lingkungan secara efektif. Kecerdasan intelektual (IQ) merupakan pengkualifikasian kecerdasan manusia yang didominasi oleh kemampuan daya pikir rasional dan logika. Lebih kurang 80%, IQ diturunkan dari orangtua, sedangkan selebihnya dibangun pada usia sangat dini yaitu 0-2 tahun kehidupan manusia yang pertama. Sifatnya relatif digunakan sebagai prediktor keberhasilan individu dimasa depan. Implikasinya, sejumlah riset untuk menemukan alat (tes IQ) dirancang sebagai tiket untuk memasuki dunia pendidikan sekaligus dunia kerja (Amran, 2009: 62). Crow & Crow (dalam Masaong dan Tilome, 2011: 55) secara terperinci menyatakan inteligensi sering dikaitkan dengan daya ingatan, penalaran dan pemecahan masalah. Menurut Azwar, 2011:55), Inteligensi merupakan kemampuan atau kekuatan untuk melakukan sesuatu. Sedangkan Munandar, merumuskan inteligensi sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah atau untuk mencipta karya yang dihargai dalam satu kebudayaan. Hal senada dikemukakan oleh Dwijayanti (2009:24) menyebutkan kecerdasan intelektual sebagai suatu kemampuan yang terdiri dari tiga ciri yaitu: a) Kemampuan untuk mengarahkan pikiran atau mengarahkan tindakan, b) Kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan itu telah dilakukan, dan c) Kemampuan untuk mengkritik diri sendiri. Menurut Robins dan Judge (2008:57) mengatakan bahwa kecerdasan intelektual adalah kemampuan yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas mental berpikir, menalar dan memecahkan masalah. Sedangkan menurut Yani (2011) mengatakan bahwa kecerdasan intelektual adalah kemampuan untuk memperoleh, memanggil kembali (recall), dan menggunakan pengetahuan untuk memahami konsep-konsep abstrak maupun konkret dan hubungan antara objek dan ide, serta menerapkan pengetahuan secara tepat. Kecerdasan intelektual menurut Sternberg (2008:121) adalah sebagai kemampuan untuk belajar dari pengalaman, berfikir menggunakan prosesproses metakognitif, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Mudjib (dalam Masaong & Tilome, 2011: 56) menyatakan bahwa kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang berhubungan dengan kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Kecerdasan intelektual berhubungan dengan strategi pemecahan masalah dengan menggunakan logika. Kecerdasan intelektual merupakan kemampuan menganalisis, logika dan rasio seseorang. Dengan demikian, hal ini berkaitan dengan keterampilan bicara, kecerdasan akan ruang, kesadaran akan sesuatu yg tampak, dan penguasaan matematika. IQ mengukur kecepatan kita untuk mempelajari hal-hal baru, memusatkan perhatian pada aneka tugas dan latihan, menyimpan dan mengingat kembali informasi objektif, terlibat dalam proses berfikir, bekerja dengan angka, berpikir abstrak dan analitis, serta memecahkan masalah dan menerapkan pengetahuan yg telah ada sebelumnya (Anastasi, 2007:220). Menurut Azwar (2008:8), kecerdasan intelektual mahasiswa diukur dengan dimensi dan indikator sebagai berikut: a. Kemampuan memecahkan masalah, yaitu mampu menunjukkan pengetahuan mengenai masalah yang dihadapi, mengambil keputusan tepat, menyelesaikan masalah secara optimal, menunjukkan fikiran jernih. b. Intelegensi verbal, yaitu kosa kata baik, membaca dengan penuh pemahaman, ingin tahu sacara intelektual, menunjukkan keingintahuan. c. Intelegensi praktis, yaitu tahu situasi, tahu cara mencapai tujuan, sadar terhadap dunia sekeliling, menunjukkan minat terhadap dunia luar. Berdasarkan pendapat para ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa kecerdasan intelektual dalam penelitian ini adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu dengan indikator kemampuan memecahkan masalah, Intelegensi verbal, dan Intelegensi praktis. B. Hasil Penelitian Yang Relevan 1. Penelitian Masaong (2012), dengan judul Hubungan Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual dengan Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri Di Kota Gorontalo. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah tergolong tinggi, (2) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan emosional dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Gorontalo, (3) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan antara kecerdasan spiritual dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Gorontalo, (4) terdapat hubungan langsung yang positif dan signifikan secara bersama-sama antara kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual dengan gaya kepemimpinan kepala sekolah pada Sekolah Menengah Kejuruan Negeri di Kota Gorontalo. 2. Penelitian Nafsiah (2014), dengan Judul Pengaruh Kecerdasan Emosional Dan Kecerdasan Spiritual Auditor Terhadap Kinerja Auditor Pada Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sumatera Selatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual auditor secara simultan berpengaruh terhadap kinerja, dengan pengaruh sebesar 40.4 %. (2) Kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual auditor secara parsial berpengaruh terhadap kinerja, dengan pengaruh masing-masing 10 % dan 38.7%. 3. Penelitian Masaong & Tilome (2011), dengan judul Kepemimpinan Pendidikan berbasis multiple intelegence. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh yang positif dan signifikan antara kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dengan kecerdasan spiritual. Apabila guru mampu mengelola dengan efektif kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional serta kecerdasan spiritualnya maka memperkuat sinergi antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai guru secara optimal. Artinya, faktor kecenderungan spiritual, emosional dan intelektual menentukan baik tidaknya gaya kepemimpinan. yang didukung oleh pengendalian emosi yang matang, mempunyai kreativitas yang tinggi, mempunyai ketangguhan dalam bekerja, dan mempunyai rasa belas kasihan terhadap bawahannya. Pada umumnya pada penelitian diatas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini yang antara lainnya adalah sebagai berikut: Persamaan terletak pada variabel independen yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Sedangkan perbadaannya terletak pada variabel dependen. Selain itu perbedaannya juga terletak pada metode dan analisis penelitian yang digunakan dimana pada penelitian ini menggunakan metode Explanatory Survey Method dengan analisis jalur (path analisis). C. Kerangka Berpikir Guru sebagai aktor utama dalam pendidikan harus mempunyai karakter ataupun karaktersistik yang baik dalam dirinya. Sehingga dalam melakukan suatu tindakan guru harus melakukan pertimbangan-pertimbangan terhadap apa yang telah menjadi tanggung jawabnya sebagai seorang yang telah dipercaya untuk dapat mendidiksiswa melalui pendidikan yang berkualitas, didukung dengan karakteristik yang dimilikinya. Sehingga pembelajaran tersebut dapat tersampaikan dan diterima siswa dengan mudah. Disamping itu, terdapat keniscayaan bahwa proses perkembangan individu tidak selalu berpositif secara mulus, atau steril dari masalah. Perkembangan karakter guru tidak lepas dari pengaruh lingkungan, baik fisik, psikis, maupun sosial. Sifat inheren lingkungan adalah perubahan.Apabila perubahan terjadi itu sulit diprediksi. Atau diluar jangkauan kemampuan, maka akan melahirkan diskontinuitas perkembangan perilakuindividu, serperti terjadinya stagnasi (kemandegan) perkembangan, masalah-masalah pribadi, atau penyimpangan perilaku. 1. Kecerdasan Emosional dan Pendidikan Karakter Guru. Kecerdasan emosional merupakan salah satu bagian terpenting yang dapat membawa dan menentukan keberhasilan seseorang dalam meraih kesuksesan. Karena seseorang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi berarti ia dapat mengatur hidupnya dengan baik. Segala macam godaan dan hambatan yang merintangi hidupnya akan mudah ia atasi, karena emosi yang dimilikinya selalu mengajak kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran. Kecerdasan emosional merupakan kemampuan untuk merasakan dan memahami kepekaan emosi diri maupun emosi orang lain, pengendalian diri, semangat, dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi, kesanggupan mengendalikan dorongan hati dan emosi, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stress tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, mampu membaca dan memahami perasaan terhadap orang lain (empati) dan berdoa, memelihara hubungan baik, dan menyelesaikan permasalahan, serta kemampuan mendengar dan berkomunikasi secara lisan, beradaptasi, kreativitas, ketahanan mental terhadap kegagalan, kepercayaan diri, motivasi kerjasama tim serta keinginan memberi kontribusi terhadap orang lain/ organisasi Kecerdasan emosional merupakan bagian kecerdasan yang perlu dimiliki guru dalam menangani masalah karakter guru. Karena guru yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan senantiasa berpikir positif dan berperilaku baik serta mudah membina karakter guru yang positif. Penanganan masalah–masalah karakter guru agar berhasil, memerlukan kemampuan untuk memahami proses-proses serta faktor-faktor yang melandasinya. Sebab, masalah yang timbul di sekolah mungkin bersifat konstruktif, dalam hal mengambil keputusan terbaik untuk kepentingan sekolah, atau sebaliknya dapat menjadi destruktif karena terjadi sifat permusuhan. Sungguh pun kecerdasan emosional sangat penting sebagai basis manajemen karakter guru, tanggapan masyarakat terhadap kecerdasan emosional ini memang beragam, ada yang pro dan ada yang kontra, berbeda dengan tanggapan terhadap kecerdasan intelektual yang sudah diterima secara luas dalam masyarakat. Hal ini mungkin disebabkan karena kecerdasan emosional tidak memiliki aspek yang permanen karena emosi selalu berubah. Oleh karena itu kecerdasan emosional sangat penting dimiliki oleh guru dalam mengembangkan karakter guru dalam efektifitas pembelajaran dikelas. 2. Kecerdasan Spiritual dan Pengembangan Karakter Guru. Kecerdasan spiritual diartikan sebagai kecerdasan yang mendapat inspirasi, dorongan, dan efektivitas yang teinspirasi, serta penghayatan ketuhanan yang di dalamnya semua menjadi bagian.Spiritual adalah kecerdasan jiwa yakni tingkat baru kesadaran yang bertumpu pada bagian dalam diri yang berpengaruh dengan kearifan diluar ego atau jiwa sadar, yang menyembuhkan dan membangun diri manusia secara utuh, yang dengannya manusia tidak hanya mengakui nilai-nilai yang ada, tetapi lebih kreatif menemukan nilai-nilai baru, juga dapat menyeimbangkan makna dan nilai serta menempatkan kehidupan dalam konteks yang luas. Kecerdasan spiritual juga sebagai kemampuan manusia yang berkenaan dengan usaha memberikan penghayatan bagaimana agar hidup ini lebih bermakna.Kecerdasan spiritual juga dapat membantu mencerna dan mamahami prinsip-prinsip sejati yang merupakan bagian dari nurani kita, mendorong seseorang bekerja dengan iklhas, kebersihan orientasi dan tujuan.Kecerdasan spiritual membuat individu benar-benar manusiawi dan juga memiliki arah dan tujuan yang kuat dan benar.Seorang guru wajib memiliki kecerdasan spiritual serta implementasinya dalam mengelola masalah karakter guru itu sendiri dalam mengajar, mendidik murid-muridnya. Dengan kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh guru akan membawa dan menyelamatkan guru dari ancaman dekadensi moral yangakhir-akhir ini merebak dan merenggu guru baik dalam proses pembelajaran maupun pengaruh dengan lingkungan sosialnya. olehnya itu kecerdasan spiritual yang dimiliki oleh guru perlu diterapkan dan diaktualisasikan kepada seluruh warga sekolah dengan jalan memperbanyak ibadah, berlaku lemah lembut, rendah hati dalam bergaul dan mudah memaafkan orang lain, bijaksana dalam mengambil keputusan. Kecerdasan spiritual yang dimiliki guru akan nampak pada perilaku sebagai berikut ;Integritas, (kejujuran), Energy (semangat), Inspirasi (ide dan insiatif), Wisdom (bijaksana), dan keberanian dalam mengambil keputusan , sehingga kehadirannya sangat disenangi dan disegani oleh murid dan seluruh warga sekolah dan masyarakat. 3. Kecerdasan intelektual dan Pengembangan karakter guru. Kecerdasan intelektual merupakan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak terarah secara tepat berdasarkan pengalaman untuk memberikan respons dengan baik sebagai pemilih yang tepat, penghubung, pemecah masalah, negosiator, penyembuh dan pembangun sinergi untuk mencapai tujuan tertentu. Kecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang berpengaruh pada proses kognitif seperti berpikir, menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu. Kecerdasan intelektual merupakan salah satu kecerdasan yang diperlukan oleh seseorang karena kecerdasan intelektual merupakan modal awal untuk dapat melakukan sesuatu. Demikian pula guru juga memerlukan kecerdasan intelektual yang tinggi agar mampu memahamieksistensinya sebagai individu yang unik.Mampu memahami bahwaguru harus dilihat sebagai individu yang memiliki berbagai potensi yang berbeda satu sama lainnya, namun saling melengkapi dan berharga.guru juga sering mengalami berbagai pembelajaran dalam kehidupannya. Oleh karena itu kecerdasan intelektual juga dibutuhkan untuk mengelola masalah karakter guru sehingga pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dapat terselesaikan dengan maksimal. 4. Kecerdasan Emosional, dan kecerdasan Intelektual Kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, danKecerdasan intelektual merupakan kecerdasan yang dapat memperkuat sinergy antara satu dengan yang lainnya sehingga seseorang dapat menjalankan tugas secara optimal. Kecerdasan manusia yang terdiri dari Cortex cerebri yang berfungsi mengatur fungsi cognitive (kecerdasan intelektual), sistem limbik yang bertugas mengatur fungsi kecerdasan emosional dan lobus temporal yang bertugas mengatur kecerdasan spiritual.Kecerdasan emosional adalah mengorganisasikan yang hebat dalam bidang pikiran dan perbuatan, namun demikian tidak dapat dipisahkan dari penalaran dan rasionalitas (intelektual).Seseorang yang kemarahannya memuncak, kemampuannya menangani masalah-masalah kognitif yang rumit, maka kemampuan berpikirnya merosot tajam.Tanpa kecerdasan emosional maka seseorang tersebut tidak bisa menggunakan kemampuan intelektualnya sesuai dengan potensi secara maksimal. Kecerdasan emosional dan kecerdasan intelektual, membantu dan berperan serta saling menguatkan jika diarahkan secara konstruktif, emosi akanmeningkatkan kinerja kecerdasan intelektual. Dengan demikian maka sangat penting pula bagi guru memiliki kecerdasan intelektual, dan kecerdasan emosional yang tinggi, karena guru yang mengaktualisasikan kecerdasan tersebut secara bersamaan maka dapat menjalankan tugas dan tanggungjawabnya secara optimal terutama dalam pengembangan karakter guru itu sendiri. Tugas guru yang mendasar adalah sebagai pemimpin (leader) ini membutuhkan keahlian dalam rangka membantu guru dalam mengatasi berbagai permasalahan baik dalam mengelolah pembelajaran maupun dalam membina karakter. Oleh karena itu seorang guru disamping harus memenuhi persyaratan tertentu, misalnya persyaratan pendidikan formal, maka guru yang profesional juga harus memiliki empat unsure yaitu: kualitas pribadi, ketrampilan-ketrampilan antar pribadi konselor, ketrampilan-ketrampilan membedakan dan konseptualisasi dan ketrampilan-ketrampilan intervensi. Untuk mengoptimalkan keempat unsur tersebut tentunya guru perlu memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual yang tinggi. Secara skema, kerangka berpikir dapat digambarkan sebagai berikut : Gambar 1 Kerangka Berpikir   D. Hipotesis Penelitian Berdasarkan landasan teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut : 1. Terdapat Pengaruh Kecerdasan Emosional Terhadap Pendidikan Karakter Guru di Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo. 2. Terdapat Pengaruh Kecerdasan Spritual Terhadap Pendidikan Karakter Guru SD di Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo. 3. Terdapat Pengaruh Kecerdasan Intelektual terhadap Pendidikan karakter guru SD di Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo. 4. Terdapat Pengaruh Kecerdasan Emosional, Terhadap Kecerdasan Intelektual. 5. Terdapat Pengaruh Kecerdasan Spritual Terhadap Kecerdasan Intelektual BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo, dengan subyek penelitiannya adalah seluruh guru SD di Kecamatan Botumoito. Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Februari sampai bulan April 2017, yang dimulai dari: (1) seminar usulan penelitian, (2) prasurvey, (3) uji coba instrumen, (4) pengumpulan data, (5) analisis data, sampai dengan (6) penyelesaian laporan tesis. B. Metode dan Desain Penelitian 1. Metode Penelitian Metode penelitian ini menggunakan Explanatory Survey Method dimana penelitian ini dilakukan untuk mengambil suatu generalisasi dari pengamatan yang tidak mendalam, tetapi generalisasi yang dilakukan bisa lebih akurat bila digunakan sampel yang representtif. Analisis yang digunakan adalah analisis jalur (path analisis) untuk mengetahui sebab akibat, dengan tujuan menerangkan akibat langsung dan akibat tidak langsung seperangkat variable, sebagai variable penyebab terhadap variable lainnya yang merupakan variable terikat. Jadi jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, dimana data yang diperoleh dari sampel populasi penelitian kemudian diananlisis sesuai dengan metode atatistik yang digunakan lalu diinterprestasikan. 2. Desain Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara variable independen (Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Kecerdasan Intelektual) terhadap varibel dependen (Pengembangan Karakter Guru). Adapun desain penelitiannya adalah sebagai berikut: Gambar 2 Desain Penelitian βy1 βy13 βy3 βy23 βy2 Keterangan : X1 = Kecerdasan Emosional X2 = Kecerdasan Spritual X3 = Kecerdasan Intelektual Y = Pengembangan Karakter Guru βy1 = Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter Guru βy2 = Pengaruh Kecerdasan Spritual terhadap Pengembangan Karakter Guru βy3 = Pengaruh Kecerdasan Intelektual terhadap Pengembangan Karakter Guru βy13 = Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap Kecerdasan Intelektual βy23 = Pengaruh Kecerdasan Spritual terhadap Kecerdasan Inteltual Variable X1 dan X2 serta X3 adalah variable independen, yang mempunyai jalur pengaruh langsung dengan variable Y sebagai variable dependen. Variable X1 dan X2 juga mempunyai pengaruh langsung dengan X3 yang dalam hal ini X3 sebagai berfungsi sebagai variabel dependen. C. Populasi dan Sampel 1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru Sekolah Dasar yang ada di Di Kecamatan Botumoito Kab. Boalemo Provinsi Gorontalo dengan jumlah 113 orang guru, yang tersebar ke dalam 16 sekolah dengan rincian sebagai beikut: Tabel 1 Data Populasi Guru Sekolah Dasar Di Di Kecamatan Botumoito Kab. Boalemo Tahun Pelajaran 2016/2017 Nomor Nama Sekolah Jumlah Guru Sekolah Dasar 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 SDN 01 Botumoito SDN 02 Botumoito SDN 03 Botumoito SDN 04 Botumoito SDN 05 Botumoito SDN 06 Botumoito SDN 07 Botumoito SDN 08 Botumoito SDN 09 Botumoito SDN 10 Botumoito SDN 11 Botumoito SDN 12 Botumoito SDN 13 Botumoito SDN 14 Botumoito SDN 15 Botumoito SDN 16 Botumoito 10 7 8 8 8 7 7 8 7 6 9 7 6 6 5 4 Jumlah Guru 113 2. Sampel Jumlah anggota sampel dalam penelitian ini sebanyak 83 orang guru yang diperoleh dari jumlah total populasi dikurangi dengan jumlah responden pada saat uji instrumen Tabel 2 Data Sampel Guru Sekolah Dasar di Di Kecamatan Botumoito Kab. Boalemo Tahun Pelajaran 2016/2017 Nomor Nama Sekolah Jumlah Guru SD 1 SDN 01 Botumoito 8 2 SDN 02 Botumoito 6 3 SDN 03 Botumoito 6 4 SDN 04 Botumoito 6 5 SDN 05 Botumoito 6 6 SDN 06 Botumoito 6 7 SDN 07 Botumoito 6 8 SDN 08 Botumoito 5 9 SDN 09 Botumoito 5 10 SDN 10 Botumoito 5 11 SDN 11 Botumoito 7 12 SDN 12 Botumoito 6 13 SDN 13 Botumoito 5 14 SDN 14 Botumoito 5 15 SDN 15 Botumoito 4 16 SDN 16 Botumoito 3 Jumlah Guru 89 D. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data dalam kegiatan penelitian ini secara keseluruhan dapat diuraikan sebagai berikut. 1. Angket Data dalam penelitian ini meliputi kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, kecerdasan intelektual dan pengembangan karakter guru diukur dengan menggunakan kuesioner (angket). Teknik penyebaran angket dipilih dengan beberapa pertimbangan antara lain: (1) efisien karena dalam waktu singkat peneliti dapat menjangkau sejumlah responden, (2) dapat dijawab oleh responden menurut kecepatan masing-masing dalam waktu senggang yang tersedia, (3) dapat dibuat anonim, sehingga dengan jujur dan bebas mengeluarkan pendapatnya, dan (4) dapat dibuat standar sehingga responden menerima pertanyaan dan pernyataan yang sama (Tiro, dalam Masaong 2007). Untuk angket kecerdasan emosional terdiri dari 36 pernyataan (sebelum validasi), Angket kecerdasan spritual sebanyak 35 pernyataan (sebelum validasi), Angket kecerdasan intelektual sebanyak 30 pernyataan (sebelum validasi), dan Angket pengembangan karakter guru sebanyak 35 pernyataan (sebelum validasi). Keempat jenis instrumen ini disusun berdasarkan indikator-indikator yang dikembangkan dan dalam penilaiannya digunakan skala Likert, dengan jawaban yang tersedia terdiri atas 5 (lima) option dengan menggunakan rentang skala 1 – 5. Dalam menghitung validitas butir instrumen, peneliti menggunakan korelasi product moment dari Pearson yaitu korelasi antara skor butir dengan skor total (Djaali, 2008:53), dengan rumus sebagai berikut : Keterangan : : koefisien korelasi N : banyaknya subjek X : skor butir soal yang dicari validasinya Y : skor total XY : perkalian antara skor butir dengan skor total Jika > dengan , maka alat ukur dikatakan valid. Menurut Arikunto (2008:75), interperetasi terhadap nilai koefisien korelasi digunakan kriteria seperti berikut: 0,80 < ≤ 1,00 : validasi butir soal sangat tinggi 0,60 < ≤ 0,80 : validasi butir soal tinggi 0,40 < ≤ 0,60 : validasi butir soal sedang 0,20 < ≤ 0,40 : validasi butir soal rendah 0,00 < ≤ 0,20 : butir soal tidak valid Pada penelitian ini uji validitas menggunakan aplikasi SPSS versi 16.0. Sementara untuk menghitung reliabilitas instrumen dengan menggunakan formula Alpha Cronbach karena skor skor instrumen yang digunakan bukan 1 dan 0 (Arikunto, 2010:239) dengan formula sebagai berikut : Keterangan : : reliabilias yang dicari : jumlah varians skor tiap-tiap item : varians total K : banyaknya butir soal Rumus varians item soal, yaitu : = Rumus varians total, yaitu : = Pada penelitian ini penulis menggunakan aplikasi SPSS versi 16.00 dalam menguju reliabilitas instrumen. 2. Dokumentasi Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah lewat atau berlalu, dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan, cerita, peraturan, biografi, kebijakan. Dokumen yang berbntuk gambar misalnya, foto, gambar hidup, sketsa, dan lain-lain. 3. Observasi Untuk memperoleh data melalui observasi, peneliti berusaha mengkaji secara mendalam tentang Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Intelektual terhadap Pengembangan Karakter Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito. Hasil pengamatan semuanya dicatat dalam catatan lapangan dan dengan metode ini diharapkan memperoleh temuan yang berkaitan dengan Pengaruh Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Intelektual terhadap Pengembangan Karakter Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito. E. Instrumen Penelitian Terdapat 4 (empat) jenis data yang akan diperoleh dalam penelitian ini. Keempat sumber data ini didasarkan pada empat variabel penelitian yaitu kecerdasan emosional terdiri dari 36 pernyataan (sebelum validasi), Angket kecerdasan spritual sebanyak 35 pernyataan (sebelum validasi), Angket kecerdasan intelektual sebanyak 30 pernyataan (sebelum validasi), dan Angket pengembangan karakter guru sebanyak 35 pernyataan (sebelum validasi). 1. Instrumen Kecerdasan Emosional a. Definisi Konseptual Kecerdasan emosional dalam penelitian ini adalah kemampuan seseorang guru dalam memahami, mengelola, dan memotivasi emosi dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya dengan indikator: (a) kemandirian, (b) ketekunan, (c) mengendalikan amarah, (d) rasa hormat, (e) keramahan, dan (f) kesetiakawanan. b. Definisi Operasional Kecerdasan emosional adalah upaya yang dilakukan seorang guru dalam memahami emosi diri, mengelola, dan memotivasi diri dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab melalui: (a) kemandirian, (b) ketekunan, (c) mengendalikan amarah, (d) rasa hormat, (e) keramahan, dan (f) kesetiakawanan, yang diukur dengan menggunakan skala Likert. c. Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Emosional Kisi-kisi instrumen kecerdasan emosional dapat disajikan pada tabel 3 berikut. Tabel 3 Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Emosional d. Uji Validitas Untuk melihat kecerdasan emosional telah dilakukan pengisian kuesioner oleh 30 (tiga puluh) guru sebagai uji coba untuk menjawab 34 item pertanyaan. Ke-34 item pertanyaan tersebut dijadikan sebagai deskriptor terhadap variabel kecerdasan emosional. Item-item pertanyaan yang berhubungan dengan Kecerdasan Emosional diukur dengan 6 (enam) indikator yaitu indikator : Indikator Kemandirian 4 (empat) pernyataan, Indikator Ketekunan 6 (enam) pernyataan, Indikator Mengendalikan amarah 5 (lima) pernyataan, Indikator Rasa hormat 7 (tujuh) pernyataan, Indikator Keramahan 5 (lima pernyataan dan Indikator Kesetiakawanan 7 (tujuh) pernyataan. Sehingga total item pernyataan untuk mengukur variabel kecerdasasan emosional sebanyak 34 (tiga puluh empat) pernyataan. Pengujian validitas instrumen variabel Kecerdasan Emosional (X1) dilakukakan dengan menggunakan rumus korelasi Rank Spearman. Karena data yang ada adalah data ordinal. Adapun hasil pengujiannya dapat dilihat lampiran karya ilmiah ini. Tabel : 4 Uji Validitas Kecerdasan Emosional (X1) No Item r Hitung r Tabel Keterangan 1 Pertanyaan No. 1 0,41 0,36 Valid 2 Pertanyaan No. 2 0,43 0,36 Valid 3 Pertanyaan No. 3 0,40 0,36 Valid 4 Pertanyaan No. 4 0,46 0,36 Valid 5 Pertanyaan No. 5 0,48 0,36 Valid 6 Pertanyaan No. 6 0,51 0,36 Valid 7 Pertanyaan No. 7 0,14 0,36 Tidak Valid 8 Pertanyaan No. 8 0,48 0,36 Valid 9 Pertanyaan No. 9 0,51 0,36 Valid 10 Pertanyaan No. 10 0,53 0,36 Valid 11 Pertanyaan No. 11 0,51 0,36 Valid 12 Pertanyaan No. 12 0,39 0,36 Valid 13 Pertanyaan No. 13 0,55 0,36 Valid 14 Pertanyaan No. 14 0,56 0,36 Valid 15 Pertanyaan No. 15 -0,03 0,36 Tidak Valid 16 Pertanyaan No. 16 0,56 0,36 Valid 17 Pertanyaan No. 17 0,49 0,36 Valid 18 Pertanyaan No. 18 0,45 0,36 Valid 19 Pertanyaan No. 19 0,55 0,36 Valid 20 Pertanyaan No. 20 0,37 0,36 Valid 21 Pertanyaan No. 21 0,48 0,36 Valid 22 Pertanyaan No. 22 0,42 0,36 Valid 23 Pertanyaan No. 23 0,45 0,36 Valid 24 Pertanyaan No. 24 0,61 0,36 Valid 25 Pertanyaan No. 25 -0,09 0,36 Tidak Valid 26 Pertanyaan No. 26 0,50 0,36 Valid 27 Pertanyaan No. 27 0,44 0,36 Valid 28 Pertanyaan No. 28 0,45 0,36 Valid 29 Pertanyaan No. 29 0,43 0,36 Valid 30 Pertanyaan No. 30 0,47 0,36 Valid 31 Pertanyaan No. 31 0,06 0,36 Tidak Valid 32 Pertanyaan No. 32 0,46 0,36 Valid 33 Pertanyaan No. 33 0,40 0,36 Valid 34 Pertanyaan No. 34 0,43 0,36 Valid Berdasarkan hasl perhitungan untuk menguji apakah korelasi tersebut valid atau tidak, maka hasil uji r hitung dapat dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 95%. Dari data r tabel, dengan taraf signifikansi 95% dan N=34 adalah sebesar 0,36. Jika kita lihat item pada lampiran ini, maka keseluruhan item yang berjumlah 34 item tersebut ada 4 (empat) item dinyatakan tidak valid dan sisanya sejumlah 30 item dinyatakan valid. Sehingga item pernyataan yang digunakan pada kuisioner saat penelitian sejumlah 30 item. e. Uji Reliabilitas Dengan menggunakan data uji validitas diatas, diperoleh hasil perhitungan uji realibilitas instrument variabel kecerdasan emosional dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel : 5 Uji Reabilitas Varibael Kecerdasan Emosional (X1) No Item sb sb2 1 Pertanyaan No. 1 0,72 0,52 2 Pertanyaan No. 2 1,23 1,51 3 Pertanyaan No. 3 0,89 0,79 4 Pertanyaan No. 4 1,09 1,20 5 Pertanyaan No. 5 0,76 0,57 6 Pertanyaan No. 6 0,92 0,84 8 Pertanyaan No. 8 1,16 1,34 9 Pertanyaan No. 9 0,73 0,53 10 Pertanyaan No. 10 0,94 0,88 11 Pertanyaan No. 11 0,75 0,56 12 Pertanyaan No. 12 0,86 0,73 13 Pertanyaan No. 13 0,86 0,74 14 Pertanyaan No. 14 0,80 0,64 16 Pertanyaan No. 16 1,02 1,04 17 Pertanyaan No. 17 0,78 0,60 18 Pertanyaan No. 18 0,82 0,67 19 Pertanyaan No. 19 0,70 0,49 20 Pertanyaan No. 20 0,75 0,56 21 Pertanyaan No. 21 0,96 0,92 22 Pertanyaan No. 22 0,63 0,39 23 Pertanyaan No. 23 0,78 0,60 24 Pertanyaan No. 24 0,88 0,77 26 Pertanyaan No. 26 1,04 1,09 27 Pertanyaan No. 27 0,68 0,46 28 Pertanyaan No. 28 1,01 1,02 29 Pertanyaan No. 29 0,91 0,82 30 Pertanyaan No. 30 0,85 0,72 32 Pertanyaan No. 32 1,09 1,18 33 Pertanyaan No. 33 0,73 0,53 34 Pertanyaan No. 34 0,99 0,98 ∑sb2 23,71 k 30 Realibilitas 0,88 tinggi Tabel ini menunjukkan bahwa besarnya nilai koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,88 dari 30 item pernyataan dalam variabel kecerdasan emosional. Hasil ini menunjukkan bahwa instrument untuk variabel kecerdasan emosional adalah reliabel. 2. Instrumen Kecerdasan Spiritual a. Definisi Konseptual Kecerdasan spiritual kecerdasan yang sudah ada dalam diri setiap manusia dalam hal ini guru sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup penuh makna dengan indikator : (a) Kemampuan bergaul, (b) Kesadaran adanya tuhan, (c) Ikhlas (d) Ketabahan, dan (e) Berkorban. b. Definisi Operasional Kecerdasan spiritual adalah kecerdasan yang sudah ada dalam diri setiap manusia dalam hal ini guru sejak lahir yang membuat manusia menjalani hidup penuh makna melalui: (a) Kemampuan bergaul, (b) Kesadaran adanya tuhan, (c) Ikhlas/rela, (d) Ketabahan, dan (e) Berkorban, yang diukur dengan menggunakan skala Likert. c. Kisi-Kisi Instrumen Kecerdasan Spiritual Kisi-kisi instrumen kecerdasan spiritual dapat disajikan pada tabel 3.4 berikut. Tabel 6 : Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Spiritual a. Uji Validitas Untuk melihat tingkat kecerdasan spritual telah dilakukan pengisian kuesioner kepada 30 (tiga puluh) guru sebagai uji coba untuk menjawab 30 (tiga puluh) item pernyataan. Ketiga puluh item pernyataan tersebut dijadikan sebagai indikator pada variabel Kecerdasan spritual. Ada 4 (empat) indikator pada variabel kecerdasan spritual yaitu indikator kemampuan bergaul ada 4 (empat) pernyataan, indikator kesadaran adanya Tuhan ada 5 (lima) pernyataan, indikator ikhlas ada 5 (lima) pernyataan dan indikator ketabahan ada 3 (tiga) pernyataan Pengujian validitas instrument penelitian variabel kecerdasan spritual (X2) dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Rank Spearman, artinya data yang ada adalah data ordinal. Adapun hasil pengujiannya dapat dilihat pada lampiran karya ilmiah ini. Tabel : 7 Uji Validitas Kecerdasan Spiritual (X2) No Item r Hitung r Tabel Keterangan 1 Pertanyaan No. 1 0,42 0,36 valid 2 Pertanyaan No. 2 0,12 0,36 gugur 3 Pertanyaan No. 3 0,50 0,36 valid 4 Pertanyaan No. 4 0,62 0,36 valid 5 Pertanyaan No. 5 0,39 0,36 valid 6 Pertanyaan No. 6 0,52 0,36 valid 7 Pertanyaan No. 7 0,58 0,36 valid 8 Pertanyaan No. 8 0,42 0,36 valid 9 Pertanyaan No. 9 0,37 0,36 valid 10 Pertanyaan No. 10 0,60 0,36 valid 11 Pertanyaan No. 11 0,43 0,36 valid 12 Pertanyaan No. 12 0,45 0,36 valid 13 Pertanyaan No. 13 0,42 0,36 valid 14 Pertanyaan No. 14 0,53 0,36 valid 15 Pertanyaan No. 15 0,50 0,36 valid 16 Pertanyaan No. 16 0,46 0,36 valid 17 Pertanyaan No. 17 0,49 0,36 valid 18 Pertanyaan No. 18 0,52 0,36 valid 19 Pertanyaan No. 19 0,54 0,36 valid 20 Pertanyaan No. 20 0,48 0,36 valid 21 Pertanyaan No. 21 -0,15 0,36 gugur 22 Pertanyaan No. 22 0,45 0,36 valid 23 Pertanyaan No. 23 0,40 0,36 valid 24 Pertanyaan No. 24 0,51 0,36 valid 25 Pertanyaan No. 25 0,47 0,36 valid 26 Pertanyaan No. 26 0,41 0,36 valid 27 Pertanyaan No. 27 0,48 0,36 valid 28 Pertanyaan No. 28 0,48 0,36 valid 29 Pertanyaan No. 29 0,43 0,36 valid 30 Pertanyaan No. 30 0,47 0,36 valid Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana diuraikan pada lampiran karya ilmiah ini untuk menguji apakah korelasi tersebut valid atau tidak, maka hasil uji r hitungdapat dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 95%. Dari data r tabel, dengan taraf signifikansi 95% dan N=35 adalah sebesar 0,334. Jika kita lihat item pada lampiran karya ilmiah ini, maka keseluruhan item yang berjumlah 30 item tersebut yang dinyatakan valid sebanyak 28 item dan yang dinyatakan tidak valid sebanyak 2 item. b. Uji Reliabilitas Dengan menggunakan data uji validitas diatas, diperoleh hasil perhitungan uji realibilitas instrument variabel kecerdasan emosional dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel : 8 Uji Reabilitas Varibael Kecerdasan Spiritual (X2) No Item sb sb2 1 Pertanyaan No. 1 0,95 0,91 3 Pertanyaan No. 3 1,02 1,04 4 Pertanyaan No. 4 1,04 1,08 5 Pertanyaan No. 5 0,93 0,87 6 Pertanyaan No. 6 0,90 0,81 7 Pertanyaan No. 8 1,17 1,36 8 Pertanyaan No. 9 1,09 1,18 9 Pertanyaan No. 10 0,86 0,74 10 Pertanyaan No. 11 0,92 0,84 11 Pertanyaan No. 12 1,14 1,29 12 Pertanyaan No. 13 1,04 1,09 13 Pertanyaan No. 14 1,13 1,28 14 Pertanyaan No. 16 0,94 0,89 15 Pertanyaan No. 17 0,99 0,99 16 Pertanyaan No. 18 0,77 0,59 17 Pertanyaan No. 19 0,90 0,81 18 Pertanyaan No. 20 1,05 1,11 19 Pertanyaan No. 21 1,25 1,57 20 Pertanyaan No. 22 0,92 0,86 22 Pertanyaan No. 24 0,94 0,87 23 Pertanyaan No. 26 1,14 1,29 24 Pertanyaan No. 27 1,10 1,22 25 Pertanyaan No. 28 1,00 1,01 26 Pertanyaan No. 29 0,94 0,88 27 Pertanyaan No. 30 0,96 0,92 28 Pertanyaan No. 32 0,92 0,85 29 Pertanyaan No. 33 0,96 0,92 30 Pertanyaan No. 34 0,83 0,69 ∑sb2 27,95 k 28 Realibilitas 0,87 tinggi Tabel ini menunjukkan bahwa besarnya nilai koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,87 dari 28 item pernyataan dalam variabel kecerdasan spiritual. Hasil ini menunjukkan bahwa instrument untuk variabel kecerdasan spiritual adalah reliabel. 3. Instrument Kecerdasan Intelektual a. Definisi Konseptual Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu dengan indikator kemampuan memecahkan masalah, Intelegensi verbal, dan Intelegensi praktis b. Definisi Operasional Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan kognitif seperti berpikir, daya menghubungkan dan menilai atau mempertimbangkan sesuatu melalui (1) kemampuan memecahkan masalah, (2) Intelegensi verbal, dan (3) Intelegensi praktis, yang diukur dengan menggunakan skala Likert. c. Kisi-Kisi Instrumen Kecerdasan Intelektual Kisi-kisi instrumen kecerdasan intelektual dapat disajikan pada tabel 3.5 berikut. Tabel 9 : Kisi-kisi Instrumen Kecerdasan Intelektual a. Uji Validitas Untuk melihat tingkat kecerdasan itelektual telah dilakukan pengisian kuesioner kepada 30 (tiga puluh) guru sebagai uji coba untuk menjawab 26 (dua puluh enam) item pernyataan. Kedua puluh enam item pernyataan tersebut dijadikan sebagai indikator pada variabel Kecerdasan intelektual. Ada 3 (tiga) indikator pada variabel kecerdasan intelektual yaitu indikator kemampuan memecahkan masalah ada 8 (delapan) pernyataan, indikator intelegensi verbal ada 4 (empat) pernyataan dan indikator intelegensi praktis ada 3 (tiga) pernyataan Pengujian validitas instrument penelitian variabel kecerdasan intelektual (X3) dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Rank Spearman, artinya data yang ada adalah data ordinal. Adapun hasil pengujiannya dapat dilihat pada tabel berikut ini :. Tabel : 10 Uji Validitas Kecerdasan Intelektual (X3) No Item r Hitung r Tabel Keterangan 1 Pertanyaan No. 1 0,47 0,37 2 Pertanyaan No. 2 0,49 0,37 3 Pertanyaan No. 3 0,47 0,37 4 Pertanyaan No. 4 0,41 0,37 5 Pertanyaan No. 5 0,44 0,37 6 Pertanyaan No. 6 0,52 0,37 7 Pertanyaan No. 7 0,37 0,37 8 Pertanyaan No. 8 0,49 0,37 9 Pertanyaan No. 9 0,46 0,37 10 Pertanyaan No. 10 0,46 0,37 11 Pertanyaan No. 11 0,44 0,37 12 Pertanyaan No. 12 0,52 0,37 13 Pertanyaan No. 13 0,48 0,37 14 Pertanyaan No. 14 0,43 0,37 15 Pertanyaan No. 15 0,52 0,37 16 Pertanyaan No. 16 0,40 0,37 17 Pertanyaan No. 17 0,42 0,37 18 Pertanyaan No. 18 0,43 0,37 19 Pertanyaan No. 19 0,39 0,37 20 Pertanyaan No. 20 0,42 0,37 21 Pertanyaan No. 21 0,39 0,37 22 Pertanyaan No. 22 0,40 0,37 23 Pertanyaan No. 23 0,60 0,37 24 Pertanyaan No. 24 0,39 0,37 25 Pertanyaan No. 25 0,40 0,37 26 Pertanyaan No. 26 0,40 0,37 27 Pertanyaan No. 27 0,42 0,37 28 Pertanyaan No. 28 0,58 0,37 Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana diuraikan pada lampiran karya ilmiah ini untuk menguji apakah korelasi tersebut valid atau tidak, maka hasil uji r hitungdapat dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 95%. Dari data r tabel, dengan taraf signifikansi 95% dan N=28 adalah sebesar 0,37. Jika kita lihat item pada lampiran karya ilmiah ini, maka keseluruhan item yang berjumlah 28 item tersebut yang dinyatakan valid b. Uji Reliabilitas Dengan menggunakan data uji validitas diatas, diperoleh hasil perhitungan uji realibilitas instrument variabel kecerdasan intelektual dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel : 11 Uji Reabilitas Varibael Kecerdasan Intelektual (X3) No Item sb sb2 1 Pertanyaan No. 1 0,81 0,66 2 Pertanyaan No. 2 0,94 0,88 3 Pertanyaan No. 3 0,94 0,88 4 Pertanyaan No. 4 0,86 0,74 5 Pertanyaan No. 5 0,94 0,88 6 Pertanyaan No. 6 0,99 0,97 8 Pertanyaan No. 8 0,53 0,28 9 Pertanyaan No. 9 1,12 1,27 10 Pertanyaan No. 10 0,89 0,80 11 Pertanyaan No. 11 1,12 1,25 12 Pertanyaan No. 12 1,03 1,06 13 Pertanyaan No. 13 0,82 0,67 14 Pertanyaan No. 14 1,26 1,58 16 Pertanyaan No. 16 0,75 0,56 17 Pertanyaan No. 17 0,88 0,77 18 Pertanyaan No. 18 0,88 0,78 19 Pertanyaan No. 19 0,78 0,60 20 Pertanyaan No. 20 0,59 0,35 21 Pertanyaan No. 21 0,80 0,64 22 Pertanyaan No. 22 0,76 0,57 23 Pertanyaan No. 23 0,84 0,71 24 Pertanyaan No. 24 0,97 0,95 25 Pertanyaan No. 25 0,86 0,74 26 Pertanyaan No. 26 0,41 0,17 27 Pertanyaan No. 25 0,93 0,87 28 Pertanyaan No. 26 1,11 1,24 ∑sb2 18,76 k 24 Realibilitas 0,85 tinggi Tabel ini menunjukkan bahwa besarnya nilai koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,85 dari 28 item pernyataan dalam variabel kecerdasan intelektual. Hasil ini menunjukkan bahwa instrument untuk variabel kecerdasan intelektual adalah reliabel. 4. Instrument Pengembangan Karakter Guru a. Definisi Konseptual Pengembangan karakter guru adalah proses atau upaya yang dilakukan untuk membina, memperbaiki,dan mengembangkan tabiat, watak, sifat, kejiwaan dan ahlak mulia dari seorang guru, sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal dengan indikator: (1) Tanggung jawab moral, (2) Disiplin diri, (3) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, (4) Kepedulian sebagai warga negara, (5) Kesopanan, (6) Berpikir kritis, dan (7) Kemauan untuk mendengar. b. Definisi Operasional Pengembangan karakter guru adalah proses atau upaya yang dilakukan untuk membina, memperbaiki,dan mengembangkan tabiat, watak, sifat, kejiwaan dan ahlak mulia dari seorang guru, sehingga mampu melaksanakan tugasnya secara maksimal melalui: (1) Tanggung jawab moral, (2) Disiplin diri, (3) Penghargaan terhadap harkat dan martabat manusia, (4) Kepedulian sebagai warga negara, (5) Kesopanan, (6) Berpikir kritis, dan (7) Kemauan untuk mendengar, yang diukur dengan menggunakan skala Likert. c. Kisi-Kisi Instrumen Pengembangan Karakter Guru Kisi-kisi instrumen pengembangan karakter guru dapat disajikan pada tabel berikut. Tabel 12 : Kisi-kisi Instrumen Pengembangan Karakter Guru Variabel Indikator Deskriptor No. Butir Jlh Kecerdasan Intelektual 1 Kemampuan memecahkan Masalah a Menyelesaikan masalah tanpa bantuan orang lain 1 8 b Cekatan mengidentifikasi masalah 2 c Terampil menganalisis masalah 3 d Menemukan solusi setiap terjadi masalah 4 e Menyelesaikan masalah tanpa resiko 5 f Focus pada penyelesaikan masalah yang urgen 6 g Mendinamisasi pemecahan masalah 7 h Mengambil keputusan secara tepat 8 2 Intelegensi verbal a Mampu memahami simbol 9 9 b Mampu membaca dengan penuh pemahaman 10 c Memiliki sifat ingin tahu sacara intelektual 11 d Kemampuan mengamati 12 e Memberikan gagasan 13 f Mampu menganalisis Kesulitan 14 g Imajinatif 15 h Memiliki pikiran jernih 16 i Baik ingatan 17 3 Intelegensi praktis a Mampu mengetahui situasi 18 9 b Mampu mencapai tujuan yang direncanakannya 19 c Menunjukkan minat terhadap dunia luar 20 d Mampu membina dan mengarahkan 21 e Mampu mengembangkan potensi 22 f Mampu memahami kosa kata 23 g Mampu memberikan motivasi dan ransangan 24 h Bertindak secara cepat 25 i Kreatif 26 Jumlah 26 a. Hasil Uji Validitas Untuk melihat tingkat pengembangan karakater guru telah dilakukan pengisian kuesioner kepada 30 (tiga puluh) guru sebagai uji coba untuk menjawab 30 (tiga puluh ) item pernyataan. Ketiga puluh item pernyataan tersebut dijadikan sebagai indikator pada variabel Pengembangan Karakter guru. Ada 6 (enam) indikator pada variabel Pengembangan karakter guru yaitu indikator tanggung jawab moral ada 6 (enam) pernyataan, indikator Disiplin ada 6 (anam) pernyataan, indikator penghargaan terhadap harkat dan maratabat manusia ada 4 (empat) pernyataan, indikator kepedulian sebagai warga negara ada 4 (empat) pernyataan, indikator kesopanan ada 3 (tiga) pernyataan, indikator berpikir kritis ada 3 (tiga) pernyataan dan indikator kemauan untuk mendengar ada 3 (tiga) pernyataan Pengujian validitas instrument penelitian variabel Pengembangan Karakter Guru (Y) dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi Rank Spearman, artinya data yang ada adalah data ordinal. Adapun hasil pengujiannya dapat dilihat pada lampiran karya ilmiah ini. Tabel : 13 Uji Validitas Pengembangan Karakter Guru (Y) No Item r Hitung r Tabel Keterangan 1 Pertanyaan No. 1 0,56 0,36 Valid 2 Pertanyaan No. 2 0,46 0,36 Valid 3 Pertanyaan No. 3 0,61 0,36 Valid 4 Pertanyaan No. 4 0,50 0,36 Valid 5 Pertanyaan No. 5 0,42 0,36 Valid 6 Pertanyaan No. 6 0,41 0,36 Valid 7 Pertanyaan No. 7 0,56 0,36 Valid 8 Pertanyaan No. 8 0,42 0,36 Valid 9 Pertanyaan No. 9 0,57 0,36 Valid 10 Pertanyaan No. 10 0,48 0,36 Valid 11 Pertanyaan No. 11 0,52 0,36 Valid 12 Pertanyaan No. 12 0,51 0,36 Valid 13 Pertanyaan No. 13 0,38 0,36 Valid 14 Pertanyaan No. 14 0,47 0,36 Valid 15 Pertanyaan No. 15 0,51 0,36 Valid 16 Pertanyaan No. 16 0,34 0,36 Tidak Valid 17 Pertanyaan No. 17 0,59 0,36 Valid 18 Pertanyaan No. 18 0,52 0,36 Valid 19 Pertanyaan No. 19 0,40 0,36 Valid 20 Pertanyaan No. 20 0,47 0,36 Valid 21 Pertanyaan No. 21 0,40 0,36 Valid 22 Pertanyaan No. 22 0,40 0,36 Valid 23 Pertanyaan No. 23 0,38 0,36 Valid 24 Pertanyaan No. 24 0,43 0,36 Valid 25 Pertanyaan No. 25 0,60 0,36 Valid 26 Pertanyaan No. 26 0,36 0,36 Tidak Valid 27 Pertanyaan No. 25 0,47 0,36 Valid 28 Pertanyaan No. 26 0,38 0,36 Valid Berdasarkan hasil perhitungan sebagaimana diuraikan pada lampiran karya ilmiah ini untuk menguji apakah korelasi tersebut valid atau tidak, maka hasil uji r hitungdapat dibandingkan dengan r tabel dengan taraf signifikansi 95%. Dari data r tabel, dengan taraf signifikansi 95% dan N=28 adalah sebesar 0,37. Jika kita lihat item pada lampiran karya ilmiah ini, maka keseluruhan item yang berjumlah 28 item pernyataan tersebut yang dinyatakan valid sebanyak 26 item pernyataan dan sisanya 2 item pernyataan dinyarakan tidak valid. b. Hasil Uji Reliabilitas Dengan menggunakan data uji validitas diatas, diperoleh hasil perhitungan uji realibilitas instrument variabel kecerdasan intelektual dapat dilihat pada tabel berikut ini. Tabel : 14 Uji Reabilitas Varibael Pengembangan Karakater Guru (Y) No Item sb sb2 1 Pertanyaan No. 1 1,40 1,97 2 Pertanyaan No. 2 1,07 1,14 3 Pertanyaan No. 3 1,04 1,09 4 Pertanyaan No. 4 0,96 0,93 5 Pertanyaan No. 5 1,25 1,56 6 Pertanyaan No. 6 1,04 1,08 7 Pertanyaan No. 7 1,08 1,17 8 Pertanyaan No. 8 1,13 1,27 9 Pertanyaan No. 9 0,97 0,94 10 Pertanyaan No. 10 1,13 1,27 11 Pertanyaan No. 11 1,19 1,41 12 Pertanyaan No. 12 1,27 1,61 13 Pertanyaan No. 13 1,01 1,02 14 Pertanyaan No. 14 0,92 0,85 15 Pertanyaan No. 15 0,94 0,87 17 Pertanyaan No. 17 1,13 1,27 18 Pertanyaan No. 18 0,57 0,32 19 Pertanyaan No. 19 0,97 0,94 20 Pertanyaan No. 20 1,06 1,13 21 Pertanyaan No. 21 1,20 1,44 22 Pertanyaan No. 22 0,94 0,88 23 Pertanyaan No. 23 1,03 1,06 24 Pertanyaan No. 24 1,36 1,86 25 Pertanyaan No. 25 0,92 0,86 27 Pertanyaan No. 27 1,03 1,06 28 Pertanyaan No. 28 1,28 1,64 29 Pertanyaan No. 29 0,92 0,85 30 Pertanyaan No. 30 0,97 0,94 ∑sb2 32,44 k 28 Realibilitas 0,87 tinggi Tabel ini menunjukkan bahwa besarnya nilai koefisien Cronbach Alpha sebesar 0,87 dari 28 item pernyataan dalam variabel pengembangan karakter guru. Hasil ini menunjukkan bahwa instrument untuk variabel pengembangan karakater guru adalah reliabel. F. Teknik Analisis Data Analisis data melalui tiga tahap kegiatan yaitu: (1) analisis deskriptif, (2) pengujian persyaratan analisis, dan (3) pengujian hipotesis. Analisis data deskriptif, yaitu mendeskripsikan dan memaknai data dari masing-masing aspek yang dievaluasi. Adapun tujuan deskriptif adalah untuk memperoleh gambaran tentang karakteristik penyebaran nilai setiap variabel yang diteliti. Analisis deskriptif dilakukan dengan menyajikan data melalui tabel distribusi frekuensi, histogram, menghitung nilai rata-rata, simpang baku, median, dan modus. Analisis ini menggunakan analisis jalur (path analisis). Untuk uji persyaratan analisis meliputi uji normalitas dan linearitas. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui kenormalan data. Sedangkan uji linearitas dilakukan untuk mengetahui apakah hubungan antara variable terikat dengan masing-masing variable bebas bersifat linear. Pengujian hipotesis menggunakan metode analisis jalur (path analisis). Menurut Ridwan (2012:2) menyatakan model path analisis digunakan untuk menganalisis pola hubungan antara variable dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variable bebas (eksogen) terhadap variable terikat (endogen). G. Hipotesis Statistika Hipotesis statistik yang diuji dirumuskan sebagai berikut: 1. Ho : βy.1 ≤ 0 Tidak terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan emosional terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo H1 : βy.1 ˃ 0 Terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan emosional terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo 2. Ho : βy.2 ≤ 0 Tidak terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan spiritual terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo H1 : βy.2 ˃ 0 Terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan spiritual terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo 3. Ho : βy.3 ≤ 0 Tidak terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan intelektual terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo H1 : βy.3 ˃ 0 Terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan intelektual terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo 4. Ho : β3.1 ≤ 0 Tidak terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan emosional terhadap kcerdasan intelektual guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo H1 : β3.1 ˃ 0 Terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan emosional terhadap kecerdasan intelektual guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo 5. Ho : β2.1 ≤ 0 Tidak terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan spiritual kecerdasan intelektual guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo H1 : β2.1 ˃ 0 Terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan spiritual kecerdasan intelektual guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Sebelum berbicara jauh tentang hasil penelitian dan pembahasan penulis akan menguraikan secara singkat tentang lokasi penelitian. Kecamatan Botumoito adalah salah satu Kecamatan di Kabupaten Boalemo yang menyelenggarakan pendidikan baik tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama dan Sekolah Menegah Tingkat Atas. Khusus untuk sekolah dasar yang menjadi obyek penelitian, penyelenggaraan pendidikan ditunjang oleh 113 guru dan 16 Sekolah Dasar. Selanjutnya pada bab ini akan dideskripsikan secara menyeluruh hasil penelitian dan pembahasannya. Setelah dilakukan perhitungan statistik kemudian disajikan dalam bentuk deskriptif untuk memaparkan deskripsi data dengan menggunakan analisis diferensial untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antar variabel A. Deskripsi Data Dalam uraian mengenai deskripsi data hasil penelitian yang diperoleh dilapangan untuk mendapatkan gambaran tentang beberapa karakteristik masing-masing variabel yang diteliti, baik variabel terikat yaitu Pengembangan Karakter Guru dan variabel Bebas yakni Variabel Kecerdasan Emosional, Varibel Kecerdasarn Spritual dan Variabel Kecerdasan Intelektual. Data skor yang diambil dari responden menjadi dasar untuk menganalisis lebih lanjut penelitian ini. Sebelum menjawab permasalahan pokok dalam penelitian yakni : (1) apakah terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan emosional terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo, (2) apakah terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan spiritual terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo, (3) apakah terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan intelektual terhadap pengembangan karakter guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo, (4) apakah terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan emosional terhadap kcerdasan intelektual guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo, (5) apakah terdapat pengaruh langsung positif kecerdasan spiritual terhadap kecerdasan intelektual guru di SD Negeri Kecamatan Botumoito Kabupaten Boalemo, maka terlebih dahulu didiskripsikan hasil pengolahan data dengan menggunakan teknik statistik deskriptif, diantaranya: skor tertinggi, skor terendah, nilai rata-rata, simpangan baku, modus, dan median dari keempat varibel tersebut. Secara umum hasil perhitungan disajikan dalam di bawah ini : a. Deskripsi Data Pengembangan Karakter Guru (Y) Data pengembangan karakater guru dijaring melalui angket yang tersebar dalam 30 butir pernyataan, diperoleh dari 89 orang guru sebagai sampel penelitian. Hasil jawaban responden skor minimum yang dicapai adalah 80 dan skor maksimum yang dicapai adalah 127. Sementara untuk nilai rata – rata pada variabel Pengembangan Karakter Guru (Y) senilai 106,67 dan untuk standar deviasinya sebesar 10,03 serta nilai median dan modusnya masing – masing sebesar 108 dan 107. Berdasarkan skor data ini, selanjutnya disajikan sebaran data yang meliputi (a) rentang data, (b) panjang kelas kelas, (c) kelas interval, dan (d) distribusi frekuensi. Berdasarkan perhitungan pada lampiran tesis ini, diperoleh rentang data (R) = 47, kelas interval (K) = 10, dan panjang kelas interval (P) = 5. Selanjutnya harga-harga ini disajikan pada tabel distribusi frekuensi data Kecerdasan Emosional seperti Tabel di bawah ini. Tabel : 15 Kelas Interval Variabel Pengembangan Karakter Guru No Kelas Interval Frekuensi % 1 80 - 84 3 3 2 85 - 89 4 4 3 90 - 94 4 4 4 95 - 99 7 8 5 100 - 104 12 13 6 105 - 109 22 25 7 110 - 114 18 20 8 115 - 119 12 13 9 120 - 124 5 6 10 125 - 129 2 2 Jumlah 89 100 Tabel 15 di atas menunjukkan bahwa penyebaran frekuensi data variabel Pengembangan karakter Guru merupakan kurva simetrik. Sebaran skor Pengembangan karakter Guru ditampilkan dalam diagram pada Gambar berikut. Gambar 3 Histogram Variabel Pengembangan Karakter Guru b. Deskripsi Data Kecerdasan Emosional (X1) Data Kecerdasan Emosional dijaring melalui angket yang tersebar dalam 30 butir pernyataan, diperoleh dari 89 orang guru sebagai sampel penelitian. Hasil jawaban reponden diperoleh skor minimum 81 dan maksimum 130. Sementara untuk nilai rata – rata pada variabel Kecerdasan Emosional (X1) senilai 112,25 dan untuk standar deviasinya sebesar 10,75 serta nilai median dan modusnya masing – masing sebesar 113 dan 121. Berdasarkan skor data ini, selanjutnya disajikan sebaran data yang meliputi (a) rentang data, (b) panjang kelas kelas, (c) kelas interval, dan (d) distribusi frekuensi. Berdasarkan perhitungan pada lampiran tesis ini, diperoleh rentang data (R) = 49, kelas interval (K) = 10, dan panjang kelas interval (P) = 5. Selanjutnya harga-harga ini disajikan pada tabel distribusi frekuensi data Kecerdasan Emosional seperti Tabel di bawah ini. Tabel : 16 Kelas Interval Variabel Kecerdasan Emosional Tabel 16 di atas menunjukkan bahwa penyebaran frekuensi data variabel Kecerdasan Emosional merupakan kurva simetrik. Sebaran skor Pengembangan karakter Guru ditampilkan dalam diagram pada Gambar berikut Ganbar 4 : Histogram Variabel Kecerdasan Emosional c. Deskripsi Data Kecerdasan Spiritual (X2) Data Kecerdasasan Spiritual dijaring melalui angket yang tersebar dalam 28 butir pernyataan, diperoleh dari 89 orang guru sebagai sampel penelitian. Hasil jawaban reponden diperoleh skor minimum 66 dan maksimum 125. Sementara untuk nilai rata – rata pada variabel Kecerdasan Spiritual (X2) senilai 106,10 dan untuk standar deviasinya sebesar 9,01 serta nilai median dan modusnya masing – masing sebesar 107 dan 113. Berdasarkan skor data ini, selanjutnya disajikan sebaran data yang meliputi (a) rentang data, (b) panjang kelas kelas, (c) kelas interval, dan (d) distribusi frekuensi. Berdasarkan perhitungan pada lampiran tesis ini, diperoleh rentang data (R) = 59, kelas interval (K) = 10, dan panjang kelas interval (P) = 6. Selanjutnya harga-harga ini disajikan pada tabel distribusi frekuensi data Kecerdasan Emosional seperti Tabel di bawah ini. Tabel : 17 Variabel Kecerdasan Spiritual Tabel 17 di atas menunjukkan bahwa penyebaran frekuensi data variabel Kecerdasan Emosional merupakan kurva simetrik. Sebaran skor Pengembangan karakter Guru ditampilkan dalam diagram pada Gambar berikut. Ganbar 5 : Histogram Variabel Kecerdasan Spiritual d. Deskripsi Data Kecerdasan Intelektual (X3) Data Kecerdasasan Intelektua dijaring melalui angket yang tersebar dalam 24 butir pernyataan, diperoleh dari 89 orang guru sebagai sampel penelitian. Hasil jawaban reponden diperoleh skor minimum 65 dan maksimum 103. Sementara untuk nilai rata – rata pada variabel Kecerdasan Intelektual (X2) senilai 87,24 dan untuk standar deviasinya sebesar 8,35 serta nilai median dan modusnya masing – masing sebesar 89 dan 91 Berdasarkan skor data ini, selanjutnya disajikan sebaran data yang meliputi (a) rentang data, (b) panjang kelas kelas, (c) kelas interval, dan (d) distribusi frekuensi. Berdasarkan perhitungan pada lampiran tesis ini, diperoleh rentang data (R) = 38, kelas interval (K) = 10, dan panjang kelas interval (P) = 4. Selanjutnya harga-harga ini disajikan pada tabel distribusi frekuensi data Kecerdasan Emosional seperti Tabel di bawah ini. Tabel : 18 Variabel Kecerdasan Intelektual Tabel 17 di atas menunjukkan bahwa penyebaran frekuensi data variabel Kecerdasan Emosional merupakan kurva simetrik. Sebaran skor Pengembangan karakter Guru ditampilkan dalam diagram pada Gambar berikut. Ganbar 6 : Histogram Variabel Kecerdasan Intelektual B. Pengujian Persyaratan Analisis Memenuhi ketentuan dalam melakukan analisis jalur untuk menguji hipotesis, maka dilakukan beberapa uji statistik yang dipersyaratkan, yaitu : (1) Uji normalitas data, dan (2) Uji lineritas dan keberartian persamaan regresi. 1. Uji lineritas dan keberartian persamaan regresi a. Regresi Pengembangan Karakter Guru (Y) atas Kecerdasan Emosional (X1) Berdasarkan hasil uji coefficient diperoleh nilai konstanta (a) = 32,224 dan koefisien (b) = 0,62 sehingga persamaan regresi Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter Guru ( Ŷ = a + bX1 ) adalah Ŷ = 32,224+ 0,62X1. Adapun nilai konstanta dan koefisien dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : a = (∑Yi) (∑Xi2) - (∑Xi) (∑XiYi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 b = n∑XiYi - (∑Xi) (∑Yi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 Dengan perhitungan sebagai berikut : a = ( 9396 ) ( 1239244 ) - ( 10474 ) ( 1109890 ) ( 89 ) ( 1239244 ) - ( 10474 ) 2 = 11643936624 - 11624987860 110292716 - 109704676 = 18948764 = 32,224 588040 b = ( 89 ) ( 1109890 ) - ( 10474 ) ( 9396 ) ( 89 ) ( 1239244 ) - ( 10474 ) 2 = 98780210 - 98413704 110292716 - 109704676 = 366506 = 0,62 588040 Hasil Perhitungannya dapat disajikan pada tabel berikut ini : Sumber Variasi dk JK KT FHitung Ftabel Total 89 996460 Koofisien (a) 1 991964,22 Regresi (bǀa) 1 2566,64 2566,64 115,75 3,95 Sisa 87 1929,13 22,17 Tuna Cocok 29 -3020,74 -104,16 -1,22 1,79 Galat 58 4949,87 85,34 Berdasarkan Tabel diatas diperoleh Fhit regresi = 115,75 dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(1,87) = 3,95 sehingga Fhit = 115,75 > Ftab = 3,95 maka persamaan regresi tersebut signifikan. Untuk uji linearitas regresi diperoleh Fhit tuna cocok = -1,22, dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(29,58) = 1,79 sehingga Fhit = 1,22 < Ftab = 1,79, sehingga model linier diterima. b. Regresi Pengembangan Karakter Guru (Y) atas Kecerdasan Spiritual (X2) Berdasarkan hasil uji coefficient diperoleh nilai konstanta (a) = 27,124 dan koefisien (b) = 0,68 sehingga persamaan regresi Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter Guru ( Ŷ = a + bX1 ) adalah Ŷ = 27,124+ 0,68X2. Adapun nilai konstanta dan koefisien dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : a = (∑Yi) (∑Xi2) - (∑Xi) (∑XiYi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 b = n∑XiYi - (∑Xi) (∑Yi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 Dengan perhitungan sebagai berikut : a = ( 9396 ) ( 1206233 ) - ( 10343 ) ( 1094802 ) ( 89 ) ( 1206233 ) - ( 10343 ) 2 = 11333765268 - 11323537086 107354737 - 106977649 = 10228182 = 27,124 377088 b = ( 89 ) ( 1094802 ) - ( 10343 ) ( 9396 ) ( 89 ) ( 1206233 ) - ( 10343 ) 2 = 97437378 - 97182828 107354737 - 106977649 = 254550 = 0,68 377088 Hasil Perhitungannya dapat disajikan pada tabel berikut ini : Sumber Variasi dk JK KT Fhit Ftab Total 89 996460 Koofisien (a) 1 991964,22 Regresi (bǀa) 1 1930,69 1930,69 65,48 3,95 Sisa 87 2565,08 29,48 Tuna Cocok 29 -2544,20 -87,73 -1,00 1,79 Galat 58 5109,28 88,09 Berdasarkan Tabel diatas diperoleh Fhit regresi = 65,48 dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(1,87) = 3,95 sehingga Fhit = 65,48 > Ftab = 3,95 maka persamaan regresi tersebut signifikan. Untuk uji linearitas regresi diperoleh Fhit tuna cocok = -1,80, dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(29,58) = 1,79 sehingga Fhit = -1,00 < Ftab = 1,79, sehingga model linier diterima. c. Regresi Pengembangan Karakter Guru (Y) atas Kecerdasan Intelektual (X3) Berdasarkan hasil uji coefficient diperoleh nilai konstanta (a) = 37,631 dan koefisien (b) = 0,58 sehingga persamaan regresi Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter Guru ( Ŷ = a + bX1 ) adalah Ŷ = 37,631 + 0,58X3. Adapun nilai konstanta dan koefisien dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : a = (∑Yi) (∑Xi2) - (∑Xi) (∑XiYi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 b = n∑XiYi - (∑Xi) (∑Yi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 Dengan perhitungan sebagai berikut : a = ( 9396 ) ( 1236603 ) - ( 10465 ) ( 1108337 ) ( 89 ) ( 1236603 ) - ( 10465 ) 2 = 11619121788 - 11598746705 110057667 - 109516225 = 20375083 = 37,631 541442 b = ( 89 ) ( 1108337 ) - ( 10465 ) ( 9396 ) ( 89 ) ( 1236603 ) - ( 10465 ) 2 = 98641993 - 98329140 110057667 - 109516225 = 312853 = 0,58 541442 Hasil Perhitungannya dapat disajikan pada tabel berikut ini : Sumber Variasi dk JK KT Fhit Ftab Total 89 996460 Koofisien (a) 1 991964,22 Regresi (bǀa) 1 2031,13 2031,13 71,70 3,95 Sisa 87 2464,64 28,33 Tuna Cocok 30 -3695,29 -123,18 -1,14 1,76 Galat 57 6159,93 108,07 Berdasarkan Tabel diatas diperoleh Fhit regresi = 71,70 dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(1,87) = 3,95 sehingga Fhit = 71,70 > Ftab = 3,95 maka persamaan regresi tersebut signifikan. Untuk uji linearitas regresi diperoleh Fhit tuna cocok = --1,14, dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(30,57) = 1,76 sehingga Fhit = -1,14 < Ftab = 1,76, sehingga model linier diterima. d. Regresi Kecerdasan Intelektual (X3) atas Kecerdasan Emosional (X1) Berdasarkan hasil uji coefficient diperoleh nilai konstanta (a) = 20,298 dan koefisien (b) = 0,84 sehingga persamaan regresi Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter Guru ( Ŷ = a + bX1 ) adalah Ŷ = 20,298 + 0,84X1. Adapun nilai konstanta dan koefisien dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : a = (∑Yi) (∑Xi2) - (∑Xi) (∑XiYi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 b = n∑XiYi - (∑Xi) (∑Yi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 Dengan perhitungan sebagai berikut : a = ( 10465 ) ( 1206233 ) - ( 10343 ) ( 1219721 ) ( 89 ) ( 1206233 ) - ( 10343 ) 2 = 12623228345 - 12615574303 107354737 - 106977649 = 7654042 = 20,298 377088 b = ( 89 ) ( 1219721 ) - ( 10343 ) ( 10465 ) ( 89 ) ( 1206233 ) - ( 10343 ) 2 = 108555169 - 108239495 107354737 - 106977649 = 315674 = 0,84 377088 Hasil Perhitungannya dapat disajikan pada tabel berikut ini : Sumber Variasi dk JK KT Fhit Ftab Total 89 1236603 Koofisien (a) 1 1230519,38 Regresi (bǀa) 1 2969,24 2969,24 82,95 3,95 Sisa 87 3114,38 35,80 Tuna Cocok 29 -823,09 -28,38 -0,42 1,79 Galat 58 3937,47 67,89 Berdasarkan Tabel diatas diperoleh Fhit regresi = 82,95 dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(1,87) = 3,95 sehingga Fhit = 82,95 > Ftab = 3,95 maka persamaan regresi tersebut signifikan. Untuk uji linearitas regresi diperoleh Fhit tuna cocok = -0,42, dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(29,58) = 1,79 sehingga Fhit = -0,42 < Ftab = 1,79, sehingga model linier diterima. e. Regresi Kecerdasan Intelektual (X3) atas Kecerdasan Spiritual (X2) Berdasarkan hasil uji coefficient diperoleh nilai konstanta (a) = 34,690 dan koefisien (b) = 0,72 sehingga persamaan regresi Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter Guru ( Ŷ = a + bX1 ) adalah Ŷ = 34,690 + 0,72X2. Adapun nilai konstanta dan koefisien dapat diperoleh dengan rumus sebagai berikut : a = (∑Yi) (∑Xi2) - (∑Xi) (∑XiYi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 b = n∑XiYi - (∑Xi) (∑Yi) n∑Xi2 - (∑Xi)2 Dengan perhitungan sebagai berikut : a = ( 10858 ) ( 1302889 ) - ( 10741 ) ( 1315182 ) ( 89 ) ( 1302889 ) - ( 10741 ) 2 = 14146768762 - 14126369862 115957121 - 115369081 = 20398900 = 34,690 588040 b = ( 89 ) ( 1315182 ) - ( 10741 ) ( 10858 ) ( 89 ) ( 1302889 ) - ( 10741 ) 2 = 117051198 - 116625778 115957121 - 115369081 = 425420 = 0,72 588040 Hasil Perhitungannya dapat disajikan pada tabel berikut ini : Sumber Variasi dk JK KT Fhit Ftab Total 89 1331620 Koofisien (a) 1 1324676,00 Regresi (bǀa) 1 3458,11 3458,11 86,31 3,95 Sisa 87 3485,89 40,07 Tuna Cocok 33 333,79 10,11 0,17 1,76 Galat 54 3152,1 58,37 Berdasarkan Tabel diatas diperoleh Fhit regresi = 86,31 dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(1,87) = 3,95 sehingga Fhit = 86,31 > Ftab = 3,95 maka persamaan regresi tersebut signifikan. Untuk uji linearitas regresi diperoleh Fhit tuna cocok = 0,17, dan pada taraf nyata α = 0,05 diperoleh F0,95(33,54) = 1,76 sehingga Fhit = 0,17 < Ftab = 1,76, sehingga model linier diterima. 2. Uji normalitas Galat Taksiran Untuk menguji normalitas galat taksiran digunakan uji lilliefors. Hipotesis yang diuji adalah: Ho : data berasal dari populasi berdistribusi normal Ha : data berasal dari salah satu populasi tidak berdistribusi normal. Uji normalitas galat taksiran meliputi Y atas X1, Y atas X2, Y atas X3, X3 atas X1, X3 atas X2. Pengujian normalitas menggunakan uji lilliefors dengan fasilitas Microsoft Excel. Kriteria pengujian Lhit < LtabTerima Ho ( n=89, α = 0,05; Ltab = 0,109, dan α = 0,01; Ltab = 0,093. Pada lampiran penelitian ini, diperoleh hasil pengujian pada Tabel sebagai berikut: Tabel 4.11 Rangkuman Uji Normalitas Galat Taksiran No Sumber Variasi Lo Ltab Kesimpulan Ket. 0,01 0,05 1 Y atas X1 0,087 0,109 0,093 Berdistribusi normal Lo 0 Berdasarkan kriteria pengujian signifikansi Program SPSS, jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabiltas sig (0,05 ≤ Sig), maka Ho diterima, artinya tidak signifikan. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabiltas sig (0,05 ≥ Sig), maka Ho ditolak, artinya signifikan. Tabel Model Summary diperoleh nilai R Square = 0,682 dan Tabel Anova diperoleh nilai F sebesar 60.838 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,000, karena nilai sig < 0,05, maka keputusannya adalah Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual, dan Kecerdasan Intelektual berkonstribusi secara simultan terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru. Hipotesis 1 : Pengaruh langsung positif Kecerdasan Emosional terhadap Pengembangan Karakter guru. Hipotesis Statistik : Ho : ρyx1 ≤ 0 Ha : ρyx1 > 0 Terlihat bahwa pada kolom Sig (signifikansi) pada Tabel Coeficients, didapat nilai sig 0,000. Ternyata nilai sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,05 > 0,000, maka Ho ditolak, artinya analisis jalur signifikan. Jadi Kecerdasan Emosional berkontribusi terhadap Pengembangan Karakter Guru. Hipotesis 2 : Pengaruh langsung positif Kecerdasan Spiritual terhadap Pengembangan Karakter Guru. Hipotesis Statistik : Ho : ρyx2 ≤ 0 Ha : ρyx2 > 0 Terlihat bahwa pada kolom Sig (signifikansi) pada Tabel Coeficients, didapat nilai sig 0,000. Ternyata nilai sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,05 > 0,000, maka Ho ditolak, artinya analisis jalur signifikan. Jadi Kecerdasan Spiritual berkontribusi terhadap Pengembangan Karakter Guru. Hipotesis 3 : Pengaruh langsung positif Kecerdasan Intelektual terhadap Pengembangan Karakter Guru. Hipotesis Statistik : Ho : ρyx3 ≤ 0 Ha : ρyx3 > 0 Terlihat bahwa pada kolom Sig (signifikansi) pada Tabel 4 Coeficients, didapat nilai sig 0,001. Ternyata nilai sig 0,001 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,05 > 0,001, maka Ho ditolak, artinya analisis jalur signifikan. Jadi Kecerdasan Intelektual berkontribusi terhadap Pengembangan Karakter Guru. Kerangka hubungan kausal empiris antara X1, X2, dan X3 terhadap Y dapat dibuat melalui persamaan struktural Model-1 berikut. Struktur Model-1 : Y = ρyx1X1 + ρyx2X2 + ρyx3X3 + ρYϵ1 Y = 0,511X1 + 0,268X2 + 0,180X3 + 0,161ϵ1 Bentuk diagram jalur Model-1 sebagaimana ditampilkan pada Gambar di bawah ini. Gambar Bentuk Diagram Sub Struktural Jalur Model-1 Sumber: Hasil analisis jalur (2017) Lebih jelasnya gambaran tersebut dapat dilihat pada analisa SPPS tabel anova berikut ini   b. Pengujian Hipotesis dan Persamaan Struktural Jalur Model-2 Tabel ANOVAb dan Tabel Model Summaryb dibawah ini dapat menunjukkan hasil uji secara keseluruhan Tabel : ANOVAb Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 3443.167 2 1721.584 56.072 .000a Residual 2640.451 86 30.703 Total 6083.618 88 a. Predictors: (Constant), Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional b. Dependent Variable: Kecerdasan Intelektual Tabel : Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .752a .566 .556 5.54102 a. Predictors: (Constant), Kecerdasan Spiritual, Kecerdasan Emosional b. Dependent Variable: Kecerdasan Intelektual Uji secara keseluruhan ditunjukkan oleh Tabel Anova. Hipotesis statistik dirumuskan sebagai berikut: Ho = ρx3x1 = ρx3x2 ≤ 0 Ha = ρx3x1 = ρ x3x2 > 0 Kriteria Pengujian signifikansi Program SPSS, jika nilai probabilitas 0,05 lebih kecil atau sama dengan nilai probabiltas sig (0,05 ≤ Sig), maka Ho diterima, artinya tidak signifikan. Jika nilai probabilitas 0,05 lebih besar atau sama dengan nilai probabiltas sig (0,05 ≥ Sig), maka Ho ditolak, artinya signifikan. Berdasarkan Tabel Model Summary diperoleh nilai R Square = 0,556 dan Tabel Anova diperoleh nilai F sebesar 56,072 dengan nilai probabilitas (sig) = 0,000, karena nilai sig < 0,05, maka keputusannya adalah Ho ditolak dan Ha diterima. Dengan demikian Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual, berkontribusi secara simultan terhadap Kecerdasan Intelektual. Hipotesis 4 : Pengaruh langsung positif Kecerdasan Emosional terhadap Kecerdasan Intelektual Hipotesis Statistik : Ho : ρx3x1 ≤ 0 Ha : ρx3x1 > 0 Terlihat bahwa pada kolom Sig (signifikansi) pada Tabel Coeficients, didapat nilai sig 0,000. Ternyata nilai sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,05 > 0,000, maka Ho ditolak, artinya analisis jalur signifikan. Jadi Kecerdasan Emosional berkontribusi terhadap Kecerdasan Intelektual. Hipotesis 5 : Pengaruh langsung positif Kecerdasan Spiritual terhadap Kecerdasan Intelektual. Hipotesis Statistik : Ho : ρx3x2 ≤ 0 Ha : ρx3x2 > 0 Terlihat bahwa pada kolom Sig (signifikansi) pada Tabel 8 Coeficients, didapat nilai sig 0,000. Ternyata nilai sig 0,000 lebih kecil dari nilai probabilitas 0,05 atau nilai 0,05 > 0,000, maka Ho ditolak, artinya analisis jalur signifikan. Jadi Kecerdasan Spiritual berkontribusi terhadap Kecerdasan Intelektual. Kerangka hubungan kausal emperis antara X1 dan X2 terhadap X3 dapat dibuat melalui persamaan struktural Model-2 berikut. Struktur Model-2: X3 = ρx3x1X1 + ρx3x2X2+ ρx3ϵ2 X3 = 0,352 X1 + 0,532 X2 + 0,248 ϵ2   Bentuk diagram jalur Model-2 sebagaimana ditampilkan pada Gambar 4.11 di bawah ini. Gambar 4.11 Bentuk Diagram Jalur Model-2 Sumber: Hasil analisis jalur (2017) Berdasarkan hasil perhitungan analisis jalur struktur model-1 dan model-2, maka digambarkan sebagai berikut: 1. Hasil kontribusi model-1 a. Beberapa pengaruh langsung dan tidak langsung (melalui X3) dan pengaruh total Kecerdasan Emosional (X1), Kecerdasan Spiritual (X2), dan Kecerdasan Intelektual (X3) terhadap Pengembnagan Karakter Guru (Y) diuraikan sebagai berikut: 1) Pengaruh langsung variabel Kecerdasan Emosional (X1) terhadap Y = 0,511. Pengaruh tidak langsung variabel Kecerdasan Emosional (X1) terhadap Y melalui X3 = 0,325 x 0,180 = 0,0585. Jadi pengaruh total Kecerdasan Emosional (X1) terhadap Y = 0,5695 2) Pengaruh langsung variabel Kecerdasan Spiritual (X2) terhadap Y = 0,268. Pengaruh tidak langsung variabel Kecerdasan Spiritual (X2) terhadap Y melalui X3 = 0,532 x -0,180 = 0,0988. Jadi pengaruh total Kecerdasan Spiritual (X2) terhadap Y = 0,3638. b. Kontribusi Kecerdasan Emosional (X1) yang secara langsung mempengaruhi tingkat Pengembangan Karakter Guru = 0,5112 = 0,261 atau 26,1 %. c. Kontribusi Kecerdasan Spiritual (X2) yang secara langsung mempengaruhi tingkat Pengembangan Karakter Guru = 0,2682 = 0,072 atau 7,2 %. d. Kontribusi Kecerdasan Intelektual (X3) yang secara langsung mempengaruhi tingkat Pengembangan Karakter Guru = 0,1802 = 0,032 atau 3,2%. e. Kontribusi Kecerdasan Emosional (X1), Kecerdasan Spiritual (X2), Kecerdasan Intelektual (X3) yang secara simultan yang langsung mempengaruhi tingkat Pengembangan Karakter Guru (Y) sebesar r2 = 0,682 = 68,2 %. Sisanya sebesar 31,8 % dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak bisa dijelaskan dalam penelitian ini atau variabilitas yang interen. 2. Hasil kontribusi model-2 a. Kontribusi Kecerdasan Emosional (X1) yang secara langsung mempengaruhi Kecerdasan Intelektual (X3) sebesar 0,3522 = 0,124 atau 12,4%. b. Kontribusi Kecerdasan Spiritual (X2) yang secara langsung mempengaruhi Kecerdasan Intelektual (X3) sebesar 0,5322 = 0,283 atau 28,3%. c. Kontribusi Kecerdasan Emosional (X1), dan Kecerdasan Spiritual (X2) secara simultan yang langsung mempengaruhi Kecerdasan Intelektual r2= 0,566 atau 56,6 %. Sisanya sebesar 43,4 % dipengaruhi faktor-faktor lain yang tidak bisa dijelaskan dalam penelitian ini. Rangkuman hasil analisis jalur disajikan dalam Tabel di bawah ini. Tabel : Rangkuman Hasil Analisis Jalur Pengaruh Variabel Pengaruh Kausal Sisa Є1 dan Є2 Total Langsung Tidak Langsung melalui X3 X1 terhadap Y 0,511 0,511 0,325 x 0,180 0,059 X2 terhadap Y 0,268 0,268 0,532 x 0,180 0,096 X3 terhadap Y 0,180 0,180 X1,X2,X3 terhdap Y 0,682 0,318 1,00 X1 terhadap X3 0,325 0,325 X2 terhadap X3 0,532 0,532 X1, X2 tarhadap X3 0,566 0,434 1,00 Sumber: Hasil analisis jalur (2017) B. Pembahasan Hasil Penelitian Interpretasi dan pembahasan hasil penelitian mengacu pada hasil pengujian empat hipotesis penelitian, yaitu: (1) Kecerdasan Emosional berpengaruh langsung positif terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito; (2) Kecerdasan Spiritual berpengaruh langsung positif terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito; (3) Kecerdasan Emosional berpengaruh langsung positif terhadap Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito; (4) Kecerdasan Spiritual berpengaruh langsung positif terhadap Kecerdasan Intelektual Guru SDN di Kecamatan Botumoito. 1. Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito Hasil pengujian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa: “Terdapat pengaruh langsung positif Kecerdasan Emosional terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito” teruji kebenarannya. Ditinjau dari nilai koofisien determinasi (r²) = 0,261, dapat dipahami bahwa sebesar 26,1 % variasi tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito dapat diterangkan oleh Kecerdasan Emosional. Dengan kata lain makin baik Kecerdasan Emosional, maka makin baik pula tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito. Sebaliknya, makin rendah Kecerdasan Emosional, maka makin rendah tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito, sehingga secara empirik dapat dijelaskan bahwa Kecerdasan Emosional memiliki pengaruh terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru. Temuan ini menunjukkan bahwa tingkat pengembangan karakter guru dipengaruhi secara langsung positif oleh Kecerdasan Emosional di sekolah. Hal ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Davies (Casmini, 2007: 17) menjelaskan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang untuk mengendalikan emosi dirinya sendiri dan orang lain, membedakan satu emosi dengan lainnya dan menggunakan informasi tersebut untuk menuntun proses berpikir dan berperilaku seseorang. Dengan demikian akan secara konsisten pengembangan karakter guru disekolah akan berjalan sesuai dengan tingkat kecerdasan emosional guru Yang bersangkutan. Selanjutnya Daniel Goleman (Hariwijaya, 2005: 7) mengungkapkan bahwa kecerdasan emosional adalah : (a) Kemampuan seseorang untuk mengenali emosi pribadinya sehingga tahu kelebihan dan kekurangnnya; (b). Kemampuan sesorang untuk mengelola emosi tersebut; (c). Kemampuan seseorang untuk memotivasi dan memberikan dorongan untuk maju kepada diri sendiri; (d). Kemampuan seseorang untuk mengenal emosi dan kepribadian orang lain; (e). Kemampuan seseorang untuk membina hubungan dengan pihak lain secara baik. Jika kita memang mampu memahami dan melaksanakan kelima wilayah utama kecerdasan emosional tersebut, maka semua perjalanan karier apapun yang kita lakukan akan lebih berpeluang berjalan sebagaimana yang kita harapkan. Dengan demikian terdapat pengaruh positif yang sangat signifikan antara Kecerdasan Emosional dengan pengembangan karakter guru sekolah dasar di Kecamatan Botumoito Kunci dari kecerdasan emosi adalah kejujuran pada suara hati. Ini yang seharusnya dijadikan sebagai pusat prinsip yang akan memberikan rasa aman, pedoman, daya dan kebijaksanaan, seperti yang terdapat dalam Al-Qur'an S. Ar Ruum: 30 yang berbunyi. Artinya : "Maka hadapkanlah wajahmu dengan mantap kepada agama, menurut fitrah Allah yang telah menciptakan fitrah itu pada manusia. Tiada dapat diubah (hukun-hukum) ciptaan Allah. Itulah agama yang benar, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui" (Q. S. Ar-Ruum: 30). Pendapat di atas dapat dimaknai bahwa pengembangan karakter guru dan kecerdasan emosional tidak bisa dipisahkan karena kecerdasan emoisonal erat hubungannya dengan pengembangan karakter guru. 2. Pengaruh Kecerdasan Spiritual terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito Hasil pengujian hipotesis kedua yang menyatakan bahwa: “Terdapat pengaruh langsung positif Kecerdasan Spiritual terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito” teruji kebenarannya. Ditinjau dari nilai koofisien determinasi (r²) = 0,283, dapat dipahami bahwa sebesar 28,3 % variasi tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito dapat diterangkan oleh Kecerdasan Spiritual. Dengan kata lain makin baik Kecerdasan Spiritual, maka makin baik pula Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito, sehingga secara empirik dapat dijelaskan bahwa Kecerdasan Spiritual memiliki pengaruh terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru. Temuan ini memberikan informasi bahwa pada tingkat pengembangan karakter guru dapat ditentukan oleh Kecerdasan Spiritual. Sesui dengan pendapat Zohar dan Marshal bahwa kecerdasan spiritual sebagai kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dari pada yang lain. (Danah Zohar dan Ian Marshal,. SQ: Memanfaatkan Kecerdasan Spritual dalam Berfikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan. (Bandung: Mizan, 2001), hal 4) Para ahli otak menemukan bahwa kecerdasan spiritual itu berakar kuat dalam otak manusia. Itu artinya, otak bukan saja berpotensi pada kekuatan rasional dan emosional sebagaimana dikonsepkan oleh William Stern, seorang ahli yng mengungkapkan IQ dan Daniel Goleman, yang mengungkapkan tentang EQ, melainkan juga termaktub potensi spiritusl dalam dirinya, tepatnya di dalam otaknya. Penelitian ini dibuktikan pula oleh Danah Zohar dan Ian Marshal, Michael Persinger dan Ramachandran mengenai adanya “titik Tuhan”. Persinger dan Linas (dalam Wahab dan Umiarso, 2000: 32) menemukan bahwa otak kita menyimpan “dimensi lain” yang disebutnya sebagai God-Spot (titik Tuhan) yang ada di bagian otak temporal. Kehadiran “God-Spot” memberikan landasan yang kuat pada pendapat bahwa manusia memang secara alamiah, secara fitrah, sudah mengenal Tuhan. “God-Spot” ini menurut Zohar dan Marshal sebagai pusat kecerdasan spiritual. Zohar dan Marshal (dalam Agustian, 2001: 81) dengan tegas menyatakan kecerdasan spiritual lebih penting daripada kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, sebab eksistensi God-Spot dalam otak manusia sebagai pusat spiritual terletak antara jaringan syaraf dan otak. Aidh al-Qarni (dalam Wahab & Umiarso, 2011: 147) mengatakan bahwa orang sukses adalah orang yang diridhoi Allah karena keimanannya, disayangi keluarganya karena kelembutannya, dicintai manusia karena akhlaknya, dihormati masyarakatnya karena manfaat yang diberikannya. Dengan demikian kecerdsasan spiritual guru bimbingan dan konseling sangatlah berperan dalam mengelola konflik peserta didik, sehingga perlu ditumbuh kembangkan secara terus menerus 3. Pengaruh Kecerdasan Intelektual terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito Hasil pengujian hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa: “Terdapat pengaruh langsung positif Kecerdasan intelektual terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Botumoito” teruji kebenarannya. Ditinjau dari nilai koofisien determinasi (r²) = 0,032, dapat dipahami bahwa sebesar 3,2 % variasi tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito dapat dijelaskan oleh kecerdasan intlektual. Sedangkan nilai r² secara simultan dari kecerdasan Intelektual bersama-sama dengan Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual sebesar 0,682 menunjukkan bahwa 68,2 persen variasi tingkat Pengembangan Karakter Guru dapat dijelaskan oleh kecerdasan intelektual bersama-sama dengan Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual. Dengan kata lain makin baik kecerdasan intelektual, maka makin baik pula tingkat Pengembangan Karakter Guru SDN di Kecamatan Botumoito, sehingga secara empirik dapat dijelaskan bahwa kecerdasan intelektual memiliki pengaruh terhadap tingkat Pengembangan Karakter Guru. Temuan ini memberikan informasi bahwa pada tingkat pengembangan karakter guru dapat ditentukan oleh kecerdasan intelektual. Intelektual atau intelegensi merupakan kemampuan yang dibawa sejak lahir yang memungkinkan seseorang untuk berbuat sesuatu dengan cara tertentu atau kemampuan yang bersifat umum tersebut meliputi berbagai jenis psikis seperti abstrak, berpikir, mekanis, matematis, memahami, mengingat bahasa, dan lain-lain. Dalam pengertian yang lebih luas William Stern, yang dikutip oleh Crow and Crow mengemukakan bahwa Inteligensi berarti kapasitas umum dari seorang individu yang dapat dilihat pada kesanggupan pikirannya dalam mengatasi kebutuhan-kebeutuhan baru, keadaan ruhaniah secara umum yang dapat disesuaikan dengan problema-problema dan kondisi-kondisi yang baru didalam kehidupan. Dengan demikian bahwa kecerdasan intelektual berpengaruh secara signifikan terhadap pengembangan karakter guru. 4. Pengaruh Kecerdasan Emosional terhadap kecerdasan intelektual Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito Hasil pengujian hipotesis keempat yang menyatakan bahwa: “Terdapat pengaruh langsung positif Kecerdasan Emosional terhadap kecerdasan intelektual guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Botumoito” teruji kebenarannya. Ditinjau dari nilai koofisien determinasi (r²) = 0,124, dapat dipahami bahwa sebesar 12,4 % variasi kecerdasasan intelektual guru SDN di Kecamatan Botumoito dapat dijelaskan oleh Kecerdasan Emosional. Dengan kata lain Kecerdasan Emosional dalam penelitian ini memberikan dampak positif terhadap kecerdasan intelektual. Semakin tinggi Kecerdasan Emosional, maka berkontribusi positif terhadap kecerdasan intelektual guru SDN di Kecamatan Botumoito. Hasil penelitian ini sejalan dengan Masaong & Tilome yang mengemukakan bahwa apabila guru mampu mengelola dengan efektif kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional serta kecerdasan spiritualnya maka memperkuat sinergy antara satu dengan yang lainnya, sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai guru secara optimal. Gunawan (2011: 151) mengemukakan bahwa IQ dan EQ adalah kecerdasan yang memungkinkan kita untuk bermain dalam batas-batasa tertentu. Menurut Danah Zohar dan Ian Marshal menunjukkan pentingnya kecerdasan spiritual (SQ), yang memungkinkan kita untuk berpikir diluar batas sehingga permainan menjadi tak terbatas. SQ merupakan akses kita dan kebutuhan untuk arti mendalam, nilai-nilai fundamental dan rasa tujuan, dan sejauh mana mempengaruhi keputusan-keputusan dan tindakan kita. Ini memiliki kekuatan untuk mengatasi motivasi yang lebih rendah dan untuk mengubah kita menuju motivasi yang lebih tingi. Sir. Francis Crick (dalam Gunawan, 2011: 152) berpendapat bahwa frekuensi 40 Hz dapat menjadi kunci untuk tindakan kognisi. Angka 40 Hz adalah frekuensi yang digunakan dalam semua stimulasi dan pada gelombang Gamma (γ) dan dan program Beta (β). Pola gelombang Gamma (γ) adalah pola gelombang otak, terkait dengan persepsi dan kesadaran. Pola gelombang ini bekerja untuk meningkatkan memori, memonitor dan menghubungkan semua pancaindra dan proses berpikir dalam kesatuan yang utuh untuk keseimbang dan meningkatkan koheren pada pola pola gelombang otaknya. Dari beberapa pendapat peneliti diatas dapat disimpulkan bahwa Spiritual Quotient (SQ) juga mampu mengintegrasi kekuatan otak dan hati manusia dalam membangun karakter dan kepribadian tangguh berdasarkan nilai-nilai mulia kemanusiaan. Pada akhirnya, akan tercapai kemajuan dan keberhasilan melalui sumber daya manusia berkualitas yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga diimbangi dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual yang tinggi pula. Manusia yang memiliki spiritual yang baik akan memiliki hubungan yang kuat dengan Allah sehingga akan berdampak kepada kepandaiannya dalam berinteraksi dengan manusia karena dibantu oleh Allah, yaitu hati manusia dijadikan cenderung kepada-Nya. Keterkaitannya dengan kompetensi guru bimbingan dan konseling, semakin tinggi kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual guru bimbingan dan konseling akan semakin baik pula pengetahuan dan ketrampilannya dalam mengelola konflik peserta didik. 5. Pengaruh Kecerdasan Spiritual berpengaruh langsung terhadap iklim kerja guru Sekolah Dasar di Kecamatan Botumoito Hasil pengujian hipotesis kelima yang menyatakan bahwa: “Terdapat pengaruh langsung positif Kecerdasan Spiritual terhadap kecerdasan intelektual guru Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Botumoito” teruji kebenarannya. Ditinjau dari nilai koofisien determinasi (r²) = 0,283, dapat dipahami bahwa sebesar 28,3 % variasi kecerdasan intelektual guru SDN di Kecamatan Botumoito dapat diterangkan oleh Kecerdasan Spiritual. Dengan kata lain makin tinggi Kecerdasan Spiritual, maka makin tinggi kecerdasan intelektual guru SDN di Kecamatan Botumoito. Sebaliknya, makin rendah Kecerdasan Spiritual, maka makin rendah kecerdasan intelektual guru SDN di Kecamatan Botumoito, sehingga secara empirik dapat dijelaskan bahwa Kecerdasan Spiritual memiliki pengaruh terhadap kecerdasan intelektual guru. Dari hasil perhitungan analisis tersebut dapat diinterprestasikan bahwa semakin baik kecerdasan intelektual guru maka semakin baik pula kecerdasan spritualnya. Mengingat bahwa variabel kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual berpengaruh secara positif dan signifikan baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersama-sama, baik secara langsung maupun secara tidak langsung terhadap pengembangan karakter guru, hal ini berarti variabel tersebut perlu menjadi perhatian dalam mengembangkan karakter guru sekolah dasar di Kecamaran Botumoito. C. Keterbatasan Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan sesuai dengan prosedur dan metodologi ilmiah agar diperoleh hasil penelitian subyektif mungkin, namun masih terdapat kekurangan dan keterbatasan yang perlu dikemukakan sebagai bahan pertimbangan dalam membuat generalisasi hasil penelitian yang telah diperoleh. Keterbatasan tersebut antara lain disebabkan oleh: 1. Variabel tingkat Pengembangan Karakter Guru dalam penelitian ini hanya dikaitkan dengan variabel Kecerdasan Emosional, Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan intelektual, sedangkan masih terdapat variabel lainnya yang terkait dengan tingkat pengembangan karakter guru. 2. Data penelitian diperoleh melalui kuesioner dengan menggunakan skala penilaian berbentuk skala lima (Likert). Oleh karena itu, walaupun secara empiris menghasilkan tingkat validitas dan reliabilitas yang tinggi, instrumen ini bukan merupakan satu-satunya instrumen yang mampu mengungkap keseluruhan aspek yang ingin diteliti. Salah satu hal yang tidak dapat dikontrol peneliti adalah kemauan para guru untuk mengungkap keadaan yang sebenarnya, meskipun peneliti telah memberitahukan kepada responden bahwa apa yang mereka berikan tidak akan mempengaruhi kondite dan status kepegawaian mereka. 3. Kuesioner sebagai instrumen utama penelitian memiliki kelemahan efek bias yang memungkinkan guru sebagai responden dalam penelitian ini memberikan pernyataan secara spekulatif, tidak sesuai dengan perilakunya sendiri dalam arti responden menjawab tidak secara jujur, benar, dan sesungguhnya. 4. Penelitian ini hanya didasarkan pada quesioner yang berisi pengakuan guru dan tidak dilakukan trianggulasi, jadi data yang didapatkan bersifat lemah, sehingga masih dibutuhkan penelitian selanjutnya yang menggunakan trianggulasi data. 5. Instrumen hanya divalidasi oleh ahli dan tidak diuji cobakan kepada guru. Pengambilan sampel dalam penelitian ini diambil dari 16 Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Botumoito yang lokasinya terpencar dan tersebar se- Kecamatan Botumoito. BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN A. Simpulan Berdasarkan hasil analisis data dan uji hipotesis dapat disimpulkan bahwa: 1. Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan kecerdasan emosional guru terhadap pengembangan karakter guru sekolah dasar di kecamatan Botumoito. 2. Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan kecerdasan spiritual guru terhadap pengembangan karakter guru sekolah dasar di kecamatan Botumoito. 3. Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan kecerdasan intelektua guru terhadap pengembangan karakter guru sekolah dasar di kecamatan Botumoito. 4. Terdapat pengaruh langsung yang positif dan signifikan kecerdasan kecerdasan emosional terhadap kecerdasan intelektual guru di Kecamatan Botumoito. 5. Terdapat pengaruh tidak langsung yang positif dan signifikan kecerdasan spiritual guru terhadap kecerdasan intelektual guru di Kecamatan Botumoito. B. Saran Berdasarkan hasil, simpulan dan implikasi penelitian di atas, maka peneliti menyarankan beberapa hal sebagai berikut: 1. Para Kepala Sekolah Dasar Negeri di Kecamatan Botumoito diharapkan melakukan berbagai program untuk menciptakan sekolah yang nyaman, aman dan disiplin guna mendorong sekolah yang memiliki guru profesional dalam melaksanakan profesinya. 2. Para guru SDN di Kecamatan Botumoito diharapkan (a) membangun kepercayaan dan ikatan kredibilitas yang baik antara kepala sekolah dengan guru, juga antar sesama guru, (b) melakukan komunikasi dan konsultasi mengenai semua masalah dan kebijakan sekolah, (c) jujur dan transparansi pada semua informasi yang diberikan kepada seluruh anggota sekolah. 3. Penelitian ini diharapkan menjadi salah satu sumber acuan atau bahan referensi bagi para peneliti lainnya dalam melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan manajemen pendidikan. 4. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi dalam mengembangkan ilmu manajemen pendidikan khususnya dalam upaya mengembangkan teori perilaku organisasi. DAFTAR PUSTAKA Budimansyah, D., 2010. Penguatan Pendidikan Kewarganegaraan untuk Membangun Karakter Bangsa. Bandung: Widya Aksara Press. Departemen Pendidikan Nasional.2010. Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Pedoman Sekolah. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan, Pusat Kurikulum. Depiyanti, Melida. “Model Pendidikan Karakter di Islamic Full Day School,” Jurnal Tarbawi. Online. http://jurnal.upi.edu/file/06_Model _Pendidikan Karakter_-_Oci_Melisa pdf (diakses pada tanggal 10 Maret 2017). Goleman, Daniel. 1999. Kecerdasan Emosi untuk Mencapai Puncak Prestasi. Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama. Goleman, Daniel. 2000. Emotional Intelligence. Jakata: PT Gramedia Pustaka Utama. Gottman, John. 2001. Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Johansson, Eva. 2011. “Practices for teaching moral values in the early years: a call for a pedagogy of participation,” International Journal Of Education, Citizenship and Social Justice 6, no. 2: 109-124. September 2011. University of Stavangar, Norway (diakses pada tanggal 10 Maret 2017). Lickona Thomas, 2012. Mendidik Untuk Membentuk Karakter, Jakarta, PT. Bumi Aksara Masaong dan Tilome. 2011. Kepemimpinan Berbasis Multiple Intelligence. Cetakan kesatu. Bandung: Alfabeta. Masaong, Abd. Kadim & Ansar. 2011. Manajemen Berbasis Sekolah, Gorontalo: Sentra Media. Masaong. Abd. Kadim. 2011. Supervisi Pendidikan. Gorontalo, Sentra Media. Moch, Nazir. 1988. Metodologi Penelitian.Cetakan 3. Jakarta: Ghalia Indonesia. Muhibbin, Syah. 2000. Psikologi Pendidikan dengan Suatu Pendekatan baru. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Nana, Sudjana. 2001. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Cetakan ketujuh. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. Nurnaningsih. 2011. Bimbinganan Kelompok Untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional Siswa. I-SSN: 268-270. (http://jurnal.upi/file/26-Nurnaningsih.pdf,/2011/12/15). Ridwan. 2010. Belajar Mudah Penelitian. Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung: Alpabeta Ridwan. 2008. Metode dan Tehnik Menyusun Tesis. Bandung: Alpabeta. Riduwan . 2012. Metode dan Tehnik Menyusun Proposal Penelitian. Bandung: Alpabeta. Rohiat. 2008. Kecerdasan Emosional Kepemimpinan Kepala Sekolah, Bandung: PT Rafika Aditama. Sagala. 2011. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta. Saifuddin Azwar. 1996. Psikologi Inteligensi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Saifuddin, Azwar. 1997. Reliabilitas dan Validitas. Yogyakarta: Pustaka Balajar Offset. Saphiro, Lawrence E. 1998. Mengajarkan Emotional Intelligence pada Anak. Jakarta : Gramedia. Setyawan, D. (2004). Analisis pengaruh kepemimpinan (IQ, EQ, SQ) terhadap komitmen organisasional karyawan. Unpublished undergraduate thesis, Universitas Katolik Soegijapranata, Semarang. Sugiono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan Administrasi. Bandung: Alpabeta. Sumadi, Suryabrata. 1998. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Sugiono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan. Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alpabeta. Suharsono. 2002. Melejitkan IQ, IE, dan IS. Depok: Inisiasi Press. Suhardan, Dadang. 2010. Supervisi Pembelajaran. Bandung: Alpabeta. Sudjana. 1992. Statistika. Bandung: Tarsito. Surya, M. 2013. Psikologi Guru Konsep dan Aplikasinya. Bandung: Alfabeta Sutrisno Hadi. 2000. Statistik 2. Yogyakarta: Andi Offset. Syaiful Bakrie D. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya: Usaha Nasional. Team Prima Pena. 1999. Kamus Lengkap Bahasa Indonesi. Uno, B. Hamzah & Kuadrat, Masri. 2009. Mengelola Kecerdasan Dalam Pembelajaran, -Ed.1,Cet.2 –Jakarta: Bumi Aksara. Wahab, Umiarso. 2011. Kepemimpinan Pendidikan dan Kecerdasan Spiritual, Jogjakarta: Arrus Media. Rachmi (2010:31) (Rachmi, 2010: 61).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar